
"Bagaimana cara kita memulainya, para Tetua terhormat?"
"Nona Hart, sampai di mana tingkat sihir terkuat milik penyihir Kerajaan Penyihir Maphas?" tanya Tetua Putih.
"Aku tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana, tapi yang pasti, kekuatan Ratu Daisy kami bisa menghancurkan satu negara dengan sekali serang,"
Ketiganya menatapku sinis.
"Bukankah Ratu kalian telah mati?"
"Beliau tidak mati, hanya sedang menyembuhkan diri."
Jawabanku tidak salah, 'kan? Daisy masih hidup.
"Kami juga memiliki sihir seperti itu. Jawablah dengan jelas," ucap Tetua Merah dengan kerutan di dahinya.
Dia sama sekali tidak bisa menjaga ekspresinya. Sihir apa yang bisa menarik minat mereka, ya?
"Kalau begitu sihir seperti apa yang sedang kalian kembangkan, Tetua?" Aku mencoba menjaga ekspresiku yang kesal.
"Kami tidak mengembangkan sihir, melainkan membuat item sihir," ucap Tetua Putih.
"Item sihir?"
"Sebelum kekuatan Ratu Hela kembali, kami mencoba membuat suatu item yang bisa mengembalikan kekuatannya,"
"Ratu Hela yang telah memberi tahu kami detail item tersebut. Beliau penemunya." Tetua Biru melanjutkan perkataan Tetua Putih.
Mereka bisa membuat item hanya bermodalkan para penyihir dan alkemis. Bagiku itu terdengar mustahil, tapi ini Hela, pasti dia menemukan suatu cara.
"Itu sangat luar biasa. Aku dengar hanya para dwarf yang bisa membuat item,"
"Pengetahuan Ratu Hela sangat luar biasa, kami tidak perlu meminta bantuan pada siapa pun."
Tebakanku benar.
Hmmm ... aku tidak boleh terus bertanya seperti ini, para orang tua itu pasti akan mencurigaiku.
"Item milik Ratu Daisy tidaklah sehebat item yang bisa mengembalikan kekuatan, haya item pengendali ribuan undead,"
"Undead, ya. Itu cukup mengesankan. Yah, karena Ratu Daisy kalian seorang undead, jadi itu hal wajar." Tetua Putih menggaruk pipinya.
"Namun, akhir-akhir ini kami sedang mengembangkan tongkat sihir,"
"Pfff!" Tetua Merah dan Tetua Biru menertawakanku.
"Mohon maaf telah menyelamu, Nona Hart. Apa yang bisa dilakukan oleh tongkat sihir? Itu hanya sebuah alat yang dikhususkan untuk mereka yang tidak bisa melakukan sihir," ucap Tetua Putih.
"Tidak usah meminta maaf, Tetua Putih. Aku juga paham pemahaman kalian tentang tongkat sihir. Namun, ini adalah sebuah revolusioner. Kami percaya ini akan memberi perubahan besar bagi penyihir bertongkat maupun tidak,"
"Aku rasa omong kosong ini cukup menarik. Apa kau bisa membuktikannya?" Tetua Merah memandangku sinis.
Aku meminta Delila mengambil sesuatu dari ruang dimensinya.
"Lihatlah ini." Aku menghunuskan sebuah tongkat sihir ke arah Tetua Merah.
"K-kau!"
"Kita bisa mencobanya di luar,"
"Nona Hart, apa kau yakin?"
"Ini akan menambah wawasan kalian sedikit. Ayo, apa kalian takut?"
"Baiklah. Kuharap kau tidak akan menyesalinya."
Kami berpindah ke sebuah tempat.
Terlihat seperti arena pertarungan. Pelindung sihir tingkat tinggi menutupi arena ini. Aku bisa merasakan energi sihir Hela dari pelindung itu, sama dengan pelindung yang menyelimuti kota sebelumnya.
Satu hal yang pasti, ini masilah di dalam menara.
Para penonton mulai berdatangan, mereka para penyihir yang sebelumnya sibuk di dalam menara.
Tetua Putih dan Tetua Biru duduk di bangku penonton. Tetua Merah menjadi lawanku.
Ini sedikit di luar rencanaku. Sepertinya bisnis tongkat sihir akan segera terealisasi.
"Tetua Putih bilang kau kehilangan kekuatanmu, sama seperti Ratu Hela. Tapi kenapa kau tidak menggunakan cara yang sama seperti kau menyembuhkan Ratu Hela?"
"Tak perlu mengasihaniku, Tetua Merah. Lawan aku dengan kekuatan penuhmu,"
"Baiklah, kau akan menyesali ini."
Tetua Merah melepaskan semua aura di tubuhnya. Aura itu berwarna merah, dengan api kecil yang pecah di sekitarnya.
Mereka spesialis sihir api.
Dia kuat.
[Delila, level berapa dia?]
[Tetua Merah memiliki level 642, Ibu.]
Itu pencapaian yang luar biasa untuk seukuran manusia. Pasti dia sudah banyak melalui banyak cobaan. Yah, aku juga tidak yakin bisa mengimbanginya jika kekuatanku belum kembali. Tapi, kurasa kekuatanku setara Putri Sharah saat ini.
"Dragon Fire : Black Dragon!" Tetua Merah merapalkan sihirnya.
Sihir apa itu?
Sebuah api muncul memutari tubuhnya. Api itu berwarna hitam, terlihat seperti ular naga. Ukurannya sangat besar dan panjang.
Ini lebih terlihat seperti familiar daripada sihirnya.
Panas dari api itu membuat pakaianku menipis dan bahkan terbakar di area tertentu.
Ini sihir tingkat tinggi. Mari kita lihat, sekuat apa sihir ini.
*Bush!
"Reverse Gravity!" Aku merapal sihirku.
Ular naga itu melambat, dan berbalik mundur melesat ke arah Tetua Merah.
Aku menggunakan sihir yang bisa mengontrol gravitasi pada objek yang kuinginkan. Pada kasus ini, aku mengendalikan ular naga itu sambil menambah beban massa untuk memperkuat serangan.
Tetua Merah membatalkan sihirnya. Ular naga itu menghilang.
"Fire Ball : Multiply."
Ratusan lingkaran sihir muncul menutupi arena. Semua lingkaran sihir itu mengarah padaku.
Bukan hanya sekedar Fire Ball biasa, ini tingkat tinggi, karena yang keluar bukanlah bola api biasa, melainkan ....
"Tetua Merah! Hentikan sekarang juga!" Kedua Tetua terlihat panik, tapi Tetua Merah mengabaikan mereka.
*Bush!
Meteroit ditembakkan ke arahku melalui ratusan lingkaran sihir itu.
Aku tidak bisa melawannya dengan sihir serangan, arena ini bisa hancur, bahkan aku khawatir penghalang akan hancur juga.
"Protective Wall of the Gods."
Aku menggunakan sihir pertahan.
Sebuah dinding muncul dari bawah tanah, dinding itu membentuk sebuah gerbang raksasa yang menutupiku dari segalah arah. Gerbang itu dilapisi emas murni.
*Duar!
Ledakan beruntun sedang berlangsung. Getaran dari ledakan itu sangat besar, bahkan hampir membuatku oleng.
Aku terpaksa harus menggunakan sihir pertahanan tingkat 13. Ini pertahanan terkuat nomor 3 dari seluruh sihir pertahanan yang kumiliki. Jika tanpa tongkat ini, mungkin aku tidak bisa menyesuaikan ketahanannya, dan akan hancur seketika karena energiku yang masih kurang.
Tongkat ini merupakan item tingkat mitos. Aku mendapatkannya dalam sebuah event tahunan. Tongkat terkuat yang kumiliki, aku menamainya ... Khai Staff.
Tak ada damage berarti yang diterima, pertahananku masih berdiri kokoh menahan semua serangan milik Tetua Merah.
Tembakan masih terus diluncurkan, aku tak tahu berapa kali dia sudah menembakku dengan sihirnya itu. Jika berada di sebuah kota, mungkin kota itu akan hancur karena serangan beruntun ini.
Suara ledakan perlahan mulai berkurang.
Sepertinya sudah berakhir. Aku harus memastikannya.
[Delila, apa dia masih menyimpan serangan terakhir?]
[Tidak, Ibu, sihirnya telah selesai.]
Aku membatalkan Protective Wall of the Gods.
Terlihat Tetua Merah yang sedang terengah-engah karena kehabisan Mana.
Dia sudah tua, itu reaksi yang wajar saat menggunakan sihir seperti tadi.
Ini saatnya promosi!
"Apa kalian sudah melihatnya?! Tongkat ini mampu menambah kekuatan sihir kalian dua kali lipat, bahkan lebih banyak lagi tergantung kualitasnya. Dan bisa membuat para penyihir tongkat percaya diri dengan kemampuan mereka!"
Orang-orang di bangku penonton mulai berbisil-bisik.
"Bukti nyatanya ada di hadapan kalian, bahkan Tetua Merah tak mampu menanganinya! Dengan bergabungnya kedua Kerajaan, maka pengembangan ini bisa meningkat pesat. Pikirkan ini, para Tetua dari Tiga Menara!"
Sekarang, aku hanya perlu menunggu keputusan mereka.
A. Murid Yang Mabuk
Malam hari setelah perjanjian antara Kerajaan Mystick dengan Kerajaan Penyihir Maphas.
Hela duduk di ruangannya menghadap jendela, bulan terlihat dengan jelas dari tempatnya.
Dia mengingat kembali kejadian sebelumnya.
Setelah pertarungan itu, Alissa Hart datang menemui Hela dan memintanya menjadi pelopor untuk mengembangkan tongkat sihir.
Hela yang mendengar itu terkejut, itu bukan usulan darinya, melainkan Alissa Hart, tapi dia diminta menjadi pelopor pengembangan tongkat sihir itu. Dengan kata lain, dia diminta melakukan promosi secara personal ke kerajaan lain.
"Bukannya dia-- maksudku Beliau bisa melakukan itu?" tanya Ghad yang berdiri di belakangnya.
"Aku tak tahu. Aku mengira permintaannya adalah untuk menggunakan item pilar. Ternyata semata-mata hanya permintaan untuk menggunakanku sebagai promotor." Hela menjawab dengan raut wajah lesu.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa tahu bahwa Alissa Hart adalah Mastermu?"
"Pertemuan dengan Gereja Suci." Hela lagi-lagi menjawabnya dengan lesu.
Hela meminum sebuah wine, itu alasan kenapa dia tidak bersemangat saat ini. Dia sengaja tidak menetralkan efek wine.
Dia tahu bahwa Alissa Hart adalah Master-nya. Itu berawal saat Gereja Suci datang berkunjung. Hela secara tidak sengaja mengeluarkan aura sihir yang langsung direspon oleh tubuh Alissa Hart. (Adegan episode 140, ketika Hela tersenyum melihat Alissa).
"Kau benar-benar tidak ingin menyapa Beliau?"
"Tidak. Master juga terlihat berbeda sekarang, mungkin ada rencana yang sedang Beliau siapkan."
Hela menyipitkan matanya saat melihat ke arah bulan. Dia mulai terpikirkan oleh sesuatu.
Orang-orang kuat di sekitarnya, dan mereka memanggil Master dengan sebutan Ibu. Apa maksudnya itu? Apa itu alasan Master menyuruhku untuk menutup diri selama ratusan tahun? Master berhubungan dengan manusia rendahan? Sampai Beliau membuat kerajaan lain, jika Beliau mau, aku pasti akan memberinya Kerajaan Mystick saat ini juga.
Air mata Hela keluar, dadanya sesak ketika mengingat hal yang dipikirkannya.
Master benar-benar jahat.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE!