
Seorang wanita sedang duduk menonton tv dengan mengenakan pakaian tidurku.
Tidak salah lagi, dia ....
"K-keres?"
Huh? Apa yang terjadi dengan suaraku?!
Suaraku terdengar berat, seperti ... seorang pria.
Aku meraba-raba tubuhku. Lenganku sedikit lebih besar, dadaku tidak menonjol, dan rambutku pendek.
Tidak salah lagi, aku kembali menjadi pria!
"Kau terkejut?" tanya Keres tanpa mengalihkan pandangannya dari tv.
"B-bagaimana mungkin ...?"
Aku berjalan pelan mendekat ke wanita itu. Ia duduk di sofa dengan beberapa cemilan di atas pahanya.
Dia benar-benar Keres.
Aku hampir mendekatinya.
"Berhenti." Keres mengarahkan tangannya padaku.
"K-keres, apa k--"
"Yang Mulia ... panggil aku Yang Mulia dan duduk di lantai." Keres melirikku dengan tatapan jijik.
"B-baik!"
Aku melakukan apa yang Keres suruh.
Ada apa dengannya? Apa dia selalu marah seperti ini?!
"Yang Mulia, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Anda berada di rumah Saya?"
Dan bagaimana caramu bisa masuk ke dalam dimensi Delila?!
Keres sama sekali tidak menghiraukanku. Dia hanya fokus dengan tv dan cemilan di tangannya.
Ngomong-ngomong, jika dilihat dari dekat, dia benar-benar cantik. Aku sama sekali tidak memperhatikan ini sebelumnya. Apa dia memang secantik ini? Terlebih lagi dia mengenakan pakaian tidurku.
Dadaku tiba-tiba sesak.
"Dasar mesum, bajingan, pecundang," ucapnya.
Heh? Apa dia baru saja mencelaku?
Kesabaranku habis. Dia mengabaikanku, dan sekarang menghinaku!
"Ke--"
Aku belum selesai memanggilnya, Keres langsung memalingkan wajahnya padaku. Wajahnya terlihat kesal, sampai dia menggigit bibirnya sendiri.
"Kau benar-benar bajingan mesum."
S-sialan ini!
"Hei, kau! Apa kau tidak berpikir betapa susahnya aku?! Tiba-tiba aku terseret ke dunia aneh ini dengan menjadi dirimu! Dengan seenaknya kau membuatku melakukan tugasmu! Tiba-tiba makhluk aneh menyerangku! Membuat anakku dalam bahaya, dan aku harus berjuang melindungi mereka dengan kondisi seperti ini! Itu semua karena kau! Apa yang kau inginkan sebenarnya, hah?!"
Tanpa sadar, aku meluapkan sehalanya.
"Huh ... Y-yang Mulia, maaf! Aku tidak bermaksud ...."
Sial! Apa yang sudah kukatakan?!
Keres melihatku sambil tersenyum.
"Y-yang Mulia?"
"Hahahahaha! Kau terlihat seperti orang tua sekarang."
Aku langsung menundukkan kepala karena malu.
Perkataannya benar. Emosiku memuncak ketika menyangkut para NPC. Ini karena aku benar-benar hidup sebatang kara, hanya game yang mengisi kekosonganku.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu marah,"
Keres jauh berbeda dengan yang ada di cerita Hela.
"Tapi, aku serius, kau memang bajingan mesum."
Aku sangat malu karena dia terus mengataiku seperti itu. Dan ini adalah pertama kalinya seorang wanita berada di rumahku. Sebagai seorang pria, aku tak bisa bertahan lama dalam kondisi seperti ini.
"Kita belum saling memperkenalkan diri, 'kan?" Keres menjulurkan tangannya. "Seperti yang sudah kau ketahui, namaku Keres Vasilissa. Dan maaf sudah merepotkanmu selama ini,"
Aku meraih tangannya dan kami saling berjabat tangan.
Tangannya begitu dingin.
"Aku ...." Mulutku terasa berat ketika hendak memperkenalkan diri.
"Jangan memaksakan dirimu, kau tidak bisa menyebut namamu di dunia ini,"
"Apa alasannya, Yang Mulia?"
"Aku juga tidak bisa menyebutkan alasannya, batasan yang sama juga berlaku padaku. Sihir ini membatasi informasi itu,"
"Sihir?"
"Sihir yang bisa mengambil jiwamu dari semesta lain,"
Semesta? Apa dia serius?
"Kau terlihat bingung, ya?" tanya Keres.
Aku mengangguk.
Tentu saja! Semesta lain? Ini seperti cerita fantasi dan fiksi tentang alam semesta.
"Ini sihir yang kuciptakan sendiri. Bahkan para Dewa dan Dewi di sana tidak bisa menggunakannya. Hanya aku yang bisa menggunakannya. Itulah yang kupikirkan, sampai aku melihat anakmu yang bernama Delila,"
Delila?
"Apa yang kau ketahui tentang semesta?" tanya Keres.
Aku tidak yakin, tapi ....
"Jawabanmu termasuk benar. Namun, itu terlalu sederhana. Di setiap semesta yang berbeda, kemungkinan kita memiliki kembaran diri kita versi semesta tersebut. Aku menyebutnya, semesta pararel."
Semesta pararel, ya? Kata-kata itu juga ada di film. Aku termasuk orang yang menyukai konsep semesta pararel. Meyakini adanya keberadaan semesta lain yang mirip dengan semesta kita. Berbeda dengan multisemesta, yang meyakini adanya semesta lain, namun tidak meyakini bahwa ada semesta yang mirip dengan semesta kita.
Tak kusangka Keres bisa berpikir sampai sejauh itu dengan teknologi terbatas. Yah, aku menyebutnya terbatas karena mungkin dunia atas tidak jauh berbeda dengan dunia baru.
"Lalu, apa ini ada hubungannya dengan sihir Anda, Yang Mulia?"
"Apa kau tidak menyimak perkaaanku sebelumnya?"
"Ah-- itu ...."
Keres menggelengkan kepalanya.
"Aku mengambil jiwamu yang berasal dari semesta lain ke semestaku. Sebenarnya, aku hanya mampu melihat 7 dari banyaknya semesta yang ada dengan kekuatanku,"
Bahkan Keres hanya mampu melihat 7 semesta saja. Itu sudah menggambarkan tentang jumlah energi sihir yang dia miliki dengan hanya membuka 1 semesta saja. Aku rasa bisa membuat jutaan NPC dengan statistik setara Asmodeus hanya dengan energi sihir setara 1 semesta tersebut.
"Dengan mencocokkannya, dirimu yang ada di semestamu memiliki kesamaan dengan diriku yang ada di semestaku,"
"Dan itu adalah game yang kumainkan?"
"Benar."
Secara tidak langsung, aku seperti tersugesti untuk membuat karakter Keres, ya? Ini terdengar masuk akal. Lebih tepatnya, aku hanyalah jiwa dalam tubuh manusia, sedangkan Keres yang ada di game merupakan tubuh utamanya. Aku berpikir seperti itu.
"Kupikir kau sudah menemukan alasan aku bisa menarik jiwamu, bukan?"
"Anda benar, Yang Mulia. Namun, apa alasan Anda melakukan hal itu?"
"Aku tidak bisa menjelaskannya karena batasan ini. Namun, aku bisa mengatakan dengan pasti bahwa aku sudah tidak bisa kembali ke tubuh itu lagi. Aku menggunakan sihir itu menjelang penyegelan, pastinya dengan persiapan yang matang jauh hari sebelumnya. Daripada membiarkan tubuh itu kosong, lebih baik mencari jiwa yang bisa mengisinya,"
Huh, dasar egois.
"Jadi begitu, sekarang Saya paham, Yang Mulia."
Ini sedikit rumit karena dia tidak bisa menjelaskan alasan kenapa dia harus menggunakan sihir seperti itu.
Hmmm ....
Aku terpikirkan sesuatu.
"Yang Mulia, apa Anda yang mengendalikan Saya waktu itu? Dan apa Anda juga berbicara menggunakan transmisi pikiran?"
"Kau mengintrogasiku, ya?"
"B-bukan seperti itu, Yang Mulia ...,"
"Itu semua karena kau sangat bodoh dalam mengambil keputusan. Bahkan hampir kehilangan Vampir kecil itu,"
Aku tidak bisa menepis hal itu. Karena kelalaianku, Rayna hampir mati. Sejak hari itu aku tidak bisa membiarkan mereka untuk menjalankan tugas seorang diri lagi.
"Karena hal itu aku terpaksa mengambil alih tubuhmu, tapi itu memerlukan pengorbanan,"
"Pengorbanan?"
"Seluruh stat, kemampuanmu direnggut."
Jadi, itu bukan perbuatan Satan? Ah, sial! Ini semakin rumit!
"Jadi, bagaimana agar kekuatan itu kembali, Yang Mulia?"
"Kau sudah melakukannya, walau hanya beberapa bagian saja,"
"Maaf?"
"Dengan bertemu denganku di sini."
Perlahan seluruh ruangan bersinar.
Apa yang terjadi?
"Sepertinya waktuku telah habis." Tubuh Keres juga terlihat bercahaya.
Seluruh isi rumahku pelahan memudar.
"Yang Mulia, apa yang terjadi sebenarnya?"
"Tenanglah, ini bukanlah pertemuan terakhir kita,"
"Lalu, kapan kita bisa bertemu lagi, Yang Mulia?"
"Sampai kau menghilangkan kebiasaan burukmu mengeksplorasi tubuhku, dasar bajingan mesum!" Keres menghilang setelah mengatakan itu.
Huh? T-tidak mungkin, dia juga melihat hal itu?! (Baca episode 10)
Rumahku juga menghilang, hanya menyisahkan sepetak tanah kosong.
"Ibu!" Seseorang berteriak memanggilku. Mereka adalah Delila dan Elina, wajah keduanya terlihat panik dan cemas.
Tunggu dulu, wujudku!
Aku meraba-raba tubuhku. Semua kembali seperti semula.
Syukurlah.
Elina dan Delila memelukku erat.
"Apa Ibu tidak apa-apa?!"
"Apa yang terjadi di dalam sana, Ibu?!"
Mereka langsung menghujaniku dengan banyak pertanyaan.
Satu hal yang pasti, Keres masih terus mengawasiku. Lebih tepatnya, jiwa Keres.
"I-ibu?" Delila dan Elina terlihat terkejut.
"Ada apa dengan wajah kalian?"
"K-kekuatan Ibu ... kembali."
Heh?
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!