
Hela menghentikan langkahnya. Raut cemas terlihat dari wajahnya.
Wanita itu berbalik menghadap Hela.
"Apa yang membuatmu cemas?"
Sebelumnya, Hela sangat antusias ingin mendapat kekuatan setelah melihat sosok kuat di hadapannya. Namun, keraguan mulai muncul di hatinya.
Hela perlahan mundur.
"Kau meragukanku, Hela?"
Hela mengangguk.
"Baiklah, aku akan menceritakan tentang diriku--"
Hela menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Huh?"
"Saya hanya ingin tahu nama Anda,"
Wanita itu sedikit kebingungan mendengar perkataan Hela.
"Naura pernah mengatakan, hanya dengan nama, seseorang bisa mengetahui cerita orang lain seiring berjalannya waktu."
Wanita itu semakin bingung mencerna perkataan Hela. Perkataan yang sangat rumit dari di seorang gadis kecil.
"Eheem ... yah, jika kau penasaran, akan kuberitahu. Namaku .... Ker."
Ker? Hanya itu?
Ker memejamkan matanya sesaat setelah memberi tahu namanya pada Hela.
Aliran Mana di gua semakin kuat. Hela sangat tertekan ketika energi Mana melewati tubuhnya.
Ker membuka matanya.
"Apa Anda baik-baik saja?" tanya Hela.
"Master,"
"Maaf?" Hela terlihat kebingungan dengan jawaban Ker.
"Panggil aku Master."
Hela berpikir sejenak sebelum menjawab perkataan Ker.
Orang ini tidak berbohong, mungkin. Namun, aku sepertinya akan mulai menyukainya.
"Baik, Master."
Ker dan Hela lanjut berjalan menuju pilar-pilar batu yang melingkar.
Perhatian Hela tertuju pada sebuah bongkahan batu di tengah pilar-pilar batu. Terlihat seperti sebuah tempat untuk duduk. Karena bagian atasnya datar.
"Master, apa sebenarnya ini?"
Mereka sampai. Ker masuk di tengah pilar-pilar batu itu.
"Duduklah di sini, Hela."
Hela sedikit ragu. Itu semua karrna ekspresi datar yang selalu ditunjukan oleh Ker. Perkataannya tidak sejalan dengan ekspresinya.
Dengan sedikit keraguan, Hela duduk di batu besar.
"Sekarang, apa yang kau rasakan?"
Hela memejamkan matanya. Sekarang ia fokus merasakan apa yang ada di sekitarnya.
"Saya merasakan Mana di seluruh tempat ini, Master."
Tapi, kenapa ini sangat berbeda dengan Mana yang biasa kurasakan?
Hela berusaha untuk memahami situasinya saat ini.
Ker berpindah ke belakang Hela. Ia menyentuh punggung Hela dengan tangan kanannya.
Energi Mana yang kuat mulai memasuki tubuh Hela.
"Agh!" Hela mencoba menahan rasa sakit di tubuhnya akibat Mana yang melebihi kapasitas.
"Hmmm ...." Ker melepas sentuhannya dari punggung Hela.
Napas Hela terasa sesak, paru-parunya seperti akan meledak jika hal tadi terus dilanjutkan.
B-bagaimana bisa ada Mana yang sangat bervariasi seperti ini?
Ada banyak pertanyaan di kepala Hela setelah melakukan meditasi singkat. Namun, dada Hela sangat sesak sampai sulit untuk berbicara.
"Ini pelajaran pertamamu. Merasakan Mana hingga tahap ke tiga. Sepertinya kau belum paham tentang ini, aku akan menjelaskannya."
Hela menyimak sambil memulihkan kondisinya.
"Mana tahap pertama, kumpulan energi Mana dari alam yang sering digunakan oleh penyihir dan sejenisnya. Mana tahap pertama meliputi elemen-elemen yang ada di alam, kau harusnya tahu tentang elemen apa saja itu,"
Wajah Ker yang sebelumnya terlihat datar dan dingin, kini terlihat antusias ketika menjelaskan tentang Mana pada Hela.
"Tahap kedua. Gabungan sihir elemen dan dukungan dari roh. Mereka berasal dari sumber yang sama, yaitu alam. Namun, dukungan dari roh akan menambah kekuatan sihir yang akan digunakan,"
"Roh?"
"Hmmm ... mereka adalah ras Dryad yang telah berevolusi menjadi roh alam. Mereka sangat ahli dalam memberi support, dan kau harus membuat kontrak dengan mereka jika ingin bekerja sama,"
"Saya paham, Master."
Napas Hela telah kembali normal. Ada hal baru yang ia pelajari dari kejadian sebelumnya, yaitu ....
Master sengaja menjelaskan itu semua saat aku dalam kondisi tidak baik seperti tadi. Aku yakin ini merupakan salah satu latihan dengan membagi fokusku ke suatu hal.
"Dan terakhir, tahap ke tiga,"
Hela sontak terdiam. Hal terakhir merupakan bagian terpenting baginya.
"Ini berhubungan dengan jiwa. Jika kau tidak berhati-hati, maka jiwamu bisa terkikis. Seharusnya kau bisa merasakan Mana yang tidak tercampur oleh Mana lainnya. Mana ini bisa mengikis jiwa jika digunakan secara sembarangan, contohnya adalah sihir beratribut gelap,"
Hela menggelengkan kepalanya karena tak merasakan keberadaan Mana yang dimaksud.
"Yah, karena fisikmu belum terbentuk, dan belum siap untuk menerima variasi Mana yang lainnya."
Perhatian Hela tertuju pada raut wajah Masternya yang terlihat sangat menikmati memberi penjelasan padanya.
"Apa ada yang salah dengan wajahku?"
Hela menggelengkan kepalanya. "T-tidak, Master. Hanya saja Anda terlihat berbeda dari sebelumnya. Anda terlihat menikmatinya."
Raut wajah Ker yang sebelumnya terlihat damai kini berubah. Bukan ekspresi datar, melainkan raut kekesalan.
Tekanan energi memenuhi tempat itu.
Hela sangat ketakutan.
A-aku melakukan kesalahan! Raut wajah Master sangat kesal, seperti luapan emosi yang telah lama dipendam, dan kini meledak.
"M-master."
Ker duduk di sebelah Hela.
"Master, maafkan Saya!" Hela berlutut di hadapan Ker.
Ker menarik Hela kembali duduk di batu bersamanya.
Hela cemas, ia takut dibunuh oleh Masternya.
"Hela ...."
"I-iya, Master,"
"Terkadang ada hal yang sulit untuk dikatakan,"
Perkataan Ker langsung menusuk hati Hela. Seperti sebuah peringatan agar tidak sembarangan untuk bertanya pada seseorang. Ini kebiasaan Hela karena Naura yang selalu memanjakannya, sehingga kebiasaan itu terbawa hingga sekarang.
"Seiring berjalannya waktu, kau akan segera mengetahui jawabannya," lanjut Ker dengan nada sedikit keras.
"Baik, Master."
*Puk
Ker menepuk punggung Hela.
"Sekarang, kita lanjutkan."
Ker menjelaskan seluruh konsep-konsep sihir pada Hela. Semua berjalan dengan semestinya.
"Apa kau sudah paham?"
"Master, Saya belum pernah mendengar hal seperti ini, bahkan buku yang dibawa Legarde dari Wilayah Menara tidak ada penjelasan seperti ini. Bahkan tentang tahapan penguasaan Mana juga tidak tertulis di buku,"
Selama di gubuk kecil dulu, Hela sering membaca buku yang dibawa Legarde. Buku itu berisi tentang dasar-dasar sihir.
"Yah, karena akulah yang menciptakan metode ini,"
"Wah, Master hebat." Hela bertepuk tangan, ia begitu kagum dengan perkataan Masternya.
"Karena kau sudah bisa menguasai tahap pertama yang merupakan dasar sihir, maka kali ini aku akan mengajarkanmu bagaimana menguasai tahap ke dua,"
"Melakukan kontrak dengan roh,"
"Benar." Ker mengelus kepala Hela. "Hanya dengan menguasai tiga tahapan ini, kau bisa dengan mudah mempelajari, dan menciptakan sihir-sihir baru,"
Mata Hela langsung bersinar-sinar ketika mendengar perkataan Masternya.
Aku tidak tahu jika belajar sihir akan menyenangkan seperti ini. Metode ciptaan Master, aku sangat menantikannya!
Dengan suara lantang, Hela berkata, "Saya akan belajar dengan sungguh-sungguh, Master!"
Pelatihan Hela dimulai.
------------------------------
15 tahun kemudian.
Ker berjalan di dalam gua sambil membawa sebilah pedang di tangan kanannya. Itu bukan pedang biasa, aura hitam yang sangat pekat menyelimuti pedang itu.
Dengan tatapan tajam, Ker berdiri tepat di depan pintu batu besar.
Ker membuka pintu batu besar. Kakinya mulai melangkah masuk ke dalam.
Beberapa saat setelah Ker masuk, sebuah energi sihir berwarna merah menyambutnya. Energi itu melebar sehingga hampir menutupi setengah ruang.
Bagian-bagian energi itu memanjang membentuk sebuah lengan. Secara bersamaan, lengan-lengan sihir itu mengarah ke Ker dengan sangat cepat.
Ker melompat menghindari lengan-lengan sihir itu.
Ia mengamati setiap gerakan lengan-lengan sihir.
Tak cukup sampai di situ, puluhan lengan sihir juga turut menyerang Ker secara bersamaan.
Ker memejamkan matanya sambil mengangkat pedang hitam.
"Hiyaaak!"
Ker menebas seluruh lengan-lengan sihir itu.
Semua lengan-lengan sihir itu lenyap dalam sekali tebas.
Muncul tangan yang diselimuti energi sihir berwarna merah dari belakang Ker. Tangan itu menusuk tepat di belakang leher Ker.
Seorang wanita berada di belakang Ker.
"Anda kalah, Mas--"
Dengan cepat Ker berpindah ke belakang wanita itu dengan pedang hitam mengarah ke leher.
"B-bayangan?!"
"Butuh ribuan tahun lagi untukmu bisa mengalahkanku, Hela." Ker tersenyum kecil.
Wanita itu adalah Hela yang kini telah berusia 27 tahun. Hela telah tumbuh menjadi wanita dewasa.
"Huuh ... Master memang luar biasa." Hela memalingkan wajahnya ke arah Ker.
Kibasan rambut putihnya sangat terang karena sinar dari sihir cahaya di dalam gua.
"Sepertinya aku harus menambah latihanmu menjadi 4 kali lipat,"
"Tidak, Master! Latihan ini sudah sangat menyik-- maksud Saya sudah cukup efektif!"
Ker tersenyum lagi. Menarik Hela dan memeluknya.
"M-master ...?"
"Hela, apa kau yakin ingin mengalahkan para Iblis?"
Raut wajah Hela berubah. Sorot matanya menjadi sangat tajam.
"Saya yakin,"
"Begitu, ya." Ker melepas pelukannya pada Hela. "Namun, aku masih belum bisa mengizinkanmu keluar untuk saat ini,"
"Kenapa, Master?! Apa Saya masih lemah?!"
Tampak ada keraguan di wajah Ker ketika hendak menjawab pertanyaan Hela.
"Kekuatanmu saat ini bisa mengalahkan pasukan Iblis, namun, ancaman yang sebenarnya jauh lebih berbahaya,"
"Apa maksud Anda, Master?"
Ker mengelus kepala Hela. "Musuh yang sebenarnya ... bukan berasal dari dunia ini,"
Hela kebingungan dengan perkataan Ker.
"Alasan aku menjadikanmu sebagai muridku adalah karena hal ini."
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!
.