The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Pernikahan



Satu minggu kemudian, di Kekaisaran.


Sore hari itu, suasana di Kekaisaran tampak ramai, banyak orang-orang berjalan serentak menuju ke istana Kekaisaran. Hari ini adalah hari pernikahan Kaisar muda, Annatasya El-Zalbary dengan putra tertua dari keluarga Duke Aither.


Masyarakat sangat antusias dengan acara itu. Tua dan muda saling merayakannya di tempat mereka, ada juga yang datang langsung ke istana Kekaisaran mengucapkan selamat. Para bangsawan akan hadir pada malam pesta di istana, sekaligus pengenalan sepasang mempelai secara resmi pada bangsawan.


Pada saat yang sama, Rose sedang berjalan menuju ke sebuah mansion besar di Kekaisaran. Ia masuk ke mansion dan berjalan menuju kamar di bagian tengah mansion yang besar itu.


Rose memikirkan tentang pernikahan yang diadakan. Dengan informasi yang ia miliki dulu, Rose yakin posisi Kaisar saat ini memang sangat lemah. Rawan pemberontak dari kubu bangsawan yang tak menyukainya.


Setelah tinggal di Kerajaan Penyihir Maphas, aku tahu kenapa Kaisar masih aman hingga saat ini. Keberadaan Kerajaan Penyihir Maphas membuat mereka memikirkan banyak cara untuk menjatuhkan Kaisar Anna.


Rose tersenyum kecil. Ia tahu betul sepak terjang orang yang ia layani saat ini.


Alissa Hart memiliki kemampuan di atas petualang kelas S sekali pun. Itu menurut rumor yang tersebar tentang Beliau yang mengalahkan seekor naga kelas bencana di Kerajaan Rexist. Sampai saat ini, aku memang belum memastikan hal itu, karena hari-hari yang kuhabiskan dengan Beliau hanyalah rutinitas biasa. Keberadaan Ratu Daisy yang kekuatannya melebihi seekor naga, dan Alissa Hart di sisinya, siapa pun akan enggan membuat masalah dengan mereka. Aku masih belum tahu kekuatan para Nona Muda.


Tak terasa Rose sudah berada tepat di depan pintu kamar. Tangannya memegang gagang pintu, ekspresi yang sebelumnya kosong kini terlihat cerah.


Pintu pun dibuka. Rose mendapati seorang wanita yang sedang duduk menghadap jendela.


"Kau sudah tiba, Rose," ucap wanita itu yang masih menatap ke luar jendela.


"Iya, Nyonya," sahut Rose dengan senyuman indah di wajahnya.


Pekerjaan hari ini adalah berdandan untuk persiapan acara malam di istana. Rose sangat lega karena mansion besar ini terletak cukup jauh dari keramaian di kota, namun penjagaannya cukup ketat dengan banyak ksatria yang berjaga.


Maid kembar yang harusnya mengawal Nyonya Besar, mereka sedang ada dalam misi lain yang juga di Kekaisaran. Aku tak tahu detail misi mereka. Hal terpenting sekarang adalah ....


Rose membawakan berbagai jenis pakaian untuk dikenakan Alissa.


"Kuserahkan padamu, Rose." Alissa seketika langsung membuka pakaian yang ia kenakan.


Rose sedikit tersipu malu, namun ekspresi itu tak terlihat oleh Alissa. Dengan gugup ia menjawab, "Baik, Nyonya."


Sampai pada malam puncak acara. Suasana di luar istana sangat ramai hingga bagian dalam. Alasan para tamu berada di luar adalah untuk melihat tamu-tamu penting yang akan hadir. Pada saat ini, hampir semua tamu penting telah hadir.


Sebuah kereta kuda berhenti tepat di depan istana. Kereta kuda itu terlihat mewah dan besar, bagian luar kereta kuda itu tampak bersinar. Para tamu yang hendak masuk ke dalam istana kini kembali untuk melihat siapa tamu terakhir yang akan datang.


Pintu kereta dibuka. Terlihat siluet seseorang yang melangkahkan kakinya menuruni kereta. Seluruh mata tertuju pada orang itu. Seluruh pria yang melihat rupa orang itu terpana, mulut mereka terbuka.


"S-siapa orang itu?"


"Apa dia seorang malaikat?"


Para tamu mulai berbisik-bisik.


Seorang wanita dengan gaun putih indah. Rambut kuning keemasan yang dikepang panjang itu bersinar terkena cahaya lentera, mata merahnya memancarkan cahaya dari kegelapan.


"Perhatian! Tamu terhormat, Perdana Menteri Kerajaan Penyihir Maphas, Alissa Hart telah tiba!"


Pengumuman itu sontak membuat semua tamu terkejut. Tak disangka bahwa wanita anggun di hadapan mereka adalah Alissa Hart, orang penting yang membuat Kekaisaran tunduk. Beberapa bangsawan terlihat tak menyambutnya dengan baik, terlihat dari ekspresi mereka yang coba disembunyikan.


Namun, bangsawan dari pihak Kekaisaran memilih untuk menjilat sepatu Tuan mereka.


Rose turun dari kereta mengikuti Alissa di belakang. Raut wajahnya tampak lelah, seperti kehabisan bahan bakar.


Tak kusangka akan memakan waktu selama ini. Aku tak punya pengalaman dalam hal berhias diri, tapi aku melakukannya semaksimal mungkin untuk Nyonya.


Rose melihat bagian belakang tubuh Alissa, ia terlihat senang. Rasa lelah di tubuhnya perlahan menghilang dan segar kembali, semata-mata karena melihat bagian belakang dari Nyonya-nya.


"Rose, mendekatlah," ucap Alissa sembari mengulurkan tangannya.


Dengan senang Rose menggapai tangan wanita itu. Ia merasakan sesuatu ketika kulit mereka bersentuhan.


Sangat nyaman.


Akhirnya mereka masuk ke dalam istana. Suasana di istana sangat meriah dalam hal dekorasi, para tamu hanya berbincang-bincang dan berdansa.


Rose paham betul dengan situasi ini. Ia pernah hadir di pesta perjamuan sebelumnya, para bangsawan yang mengobrol didominasi mereka yang membahas hal berbahaya.


Di sini juga sama, walau mereka tak terlihat berpencar, tapi aku tahu gerak-gerik seperti itu. Mereka terbagi dalam dua kelompok, terlihat jelas bahwa Kekaisaran masih belum aman, namun ....


Rose melirik Alissa.


"Selamat datang, Nona Hart." Seorang pria menyambut mereka.


Pria itu mengenakan setelan jas warna putih dengan kemeja hitam, ada mawar merah di saku dadanya.


Rose langsung tahu siapa pria itu.


Glenn Aleister. Aku tahu sedikit tentang sepak terjangnya, karena kami berada dalam dunia yang sama sebelumnya. Tapi, aku tak menyangka dia akan menjadi orang penting sekarang.


Sayangnya, Rose tak tahu tentang posisi Glenn saat ini di Kerajaan Penyihir Maphas, mereka hanya sekali bertemu.


"Selamat atas pernikahanmu, Tuan Glenn," ucap Alissa.


"Terima kasih, Nona Hart."


Sorot mata dari para bangsawan sangat jelas mengarah ke siapa. Rose dengan sigap menarik pelan pakaian Alissa.


Rose masih kurang yakin dengan perkataan wanita itu, karena banyak bangsawan dari kubu oposisi yang kemungkinan besar sudah menyiapkan rencana.


Setelah melihat wajah Nyonya-nya yang sangat tenang, Rose mau tak mau harus menuruti perkataannya.


"Aku akan mengantarmu ke tempat Anna, Nona Hart." Glenn mengulurkan tangannya dengan sikap elegan.


"Baiklah." Alissa menerima uluran tangan Glenn.


Situasi ini mengguncang istana. Para bangsawan mengetahui bahwa Kekaisaran memanglah bawahan Kerajaan Penyihir Maphas, namun perlakuan dari suami kaisar kepada perdana menteri dari kerajaan lain justru menjadi sorot utamanya.


Rose bertanya-tanya tentang rencana apa yang Nyonya-nya lakukan? Ia hanya bisa mengikutinya. Tapi, sorot matanya sudah bersiap untuk melakukan apa pun demi keselamatan Alissa Hart.


Di tempat lain, tepatnya di belakang pilar ruang istana yang gelap. Ada dua orang pria yang memperhatikan kejadian itu.


"Bagaimana menurutmu, Tuan?" tanya salah satu dari mereka.


"Sangat disayangkan, sepertinya kita akan sulit meyakinkan wanita itu besok. Pasukan pembunuh yang dikirim ke istana tiba-tiba menghilang. Kaisar Anna masih hidup untuk saat ini."


"Itu benar-benar mengejutkan. Tak mungkin cangkang kosong seperti Kaisar Anna bisa memiliki pasukan elit, pasti ada campur tangan dari tuannya. Bagaimana langkah selanjutnya, Tuan?"


Pria itu menggigit bibirnya karena kesal.


Andai saja rencana ini berhasil, aku pasti akan menjadi Kepala Keluarga Hart, dan bisa menyingkirkan dua bajingan sialan itu dengan mudah.


Pria itu mengangkat tangannya ke depan, tepat ke arah Alissa Hart, kemudian meremasnya.


"Giliran kita sudah selesai, besok semuanya akan bersatu."


"Baiklah, Tuan."


Aku pasti akan mendepatkanmu, Alissa Hart.


Tak jauh dari istana, di lorong gelap bawah tanah kota. Seorang wanita berjalan dengan suara langkah kaki yang nyaring. Sepatunya terlihat kotor oleh bercak merah hingga mengenai rok kesayangannya.


Dari arah berlawanan, ada seorang wanita lain. Dalam kegelapan, matanya terlihat bercahaya. Hingga sinar lentera menerangi satu tempat, wajah keduanya mulai terlihat.


"Bagaimana dengan yang di sana, Rasta?"


"Dua puluh elite assassin, telah dimusnahkan," ucap wanita yang merupakan Rasta. Kondisi Rasta cukup memprihatinkan, banyak luka sayat dan tebasan di tubuhnya, merobek pakaian maid kesayangan.


Berbeda dengan Rista, ia hanya menerima goresan kecil berkat ketahanan tubuhnya, namun tetap saja staminanya hampir habis.


"Kita berhasil menyelesaikan misi, waktunya memulihkan diri." Rista membantu Rasta agar tidak jatuh.


"Baik, Kak."


Mereka mulai berjalan menuju arah mansion, namun ....


*Bum!


Sebuah niat membunuh di arahkan pada mereka berdua.


Niat membunuh yang sangat kuat, bahkan Rista sedikit goyah karenanya.


"Ternyata ada dua gadis kecil yang sedang bersenang-senang, ya." Terdengar suara pria dari arah belakang.


Rista dan Rasta langsung bersiap dalam mode bertarung. Rasta masih terlihat kesulitan untuk bergerak. Melihat itu, Rista berdiri di depan Rasta.


"Serahkan padaku," ucap Rista.


"Kakak?" Rasta terkejut melihat punggung Kakaknya setalah sekian lama.


Wujud pria itu terlihat setelah lentera meneranginya. Tubuh kekar dan besar seperti beruang, rambut kuning pendek dengan mata merah yang bersinar.


"Bersiaplah, gadis kecil! Aku, Maximus Hart akan menguliti kalian!" teriak pria itu dengan lantang.


Rista sudah hampir kehabisan tenaga melawan lebih dua puluhan assassin, lebih banyak dari Rasta. Tapi, sorot matanya tak berubah, ia tetap tak goyah dengan posisi ini.


"Maxi, kau tak bermaksud mengambil mereka berdua sebagai bukti kesuksesan misimu di depan Ayah, 'kan?" Seorang wanita muncul dari arah berlawanan.


"Setelah aku menguliti dua gadis kecil ini, selanjutnya aku akan melucutimu, Verena!" teriak pria yang bernama Maximus itu.


Sosok wanita itu mulai terlihat.


Alangkah terkejutnya Rista dan Rasta setelah melihat rupa wanita itu. Bentuk wajah, warna mata, bahkan rambutnya, itu mirip dengan Nyonya yang mereka layani.


Tubuh wanita itu diselimuti energi yang besar, sesuatu yang terlihat seperti akar hitam muncul dari bawah kakinya.


"Menarik. Aku akan merobek mulut kotormu itu untuk diam," ucap wanita itu dengan ekspresi tersenyum lebar.


Rista dan Rasta dalam posisi yang mencekik.


Mustahil bisa menang melawan mereka.


Bersambung ....