The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Penuh Dengan Kekuatan



Chapter 42 : Penuh Dengan Kekuatan


Hela membuka matanya secara perlahan.


"Ugh!"


Kepalaku sangat sakit.


Hela melihat ke sekelilingnya.


Di mana aku? Apa aku sudah mati?


Hanya ada dinding batu di sekitarnya. Kondisi ini begitu familiar bagi Hela, ketika Joah menyelamatkannya.


Hela menggelengkan kepala.


Tidak, tidak, ini jelas jauh berbeda! Huh ... tunggu sebentar.


Hela merasakan keanehan di tubuhnya.


Tak ada bekas luka, organ dalamku baik-baik saja.


Hela menghela napasnya.


Ternyata benar, aku sudah mati. Mungkin sekarang aku ada di alam lain.


Hela terlihat pasrah, ia beranggapan bahwa dirinya telah mati.


*Brak!


Tangannya menggebrak batu hingga hancur.


Mana mungkin aku berkata seperti itu! Aku belum mati!


Hela bangkit berdiri, berjalan meraba-raba dinding batu.


Aku ingat sekarang, aku terhempas hingga menabrak sebuah bukit batu. Sepertinya ada orang yang menyelamatkanku dan memindahkanku ke dalam gua.


Langkah kakinya terasa berat. Walau seluruh lukanya telah sembuh, namun kondisi kesehatannya tidak begitu baik. .


Aku harus bertahan!


Tekadnya mendorong paksa, kakinya terus bergerak maju.


Cahaya di pintu gua terlihat.


Napas Hela terengah-engah. Ia duduk sembari mengumpulkan tenaganya kembali.


Sedikit lagi, aku bisa keluar.


Hela bersandar di dinding gua sembari melihat ke arah pintu keluar. Ia memikirkan tentang pilihannya saat ini.


Aku hanya mengatakan omong kosong tentang menjadi kuat dan melindungi Liche. Bahkan aku tak tahu ada di mana sekarang.


"Sungguh menyebalkan."


Muncul bayangan hitam dari arah luar.


Seseorang?


Tak terlihat jelas rupanya, karena orang itu membelakangi cahaya. Namun, satu hal yang pasti, matanya bersinar kemerahan, seharusnya sinar di matanya redup mengingat cahaya dari luar.


Melihat hal itu, Hela menyimpulkan bahwa ....


Cahaya di matanya lebih terang daripada cahaya di luar.


Hela mengingat sesuatu setelah melihat sinar kemerahan di mata orang itu.


Aku ingat, aku juga melihat sinar di mata itu sesaat sebelum aku tak sadarkan diri. Apa dia yang menyelamatkanku? Tidak, aku harus mewaspadainya, bisa saja dia akan memanfaatkanku.


Hela mangumpulkan energi sihir di tangannya. Di saat itu juga Hela merasakan sensasi yang sangat mengerikan.


Tempat ini ... penuh dengan energi yang mengerikan. Apa maksudnya ini?


Orang itu semakin mendekat, perlahan rupanya mulai terlihat.


Sebelum hal buruk terjadi, aku harus melenyapkannya!


"Fire Ball : Destroying Meteor!" Hela menggunakan sihir tingkat tinggi, sihir yang dia gunakan untuk menyerang Naga Hitam.


Namun, ukurannya jauh lebih besar dari yang sebelumnya. Ia tahu bahwa sihirnya bisa menghancurkan gua ini, dan dirinya bisa mati seketika.


Tidak peduli! Aku akan mati bersamanya!


*Bush!


Sihir Hela melesat dengan kecepatan yang luar biasa.


Sekilas Hela melihat orang misterius itu mengangkat tangannya ke depan.


Tak lama setelah itu ....


*Wush!


Sihir meteor milik Hela lenyap tak berbekas.


Apa yang terjadi?


Hela merapalkan "Fire Ball" berturut-turut ke arah orang misterius itu. Namun, semua sia-sia. Fire Ball menghilang sebelum menyentuh tangan orang misterius tersebut.


Dia pasti menggunakan semacam trik.


Hela tak kuat menahan rasa lelah yang ia rasakan. Ditambah menggunakan sihir dalam kondisi seperti itu semakin memperburuk keadaan.


Orang itu semakin mendekat. Hela melihat jelas sosok misterius itu.


Seorang wanita?


Rambut kuning wanita itu sangat cerah karena tersinari oleh cahaya dari belakang. Ia mengenakan pakaian serba hitam yang belum pernah Hela lihat. Sorot matanya tajam, raut wajahnya terlihat dingin.


"Cantik." Itu kata yang keluar dari mulut Hela ketika melihat rupa wanita itu.


Wanita itu berada tepat di depan Hela.


Hela hanya menunduk sembari mencuri pandang ke arah kaki wanita itu.


Wanita itu membungkuk.


Hela merasakan sesuatu yang menyentuh kepalanya. Rasanya seperti tidak asing, ini hal yang paling berkesan bagi Hela.


Air mata Hela perlahan menetes ketika mengingat momen itu. Ia kembali teringat dengan orang yang sering mengelus kepalanya dulu.


"Huwaaa!" Hela menangis dengan keras. "Nauraa!"


Wanita itu langsung memeluk Hela yang sedang menangis.


Air mata Hela mengalir membasahi pakaian wanita itu.


"Jangan menangis," ucap wanita itu.


Hela langsung membuka matanya ketika mendengar suara wanita itu. Suaranya sangat lembut, perasaan Hela perlahan membaik ketika mendengar suara wanita itu.


Perlahan tubuhnya mulai membaik, rasa letih menghilang, energinya kembali pulih.


Mustahil.


Itu yang dipikirkan Hela setelah merasakannya langsung.


Hela berhenti menangis, sekarang ia sangat penasaran dengan identitas wanita itu.


"M-maaf ... Saya penasaran, si--"


Sebelum Hela menyelesaikan perkataannya, wanita itu melepas pelukkannya pada Hela. Kedua tangannya masih memegang bahu Hela.


Mereka saling bertatapan. Mata merah milik wanita itu terlihat dengan jelas.


Sangat indah. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu di matanya.


Hela memalingkan wajahnya karena malu. Wanita itu terus menatapnya dengan wajah datar.


Apa yang ingin dia lakukan?!


"Sudah kuputuskan," ketusnya.


Apanya?!


"Hei, apa kau tidak tertarik untuk menjadi muridku?"


Hela terdiam sejenak. Otaknya mencoba mencerna pertanyaan wanita itu.


Menjadi muridnya? Apa aku tidak salah dengar? Kami bahkan tidak saling mengenal.


Hela kembali menatap mata wanita itu.


Seperti dugaanku, energi sihir di tempat ini berasal darinya. Wanita ini orang terkuat yang kutemui sejauh ini, aku tak akan melepas kesempatan ini.


"Saya menerimanya!"


Wanita itu melepas genggaman di pundak Hela.


"Baiklah. Ikuti aku." Wanita itu berjalan ke dalam gua.


Hela mengikuti wanita itu dari belakang.


Energi sihir tertinggal di setiap langkah yang ditinggalkan wanita itu. Hela merasa takut.


Aku tidak meyangka ada orang sekuat ini. Kenapa dia tidak ikut perang melawan Iblis?


Udara semakin dingin, dan gua sepenuhnya gelap. Hela spontan menarik pakaian wanita itu karena tak bisa melihat apa pun. Ia hanya bisa melihat sinar dari mata wanita itu.


Rasanya seperti kami sudah berada jauh dari pintu masuk gua.


"Siapa namamu?"


Hela terkejut karena tiba-tiba wanita itu bertanya padanya.


"H-hela."


".... Nama yang bagus."


Hela mengangguk dan tersenyum kecil.


Mereka berhenti.


Hela tak tahu apa yang sedang terjadi, karena kondisi gelap gulita.


*Tak


Wanita itu menjentikkan jarinya.


Api berwarna biru menyala dan menerangi lorong gua.


Api biru?


Ini pertama kalinya Hela melihat api berwarna biru.


"Tujuan kita bukan api itu. Perhatikan di depanmu, Hela."


Hela seketika diam membatu melihat apa yang ada di hadapannya.


Sebuah pintu batu raksasa setinggi 10 meter menyambutnya, dengan ukiran yang tak diketahui di bagian depannya.


Hela baru menyadari bahwa ukuran lorong gua semakin membesar.


"T-tempat apa ini?"


Pertanyaannya sama sekali tidak dijawab.


*Braaak


Pintu batu terbuka. Suara yang dihasilkan begitu keras dan berguncang.


Berbanding terbalik dengan lorong gua, ruangan besar di balik pintu batu telah diterangi oleh sihir cahaya.


Mereka masuk ke dalam ruangan itu.


Terlihat beberapa pilar batu raksasa yang melingkar.


Hela merasakan energi yang sangat kuat dari pilar batu itu.


"Hela, latihanmu akan dimulai dari sini."


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!