
Chapter 31 : Serangan Elf
Hari ke dua.
Uskup Agung mempersiapkan pasukan Naga Putih, prajurit Gereja, dan 11 Saint Suci. Saat hari pertama, Uskup Agung menahan semua pasukan miliknya di barisan belakang.
Ada hal yang tidak biasa di hari ke dua ini. Uskup Agung ikut bertarung bersamaku di barisan depan. Sedangkan Blues berada di bagian atas menunggangi Naga Putih.
Uskup Agung mengenakan zirah dan menggunakan pedang yang tak biasa. Aku menduga pedang itu dari Dewi yang dia sembah. Karena aku merasakan energi suci yang sangat besar dari pedang itu.
Aku sedikit gugup. Seharusnya aku sudah mulai terbiasa dengan ini.
Pasukan musuh mulai terlihat.
Huh?
Prajurit kali ini terlihat berbeda dengan sebelelumnya. Barisan depan mereka dihuni oleh prajurit yang mengenakan jubah berwarna hijau. Prajurit itu memegang panah dan tongkat sihir. Jumlahnya kurang lebih sekitar 80 ribu. Sisanya diisi oleh prajurit Kekaisaran.
"Mereka dari Kerajaan Elf," ucap Uskup Agung.
Itu tidak aneh, karena Elf memiliki Magic Caster dan Archer yang handal.
Sesuatu terbang di atas mereka.
"I-itu?!" Para prajurit terkejut.
Pasuan Naga merah?
"ROOOOOOAAAAAAR!" Pasukan Naga Putih mengaum keras.
Pasukan Naga Merah membalas auman mereka.
"Ternyata mereka juga menjinakan Naga, ya," gumam Uskup Agung.
"Apa mereka kuat?"
"Secara teknis, Naga Merah dan Naga Putih memiliki kekuatan yang setara. Beda halnya dengan Naha Hitam yang merupakan ras terkuat,"
Naga Hitam, ya. Apa Naga Hitam Raymond salah satu dari mereka?
*Dooooooooooong!
Terompet tanda perang telah ditiup.
*Wush!
Seseorang melaju dengan kecepatan tinggi dari barisan kami.
Itu ... Nona Eline? Ah, dia pasti ingin membalas kekalahannya dari pria itu.
Perang pun dimulai.
Aku dan Uskup Agung saling berdampingan.
Tubuhnya sangat kuat. Dia bisa berlari secepat itu dengan menggunakan zirah.
Kami hampir sampai di barisan depan musuh.
Para Elf bersiap-siap dengan sihir dan panahnya.
Skill Active!
Aku menggunakan skill yang baru saja kudapatkan saat bertarung melawan Putri Anna.
Tubuhku semakin ringan. Ini benar-benar luar biasa!
Para Elf menembakan anak panah mereka.
Serangan itu berhasil membunuh prajurit kami.
Anak panah itu mengandung sihir.
Aku menangkis semua anak panah yang mereka lesatkan.
Uskup Agung menangkisnya dengan sihir pelindung miliknya.
Aku benar-benar iri dengan double job.
Elf Magic Caster mundur dari barisan.
Apa yang mereka lakukan?
Sebuah lingkaran sihir muncul di atas kami.
*Bush!
Lingkaran sihir itu mengeluarkan bola api, bola tanah, dan kilatan petir.
Sihir itu mengarah tepat ke barisan tengah pasukan kami.
Mereka mengincar Magic Caster milik kami.
Pelindung raksasa muncul menahan gempuran sihir dari para Elf.
Magic Caster kami tidak akan kalah begitu saja!
"Ayo maju, Pahlawan,"
Uskup Agung melompat menuju kerumunan Elf.
Aku mengejarnya dari belakang.
Beberapa Elf menyerangku.
"Light Slash!"
Aku memotong leher mereka dengan cepat.
Sial! Aku kehilangan jejak Uskup Agung. Apa dia baik-baik saja?
Para Elf masih terus berdatangan.
*Dor!
Terdengar suara tembakan dari arah barisan tengah musuh.
Tunggu, apa ada senjata yang menghasilkan suara seperti itu di dunia ini?
Aku bergegas mengikuti asal suara itu.
*Dor! Dor!
Suara tembakan semakin banyak.
"Tolong aku!"
*Dor!
Tembakan itu melubangi kepala salah satu prajurit kami.
Senjata itu terlihat tidak asing bagiku.
Itu, 'kan?
Salah satu Elf menodongkan senjata itu ke arahku.
Sial!
*Dor!
Tidak salah lagi, itu pistol! Dari mana mereka mendapatkannya?! Tunggu sebentar, pistol ... mungkinkah?
*Dor! Dor!
Para Elf yang menggunakan pistol mulai maju ke barisan tengah pasukan kami. Pelindung sihir tak bisa menahan pistol itu.
Aku mengejar Elf yang menembakku.
"Jangan harap kau bisa lari!"
*Crack!
Aku memotong lehernya.
Pistol yang ada di genggamannya terjatuh.
Pistol ini terlihat berbeda. Tidak ada slot untuk peluru. Bagaimana cara menggunakannya?
Aku menyimpan pistol yang kudapatkan dari Elf.
Barisan pertahanan kami mulai hancur. Peluru-peluru itu akan sangat sulit untuk dilihat. Mereka belum pernah mengalami hal seperti ini. Kurasa kami akan kalah hari ini.
Pasukan musuh terus menekan kami. Aku tak melihat keberadaan Uskup Agung.
Aku merasakan energi suci dari barisan kami.
Sepertinya para Saint juga mulai bergerak. Itu cukup untuk mendorong mereka. Aku harus fokus mengurangi jumlah penembak jitu mereka.
*Dor! Dor!
Ratusan tembakan diarahkan padaku.
Berkat skill baru, inderaku semakin tajam. Namun, aku tak bisa sepenuhnya menghindari tembakan itu, lebih tepatnya mustahil. Karena itu aku menggunakan mayat Elf sebagai tamengku.
Aku terus memaksa masuk hingga ke barisan belakang mereka. Para Elf masih terus menembakiku.
Akan sangat sulit mengatasi mereka tanpa memiliki gerakan cepat seperti Nona Eline.
*Crack!
Satu persatu prajurit Elf mati karena serangan pedang yang cepat.
Siapa itu?
Aku tidak bisa mengikuti gerakannya. Orang itu menghabisi para Elf dengan cepat. Aku juga merasakan energi suci dari orang itu.
"Saint?"
Orang itu berhenti tepat beberapa meter di depanku.
"Sepertinya kau sedang kerepotan, Pahlawan,"
Suaranya, dia wanita.
"Terima kasih, Nona Saint,"
"Maaf, karena hanya aku yang bisa menorobos barisan musuh. Ada seorang demihuman dari pihak musuh membantai seluruh prajurit kita. Saint lainnya sedang melawan demihuman itu,"
Sekuat apa demihuman itu sampai 10 Saint lainnya harus melawannya.
"Baiklah, aku paham. Saat ini aku kehilangan jejak Uskup Agung,"
"Jangan khawatirkan itu." Nona Saint menunjuk ke arah depan. "Lihat itu,"
*Braaak!
Sebuah energi cahaya yang besar menghancurkan sesuatu di depan kami.
"Itu ...."
"Selain kemampuan sihirnya yang luar biasa, Uskup Agung juga seorang Swordmaster yang sangat kuat,"
Aku sudah menduga hal itu. Uskup Agung sepertinya masih memiliki banyak rahasia yang disembunyikan.
Kami pergi menuju tempat Uskup Agung yang mengamuk.
*Bum!
Di waktu yang bersamaan, aku merasakan aura yang sangat mengerikan.
Aura ini pernah kurasakan sebelumnya. Tepatnya saat di Kerajaan Rexist. Benar, ini aura dari Undead itu.
*Wush!
Nona Saint meningkatkan kecepatannya.
Dia terlihat panik. Apa yang terjadi?
Aura suci dari Uskup Agung mulai memudar. Sesuatu telah terjadi padanya.
Aku sampai di tempat Uskup Agung.
Tumpukan mayat Elf berserakan.
Uskup Agung tergeletak tak berdaya.
"Uskup Agung!" Nona Saint mengangkat tubuh Uskup Agung.
Aku merasakan aura dari Undead itu. Tapi, aku tak merasakan kehadirannya di sini.
"Hampir saja aku kalah, kau benar-benar merepotkan, Uskup Agung. Terpaksa aku harus meminjam kekuatan Ratu Daisy untuk melawanmu,"
Seorang wanita berjalan menghampiri kami.
Wanita itu seorang Elf. Penampilannya seperti seorang Bangsawan.
"Putri Elf, Sharah Tilian Arakano,"
"Suatu kehormatan karena Saint mengingat namaku yang hina ini,"
"Sesuai dugaan, ternyata kau yang mengendalikan Kerajaan Elf selama ini,"
"Itu karena aku tidak sudi orang-orang seperti kalian menyebarkan 'kotoran' itu di wilayahku,"
"Apa kau bilang?!"
Uskup Agung menutup mulut Nona Saint dengan tangannya.
"Tenanglah,"
"Uskup Agung!"
Aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!
Kalian bisa support Author juga di sini biar Saya semakin semangat buat update :
https://saweria.co/hzran22
Bisa donasi dengan Gopay, OVO, dan Dana, ya.