
Lebih cepat!
Dengan bantuan para Naga yang membuat jalur udara, kami terbang dengan sangat cepat. Aku tidak perlu membuang-buang Mana untuk ini.
Kami sudah berada jauh di dalam Wilayah Manusia. Seharusnya saat ini kami sudah sampai di Kerajaan Penyihir Maphas.
*Bum!
Aku merasakan aura dari arah depan.
"Berhenti semua!" Burimo mengangkat tangannya.
Mereka juga merasakan aura mengerikan itu?
"Master, Anda merasakannya?" tanya Edelia.
Aku mengangguk.
Aura ini seolah-olah menarik kami untuk terus maju ke depan.
*Wush!
Azazel terbang terlebih dahulu dengan kecepatan yang luar biasa.
"Azazel!"
Kami pun mengikutinya.
Semakin kami mendekat, aura yang kami rasakan semakin kuat.
"Terlihat!" Edelia menunjuk ke depan.
Terlihat dari kejauhan hamparan tanah hijau yang sangat luas. Jika diperhatikan secara cermat, itu bukanlah padang rumput, melainkan dedaunan yang sangat lebat.
"Itu Hutan Hijau," ucapku.
Ini masih terlalu jauh dari Hutan Hijau, warna hijau yang sangat menyala itu terlihat dari sini.
Di mana pasukan Abbadon dan yang lainnya?
"TAHAN!" Pimpinan Naga Merah menutup jalan di depan dengan sihir tamengnya.
Apa yang dia lakukan?!
Sihir ini seperti Mana Shield, tapi menggunakan elemen angin yang dikumpulkan di satu titik.
"INI TIPUAN."
"Apa maksudmu?" tanyaku.
Dia menatap tajam ke arah Hutan Hijau.
"DUGAANKU BENAR." Pimpinan Naga Merah melihat ke arah Misala. "HEI, KAU! WANITA DENGAN RAMBUT BIRU! NETRALKAN SIHIR ILUSI DI AREA INI!"
Sihir Ilusi? Tunggu, dia tahu Misala ahli sihir ilusi?
"Illusion : Release!" Misala mengaktifkan sihirnya.
Hutan di depan kami perlahan kabur dan memunculkan tampilan lain.
Eh, darah?
Mayat bertebaran di mana-mana.
"Mereka ... pasukan sebelumnya, 'kan?" Aku mendekati mayat-mayat itu.
"Tunggu dulu, aku belum menetralkan semua area. Kondisi di sana masih belum diketahui." Misala menahan tanganku.
Kami terbang rendah dan menelusuri area secara perlahan.
Ilusi mulai menghilang saat kami semakin mendekati Hutan Hijau.
Tidak salah lagi, ini Pasukan Iblis. Ngomong-ngomong, aku tidak merasakan keberadaan Azazel, dia sudah jauh di sana. Ilusi ini juga menyembunyikan hawa keberadaan para Panglima Iblis.
"Master." Edelia memegang erat tanganku.
Wajahnya terlihat begitu cemas.
"Tenanglah, Lia,"
Misala berhenti.
"Ilusinya menghilang dengan sendirinya," ucapnya.
Semua orang terdiam membeku melihat apa yang ada di depan.
"B-bagaimana bisa?" Tubuh Edelia gemetaran.
Lautan darah memenuhi tempat ini.
"SIAPA SEBENARNYA YANG KITA LAWAN!" teriak Pimpinan Naga Merah.
Anehnya, mayat-mayat dari Pasukan Iblis berhenti tepat di depan Hutan Hijau. Itu artinya mereka sudah dibantai sebelum memasuki Hutan Hijau. Rencana kami yang akan menyerang dari belakang sudah dipastikan batal dilakukan.
"Aku tak merasakan keberadaan Panglima Iblis lainnya." Aku terbang ke atas untuk melihat suasana lebih jelas.
*Duar!
Sebuah ledakan terdengar dari dalam Hutan Hijau.
Pasukan Naga langsung terbang memasuki hutan sembari menembakan serangan dari mulut mereka.
Kadal-kadal itu! Apa mereka tidak peduli dengan sekutu yang ada di sana?!
"Kita juga harus maju, Lia!"
"Baik!"
Misala melompat ke tungganganku. Dia sangat lemah jika bertarung sendirian. Sedangkan Burimo menunggu di tempatnya sambil menggunakan sihir penguat dari item miliknya.
------------------------
Kami sudah berada di dalam hutan.
Pepohonan di sini sangat besar. Akar-akar yang menjulang ke atas juga menghambat laju kami.
Para Naga menghancurkan pepohonan dengan menabrakan diri mereka. Pasukanku dan Pasukan Misala mulai berpencar mencari Pasukan yang lainnya.
"Tch!" Aku medeciskan lidahku.
Burimo, bajingan itu menggunakan sihir penguat untuk dirinya sendiri.
Aku menggunakan sihir penguat untuk Edelia dan Misala.
*Wush!
Ada Undead yang menyerang kami dari pepohonan. Mereka mengayunkan pedang di tempat-tempat tertentu.
Sihir ilusi tidak akan bekerja kepada Undead.
"Tornado Blast!" Edelia merapalkan sihir serangan tingkat menengah.
Sebuah ledakan yang memicu tornado berukuran sedang menyapu pepohonan di sekitar kami. Undead-undead itu juga berterbangan, ternyata mereka hanya Skeleton biasa.
Muridku memang hebat.
Berkat sihir Edelia, kami bisa terbang dengan leluasa. Dia terus melemparkan Fire Ball ke pohon-pohon yang kami lewati sebagai antisipasi serangan Undead.
*Dum Dum Dum
Suara langkah kaki terdengar jelas.
Sesuatu mendekat.
Kami berhenti dan turun dari Griffon yang kami tunggangi.
"Persiapkan diri kalian, kita akan bertarung,"
Sosok itu pun muncul.
Bertubuh besar. Setiap otot-ototnya mengandung banyak energi. Rambut hitam, serta mata merah yang menyala.
Rasanya tidak asing, apa aku pernah bertemu dengannya?
"Yoo ... Pemburu Naga,"
Dia mengenaliku?!
"Master, apa Anda pernah bertemu dengan makhluk itu?"
Aku sendiri pun tak yakin.
"Makhluk itu? Sepertinya aku harus mengajari gadis kecil ini tentang tata krama," ucapnya.
Dia akan menyerang.
*Wush!
Dia bergerak dengan sangat cepat ke arah kami.
"Mana Shield!" Edelia mencoba menahannya dengan pelindung sihir.
*Bugh!
"Ugh!" Edelia terhempas karena serangan orang itu.
"Lia!"
Dia menghancurkan Mana Shield milik Edelia.
Orang ini ... dia sedang dalam mode Berserk. Apa Pasukan Iblis mati karena dia?
Dia mengalihkan pandangannya ke arahku.
"Sekarang giliranmu, Pemburu Naga." Dia tersenyum seperti orang gila.
Jarak kami sangat dekat, dia sangat diuntungkan.
Aku mengeluarkan pedang Iblis yang terbuat dari sihir api milikku.
"Aku tidak tahu siapa kau, tapi, kau sudah melukai muridku, sialan!"
*Bugh!
Orang itu dengan cepat mengarahkan pukulannya padaku.
"Tch!" Aku menangkis pukulannya dengan pedangku.
"Fire Wall!" Aku membuat dinding api untuk menahan pergerakannya.
"Huh ...."
Akhirnya aku bisa memperbaiki posisiku.
Aku membatalkan Fire Wall dan bersiap menyerangnya.
Eh?
"Menghilang?"
"Maryna! Di belakangmu!" teriak Misala.
"Tornado Blast!"
*Bussh!
Edelia menghempaskan orang itu dengan sihirnya.
Sial! Kenapa aku bisa selemah ini?!
"Kukuku ... Tidak kusangka si Pemburu Naga jadi selemah ini,"
"Siapa kau?!"
"Kalian melupakan siapa yang menjaga Hutan Forst itu?"
Penjaga Hutan Forst? Tunggu ... mungkinkah dia?
"Setengah Naga ... Roy?"
"Setengah Naga, ya? Itu tidak salah, sih,"
Dia yang menjaga Hutan Forst dari penyusup. Kekuatannya sebanding dengan Panglima Iblis. Kenapa dia ada di sini? Ah, dia tidak terlihat di Hutan Forst saat aku dan Yang Mulia Arys menuju Kerajaan Dwarf. Aku baru pertama kali melihat wujud Berserk miliknya.
"Kenapa kau ada di sini?!"
"Tentu saj- eheeem ... aku di sini atas perintah Ratu,"
Ratu? Orang seperti dia tunduk oleh seseorang?
Aku melihat ke arah Misala.
Jadi begitu.
"Aku tidak mengira orang sepertimu sangat mudah ditundukan,"
"Apa kau bilang?!"
"Kau membuatku kecewa, Roy, ditundukan oleh orang-orang seperti mereka,"
"Huh ... aku tidak peduli dengan ucapanmu tentangku, tapi, aku tidak akan diam jika kau merendahkan Tuan-tuanku,"
"Hoh? Sekarang kau membuang harga dirimu demi orang-orang itu?"
Aku merasakan aura miliknya yang semakin meningkat.
"Bagus, Roy! Kita akhiri ini dalam sekali serang!"
Aku memfokuskan Manaku pada pedang.
Kami berdua berlari sambil memberikan serangan terakhir.
"Mati kau, bajingan!" Roy berteriak dengan sangat keras.
Dia mengarahkan tinjunya ke arahku.
*Wush!
Aku menghindarinya. Namun, aura di sekitar tubuhnya sedikit melukaiku.
Ini saatnya!
"Sekarang, Misala!"
Misala yang bersembunyi di belakangku merapalkan sihir ilusinya.
"Soul Stab!"
Roy diam membeku dengan pandangan kosong.
Misala berhasil. Sihir ini menekan jiwanya, dan orang yang terkena sihir ini akan jatuh ke perangkap ilusi.
Ini giliranku!
Aku memutar badanku sambil mengarahkan pedangku ke lehernya.
"Matilah!"
*Duaar!
Seranganku menimbulkan efek ledakan karena benturan keras dari tubuhnya.
Area ini dipenuhi kabut tebal akibat seranganku.
Edelia menghilangkan kabut dengan sihir angin.
"Eh?" Mataku seketika melebar setelah melihat apa yang di depanku.
"Master ... dia menghilang,"
Bajingan itu menghilang.
"Di atas!" Misala menunjuk ke arah pepohonan.
Seorang pria berdiri di dahan yang cukup besar sambil menggendong Roy dalam wujud normalnya.
Manusia?
"Sepertinya Roy sangat bersenang-senang di sini," ucapnya.
Perlengkapan yang dia gunakan, aku tidak pernah melihatnya.
Dia memegang sesuatu seperti besi hitam dengan lubang di ujungnya. Dia mengarahkannya ke arahku.
*Dor!
Benda itu mengeluarkan sesuatu.
*Crack!
Eh?
"Master!"
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA! 👍