
Kami sedang dalam perjalaan menuju kamarku di asrama.
Ini gawat! Aku tidak bisa membiarkan mereka bertemu dengan maniak sihir gila itu!
Aku menghentikan langkahku. Hanya beberapa pintu sebelum sampai di kamarku.
"T-teman-teman, apa kita harus ke kamarku?"
"Kita sudah hampir dekat, ada apa denganmu, Livia?" Alissia menarikku.
Aku tak bisa menghentikan mereka, semoga si gila itu tidak menjerumuskan teman-temanku.
Kami berada tepat di depan pintu kamarku.
Perasaanku sudah tak enak.
Tanganku sudah bersiap menggenggam gagang pintu. Aku mendorong pintu, kemudian, hal itu terjadi ....
*Duar!
Sebuah ledakan terjadi di kamarku. Ledakan itu menyemburkan kepulan asap berwarna hitam keluar.
Huh?
Delila melindungi kami dengan sihir perisai miliknya, berkat itu tubuh kami tidak berubah menjadi hitam.
"Uhuk! Uhuk!" Seseorang keluar dari kamar dengan tergesa-gesa.
Tubuhnya dipenuhi bekas kepulan asap berwarna hitam. Area matanya tetap berwarna putih sesuai warna kulitnya karena tertutupi oleh kacamata. Rambut putihnya yang tertutupi oleh noda hitam masih bisa kulihat.
"Livia, apa yang kau lakukan di sini?"
"Lumina, kau tidak pergi ke arena bawah tanah?!"
Aku sudah menebak pasti Lumina masih di kamar, ternyata benar. Dia bahkan tidak masuk kelas.
"Tidak, tidak ... di sini lebih aman, dan aku bisa leluasa membuat suara yang keras." Lumina melirik ke arah dua orang di belakangku.
"Oh, mereka adalah temanku, ini Alissia, dan yang ada di sebelahnya Delila. Alissia, Delila, perkenalkan, dia teman satu kamarku, Lumina,"
"Salam kenal, Nona Lumia." Alissia mengulurkan tangankanannya.
"Oh, teman, ya?" Lumina tersenyum kecil.
*Plak!
Aku memukul punggungnya.
"Apa yang kau lakukan, Livia?!"
"Wajahmu sangat aneh! Bersihkan tubuhmu, aku akan membersihkan kekacauan yang kau buat,"
"Baik." Lumina tertunduk lesuh.
Aku membereskan kekacauan yang dibuat Lumina. Alissia dan Delila memaksa untuk ikut membantuku. Noda-noda dibersihkan dengan sihir air dan dikeringkan dengan sihir api oleh Delila. Aku dan Alissia merapikan barang yang berserakan.
Lumina membersihkan dirinya di kamar mandi. Asrama ini memiliki kamar mandi di setiap kamarnya, ukuran kamar ini cukup luas.
"Livia, apa yang dilakukan temanmu?"
"Ah, dia sering melakukan eksperimen sihir, potion, dan sejenisnya. Aku lelah hanya dengan melihatnya,"
"Hmmm ...?" Alissia memperhatikan barang-barang eksperimen milik Lumina. "Menarik."
------------------------------
"Huuuuuh!" Aku dan Alissia menghela napas panjang.
Delila sama sekali tak terlihat lelah.
Akhirnya kami selesai membereskan kekacauan ini. Sudah lebih dari setengah jam, namun Lumina belum keluar dari kamar mandi.
*Tok Tok Tok
Aku mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.
"Lumina, apa kau baik-baik saja?"
Tidak ada respon.
*Brak!
Aku mendobrak paksa pintu kamar mandi.
"Kyaaaaa!" Seseorang berteriak dari dalam kamar mandi.
Huh?!
"Lumina, apa yang terjadi?!"
Lumina terlihat panik karena aku mendobrak pintu secara paksa.
"Kau mengagetkanku, Livia!"
"Kenapa kau lama sekali?! Aku khawatir!"
"Huhu, maaf, ada sesuatu yang kukerjakan."
Dia hanya mengenakan rok dan tidak memakai baju sama sekali.
"Wah, kalian sudah membereskannya?! Terima kasih banyak!" Lumina membungkukkan badannya.
Dia tidak malu?!
"Lumina! Pakai bajumu, kau tidak malu?!
"Huh? Di sini tidak ada laki-laki, kenapa aku harus malu?"
Alissia dan Delila tak terganggu dengan kelakuan Lumina.
"Terserahmu, deh."
Lumina mengenakan jaket longgar berwarna putih miliknya, jaket yang biasa digunakan oleh para Alkemis. Ukurannya sangat besar, dadanya masih terlihat jelas karena ia tak menutupinya. Lumina kembali pada ekspreimennya.
"Kalian boleh mengabaikanku, aku tak akan membuat tempat ini berantakan lagi."
Harus kuakui, Lumina memang sangat pintar, dia berada di tingkat Silver sekarang. Namun, kepintarannya tak sebanding dengan kekuatan sihirnya, mungkin dia bisa mencapai tingkat Gold jika memiliki kekuatan sihir yang cukup.
Alissia mendekati Lumina. Ia terlihat penasaran dengan apa yang dikerjakan Lumina.
Aku duduk di tempat tidur yang berada di belakang meja Lumina sambil memperhatikan mereka.
Lumina sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran Alissia di sebelahnya. Malah ia terlihat menikmati apa yang dikerjakannya.
"Temanmu memilik bakat yang langka." Delila duduk di sebelahku.
"Yah, dia memang pintar,"
"Tidak, maksudku dia bisa menjadi Alkemis terhebat di masa depan,"
"Kau serius?"
Aku tahu Lumina pintar, namun itu hanya sebatas teori sihir saja. Eksperimen yang dia lakukan ini pengecualian. Aku pernah melihatnya sesekali, namun aku tak mengerti apa yang dia kerjakan dalam eksperimen tersebut. Mendengar Delila memujinya, mungkin Lumina bisa menjadi Alkemis di masa depan.
"Dari mana dia berasal?"
"Seingatku, dia dari Kerajaan Rexist."
Delila hanya diam sambil memperhatikan mereka.
Mataku terasa berat, tubuhku tak mampu bertahan.
Aku sangat mengantu--
--------------------------------
Tubuhku terasa panas, seperti sesuatu akan meledak dari dalam tubuhku.
Aku membuka mataku.
Keringat bercucuran dari tubuhku. Aku terbaring di tempat tidurku.
Sepertinya mereka memperbaiki posisi tidurku, terlihat dari selimut yang menutupi tubuhku. Namun, keringatku tak ada hubungannya dengan selimut ini, suhu di sini dingin. Apa aku demam?
Aku menolah ke sisi kiriku. Di meja Lumina tak ada seorang pun.
Muncul kibasan rambut kuning dari sisi kiri penglihatanku.
Aku menggeser kepalaku untuk melihatnya.
Alissia sedang melihat ke arah luar jendela. Hembusan angin membuat rambutnya berkibar. Bilasan cahaya semakin membuatnya indah.
Aku tak terlalu memperhatikan rambutnya, sekarang aku menyadari sesuatu. Rambut kuning terang seperti itu hanya dimiliki oleh Keluarga Kekaisaran dan Keluarga Hart. Mustahil ada orang lain yang memilikinya. Aku bahkan harus membuat rambutku menjadi kuning gelap untuk menyamarkan identitasku.
Alissia bilang ia berasal dari Kekaisaran, itu semakin menguatkan dugaanku. Tapi, aku tak pernah mendengar atau melihatnya ketika perkumpulan Keluarga Hart dan Kaisar. Dugaanku untuk saat ini, dia anak yang dirahasiakan oleh Duke Hart. Itu terlihat dari cara Erish dan Delila yang menghormatinya, dia bisa saja berasal dari cabang atas.
"Kau sudah bangun, Delila?"
"Huh, i-iya, aku baru saja bangun,"
"Delila dan temanmu sedang ada urusan dengan beberapa murid di luar sana,"
"Apa perundung itu datang lagi?!"
"Kali ini para gadis yang datang. Mereka semua merepotkan."
Biasanya Lumina akan menghadang mereka, walau hasilnya kami berdua tetap babak belur. Ini sebabnya aku tak ingin satu kamar dengan siapa pun.
"Ugh!"
Tubuhku masih sangat panas, aku tak tahan.
"Aliss--"
Aku terdiam saat melihat Alissia.
Alissia melihatku dengan tatapan yang menakutkan. Matanya bersinar kemerahan. Instingku berkata untuk tetap diam. Keringatku semakin deras.
Apa sebenarnya ini?
Alissan mendekatiku. Ia mengangkat tangannya ke arahku.
Aku memejamkan mataku.
Huh?
"Sepertinya itu bekerja." Alissia menyentuh keningku. "Kau harus lebih banyak beristirahat, Livia."
Suhu tubuhku turun. Apa itu tadi?
"Aku akan pergi melihat kedua orang itu." Alissia pergi keluar dari kamarku.
Perasaan yang sangat mengerikan.
Aku kembali berbaring di tempat tidurku.
Alissia. Aku mengingat sesuatu ketika memikirkan hubungannya dengan Keluarga Hart dan Kekaisaran.
Jika ia bukan dari Keluarga Hart, maka ... tidak salah lagi, dia pasti memiliki hubungan dengan orang yang sangat dicari oleh Duke Hart, karena orang itu sempat menyelamatkan party Hart, dan saat ini menjadi Perdana Menteri Kerajaan Penyihir Maphas.
"Alissa Hart."
Bersambung ....
Sekarang kalian bisa bergabung di grup chat novel ini. Kalian bisa memberi masukan untuk novel ini agar lebih baik ke depannya. Caranya, buka halaman novel ini, dan klik tombol "Ayo Chat" seperti gambar di bawah.
Terima kasih!
JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!
Kalian bisa support Author juga di sini biar Saya semakin semangat buat update :
https://saweria.co/hzran22
Bisa donasi dengan Gopay, OVO, dan Dana, ya.