The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Yang Terpilih



Sebagai manusia biasa, dia bisa melewati batas level-nya 500, bahkan hampir mendekati 600. Dia pasti sudah melalui pertarungan yang sangat keras. Tapi ... sepertinya hanya sampai di sini saja perjalanannya.


"Namaku Chandra Murya! Pejuang terkuat dari selatan!" Pria itu mulai bersiap-siap menarik pedang dengan kedua tangannya.


Aku tak merasakan aura yang kuat dari pria itu, dia seperti sengaja tidak mengeluarkan kekuatan penuhnya.


Apa dia begitu percaya diri dengan kemampuannya? Penilaianku terhadapnya telah menurun. Dia hanya seorang warrior otak otot yang--


*Swing!


Pedang itu berhasil dicabut dengan sempurna tanpa menimbulkan kerusakan berarti.


Apa?!


Orang itu mengangkat pedangnya ke atas dan berteriak, "Yeaaaaaaah!"


Bagaimana mungkin?! Dia tidak menggunakan aura atau semacam skill lainnya.


"Ini sangat menarik sekali, tak kusangka akan semudah ini," ucap pria itu.


Namanya Chandra, ya? Dia berasal dari benua selatan, aku harus mengawasinya.


"Ini penipuan!" Tiba-tiba Edgar menuju ke tempat Chandra yang sedang mengangkat pedang. "Aku jelas lebih kuat dari manusia rendahan ini!"


Nona Hart hanya diam sambil tersenyum kecil. Edgar jadi tidak sabaran dan hendak menarik pakaian Nona Hart.


*Bugh!


Chandra menendang Edgar hingga terhempas ke sisi arena.


Kekuatan yang luar biasa. Aku yakin dia menendangnya tanpa menggunakan aura sedikit pun. Pria ini memiliki fisik yang sangat kuat.


"Bajingan kau!" Edgar melompat sambil menarik pedang besar dari punggungnya.


"Ambil ini, bodoh." Chandra melemparkan pedang yang ditariknya ke arah Edgar.


Edgar langsung menangkap pedang itu, namun seketika tubuhnya jatuh ke lantai arena dengan sangat keras.


"A-apa yang terjadi? Pedang ini sangat berat," ucap Edgar terbata-bata, pedang itu berada di dadanya.


Pedang itu menekan dadanya, sepertinya tulangnya sudah patah karena tak kuat menahan beban pedang itu.


"Aku akan menjelaskan pada kalian yang isi kepalanya kosong!" teriak Chandra sambil menyeringai.


Bajingan ini sangat ahli membuat orang membencinya.


"Pedang ini." Chandra berjalan menuju ke tempat Edgar, mengangkat pedang itu dari tubuhnya. "Pedang ini tidak akan bisa ditarik bahkan jika menggunakan kekuatan penuh kalian yang lemah itu. Pedang ini nemiliki kepribadiannya sendiri, dia yang memilih apakah kalian layak atau tidak untuk mengangkatnya."


*Scrak!


Chandra kembali menancapkan pedang itu ke lantai arena.


"Aku harap otak kecil kalian bisa memahami perkataanku." Dia kembali menyeringai, menatap rendah peserta lainnya. "Aku tidak mengira turnamen ini akan membosankan karena banyak peserta yang tidak memiliki keterampilan."


Chanda menoleh ke arah Nona Hart yang ada di belakangnya. "Ratu Daisy, aku punya satu permintaan karena menjadi yang pertama mencabut pedang ini."


"Hoh, katakanlah," jawab Ratu Daisy dari balkon teratas arena.


"Perdana Menteri, Alissa Hart. Aku ingin dia--"


*Swing!


Seseorang menarik pedang yang baru saja Chandra tancapkan ke lantai arena. Hal itu juga yang membuat Chandra menghentikan perkataannya.


"Kau cukup banyak bicara untuk orang yang waktu itu terdiam seperti orang bodoh ketika melihat pertarunganku dengan si penghianat Glenn." Seorang wanita mengangkat pedang dengan tangan kanannya, ia menoleh ke belakang tepat ke arah Chandra.


Wanita itu terlihat tidak asing. Aura hitam, pakaian tertutup khas assassin.


Dia, 'kan ... Nona Eline?


"Mereka akan membebaskanku jika berhasil memenangkan turnamen ini. Tapi setelah melihat hadiah pedang yang luar biasa ini, aku semakin tertarik untuk menghabisi kalian semua." Nona Elina memancarkan aura membunuhnya ke seluruh tempat.


Apa yang dia maksud? Apa dia ditangkap karena sesuatu? Aku tak ingat ada hal yang berhubungan dengan ini. Tapi pastinya ini tentang Master Glenn.


Chandra terlihat menatap tajam wanita itu. "Maaf, Ratu Daisy, aku menarik kata-kataku. Ada hal yang jauh lebih menarik saat ini." Dia melihat ke arah kami.


"Kukuku, jangan jadi tidak sabaran, manusia," kata Ratu Daisy.


Sepertinya Chandra sedang memeriksa orang-orang yang kemungkinan bisa mencabut pedang itu. Aku juga merasakan ada beberapa sosok kuat di antara kami.


Chanda dan Eline berjalan menuju ke tempat Nona Hart dan berdiri di sebelahnya.


Tiga puluh menit kemudian.


Seluruh peserta telah menarik pedang itu. Hasilnya, hanya tujuh orang dari mereka yang mampu menarik pedang itu sepenuhnya.


Aku berjalan menuju ke tempat pedang itu tertancap. Seluruh peserta memandangku sinis, tak terkecuali tujuh orang yang ada di belakangku. Mereka menganggapku remeh.


"Namaku Wither." Tak ada yang memperdulikanku.


Tanganku bersiap memegang gagang pedang, bersiap untuk menarik.


Aku mulai menarik pedang secara perlahan, namun pedang itu tidak bergerak sama sekali.


Sepertinya aku harus menggunakan auraku. Seperti perkataan Chandra, sepertinya akan sia-sia jika menggunakan aura penuh.


Aku mulai menggunakan sebagian besar auraku. Perasaan aneh muncul di tubuhku, rasanya seperti pedang ini telah menyerap Mana-ku.


Tubuhku sedikit goyah karena Mana yang tiba-tiba berkurang, auraku juga terkena dampaknya. Auraku seketika menghilang.


Sial! Pedang ini bahkan belum bergerak sama sekali!


*Srink


Pedang perlahan bergerak menggores lantai arena.


Itu berhasil! Aku harus mengerahkan segalanya sekarang!


"Huwaaaaaaaa!" Aku tanpa sadar berteriak keras.


<>


*Srink!


Aku berhasil menarik pedang itu.


Akhirnya!


Pandanganku tiba-tiba kabur, kepalaku seketika pusing.


Mana-ku hampir habis, ini sangat memalukan. Aku tidak boleh menyerah!


Aku mencoba menjaga kesadaranku, menancapkan pedangku ke lantai arena sebagai tumpuhan. Tangan kananku masih mengangkat pedang yang baru saja kucabut tadi.


"Ini sangat melelahkan," ucapku dengan napas terengah-engah.


"Kita telah memiliki delapan peserta yang akan mengikuti pertarungan sekarang! Kita akan segera menuju ke acara pertarungannya!" teriak pembawa acara.


Apa?! Aku bahkan belum memulihkan kekuatanku!


"Huh?"


Setelah melihat seseorang yang datang ke arena, kekhawatiranku pun mulai mereda. Seorang wanita dengan pakaian tertutup serba putih berjalan menuju ke tempat kami.


Dia Saintess yang berasal dari kota kecil di dekat istana, namanya adalah ... Sylvia Reizt. Kemampuan penyembuhnya sangat luar biasa, menjadikannya sebagai Support/Healer terbaik di Kerajaan Penyihir Maphas.


Di antara peserta yang berhasil lolos, hanya kondisiku yang paling buruk. Mereka sepertinya bisa mengontrol Mana yang akan diserap oleh pedang itu. Aku sedikit ragu bisa mengalahkan mereka nanti.


Nona Sylvia telah sampai di tempat kami. Dia menghampiriku yang sedang terduduk lemas di lantai arena.


"Kamu sudah berusaha dengan keras, izinkan aku membantumu, Tuan," ucap Nona Sylvia dengan suara lembut.


Wajahnya sangat cantik, aku tak bisa melihat rambutnya karena tertutupi oleh kain.


"Tuan?" Nona Sylvia mendekatkan wajahnya padaku.


"Ah, silahkan, Nona."


Aku terbawa oleh suasana. Ini tidak boleh terjadi lagi, ada Nona Hart di sini!


Nona Sylvia mengulurkan kedua tangannya padaku, aku langsung meraihnya agar dia bisa menyembuhkanku.


Ini dia, kemampuannya yang sangat terkenal. Dia bisa melakukan sihir tanpa rapalan.


Seketika energi suci mengalir ke seluruh tubuhku, mengisi kembali Mana-ku yang hampir habis, mengembalikan staminaku sepenuhnya.


Rasanya sangat nyaman, semua benar-benar pulih sepenuhnya.


"Selesai. Bagaimana kondisimu?"


"Ini sangat luar biasa. Terima kasih, Nona Saintess," jawabku sembari menggerak-gerakkan bahuku.


Aku bisa bertarung dengan maksimal sekarang. Targetku adalah ... akan kubawa pedang itu!


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!