
Laird langsung bersujud hingga kepalanya terbentur lantai. "Yang Mulia! Saya pantas mati! Sudah berulang kali Saya melakukan tindakan di luar batas terhadap Anda!"
"Kembalilah ke posisimu, Laird. Itu bukanlah kesalahanmu, aku memang sengaja tidak memberi tahu identitasku pada waktu itu."
Laird dengan hati-hati kembali ke tempat duduknya.
"Aku penasaran dengan Kerajaan Rexist sekarang, apa kudeta berjalan dengan lancar?"
Aku belum mendengar kabar tentang kudeta yang dia lakukan, karena Pahlawan Zain sudah tidak ada di Kerajaan Rexist, seharusnya akan mudah bagi Laird untuk menguasai kerajaan, namun masalahnya ....
"Semua seharusnya berjalan lancar, Adik Saya hampir kehilangan kesempatan untuk melawan balik. Tapi, tanpa disangka Gereja Suci menyokongnya dengan pasukan yang sangat banyak. Bahkan bangsawan dari faksi Saya langsung membelot."
Sesuai dengan informasi terakhir yang kudengar. Sepertinya akan sulit untuk melawan balik adiknya, terlebih lagi aku belum pernah adiknya, aku tak mau terburu-buru.
"Untuk saat ini, Saya sedang menyusun rencana lain agar bisa menggulingkannya."
Lawannya Gereja Suci, rasanya mustahil bisa mengalahkan mereka dengan pasukan yang dia miliki. Eh, tunggu.
"Kau ingin menggunakan kekuatan Sekte Hitam?"
"Niat awal Saya begitu, namun Nyonya Abigail menolaknya."
Tindakan Abigail sudah tepat. Sekte Hitam harusnya bergerak secara rahasia tanpa diketahui publik. Sepertinya aku harus membantunya.
Aku mengambil item dari ruang penyimpanan.
"Terima ini." Aku meletakkan dua item berbentuk peluit yang terbuat dari tulang. "Item ini bisa memanggil pasukan monster dalam jumlah besar, itu tergantung di mana kau memanggilnya."
Chief's Call, item tingkat legendary. Bisa mengendalikan ratusan ribu bahkan satu juta lebih monster. Tingkat monster tergantung dari kekuatannya, jika beruntung, mungkin dia bisa memiliki monster level 600 ke atas. Itu item tingkat tinggi, memang sangat disayangkan, tapi ini kulakukan agar dia bisa menguasai Kerajaan Rexist secepatnya.
"A-anda benar-benar ingin memberikan item luar biasa seperti ini?" tanya Laird dengan sedikit keraguan di matanya.
"Kau mempertanyakan pemberian Yang Mulia?!" Abigail lagi-lagi berteriak.
"Tenanglah, Abigail."
"M-maafkan Saya, Yang Mulia!"
"Laird, aku tidak bisa menolongmu lebih banyak. Item itu setidaknya bisa memanggil dua juta monster, kau harus mengendalikan mereka dengan seluruh kekuatanmu. Namun, masalah buruknya datang dari Gereja Suci."
"Pahlawan baru yang mereka miliki."
"Benar. Aku sudah melihat kekuatannya secara langsung, monster-monster itu hanya akan membuatnya semakin kuat. Kemudian, seorang saint wanita yang juga sebanding dengannya."
"Baik, Yang Mulia. Saya menerima pemberian Anda yang sangat berharga ini."
"Aku menyarankanmu untuk menyerang Gereja Suci diam-diam terlebih dahulu, kota mereka sangat kacau sejak serangan para vampir."
"Saya juga memiliki niat untuk menyerang mereka dari belakang, tinggal menunggu waktu yang pas untuk memulai pergerakan. Saya memiliki seorang mata-mata yang memiliki kedudukan cukup tinggi untuk mengetahui aktivitas di sekitar Uskup Agung."
"Apa gerakan mereka selanjutnya?"
"Mereka akan menaklukkan sebuah dungeon di Kerajaan Karibian."
Eh?
"Maksudmu, dungeon yang rumornya telah menguasai Kerajaan Karibian?" tanya Abigail.
"Benar. Dengan pasukan besar, perlengkapan terkuat, mereka akan segera menyerbu tempat itu, paling lambat dalam dua bulan mendatang."
Itu memang dungeon-ku. Aku juga sudah menduga suatu saat hari itu akan datang, walau Delila sudah menyembunyikan pintu masuknya, tapi aku masih cemas. Jika Dewi ada di sisi mereka, segalanya akan menjadi nyata. Sial, apa yang harus kulakukan?
"Yang Mulia?" Abigail memanggilku.
"Ah, itu rencana yang bagus. Serang kota mereka ketika pergi."
"Baik, Yang Mulia."
Aku harus memberitahu mereka.
Karena sepertinya pertemuan ini sudah selesai, aku hendak pergi menuju kamar, namun Abigail manahanku.
"Yang Mulia, apa Anda tidak ingin melihat Ard?"
Ard. Aku memang sangat penasaran dengannya, dia bisa mengendalikan tubuh palsu yang memiliki kekuatan. Aku pikir dia seorang marionette. Tapi, tubuh aslinya berada di kapsul, ini sangat rumit. Melihat kenyataan tentang armor mecha Keres, kemungkinan besar orang itu juga robot.
"Aku tidak tertarik untuk saat ini. Terlebih lagi, dia bilang akan menemuiku nanti pada waktu yang tepat, 'kan?"
"Maaf, Anda benar."
Aku langsung meninggalkan mereka dan pergi ke kamar.
[Master, apa Anda ingin Saya menguping percakapan mereka?]
[Dimengerti.]
Aku masuk ke kamar. Delila dan Rayna sedang berbaring di tempat tidurku, sebenarnya hanya Delila yang berbaring, sedangkan Rayna ....
"Apa yang kau lakukan?!" Delila menarik Rayna yang sedang mengusap-usap wajahnya di bantalku.
"Delila, kenapa kau sangat kasar padaku?!"
Perkelahian antar saudari pun terjadi.
Huh ... aku benar-benar kelelahan.
"Kalian berdua, menyingkirlah." Aku berjalan sempoyongan menuju temoat tidur.
Eh?
Tubuhku tiba-tiba mati rasa, kedua bersaudari itu langsung menangkapku.
"Jangan paksakan diri Ibu, masih ada sisa-sisa energi dari jiwa yang mengendalikan Ibu sebelumnya," ucap Delila.
Mereka berdua membaringkanku ke tempat tidur.
"Delila, Rayna, sampaikan kepada suadara-saudara kalian yang ada di dungeon."
Aku menceritakan semua tentang Gereja Suci yang akan menyerbu dungeon dalam kurun waktu dua bulan dari sekarang.
"Jadi begitu. Saya akan menyampaikannya pada mereka."
"Apa yang Ibu khawatirkan? Enam orang itu sangat kuat untuk menghabisi mereka dalam sekejap mata," ucap Rayna.
Aku mengayunkan empat jariku untuk menyuruh Rayna mendekat.
*Tuk!
Aku menjentik keningnya dengan jariku. Rayna tak memberikan reaksi apa pun, justru jariku yang sakit karena menjentik keningnya.
"Lawannya adalah Gereja Suci, dan Dewi pasti akan menyokong mereka semua. Jika Sekte Satan saja bisa mengalahkanmu, bagaimana dengan Gereja Suci?"
"Maafkan Saya, Ibu. Saya tidak berpikir demikian. Tapi ... Saya benar-benar mengalahkan Satan di pertemuan kedua, yah ... itu tidak terlihat seperti pertarungan yang sportif."
"Apa maksudmu?"
Benar juga, dia belum menceritakan tentang pertarungannya dengan Vlad yang dikendalikan oleh Satan.
"Saya akan menceritakannya."
---------------------------------
Satu bulan kemudian.
Aku menyelesaikan semua urusanku di Sekte Hitam, dan hendak pergi meninggalkan tempat ini juga. Namun, masih ada satu hal yang tersisa.
Abigail mengatakan bahwa Ard ingin mendatangiku segera. Sebelumnya Abigail meminta energi sihirku yang ditampung di dalam item penyimpanan. Dia berkata energiku digunakan untuk membuka kapsul yang menyegel tubuh Ard. Dia juga melarangku untuk masuk ke sana, dia bilang aku sangat membenci tempat itu.
Yah, lebih baik aku menuruti larangannya untuk berjaga-jaga dari situasi buruk.
*Kreeek
Pintu terbuka, seseorang masuk ke kamarku.
Aku merasakan energi aneh yang langsung menusuk tubuhku. Bukan energi sihir, ini sedikit berbeda dengan energi sihir pada umumnya.
Delila, Rayna, dan Daisy langsung mengambil posisi bersiap.
Seorang pria telah masuk ke kamarku. Wajahnya terlihat sama seperti pria pada umumnya, tubuhnya tinggi, namun ada hal yang membuatku terkejut, yaitu cara berpakaiannya.
Sebuah jas hitam, dengan dalaman kemeja putih, mengenakan dasi berwarna merah, jam tangan yang terbuat dari logam besi, rambutnya tipis di bagian samping, rambut bagian atas tertata rapi, serta sepatu kulit berwana hitam mengkilap.
Ini semua barang dari dunia modern.
"Saya berusaha berpenampilan semenarik mungkin agar bisa melelehkan hati Anda, Yang Mulia."
Bajingan ini bicara apa?
"Nama Saya Ard, ciptaan paling tampan yang Anda miliki."
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, GIFT IKLAN YA
Pertarungan Rayna vs Vlad mau diceritain gak?