The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Juan



Tak menyakitkan? Apa begini rasanya ketika terkena serangan terakhir yang akan membunuhmu?


Juan membuka matanya karena penasaran akan kehidupan setelah kematian. Namun, sesuatu di hadapannya tak sesuai dugaan, justru lebih dari itu. Seorang wanita berdiri membelakangi dirinya, wajahnya tak terlihat jelas, hanya rambut kuning keemasan yang terikat.


Satu kata yang terlintas di pikirannya.


"Dewi."


Wanita itu menoleh sedikit ke arah Juan, warna mata merah menyala itu terlihat olehnya.


Tidak, dia seorang Hart.


Setelah melihat tangan Kevin yang remuk di bawah kaki wanita itu, Juan pun tersadar dengan apa yang terjadi sebenarnya. Ia seketika bingung, karena seorang Hart menyelamatkannya, sedangkan dirinya juga dalam incaran Hart lainnya.


Juan tak kenal dengan wanita ini, jika menyebut Verena, mungkin bisa saja, tapi wanita itu ada di tribun dan sedang menonton dengan rasa penasaran di wajahnya.


"Alissa Hart, apa yang kau lakukan?" tanya Karman Hart yang berbicara dengan suara besar.


Alissa Hart? Nama itu terdengar tidak asing.


Seorang petualang ranking S yang mengalahkan naga seorang diri. Siapa yang tak tahu dengan cerita itu, Juan sendiri juga meragukannya. Lebih dari itu, dia adalah Perdana Menteri dari kerajaan kuat sampai bisa menundukkan banyak kerajaan besar termasuk Kekaisaran.


Kenapa dia menolongku?


"Tuan Karman, ini tidak adil," ucap Alisaa Hart.


"Tak adil? Hasilnya sudah jelas, bukan?"


"Sangat terlihat jelas." Alissa melirik ke arah tribun penonton tempat Danny Hart berada. Namun, tak ada yang menyadari lirikan matanya itu, kecuali Danny Hart. "Sampai sesuatu menganggu pertarungan mereka."


Danny terlihat terkejut dengan Alissa yang mengetahui skill-nya.


Selain Ayah, tak ada yang bisa melihatnya, namun wanita ini bisa melihatnya.


Selain keterampilannya dalam menggunakan pedang, Danny memiliki skill mematikan yang hanya segelintir orang tahu. Mental Controller. Dengan skill ini, ia bisa memanipulasi pikiran dan merusak mental target untuk beberapa saat, kemudian merusak pondasi Mana yang sudah dikumpulkan. Peluang itu digunakan untuk menghabisi target setelahnya.


Danny hanya merusak pondasi Mana milik Juan, ia tak menganggu pikiran maupun mentalnya, hal itu yang menyebabkan Juan tahu siapa yang sedang menginterupsi pertarungannya.


Di sisi lain, Karman Hart sudah tidak terkejut lagi jika Alissa tahu trik Danny. Hal yang ada di benaknya saat ini adalah keinginan untuk melawan wanita itu. Tapi, pertama-tama ....


"Jadi, pertaruhan itu batal karena ada gangguan, bukan?" tanya Karman dengan wajah penuh harap.


Karman memang sudah merasa bahwa dirinya akan kalah setelah melihat Juan di menit-menit terakhir.


"Jika itu keinginanmu, aku akan menerimanya." Alissa berbalik ke arah Juan. "Namun, ini akan menjadi aib besar bagi Keluarga Hart, betapa tidak kompetennya mereka mengurus penyusup, terutama dalam kompetisi yang mereka kelola secara langsung."


Para Hart di tempat itu menyipitkan matanya, termasuk Karman. Bahkan banyak niat membunuh diarahkan pada wanita itu, namun Karman menghalaunya.


Karman berusaha membersihkan nama baiknya dengan satu cara.


"Nona Alissa, bagaimana jika kita anggap ini seri? T-tentu, jika kau ingin, aku akan memberimu hadiah permohonan maaf." Karman tersenyum licik.


Atmosfir berubah, kekuatan mengalir dari dalam tubuh Kevin. Pria itu menarik tangannya yang hancur dan membentuknya kembali menjadi sesuatu yang tajam.


"Dasar j*l*ng!" Kevin mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyerang Alissa Hart.


Rose hendak turun ke dalam arena pertarungan, namun hempasan kuat dari serangan Kevin membuatnya kesulitan.


"Nyonya!" Wanita itu hanya bisa berteriak memanggil Alissa.


Di saat yang sama, Kevin terlihat puas karena serangannya berhasil mengenai wanita itu. Perasaan dan sensasi yang ia alami tak bisa dibohongi, tangannya benar-benar menghancurkan wanita itu.


Begitulah menurutnya.


"Kuhk!" Kevin merasakan sakit yang luar biasa pada tangannya.


Dengan cepat tangannya terpelintir hingga mengeluarkan darah dari pori-porinya.


"Huwaaaaa!" Kevin langsung jatuh sembari berteriak kesakitan pada kedua tangannya. Kondisi tubuhnya juga sudah kembali seperti semula.


Rose menghela napas sesaat setelah melihat hal itu, akan tetapi rasa penasaran memenuhi pikirannya. Tak ada yang melihat apa yang terjadi di sana, karena mereka di dalam kepulan asap, sampai Kevin keluar dan semua terlihat seperti tidak terjadi apa pun.


Karman juga bereaksi serupa, ia tak bisa melihat apa yang terjadi di balik kepulan asap itu. Bukannya penasaran, pria itu semakin bersemangat.


"N-nona, kenapa kau menolongku?" tanya Juan tanpa memperdulikan apa yang terjadi saat ini.


Alissa kembali melihat Juan dengan raut wajah sedikit datar, sorot matanya masih tajam seperti sebelumnya.


Juan sedikit melebarkan matanya. "Apa yang kau maksud?"


"Kekuatanmu itu mengingatkanku pada seseorang yang kulawan baru-baru ini."


Kali ini matanya terbuka cukup lebar.


Sebuah bayangan pria muncul di benak Juan. Tapi, Juan langsung menepis dugaannya sendiri.


Dia sudah mati.


Kemampuan Juan sangat unik, tak ada yang spesial dari tubuhnya, namun itu semua tertutupi oleh skill spesial tersebut. Skill yang memunculkan pelindung tak kasat mata di bagian tubuhnya. Ia belum bisa menggunakannya secara maksimal, tetap saja hal itu mengejutkan karena ia bisa memojokkan Kevin sebelumnya dengan mudah.


"Alissa Hart, bagaimana kau akan menjelaskan ini?" tanya Karman dengan nada kesal. "Kau membuat cacat calon prajurit Keluarga Hart. Ini harus diganti dengan sesuatu yang setara."


"Hmm." Alissa terlihat tertawa kecil mendengar perkataan Karman.


Rose langsung turun menghampiri Alissa sesegera mungkin.


"Nyonya." Wajah maid itu terlihat lega melihat Alissa tak mengalami luka sedikit pun.


Rose langsung melihat Karman dengan ekspresi kesal, dengan nada tinggi maid itu berkata, "Duke Karman, ini termasuk percobaan pembunuhan terhadap Perdana Menteri! Seharusnya kami yang mengajukan ganti rugi yang setimpal!"


Alissa terlihat terkejut melihat Rose dengan lantang berbicara pada Karman. Hal itu juga dirasakan Juan, ia melihat Rose bukan sekedar maid biasa.


*Crack!


Sesuatu muncul dari bawah tanah dan melesat ke arah kepala Rose, namun terhenti.


Sebuah benda yang mirip seperti akar pepohonan, namun berwarna hitam dengan banyak duri di lapisan luarnya.


Rose hanya terdiam menelan ludah karena tak bisa bergerak sedikit pun. Jika serangan itu berlanjut, sudah dipastikan kepalanya akan hancur. Serangan itu berasal dari ....


"Dasar maid rendahan! Berani-beraninya kau meninggikan suaramu pada Kepala Keluarga!" Verena terlihat murka dengan perilaku Rose.


Niat membunuh dilancarkan ke arah maid itu, dengan sekuat tenaga Rose mencoba melawan.


"Hooh ...." Verena tampak terkejut dengan Rose yang bisa menahan auranya. "Apa kau bisa menahan ini." Verena mengangkat tangannya ke atas.


Di saat yang bersamaan akar berduri mulai bergerak ke arah Rose, namun akar itu kembali berhenti ketika menyentuh kulit wajah Rose. Tetesan darah segar langsung membasahi akar hitam itu.


Namun, Rose datang bukan tanpa persiapan. Pergerakan Verena terhenti karena sesuatu melilit lehernya.


"Trik murahan." Verena sadar dengan keberadaan benang yang melilit lehernya, ia tak tertekan sedikit pun.


Verena hendak memutus benang di lehernya menggunakan akar, tapi usahanya sia-sia. Benang-benang lain muncul dan menahan akar yang mencoba memutus benang itu.


"Khuahahahahaha! Verena, kau semakin pikun ternyata!" Maximus menertawakannya dari kejauhan. "Itu adalah benang magis, sama seperti akarmu, mereka tak akan ada habisnya."


Verena tampak kesal mendengar ejekan dari Maximus, auranya semakin tak terkendali, bahkan ia juga bersiap untuk menyerang Maximus, namun ia mengurungkan niatnya.


Aku? Direndahkan oleh seorang maid?


Rose menoleh ke arah Alissa dan berjalan ke arahnya. Seperti biasa, ia hendak memastikan kondisi Nyonya-nya itu.


Di sisi lain, Alissa melihat Rose dengan ekspresi panik. Ia berlari ke arah Rose. Di saat yang sama, percikan listrik muncul di kaki Juan.


*Crack!


Salah satu dari mereka tertusuk oleh akar hitam.


Rose mendapati dirinya terbangun dalam dekapan seseorang. Perasaan yang tak asing, serta aroma yang sering ia hirup. Secara perlahan Rose melihat ke atas.


Orang itu tak lain adalah Alissa. Namun, bukannya melihat Rose, wanita itu justru melihat lurus ke depan dengan ekspresi terkejut.


"N-nyonya?" Rose perlahan menoleh ke belakang, betapa terkejutnya ia setelah tahu apa yang terjadi.


Seorang pria berdiri dengan darah yang keluar dari mulutnya. Lebih mengerikan lagi, dada pria itu mengeluarkan banyak duri besar.


Rose menyadari bahwa pria itu adalah Juan.


"N-nona, aku ... sudah membayar ... hutang budiku ... padamu," ucap Juan yang langsung tumbang setelahnya.


Bersambung ....