The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Dewa Assassin



"Kau benar-benar tidak becus," ucap wanita itu.


Glenn mencoba menendang mereka berdua, namun wanita itu menghilang seperti bayangan bersama dengan Eline.


"Kurasa aku harus menghancurkan tangan kananmu." Wanita itu muncul di sebelah kanan Glenn dalam posisi memegang tangan kanannya.


Tangan kirinya memegang tangan Glenn, tangan kanannya mencekik Eline.


*Crack!


Wanita itu meremas tangan kanan Glenn hingga terdengar suara sesuatu yang remuk di dalam tangannya.


"Agh!" Glenn berteriak kesakitan. Matanya kembali normal.


"Kau sudah sadar?" tanya wanita itu.


Glenn langsung membuka matanya lebar-lebar dan segera menoleh ke arah wanita itu.


"N-nona Selene! Maafkan aku!" Glenn terlihat panik saat berhadapan dengan wanita itu.


"Tak kusangka akan berakhir seperti ini, kau dikuasai olehnya,"


"Aku terbawa suasana, mohon maafkan aku, Nona Selene."


"Pergilah dan sembuhkan tanganmu kananmu itu."


"Baik."


Chandra tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Wanita yang ada di depannya terlalu mengerikan jika mendeskripsikan kekuatannya. Tapi dia menyadari sesuatu.


Wanita itu seorang Dewa Assassin.


Itu yang dia pikirkan. Tubuh Assassin tidak dilatih untuk pertarungan berat maupun langsung. Namun, wanita di depannya memiliki segala aspek. Seorang yang memiliki kekuatan fisik petarung dan kemampuan Assassin yang luar biasa.


"Wah, Nona Selene datang!" Goby datang melompat-lompat di sebelah Chandra.


"G-goby, siapa wanita itu?"


"Oh, Tuan! Nona Selene adalah salah satu petinggi di istana!"


Apa ini ada hubungannya dengan nona-nona yang pernah Goby ceritakan?


"Nona Selene!" Goby memanggil Selene.


"Hmmm ... ternyata Goby. Apa kau sedang mencari sesuatu?"


"Aku baru saja mengevakuasi para kadet karena ulah dua orang itu!" jawab Goby kesal.


Selene melihat ke arah Chandra.


Sesuatu seperti berjalan di sekujur tubuh Chandra saat Selene melihatnya.


Dia hanya melihatku, namun tekanannya juga mengarah padaku. Jika aku bergerak sembarangan, aku bisa mati. Wanita ini jauh lebih kuat dari dua orang yang ada di belakang Uskup Agung.


Dua orang yang Chandra maksud merujuk pada saat pertemuan pertamanya dengan Uskup Agung.


"Siapa serangga yang ada di sebalahmu itu?"


Serangga?!


"Ah, ini Tuan Chandra! Dia baru 2 hari di sini, jadi aku memandunya!"


"Apa kalian tidak melihat sekitaran istana?"


"Serius?! Kami boleh ke sana?!" Goby melompat kegirangan.


"Kalian boleh ke pinggiran istana. Kalau begitu, aku pergi dulu." Selene menghilang bersama dengan Eline yang masih dicekik olehnya.


Wanita itu sangat dingin, bahkan tanpa ekspresi sama sekali. Apa Assassin hidup tanpa ekspresi seperti itu?


"Tuan! Tuan! Apa kau ingin pergi ke pinggiran istana?"


"Hmmm ... sepertinya ti--" Chandra berhenti berbicara ketika melihat wajah Goby yang penuh harap.


Dia benar-benar ingin ke sana, ya?


"B-baiklah, kita ke sana."


"Yeah! Kita akan segera ke sana!" Goby menyentuh Chandra. Tangannya merobek sebuah kertas sihir.


Chandra juga menyadari itu dan memilih tidak bertanya tentang kertas sihir, karena dia sudah tidak asing dengan kertas sihir.


Itu adalah kertas sihir. Sebuah item yang menyimpam satu sihir tingkat tertentu tergantung kepiawaian sang penyihir. Namun yang sering dijumpai adalah sihir-sihir tingkat rendah dan beberapa tingkat menengah. Ini mempermudah pekerjaan mereka yang bukan penyihir untuk melakukan aktivitas.


Lingkaran sihir muncul di bawah kaki mereka, dan mereka menghilang setelahnya.


Mereka berdua sampai di depan gerbang tinggi. Ada dua patung aneh di kanan kiri gerbang itu.


Chandra tidak terlalu memperhatikan gerbang besar itu, dia masih terpikirkan sesuatu.


Kertas sihir itu berisi sihir teleportasi?


"Tuan! Kita telah sampai di gerbang istana!"


"Ah, ayo lanjutkan, Goby."


Mereka tidak masuk ke gerbang istana, melainkan berkeliling di sekitar istana, karena Selene tidak memberi izin memasuki istana.


Tidak seperti istana lainnya yang dikelilingi bangunan di sekitarnya, istana Kerajaan Penyihir Maphas berdiri di tengah padang rumput hijau. Dengan jalanan beraspal yang memiliki jarak 3 kilometer dari perkotaan.


Sepertinya daerah ini juga akan dibangun kota.


Namun, tidak hanya istana saja yang ada di lapangan luas itu. Tak jauh dari pinggiran batas kota dan padang rumput ada sebuah permukiman kecil.


Goby membawa Chandra berjalan melewati padang rumput menuju permukiman itu.


Itu bukanlah pemukiman kecil yang biasa dilihat Chandra. Pemukiman itu memiliki bangunan yang serupa dengan yang ada di kota, namun berukuran kecil. Ada satu bangunan kerucut tinggi di tengah pemukiman itu, bangunan itu terlihat seperti ....


"Gereja?" tanya Chandra spontan setelah melihat bangunan itu.


"Oh, aku akan menceritakannya setelah kita sampai di sana, Tuan!"


Chandra mengangguk.


Kenapa ada gereja di sini?


Hembusan angin terasa sangat dingin walau cuaca sedang terik. Namun Chandra tidak lelah sama sekali, bahkan kondisi tubuhnya semakin membaik ketika semakin dekat dengan pemukiman Gereja.


*Ngiiing


Sepintas terdengar suara dengungan yang menusuk telinganya.


"Agh!" Chandra spontan menutup telinganya.


Apa itu tadi?


Goby terus melompat tanpa menghiraukan apa pun.


Apa Goby tidak merasakannya?


Setelah dilihat dari dekat, suasana di tempat itu terlihat ramai. Orang-orang beralalu-lalang di jalan, namun, mereka mengenakan jubah putih yang terlihat tidak asing bagi Chandra.


Jubah yang mereka kenakan terlihat mirip dengan Gereja Suci. Apa yang sebenarnya terjadi di sini?


"Tuan! Selamat datang di Distrik Gereja!" sambut Goby.


"Goby, apa mereka berasal dari Gereja Suci?"


"Mereka memang berasal dari Gereja Suci! Tapi itu dulu, Tuan!"


"Dulu?"


"Beberapa tahun yang lalu mereka kabur dari wilayah Gereja Suci dan berakhir di sini!"


Chandra diam sejenak untuk mencari informasi di kepalanya.


Informasi tentang orang yang kabur dari Gereja Suci. Ah, sepertinya ini tentang rumor itu. Kurang lebih 4 tahun lalu salah satu petinggi Gereja Suci yang posisinya berada di bawah Uskup Agung, dia adalah Saintess, dia kabur dari Gereja Suci bersama pengikutnya. Jika informasi itu benar, aku bisa menyelidiki tempat ini untuk mencari info tentang Saintess.


"Tapi, bagaimana cara Gereja di tempat ini bekerja?"


"Seperti yang kau lihat, Tuan! Gereja masih melakukan aktivitasnya, namun, mereka tidak lagi menyembah Dewi!"


"Mereka tetap bisa menggunakan kekuatan suci?"


"Benar, Tuan!"


Chandra berpikir lagi sambil memegang dagunya.


Aku tidak begitu mengerti tentang kekuatan suci. Sepertinya mereka tetap bebas menggunakan kekuatan suci walau sudah tidak terikat dengan Dewi.


Karena percakapan yang menarik itu, tak terasa mereka sudah sampai di depan Gereja. Pintu besar Gereja terbuka lebar. Banyak orang dari kota datang ke Gereja untuk pengobatan serta penyucian agar terbebas dari sihir jahat.


Memang benar, tidak ada orang yang beribadah di tempat ini. Mereka hanya melakukan aktivitas seperti biasanya, dan tetap mempertahankan simbol Gereja, mereka tetap tidak bisa melupakan latar belakang mereka. Namun, siapa sangka bahwa kerajaan yang dipimpin undead memiliki kekuatan suci di dalamnya. Sungguh ironi.


Chandra sedikit kasihan dengan Dewi.


"Itu Saintess." Orang-orang berdatangan masuk ke dalam Gereja.


"Hmmm ...?" Chandra juga ikut dalam rombongan itu.


Saintess, aku ingin tahu orang seperti apa yang rela mengkhianati Uskup Agung itu.


Seharian sudah Chandra menjelajahi kota. Ia telah kembali ke hotel untuk beristirahat, namun sebelum itu ia membuat laporan untuk Uskup Agung.


Banyak kejadian hari ini, aku tidak berencana menulis soal pertarungan, namun sepertinya mereka membutuhkannya untuk bahan penyelidikan.


Kesan Chandra setelah 2 hari di Kerajaan Penyihir Maphas.


"Sangat luar biasa, makanan enak, dan orang yang 'ramah'."


 ------------------------------------------


Sebuah ruangan di istana Kerajaan Penyihir Maphas.


Keempat bersaudari sedang makan malam bersama. Mereka duduk dengan meja bundar di tengahnya, jarak antar mereka tidak terlalu dekat, karena meja bundar itu sejatinya bisa menampung 6 orang.


Mereka adalah Elina, Selene, Irene, dan Rhea. Masing-masing dari mereka memakan makanan dengan lauk yang berbeda, Elina memiliki porsi lebih banyak dari yang lainnya.


"Kak Elina sepertinya tidak takut gemuk. Sejak waktu itu Kakak selalu memakan steak," canda Irene dengan tertawa kecil.


"Tubuh kita tidak akan berubah, karena Ibu membuat kita dengan penuh kasih sayang,"


"Kakak benar."


Irene tergolong orang yang banyak bicara, dia paling aktif di antara saudarinya selain Rayna. Sedangkan Elina bisa mengimbangi sikap Irene.


"Selene, bagaimana dengan gadis kecil yang kau bawa?" tanya Irene.


"Si kadal hitam sedang mengurusnya,"


"Waah ... kau selalu melemparkan tanggung jawabmu, ya!"


Selene menarik telinga Irene yang duduk di sebelahnya.


"Aduh! Kau menarikku dengan tenagamu, itu tidak adil!"


"Apa maksudmu tidak adil? Secara harfiah, kita ini kembar, 'kan?" Selene sedang menggoda Irene yang memiliki fisik yang lebih lemah darinya.


"K-kau juga mengejek Kak Elina!" Irene menunjuk Elina dengan wajah panik.


Elina hanya diam sambil menikmati makanannya.


"Kak Elina tidak memperdulikan itu, kenapa kau marah?"


"Itu ... itu." Irene tertunduk malu. Melihat Elina yang sama sekali tidak terganggu membuat Irene tersentuh.


Kak Elina fisiknya bahkan lebih lemah dariku, tapi dia tidak tersinggung. Benar-benar keren!


Begitulah yang dia pikirkan sampai kedua matanya bersinar-sinar melihat Elina.


"Diam dan makan makanan kalian." Rhea yang daritadi diam akhirnya berbicara. "Ibu pernah bilang untuk tidak berisik saat sedang makan, 'kan?"


Kedua saudari kembar itu mengangguk dan melanjutkan makan malam mereka.


"Ngomong-ngomong, Kak Elina, bagaimana dengan mata-mata dari Gereja Suci itu?" tanya Rhea.


"Aku menyuruh Goby untuk terus mengawasinya. Semakin banyak dia mengirim pesan pada mereka, semakin banyak keuntungan yang bisa kita dapat,"


"Rencana Kakak memang luar biasa! Pasti Ibu akan memujimu, Kak."


Pipi Elina sedikit memerah ketika Rhea membahas soal pujian.


"Berbicara mengenai Ibu, aku iri dengan Delila dan Rayna yang akhir-akhir ini selalu bersama Ibu." Irene langsung membusungkan dadanya ke meja makan, sambil memainkan makanannya.


"Terlebih lagi, undead sialan itu juga terus bersamanya," sambung Selene.


"Kalian tidak boleh membenci Daisy, dia yang menemani Ibu saat pertama kali terkirim ke dunia ini." Elina berbicara dengan nada lembut untuk menenangkan Adik-adiknya.


"Tapi, ke mana Ibu pergi? Setelah insiden True Vampire, Ibu hanya beberapa kali kembali ke sini. Ke mana mereka?" tanya Rhea.


"Ibu pergi ke tempat si sayap hitam itu, di Sekte Hitam. Ada kemungkinan bahwa kekuatan Ibu akan sepenuhnya kembali saat berada di tempat itu," jawab Elina.


*Prok!


Irene bertepuk tangan sekali.


"Kita juga harus berusaha lebih keras!" Irene menyemangati tiga saudarinya.


"Hmmm ...." Ketiganya mengangguk sambil mengunyah makanan.


"Kenapa respon kalian begitu?!"


Makan malam itu ditutup dengan kekesalan Irene.


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE, YA :(