The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Adu Pertahanan



Dia yang selalu berada di sisi Theresia, sekaligus temannya. Lexi, rank Gold. Apa yang dia lakukan di sini?


Aura di tubuh Lexi terlihat hampir sama seperti Guru Elite. Sihir air yang mengelilinginya begitu banyak, sama sekali tidak menunjukan bahwa dia seorang murid Akademi Sihir.


"Dasar sialan! Kenapa kau selalu menghalangiku?!" Erick sangat kesal.


"Bukan hanya Dewan Murid, Tiga Menara juga sudah mengawasi kalian, akan sangat mudah mengetahui posisi kalian,"


"A-apa kau bilang?"


Jadi, dia berasal dari salah satu menara, ya? Mereka sudah duluan bergerak.


"Ibu, ratusan penyihir memukul mundur para pemberontak. Mereka mengenakan atribut yang berbeda," ucap Delila.


Merah untuk api, biru untuk air, dan putih untuk cahaya. Yah, masalah akan berkurang jika mereka sudah datang.


"Menyerahlah, Erick, serahkan dirimu dan terimalah hukumanmu,"


Erick menundukan kepalanya, terlihat wajahnya menyeringai. "Hehehe ... kau kira hanya ini batas kekuatanku, ya?"


Api perlahan membakar tangan kirinya.


"Akan kutunjukan padamu, bahwa aku lebih layak daripada kalian!"


"Majulah!" Lexi bersiap dengan air di sekelilingnya.


Huh?


Erick mengangkat tangan kirinya ke depan. Dia melakukan gerakan aneh, memutar-mutar tubuhnya dengan tangan sebesar itu yang tetap lurus ke depan.


Tunggu ... ini seperti gerakan di salah satu cabang olahraga di duniaku.


Putarannya semakin cepat, sampai menimbulkan pusaran angin kecil di sekitarnya.


"Hell Bullet!"


Erick meluncur cepat ke arah Lexi dengan cara melepas beban di kakinya. Dia terlihat seperti sebuah meteor yang jatuh ke bumi, namun ini sebaliknya, karena dia melesat ke atas.


"Shield Water : Big Waves!" Lexi merapalkan sihirnya.


Air hujan yang sangat banyak itu berkumpul menjadi sebuah ombak besar dan berdiri dengan tinggi sekitar 20 meter.


*Bush!


Erick menerobos masuk ke ombak besar itu. Kecepatannya perlahan melambat akibat tekanan yang sangat besar di dalam air.


Benar, keunggulan Shield Water terletak pada bagian dalamnya, berbeda dengan pelindung sihir lainnya yang mengandalkan bagian luarnya untuk menahan serangan. Shield Water memanfaatkan tekanan air untuk memperlambat serangan. Tekanan air akan semakin berat tergantung dari si pengguna.


Namun, Lexi terbilang beruntung karena tak perlu mengeluarkan banyak Mana untuk membuat air dari sihirnya.


Tapi ... kegigihan Erick bukanlah omong kosong belaka.


Api di tangan kirinya tidak padam, justru semakin membesar. Api itu mengubah arahnya seolah-olah seperti tersedot. Itu terlihat seperti menarik tubuh Erick.


Level kekuatan Erick semakin tinggi, Shield Water bisa tertembus kapan pun.


Lexi memanfaatkan air hujan untuk menambah volume air.


Hmmm ... ini hanya menunggu waktu, siapa yang akan bertahan. Hujan juga mulai reda, Lexi beresiko kehilangan banyak Mana. Lalu, Erick harus bertahan dalam tekanan air di sana, serta menahan napasnya untuk waktu yang lama.


Erick terus melakukan power up, hampir menuju bagian belakang pelindung sihir.


Hujan telah berhenti.


Lexi akan menggunakan seluruh Mana-nya sekarang.


"Water Gear!" Sebuah gerigi dari air menyerang Erick.


Tidak berguna.


Tangan kiri Erick melebar menutupi bagian tubuh yang diserang.


Pertahanan yang menakjubkan. Dia bisa membagi fokusnya ke setiap tempat di tubuhnya.


Tangan kiri Erick yang terbakar telah keluar dari penghalang air milik Lexi. Lexi mulai kehabisan Mana karena terus mempertahankan bentuk Shield Water.


"Mati kau!"


Erick hampir terbebas sepenuhnya, ia bermaksud untuk menyerang Lexi dengan tangan kirinya yang terbakar itu.


Hanya beberapa centimeter sebelum Erick menyentuhnya. Di sisi lain, Lexi tak bisa bergerak karen telah kehabisan banyak Mana, dia hanya melayang di udara.


"Earth Magic: Eternal Spear!" Terdengar suara teriakan seseorang yang merapal sihir dari kejauhan.


*Crack!


Sebuah tombak yang terbuat dari batu memotong tangan kiri Erick.


Huh? Siapa yang menggunakan sihir itu?


Aku langsung mengubah arah portal ke tempat sihir itu berasal.


Terlihat Livia yang terduduk di genangan lumpur dengan posisi kedua tangannya di depan, terlihat seperti telah selesai menggunakan sihir serangan.


Livia, apa dia yang menggunakan sihir tadi? Sampai bisa memotong tangan Erick yang merupakan pertahanan terkuat, dia benar-benar sesuatu.


Hal yang mengejutkanku adalah posisi Livia yang berada jauh dari tempat pertarungan. Sepertinya Lexi memindahkan kakak-beradik itu sebelumnya. Setajam apa penglihatannya? Bahkan akurasinya menyamai para Archer.


Livia langsung jatuh pingsan. Lexi dan Erick juga terjatuh karena kehabisan tenaga. Erick jatuh dengan keras dan terbaring lemah setelah kehilangan tangan kirinya, sedangkan Livia masih bisa mendarat mulus dengan sisa kekuatannya.


"Menyerahlah, Erick."


Keduanya sudah mencapai batas.


Huh?


Sekelompok penyihir datang ke lokasi pertarungan. Mereka mengenakan jubah biru, sepertinya berasal dari Menara Air.


"Nona Lexi, jangan paksakan dirimu, Pemimpin akan marah besar nanti," ucap salah satu dari mereka.


Jadi begitu, Lexi berasal dari menara atau memiliki hubungan dengan petinggi menara.


Yah, ini menyenangkan. Walau aku sedikit kecewa dengan perkembangan Livia, namun, serangan terakhirnya sudah cukup untukku.


Ada gerakan dari portal yang memantau bagian utara.


"Dia datang!" teriak Delila.


Siapa?!


Delila menarik tubuhku.


A. Arti Dari Sebuah Hubungan


Apa aku masih berhak menggunakan nama Hart?


Bayangan Ibu masih menghantuiku, perkataannya waktu itu begitu membekas di hatiku. Aku akan dikeluarkan dari Keluarga Hart. Semata-mata karena aku lemah.


Tidak.


"Ugh ...."


Kepalaku pusing, tubuhku tak bisa bergerak.


Aku terbaring di sebuah alas kayu, segala di sekitarku hanya ada kayu. Menandakan bahwa aku ada di dalam rumah.


"Kau sudah bangun, Livia?" tanya seseorang di sebelahku.


Suara laki-laki, sangat tidak asing.


Aku menoleh ke sumber suara itu.


"K-kakak?"


Tubuhku gemetaran melihat Kak Theo yang berada tepat di sebelahku. Ini pertama kalinya sejak Kakak menemukan bakatnya beberapa tahun lalu.


Kami terbaring lemah dan hanya bisa saling memandang.


"Livia, apa kau baik-baik saja?"


Aku merasa nostalgia ketika mendengar suara Kakak.


Kak Theo mengangkat tangannya ke pipiku.


"Kenapa kau menangis?" tanya Kakak dengan senyum kecil.


Aku bisa melihatnya tersenyum lagi.


"Kakak ...."


"Aku di sini, Livia,"


"Apa aku akan diusir?"


Kak Theo mengelus kepalaku. "Bagaimana mungkin orang sekuat dirimu diusir? Dan siapa yang berani mengusirmu?"


"Apa maksud Kakak?"


Kak Theo memelukku, lebih tepatnya menyenderkan kepalaku di dadanya.


"Maafkan aku, Livia, bukan maksudku ingin menjauh darimu. Itu semua karena satu hal,"


Aku hanya terdiam, berusaha keras mencerna perkataannya.


"Kami hanya ingin melindungimu. Ada orang di luar sana yang sedang mengincarmu,"


"A-aku tidak mengerti perkataan Kakak,"


"Livia, kau lahir dengan bakat sihir yang luar biasa, namun ...."


 ------------------------------


Satu tahun setelah kelahiran Livia.


Pemimpin Keluarga Hart mengadakan pesta khusus, karena pada tahun itu banyak keturunan mereka yang lahir, termasuk Livia. Pemimpin Keluarga Hart, Karman Hart, orang paling kuat di Keluarga Hart maupun Kekaisaran. Secara resmi mengundang Keluarga Kaisar serta Keluarga Aleister untuk meramaikan pencapaian mereka. Hanya Bangsawan tertentu yang mereka undang.


Keluarga kecil Livia yang berada di cabang bawah turut hadir. Livia saat itu hanyalah bayi kecil yang selalu berada di dekapan Ibunya. Pandangan dari kalangan menengah maupun atas selalu sinis terhadap kalangan bawah seperti mereka.


Pada saat itu, Karman Hart secara rahasia meminta seluruh cabang Keluarga Hart untuk membawa bayi mereka. Tujuannya adalah untuk memeriksa bakat apa yang mereka miliki, metodenya sama ... menggunakan item pengukur Mana.


Pemeriksaan berjalan lancar, sampai saatnya tiba giliran Livia.


Bagi yang sudah diperiksa, mereka akan segera meninggalkan ruangan itu, dan kini hanya tersisa beberapa dari mereka.


Tangan kecil Livia menyentuh item pengukur.


"I-ini?" Petugas terkejut dengan hasilnya, begitu juga dengan Karman Hart.


Hasil penilaian hanya diketahui oleh pemeriksa.


Asisten Karman Hart langsung membawa keluarga Livia ke ruangan khusus.


Di ruangan itu hanya ada Livia, Theo, dan Ibunya. Sang Ayah masih berada di pesta perjamuan.


Karman Hart datang menemui mereka, dengan jelas berkata, "Anak perempuanmu, dia bisa menjadi bakat mengerikan dalam dunia sihir."


Beberapa hari setelah kejadian itu. Keluarga Livia pindah di daerah milik keluarga utama. Itu bertujuan untuk memantau perkembangan Livia.


Sampai pada suatu hari, 5 bulan setelah pengukuran.


Livia diculik.


Beberapa prajurit Keluarga Hart berhasil mengepung markas penculik. Namun, mereka hanya menemukan Livia yang terbaring di tempat tidur.


Mereka segera membawa Livia pulang. Belum diketahui siapa dalang penculikan, namun Keluarga Hart menaruh kecurigaan pada Keluarga Aleister.


Tanda aneh muncul di tubuh Livia, itu merupakan sebuah segel yang sangat kuat.


Karman Hart tidak bisa mengambil keputusan, keistimewaan Livia merupakan rahasia yang hanya diketahui olehnya dan keluarga Livia.


Keluarga Livia kembali ke wilayah mereka, namun Karman tetap mengawasi perkembangan Livia. Seiring pertumbuhannya, Livia menerima sedikit perlakuan yang keras, itu bermaksud untuk menguatkan mentalnya. Mereka menyimpulkan bahwa segel akan melemah jika Livia semakin kuat mentalnya.


Hanya Theo yang terus bersikap lembut pada Adiknya, sampai di saat ia mulai menunjukan perkembangan dalam sihir dan bersiap masuk Akademi Sihir setelahnya.


 ----------------------------------


Aku tidak percaya setelah mendengar cerita itu. Semua cerita itu sangat memukulku.


"Bagaimana bisa kalian merahasiakan hal ini dariku?!"


"Maafkan kami, Livia."


Walau begitu, aku masih enggan memaafkan mereka. Tapi, mereka melakukan itu demi diriku, apa yang harus kulakukan sekarang?


B. Turun


Di dalam ruangan kumuh, hanya diterangi lampu yang terbuat dari api kecil. Seorang pria berdiri sambil menghisap rokok pipa.


"Para penyihir menara sudah bergerak," ucap pria itu.


"Apa langkah selanjutnya, Tuan?" Seseorang muncul dari dalam bayangan pria itu.


"Sepertinya aku harus turun tangan. Rayden terlihat kewalahan menghadapi gadis Elf dan gadis yang satunya lagi,"


"Apa Anda akan melakukan 'itu'?"


"Tentu saja. Sang Ratu belum ditemukan, dan seekor makhluk aneh menyapu bersih bawahanku. Tak ada alasan lain untuk tidak menggunakannya,"


"Baik, Tuan."


Wajah pria itu perlahan terlihat seiiring lampu yang barayun ke arahnya.


Dia menyeringai dan berkata, "Hidup ... Satan."


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!