
Chapter 30 : Persiapan Perang
"Apa kau sudah siap, Zain?"
"Tentu saja, Guru!"
Aku memejamkan mataku.
Rasakan energi di sekitarku. Kumpulkan energi itu pada pedangku.
Targetku batu berbentuk singa di depan.
Ini saatnya!
"Light Slash!"
Kiri, kanan, tengah, tusuk dari bawah!
*Crack!
Patung batu itu hancur berkeping-keping.
Aku berhasil menguasai Light Slash!
"Kerja bagus, Zain, kau berhasil menguasai teknik andalanku,"
"Semua ini berkat ajaranmu, Guru,"
"Hahaha! Bagaimana jika kau traktir aku makan,"
"Baiklah."
Guruku merupakan salah satu dari 12 Saint Suci. Lebih tepatnya, mantan 12 Saint Suci. Dia orang yang membantuku melawan Dragonewt saat penyerangan Naga Hitam. Kondisi Guru sangat tidak memungkinkan lagi untuk bertarung, itu karena bagian tubuhnya telah rusak akibat serangan perusak jiwa yang diterimanya dulu.
Guru mengambil keputusan untuk mengajarkanku Martial Art dan teknik andalannya, yaitu Light Slash. Sebuah serangan yang bisa menyerang ke segala arah dalam waktu bersamaan. Dibandingkan Guru, seranganku belum mencapai titik di mana dalam satu gerakan bisa langsung menyerang ke segala arah. Dan juga, serangan Guru membentuk kilatan cahaya, sedangkan seranganku membentuk tebasan aura berwarna biru. Itu pengaruh job Swordmaster milikku. Guru menguasai teknik yang seharusnya dikuasai oleh seorang Swordmaster.
---------------------------
"Huwaa! Makanan ini benar-benar enak! Sering-seringlah traktir aku makan, Zain!"
"Guru, kau terlihat bebas sejak pensiun dari tugasmu sebagai Saint Suci,"
Guru memegang pundakku. "Zain, hidup tidak harus mengikuti keinginan orang lain. Kau bebas memilih keinginanmu. Dan inilah keinginanku, hidup damai sebagai seorang rakyat biasa,"
"Apa menjadi seorang Pahlawan merupakan pilihan hidup?"
"Itu tergantung pada keinginanmu. Jika kau memiliki keinginan untuk melindungi seseorang, maka itu adalah sebuah pilihan hidup seorang Pahlawan,"
Siapa yang aku lindungi?
Pikiran itu terlintas di kepalaku.
Sejak aku datang ke dunia ini, banyak orang yang membantuku. Terutama rekan-rekan party-ku dulu. Aku gagal melindungi mereka. Lucas mengalami luka permanen yang membuatnya tak bisa lagi bertarung. Keberadaan Yulia dan Andrew sampai saat ini belum diketahui.
Guru berdiri dari tempat duduknya.
"Apa Guru akan pergi?"
"Yah, aku sedikit lelah,"
"Baiklah, terima kasih untuk hari ini,"
"Zain, aku ingin menyampaikan sesuatu,"
Kenapa tiba-tiba?
"Apa itu, Guru?"
Guru mendekatkan tubuhnya padaku. "Awasi gerak-gerik Putra Mahkota," bisiknya.
"Huh?"
"Baiklah! Aku akan pergi."
Putra Mahkota? Aku mengerti kenapa Guru mewaspadainya, itu karena Putra Mahkota sangat menentang kehadiran Gereja Suci. Di balik sikapnya yang kasar, Putra Mahkota sangat mencintai Kerajaannya. Itu dibuktikan dengan puluhan ribu pasukan yang siap perperang di bawah perintah Putra Mahkota. Dan dia sangat menentang keputusan Kerajan Penyihir Maphas yang meminta beraliansi dengan Kerajaan Rexist.
Sudah lebih dari 2 bulan sejak kejadian Naga Hitam. Belum ada berita tentang Kerajaan Penyihir Maphas sampai saat ini.
Aku menghela napasku. "Apa yang harus kulakukan sekarang, ya?"
Sebaiknya aku pulang untuk saat ini.
-------------------------
Aku berjalan kembali ke rumahku.
Hari sudah mulai gelap. Kota semakin sepi. Para warga sepakat untuk membatasi aktivitas di malam hari. Hanya beberapa tempat makan dan toko kelontong yang masih buka hingga tengah malan. Ini karena mereka masih trauma dengan serangan malam dari Dragonewt. Yah, ini terlihat jauh lebih baik. Tingkat kejahatan menurun.
Huh?
Aku merasakan energi sihir tidak jauh dari tempatku berada.
Penyihir? Ada banyak penyihir, mereka berkumpul di suatu tempat.
Aku berlari menyusuri gang kecil untuk menuju ke sumber energi sihir tersebut.
Apa yang penyihir lakukan di tempat seperti ini?!
Energi sihir semakin kuat. Itu menandakan bahwa aku berada di dekat mereka.
Gang kecil yang kulalui terhubung dengan taman di dekat alun-alun kota. Taman itu cukup luas, hanya ada lapangan rumput dan patung batu di tengahnya.
Terlihat beberapa orang berdiri di setiap sudut taman dengan memegang tongkat sihir yang menyala.
Apa mereka menjaga area taman ini? Aku tidak bisa melihatnya dari jarak seperti ini.
Aku berjalan menuju taman.
Sebuah penghalang terpasang menyelimuti area taman.
Jadi orang-orang itu membuat penghalang.
Aku mencoba berbicara dengan salah satu penyihir di sudut taman.
"Permisi, apa yang sedang terjadi di sini?"
Penyihir itu menatap tajam diriku.
Aku menunjukan token berbentuk logam emas padanya.
"P-pahlawan?! Maafkan ketidaksopananku!"
"Lupakan itu, apa yang sedang terjadi di dalam?"
"Senjata-senjata baru akan datang. Jumlahnya sangat banyak, kami tidak memiliki tempat yang luas untuk menggunakan teleportasi barang, karena itu kami menggunakan taman ini,"
Senjata baru? Aku rasa senjata milik Kerajaan masih bagus.
"Hmmmm ...."
"Ada apa, Tuan Pahlawan?"
"Siapa yang menggunakan sihir teleportasi barang?"
"Ah, itu adalah Nona Emina dan Nona Licia. Mereka berdua secara bersamaan menggunakan sihir teleportasi berskala besar,"
Akan masuk akal jika mereka yang menggunakannya.
"Mereka akan tiba di sini besok pagi untuk memindahkan senjata dari tempat lain,"
Aku penasaran dengan senjata yang mereka beli. Sepertinya aku harus ke sini besok pagi.
"Baiklah, terima kasih atas informasinya,"
-----------------------
Keesokan paginya.
Aku kembali untuk mengunjungi taman. Suasana begitu ramai, banyak orang-orang berbondong-bondong melihat apa yang terjadi di taman.
Hanya saja, pelindung yang sebelumnya transparan, kini berubah menjadi hitam pekat. Mereka sepertinya ingin merahasiakan apa yang terjadi di dalam.
Aku menunjukan tokenku dan penyihir mengizinkanku masuk.
"Huh?" Aku melihat ke setiap sudut taman.
Tidak ada senjata. Hanya beberapa orang di tengah taman.
Tunggu ....
Aku menyipitkan mataku untuk melihat dengan jelas orang-orang di tengah taman.
Nona Emina, Nona Licia, Raja, dan ... Uskup Agung? Apa yang dia lakukan di sini?
Di tengah-tengah mereka ada seorang pria mengenakan pakaian yang terlihat seperti jas berwarna hitam.
Aku pergi menuju ke tempat orang-orang penting itu.
Pria jas hitam mengenakan tas yang berukuran cukup besar.
Jika aku tidak salah, pria ini pasti yang menawarkan senjata pada Raja. Aku pernah melihat orang-orang seperti ini di duniaku. Mereka disebut sebagai sales.
"Yang Mulia Raja, senjata dari Asosiasi Persagangan Luxtier kali ini lebih bagus dari yang sebelumnya," ucap pria itu sambil tersenyum kecil.
"Benar, Yang Mulia, Saya sudah melihat senjata yang dia miliki sebelumnya," sambung Nona Emina.
Pria itu membuka tas dan mengeluarkan sebuah dagger.
Uskup Agung langsung mengambil dagger itu.
Ekspresinya terlihat terkejut melihat dagger itu. Aku tidak tahu pasti ekspresi sesungguhnya, karena matanya tertutup kain putih.
"Rune. Dari mana kalian mendapatkan rune?" tanya Uskup Agung.
"Maaf, Nona Uskup, itu rahasia dari bos besar,"
"Jadi kalian masih memiliki banyak senjata rune di sana?"
"Kami berencana untuk menjualnya ke seluruh Kerajaan, Nona Uskup,"
Aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan rune. Sepertinya itu semacam penambah kekuatan pada senjata.
"Tunggu, jika kalian menjualnya ke seluruh Kerajaan, bagaimana dengan Kerajaan Penyihir Maphas?" tanya Nona Licia.
"Tentu saja mereka mendapat bagian, Nona. Namun, senjata yang kami tawarkan pada kalian masih lebih unggul daripada senjata mereka,"
"Pahlawan." Uskup Agung menyerahkan dagger itu padaku.
Apa dia ingin aku mencobanya?
Dagger ini sangat ringan. Tidak ada salahnya untuk mencoba dagger ini.
"Summon Magic!" Nona Licia merapalkan sihir pemanggil.
Seekor serigala berukuran cukup besar keluar dari lingkaran sihir.
"Cobalah, Tuan Zain,"
Serigala itu berada di tingkat C. Kecepatannya sangat merepotkan.
Serigala itu berlari ke arahku.
Akan kuhabisi dengan satu serangan!
"Light Slash!"
*Crack!
Aku memotong seluruh bagian tubuh serigala secara bersamaan.
Tubuhku gemetaran.
Tidak mungkin. Kecepatan ini menyamai Guru! Dan juga, aku menggunakan dagger, bukan pedang!
"Bagaimana menurutmu, Pahlawan?" tanya Uskup Agung.
"Ini luar biasa!"
"Begitulah yang dia katakan, Raja, Saya menyarankan Anda untuk membeli senjata ini,"
Aku paham, Uskup Agung adalah alasan kenapa Raja berada di sini. Dia mencoba membuat Raja untuk membeli semua senjata ini tanpa mengeluarkan biaya dari Gereja Suci.
"Baiklah, aku akan membelinya, segera siapkan cek untuk Asosiasi Perdagangan Luxtier!"
"Terima kasih, Yang Mulia, kami akan segera menyiapkan pesanan Anda,"
Aku tidak peduli siapa yang akan membayar, senjata ini benar-benar luar biasa, kita harus memilikinya.
"Yang Mulia Raja, Nona Uskup Agung!" Seseorang datang berlari ke arah kami.
"Apa yang terjadi?!" tanya Raja dengan nada tinggi.
"Kita mendapatkan surat balasan dari Kerajaan Penyihir Maphas!"
Raja dan Uskup Agung pergi meninggalkan tempat ini.
Sekarang hanya ada aku, Nona Emina, Nona Licia, dan pedagang.
"Nona, aku mendapatkan pesan bahwa orang-orang kami telah menyiapkan senjatanya," ucap pria pedagang.
"Baiklah. Ayo, Emina!"
Dua penyihir terkuat Kerajaan merapal mantera telerpotasi barang skala besar.
Ini akan memakan banyak Mana. Semoga kalian berhasil.
Lingkaran sihir muncul dan membentang luas seukuran taman.
"Teleportation!" Kedua penyihir berteriak secara bersamaan.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!
Kalian bisa support Author juga di sini biar Saya semakin semangat buat update :
https://saweria.co/hzran22
Bisa donasi dengan Gopay, OVO, dan Dana, ya.