
Chapter 37 : Anak Terlemah
Satu tahun lalu, Kekaisaran, Wilayah Kekuasaan Duke Hart.
"Wind Cutter!"
*Crack!
Bilah angin berukuran kecil menghancurkan boneka kayu.
Sangat lemah. Sihirku sama sekali tidak berkembang, aku benar-benar membenci ini!
Aku berbaring di tanah dan menghela napasku.
Aku ... aib Keluarga Hart. Apa pantas aku berada di tempat ini?
"Livia." Seseorang memanggilku.
Aku memalingkan wajahku ke sumber suara itu.
"Ibu."
Ibu berjalan mendekatiku dengan ekspresi datar di wajahnya.
Apa aku akan dimarahi lagi? Semua orang di rumah ini selalu memandangku rendah karena aku tak memiliki bakat sama sekali.
"Apa kau masih berkeinginan untuk belajar di Akademi Sihir?"
"Benar, Ibu,"
Aku sudah memutuskan untuk belajar di Akademi Sihir, aku akan mengikuti jejak Kak Theo.
"Livia, Ibu tidak akan melarangmu ...."
"Terim--"
"Namun, ada satu syarat yang harus kau jalani selama berada di Akademi Sihir,"
"S-syarat?"
"Lepas nama Keluarga Hart selama kau berada di Akademi Sihir,"
Apa?
"I-ibu ...."
"Ibu sudah mendiskusikan ini dengan Ayahmu, ini jalan yang terbaik untuk menyelamatkan wajah keluarga kita."
Mendengar hal itu, aku hanya bisa terdiam.
Ibu benar. Kami berasal dari Cabang Bawah, aku bisa mempermalukan keluarga ini. Harapan satu-satunya keluarga ini adalah Kak Theo.
"Aku harap kau tidak melakukan hal-hal yang bisa membuat nama keluarga kita rusak." Ibu pergi meninggalkanku.
Hart, sebuah nama besar yang harus dipinggul bagi mereka yang memilikinya. Keluarga Hart terkenal akan kekuatannya yang besar. Bahkan party petualang terkuat berasal dari Keluarga Hart. Mereka dari cabang menengah dan atas, tak ada ruang untuk cabang bawah menunjukan kemampuan.
Kak Theo baru meraih tingkat Diamond di tahun keduanya saat ini, mungkin itu alasan lain kenapa Ibu melarangku menggunakan nama Hart. Semata-mata untuk menjaga reputasi Kak Theo.
-------------------------------
Saat ini, arena bawah tanah Akademi Sihir.
Aku langsung menutup mulut Nona Lexi.
"Hmmmmm?!" Nona Lexi bergeliat.
Alissia dan Delila menatapku aneh.
Aku melepas dekapanku dari mulut Nona Lexi.
"Apa yang kau lakukan, Livia?! Apa aku berbuat salah?"
"T-tidak, maafkan Saya ...."
Padahal aku tidak dekat dengan Nona Lexi, aku hampir mati karena malu.
"Ngomong-ngomong, apa kalian baik-baik saja?" Nona Lexi melirik Alissia. "Terutama kamu, sepertinya sihir itu sempat mengenaimu,"
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja, kau menghalau sihir itu sebelum mengenaiku,"
"Hmm ... mungkin kamu benar."
Tidak, aku melihatnya dengan jelas bahwa Alissia terkena sihir itu sebelum Nona Lexi menghalaunya. Setidaknya serangan itu meninggalkan luka bakar serius, mengingat sihir itu dilepaskan dalam jarak yang sangat dekat.
Ah, tidak, tidak ... aku tak akan menyelidiki hal itu, karena mereka adalah temanku!
"Ngomong-ngomong, sampai kapan kita di sini?" tanyaku untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Sepertinya keadaan sudah kembali normal, apa kalian mau keluar?"
Aku melirik ke arah Alissia dan Delila.
Mereka berdua hanya diam melihat kami.
"Ah, aku tetap di sini bersama mereka,"
"Oh, baikl--" Nona Lexi berhenti berbicara, ia langsung menunjukkan sikap waspada.
Apa yang terjadi? Dia melihat ke arah kami.
Aku menoleh ke belakang.
"Hah, Erish!" seruku dengan senang.
Penyelamatku! Guru sihirku!
Erish menahan wajahku ketika aku hendak memeluknya.
"No--"
Di saat aku hendak memperkenalkan Erish, Nona Lexi sudah tidak berada di tempat.
Apa yang terjadi? Dia menunjukan sikap waspada saat bertemu Erish tadi.
Aku kembali menaruh perhatianku pada Erish.
"Erish, apa yang terjadi di luar sebenarnya?"
"Kita harus keluar dari sini terlebih dahulu, terlalu banyak orang di sini," ucap Alissia yang wajahnya terlihat gelisah.
--------------------------------
Kami keluar dari arena bawah tanah.
Taman ini sangat sepi, itu karena murid-murid lainnya yang masih berdiam di arena bawah tanah dan beberapa kembali ke kelas.
Erish menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Ternyata rumor itu benar, para komplotan kembali menyerang sejak terakhir kali beberapa bulan lalu.
"Aku dan Theresia bertarung dengan pimpinan komplotan itu, sesuai dengan informasi yang ditunjukan oleh Nona Delila,"
Nona?
"Seperti apa dia?" tanya Alissia.
"Dia ... seorang Dragonoid yang bisa membelah dirinya, dia memiliki job Warrior yang kemungkinan punya level di atas 400,"
"Pasti itu bukan komplotan biasa."
Percakapan mereka seperti seorang bawahan yang melapor ke atasan.
Mari dengarkan terlebih dahulu.
"Sesuai rencana, Saya sudah memasang pelacak yang disuntikan di dalam tubuhnya,"
"Bagus, kita bisa langsung menyerang mereka nanti."
Erish dan Delila terlihat sangat menghormati Alissia. Semua ini semakin membuatku bingung.
"Eheeem ... apa hanya aku yang tidak mengerti di sini?"
Mereka bertiga menatap tajam diriku.
"Livia, apa kau ingin kekuatan?" tanya Erish dengan wajah serius.
Pertanyaannya membuatku semakin bingung. Sebelumnya kepalaku hampir pecah karena memikirkan gaya bicara mereka sebelumnya.
"A-aku tidak mengerti maksudmu, Erish,"
"Hmmmm ... sekarang mungkin belum waktunya." Erish menyentuh kedua pundakku. "Livia, rahasiakan percakapan kami tadi,"
"B-baiklah."
"Erish, apa yang kau katakan? Aku bisa menghapus ingatannya," ucap Delila sembari mengangkat tangan kanannya yang diselimuti energi sihir.
Menghapus ingatan?!
*Plak!
Alissia memukul kepala Delila.
"Livia, kami akan membantumu agar bisa menjadi penyihir kuat. Seperti kata Erish, sekarang bukan waktunya," sambung Alissia.
"Terima kasih atas tawaran kalian, aku akan memikirkannya nanti."
Ini benar-benar mengejutkanku. Mereka bertiga memang bukan orang biasa, apa yang membawa mereka ke sini?
"Nona Guerra." Seseorang datang memanggil Erish.
Huh?!
Seorang lelaki datang menghampiri kami. Rambutnya berwarna kuning dan pendek. Wajahnya yang rupawan membuatnya menjadi sosok populer di akademi sihir. Sosok yang tidak asing bagiku.
Kakak.
"Apa yang kau lakukan di sini, Nona Guerra?" tanya Kakak dengan ekspresi dingin.
Sepertinya Kakak tidak suka dengan Erish.
"Ada apa?"
"Ketua menyuruhku untuk membawamu ke ruang rapat,"
"Ketua? Sejak kapan aku menjadi Dewan Murid?"
Kakak menghela napas, yang keluar dari mulutnya bukanlah udara biasa, melainkan uap panas.
Kakak spesialis sihir petir dan api.
"Ketua membutuhkan bantuanmu, hanya kalian berdua yang tahu kronologi dari kejadian ini,"
"Baiklah."
Kakak melirikku.
Aku menundukan kepalaku untuk menghindari kontak mata dengannya.
"Alissia, Delila, Livia, aku pergi dulu,"
"Pergilah."
Mereka berdua pergi.
Dia bahkan tak menyapaku. Semua berubah begitu saja, seorang Kakak yang dulu selalu memperhatikanku, sekarang ....
"Livia, kenapa kau menangis?" tanya Alissia sambil memegang pundakku.
Tanpa sadar air mataku keluar. Aku benar-benar menyedihkan.
"Sepertinya tidak ada kelas hari ini. Livia, apa kami boleh mampir ke kamarmu?"
Hah?
"Ah, itu ... sepertinya sulit, teman satu kamarku tidak suka dengan tamu,"
"Tidak masalah, ayo pergi."
Kenapa kalian memaksa?!
Bersambung ....
Sekarang kalian bisa bergabung di grup chat novel ini. Kalian bisa memberi masukan untuk novel ini agar lebih baik ke depannya. Caranya, buka halaman novel ini, dan klik tombol "Ayo Chat" seperti gambar di bawah.
Terima kasih!
JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!
Kalian bisa support Author juga di sini biar Saya semakin semangat buat update :
https://saweria.co/hzran22
Bisa donasi dengan Gopay, OVO, dan Dana, ya.