
Kembali ke masa kini.
Saraya masih tidak terima dengan hal yang membuat harga dirinya hancur seketika. Ironisnya, dia tak bisa melakukan apa-apa.
"Walau dia licik, tapi aku mengakui kekuatannya," ucap Saraya sembari mengelus gagang tombak di tangan kirinya.
Alissa Hart tak mengambil cicin Saraya, namun sebagai gantinya, Saraya tidak boleh ikut campur atas rencana Alissa Hart pada Justin.
Yah, tidak masalah jika aku punya keponakan dari orang kuat sepertinya, kalau dia serius.
Seekor tikus berwarna putih keluar dari semak-semak, berlari menggunakan kaki kecil menuju Saraya. Tikus kecil itu membawa gulungan surat kecil di punggungnya.
Edward menyipitkan matanya dan berkata, "Mereka sangat cepat."
Saraya membuka secarik kertas itu perlahan agar tak merobeknya. Ia membaca isi surat itu dengan teliti, karena ukuran yang kecil, surat ditulis dengan singkatan khusus.
"Edward."
"Ada apa, Nona?"
"Dua bawahan Justin, tangkap mereka, jangan tinggalkan jejak apa pun, aku akan menjelaskan detailnya nanti."
"Apa isi surat itu berhu--" Edward terdiam seketika melihat ekspresi Saraya. Ia tak ingin memperburuk suasana, dan segera pergi melaksanakan perintah Saraya tersebut.
Kantor utama.
Justin membuka matanya secara perlahan, pandangannya terasa kabur, diiringi rasa sakit di kepalanya. Pagi itu sangat terik, cahaya matahari masuk melalui jendela yang tidak ditutup menuju sofa, tempat Justin tertidur.
"Khuk. Apa yang terjadi?" Justin menuangkan minum dari teko di bawah meja. Ia meminum air itu sampai perasaannya kembali lega, pikirannya juga perlahan jernih.
Senyum buas langsung terlihat dari wajahnya. Senyum dalam artian buruk, kepuasan, dan kebanggaan.
"Assassin, apa kalian masih di sini?" tanya Justin yang melirik ke segala arah.
"Kami di sini, Tuan," jawab assassin yang suaranya terdengar dari sudut ruangan.
"Khek! Khuahaahahaha!" Justin tertawa seperti orang gila, suara kerasnya terdengar hingga ke luar ruangan.
Efek caoy benar-benar hebat! Petualang rank S bahkan bisa dilumpuhkan dalam beberapa menit.
"Ke mana dia sekarang?"
"Dia pergi meninggalkan kantor asosiasi, menuju penginapan. Ekspresi wajahnya terlihat sangat kebingungan."
Aku sangat kasihan mendengarnya, tapi aku memerlukan ini agar rumor mulai tersebar, dan tak ada pilihan untuknya selain menjaga nama baiknya. Aku bisa mengendalikan kerajaan itu dari balik layar, terutama menggunakan sumber daya mereka.
Di sisi lain, Justin serius tentang perasaannya terhadap Alissa Hart, namun ketamakan sedikit unggul dari perasaan itu.
"Mulai sebarkan rumor."
"Baik!"
Justin pergi menuju meja kerjanya, membuka laci yang berisi banyak berkas. Tujuannya bukan berkas-berkas itu, melainkan laci kecil lainnya yang terletak di sudut. Laci rahasia itu hanya terlihat jika Justin menggunakan item kunci khusus dan mengalirkan Mana miliknya.
Tangan Justin masuk ke dalam laci itu. Seharusnya tak ada ruang di dalam laci itu, karena memang itu laci rahasia yang terhubug ke dalam penyimpanan dimensi, namun memiliki batas, hanya bisa memuat tiga jenis benda, namun salah satu jenis benda itu bisa terus ditambah. Tak masalah seberapa banyak, selama masih dalam tiga benda yang sudah ditentukan pengguna, itu bukan masalah.
"Ini dia." Justin mengeluarkan satu kantong kecil penuh berisi bubuk caoy.
Bisnis gelap yang sedang kurintis. Penyebarannya sudah hampir menyeluruh di kota. Tunggu beberapa waktu sampai aku menyebarkannya ke seluruh kerajaan yang terikat dengan asosiasi. Tuan sangat bermurah hati memberiku produk luar biasa seperti ini.
"Tuan muda, tinggal beberapa waktu lagi sebelum pertemuan dengan utusan Gereja Suci."
"Ah, benar, aku hampir melupakannya."
Tak terasa waktu telah masuk sore hari. Rumor-rumor mulai menyebar hampir ke penjuru kota, bahkan tamu yang masih berada di tempat ini juga mengetahuinya. Semua sesuai dengan perintah Justin pada assassin.
Justin keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi dan formal. Pertemuannya dengan utusan Gereja Suci, yaitu Neno. Justin mulai meraba-raba apa yang akan terjadi di pertemuan nanti.
Hal yang pasti, mereka berencana ingin membali senjata dengan harga miring, mereka membuat sebuah kontrak yang mungkin sangat berguna di kemudian hari.
Justin masuk ke kantor utama, duduk di sofa menunggu kedatangan Neno.
*Tok tok
Seseorang mengetuk pintu dari luar.
Tak ada suara, itu artinya bukan dari utusan Gereja Suci.
Assassin menyamar menjadi pelayan dan membuka pintu, mereka bersiap-siap dalam posisi menyerang jika sesuatu yang buruk terjadi pada Justin.
Seorang wanita masuk dengan wajah kesal. Mata wanita itu menatap tajam Justin, terlihat amarah yang menumpuk dari sorot matanya itu.
Justin menyeringai, mengangkat kakinya ke meja dan menyapa wanita itu. "Bagaimana kabarmu, Alissa Hart?"
Wanita itu adalah Alissa Hart, diikuti oleh dua maid di belakangnya yang juga menunjukkan ekspresi serupa.
"Apa maksud dari semua ini ... Justin?" tanya Alissa Hart dengan nada kesal.
Justin terkejut mendengar Alissa Hart tak memakai bahasa formal seperti sebelumnya.
Sepertinya dia sangat kecewa padaku, tapi tak ada cara lain untuk bisa menguasainya secara utuh.
"Silahkan duduk, Nona Hart, ruangan ini sangat tidak asing bagimu, 'kan?"
*Swing
"Justin, kesabaranku sudah habis." Aura mengerikan menyelimuti tubuh Alissa Hart.
Tubuh Justin seketika berkeringat saat meihat aura mengerikan itu. Ia memberi kode pada para assassin.
Jadi ini kekuatan petualang rank S? Sungguh mengerikan.
Justin mencoba menghiraukan tekanan yang ia terima. Harga dirinya sangat tinggi, hal seperti ini sangat memalukan jika orang lain melihatnya.
"Aku minta maaf. Tapi, bukan aku yang menyebarkan rumor itu, mereka tersebar dengan sendirinya ketika kau keluar dalam kondisi 'berantakan' dari kantorku. Aku hanya bisa menikmatinya, 'kan?"
Justin masih belum yakin apa yang terjadi malam itu. Namun, reaksi tubuhnya mengatakan bahwa "itu" telah terjadi. Tak ada salahnya menganggap bahwa kejadian itu nyata.
Di saat yang sama, pikiran liar Justin kembali aktif.
"Hei, bagaimana jika Ratu Daisy mendengar kabar ini?" tanya Justin.
Alissa Hart terlihat tertekan setelah mendengar pertanyaan Justin. Sebuah masalah besar jika seseorang yang memiliki posisi penting sepertinya terlibat skandal seperti ini.
"Aku akan membantu membungkam rumor itu, namun ... kau harus memberiku tiga kesempatan."
Ada alasan kuat kenapa Justin menyarankan hal itu. Ada larangan untuk tamu kerajaan, yaitu larangan menyebarkan mata-mata di dalam Kota Penengah. Karena itu para pengawal akan selalu berada di dekat tamu, tak ada pergerakan yang diizinkan jika tak berhubungan dengan tamu. Ini dilakukan agar tidak terjadi pencurian informasi dari kedua belah pihak yang sedang dalam gencatan senjata.
Terlebih lagi, mereka sudah menandatangani sumpah untuk tidak melakukan hal itu selama di dalam Kota Penengah.
"Bajingan!" Kedua maid langsung berlari ke arah Justin, namun puluhan assassin yang berada di luar langsung pasang badan melindungi Justin. Ruangan itu hampir dipenuhi oleh assassin.
Alissa Hart masih terdiam dengan ekspresi tertekan.
Mau seberapa kuat dirimu, mustahil bisa mengalahkan seluruh assassin yang ada di sini.
Justin memberi sinyal untuk sebagian besar assassin keluar dari ruangan ini.
"Aku hanya ingin menyelamatkan citra yang telah kau bangun dalam waktu yang lama."
Alissa Hart mengangkat kepalanya, melihat ke arah Justin, ekspresinya terlihat sudah membulatkan tekadnya.
"Baiklah," jawabnya.
"Perdana Menteri!" Kedua maid berteriak penuh amarah.
"Diamlah." Alissa Hart menoleh dan menatap tajam kedua maid itu. "Justin, aku akan menuruti tiga keinginanmu."
Justin tersenyum puas setelah memenangkan pertaruhan besar ini. "Bagus, aku akan secepatnya meredam rumor ini, setelah itu ... datanglah ke sini pada tengah malam."
A. Amukan
*Duaar!
Ratusan ledakan besar menghancurkan seluruh dataran yang luas. Gunung-gunung hancur tak membekas, ledakan di laut menimbulkan tsunami raksasa. Badai besar menyapu semua yang dilaluinya.
"Huaaaaaaaaaaah!" Seorang wanita berteriak dengan ratusan lingkaran sihir di belakangnya. Berbagai macam sihir keluar dari lingkaran sihir itu, sebagian besar dari sihir itu mampu menghancurkan satu kerajaan dalam sekali serang.
Rambut putih panjang milik wanita itu mengembang seperti api yang membara.
Wanita itu menghela napas karena kelelahan, seluruh dataran telah rata. Ia telah membuat kiamat yang menghapus seluruh peradaban.
"Haaah ... haaah ... aku ... butuh ... Mana Potion," ucap wanita itu yang terengah-engah karena hampir kehabisan Mana.
Sebotol Mana Potion jatuh dari langit mengenai kepala wanita itu.
"Terima kasih, Delila." Wanita itu adalah Rayna.
"Kau mengisolasi diri di sini, bahkan Ibu tidak menyuruhmu melakukannya. Sekarang, kau menghancurkan dimensiku sesuka hatimu," ucap Delila kesal.
Wajah Delila terlihat kosong, tapi nada kesal yang terdengar benar-benar nyata.
"Kau melihatnya, 'kan?!" Rayna menunjuk ke arah cermin yang terlihat seperti portal.
"Iya, aku juga kesal, tapi Ibu punya alasan melakukan itu. Kita dilarang bertindak di luar perintah."
Rayna meminum Mana Potion dengan sekali teguk. Tubuhnya kembali bugar seperti sedia kala.
"Beruntung kau tidak di kota hari ini," lanjut Delila.
"Apa yang terjadi?"
"Hampir separuh penduduk pingsan karena tak bisa menahan aura Kak Elina. Kabar bagusnya aura membunuh itu tak memberikan damage pada mereka."
"Sepertinya kita harus segera melakukan 'Wajib Militer' yang dulu pernah Ibu bahas sebelumnya. Mentalitas penduduk harus dilatih."
"Aku setuju."
Delila mengembalikan kondisi alam di dimensi yang sudah hancur. Hal ini cukup menguras MP-nya, namun tak ada yang mengetahui ini selain dia dan Keres.
"Aku ingin mengunjungi keenam pria aneh itu," ucap Delila sembari membuka portal menuju dungeon.
"Ah, mereka sedang bersiap-siap, ya? Aku ingin mengajak Crocell sparing."
"Kalian berdua sama saja, dasar maniak."
Keduanya pun masuk ke portal menuju ke dungeon.
Bersambung ....