
Chapter 38 : Kutukan
"Luka luarnya sudah sembuh, dia butuh istirahat untuk memulihkan kondisi mentalnya,"
"Baik, terima kasih, Guru."
Aku menghela napasku. "Kenapa jadi seperti ini ...?"
Aku sengaja meninggalkan Livia sendirian di kamar agar dia bisa menggunakan kekuatannya. Ternyata dugaanku meleset. Aku sama sekali tak memahami kondisi Livia, dia masih belum merasakan kekuatannya dan masih mengandalkan tongkat sihirnya.
Delila sudah membuka segel kekuatan bersamaan dengan segel ingatannya, namun sepertinya ingatan Livia tak kembali.
Aku dan Delila berada di kamar Livia. Kami sudah memberesken para perundung itu sebelumnya. Erish pergi bersama seorang murid tingkat Gold yang menyelamatkan Livia untuk membahas kejadian ini. Yah, Erish akan segera memberitahuku hasil pembahasannya nanti.
"Delila, periksa kondisinya sekali lagi,"
"Baik."
Sampai saat ini, aku belum memiliki kesempatan untuk melihat item yang sedang kucari. Hanya masalah waktu, lagipula di sini banyak hal menarik yang membuatku betah.
---------------------------
Satu bulan kemudian.
"Baiklah, pelajaran selesai sampai di sini, jangan lupakan apa yang aku ajarkan pada kalian tadi,"
"Baik, Guru!" jawab para murid dengan serentak.
Tiffany Kreis, di mana aku pernah bertemu wanita ini, ya? Dia terlihat tidak asing bagiku.
"Alissia, apa yang kau lamunkan?"
"Ah, tidak ada, Guru."
Sial! Aku tak sengaja memandanginya.
"Alissia, Delila, tetaplah di sini, aku ingin bicara dengan kalian,"
"Baik, Guru."
Para murid mulai meninggalkan kelas. Aku dan Delila tetap tinggal di kelas sesuai permintaan wanita ini.
Ia berjalan ke tempat duduk di sebelahku.
Aku tak terlalu memperhatikannya, karena saat ini aku masih mengingat-ingat kapan aku pernah bertemu dengan wanita ini.
"Kalian berdua ...."
"Ya?"
"Apa yang kalian lakukan pada Livia?"
Kenapa dia tiba-tiba berbicara tentang Livia?
"Apa maksudm-- Guru?"
Dia terdiam sejenak seperti ragu untuk mengatakan sesuatu pada kami.
"Itu ... aku pikir kalian menyadari sesuatu tentang Livia,"
"Segel sihir?" tanyaku dengan spontan.
Dia terkejut. Sesuai dugaanku, dia tahu tentang segel sihir Livia.
"Firasatku tidak pernah salah, kalian bukan murid biasa. Itu benar, aku sudah menyelidiki sesuatu yang menyegel sihir milik Livia, namun aku belum menemukan cara untuk membuka segelnya. Akhir-akhir ini aku sering melihat kalian bersama, kekuatan sihir Livia juga meningkat walau masih harus menggunakan tongkat,"
"Benar, Guru, kami yang membuka segelnya,"
*Brak!
Tangannya dengan spontan langsung memukul meja.
"Bagaimana?! Bagaimana cara kalian melakukannya?!"
"T-tenanglah, Guru ...."
"Aku tidak bisa tenang, karena apa yang dialami Livia sangat mirip dengan apa yang dialami Kepala Akademi,"
Kepala Akademi? Aku ingat sesuatu, Kepala Akademi kehilangan sebagian besar kekuatannya karena sebuah kutukan.
"Apa Guru yakin?"
"Iya."
Sepertinya kutukan yang diderita Kepala Akademi lebih rumit dari segel sihir Livia. Sia-sia aku mencari item di sini jika permasalahannya sama seperti segel sihir Livia.
Aku berunding dengan Delila tentang ini.
"Delila, bagaimana menurutmu?"
"Saya rasa pendapatnya keliru, segel sihir Livia lebih rendah dari apa yang menahan kekuatan Ibu,"
"Kau benar."
Kami sepakat untuk mengikuti pendapat Tiffany. Akan mencurigakan jika kami memberi pendapat lain.
"Jika yang Guru katakan benar, sepertinya kami bisa membantu,"
"Terima kasih, ayo kita bertemu Kepala Akademi."
Aku belum pernah bertemu Ratu Kerajaan Mystick sekaligus Kepala Akademi di sini. Rasa penasaranku sangat besar.
Tiffany membawa kami menuju gedung utama yang merupakan tempat bagi murid tingkat Diamond dan ruang Kepala Akademi berada.
Tempat ini jauh lebih megah dari tempat-tempat lainnya.
Di mana Erish berada? Seharusnya kantor Dewan Murid ada di sini.
"Kita sampai."
Kami tepat berada di depan pintu ruang Kepala Akademi. Pintu ini cukup besar untuk ukuran ruangan biasa.
Apa ini rumahmu?! Kau tidak bisa keluar masuk sembarangan di tempat orang lain.
"Masuklah."
Kami masuk ke ruang Kepala Akademi.
Isinya tak jauh bereda dengan kantor kepala seperti biasanya. Sebuah tempat duduk Kepala Akademi dan tempat duduk tamu.
Tak ada seorang pun di sini. Apa yang terjadi sebenarnya?
"Duduklah, Kepala Akademi akan segera datang."
Sebuah lingkaran sihir muncul di lantai. Tak lama kemudian seseorang muncul dari lingkaran sihir itu.
Teleportasi, ya.
Seorang wanita, berambut putih cerah berjalan menuju meja Kepala Akademi.
Jika dilihat, penampilan wanita itu terlihat seperti berusia 25 tahun. Menurut informasi, dia sudah berusia ratusan tahun.
Walau indera perasaku masih tumpul, aku bisa merasakan aura yang besar dari wanita ini.
"Tiffany, apa yang membawamu ke sini?" tanyanya dengan nada lembut, namun tak meninggalkan kesan keagungannya.
"Maaf mengganggu waktu Anda, Nyonya Kepala,"
Dia melihat ke arah kami berdua. "Siapa dua murid ini?"
"Apa Anda masih ingat dengan murid Bronze yang sihirnya disegel?"
"Iya?"
"Mereka berdua telah membuka segel sihir milik gadis itu."
Alisnya naik, tanda dia menahan ekspresinya. Dia pasti terkejut.
"Murid itu masih belum sadar jika dia bisa menggunakan sihir tanpa tongkat, namun dia sadar bahwa kekuatan sihirnya meningkat pesat," lanjut Tiffany.
Dia melirik kami berdua. "Bagaimana cara kalian membuka segelnya?"
Aku tidak yakin bagaimana caranya mengatakan itu padanya. Karena segel sihir Livia hanyalah segel biasa.
"Apa yang bisa Anda berikan sebagai bayarannya?" Delila yang hanya diam daritadi tiba-tiba berbicara.
Apa yang dia pikirkan?!
"Delila, apa yang baru saja kau katakan?!" Tiffany terlihat panik dengan perkataan Delila.
"Aku hanya bertanya bagaimana caranya, bukan berarti cara itu bisa menghilangkan kutukanku,"
"Semua ada harganya, walau sekecil apa pun itu,"
Aku hanya diam mendengarkan Delila dan Kepala Akademi berbicara.
"Aku yakin kau menggunakan sebuah tipuan atau item pada temanmu itu. Untuk murid tingkat Bronze, kau terlalu banyak berkhayal,"
"N-nyonya Kepala ...." Tiffany berusaha melerai keduanya.
"Jika kalian ingin memerasku, kusarankan hentikan itu dan fokuslah untuk meningkatkan kekuatan kalian," lanjut Kepala Akademi.
Tak heran banyak perundung di sini, ternyata pemimpinnya seperti ini.
"Kau tak perlu menyombongkan diri, Kepala Akademi. Masih banyak orang di luar sana yang bisa dengan mudah mengalahkanmu, bahkan jika kekuatanmu kembali." Delila semakin meninggikan suaranya.
"Bahkan kau mulai tidak sopan padaku. Aku adalah Ratu Kerajaan Mystick, penyihir terkuat di dunia, bahkan Raja Iblis pun tak bisa mengalahkanku!" Kepala Akademi terlihat berapi-api saat menyombongkan dirinya.
"AKU BISA MENGALAHKANMU, MANUSIA RENDAHAN!" Delila berdiri dari tempat duduknya.
Gawat!
*Bum!
Aura yang dilepaskan Delila mulai tak terkontrol. Napasku terasa sesak ketika aura itu menusuk-nusuk tubuhku.
"BAHKAN LOGAM TERKUAT PUN AKAN LEBUR JIKA DIBAKAR DENGAN API! KAU YANG HANYA SEBUAH PARTIKEL KECIL DI DUNIA INI TAK PANTAS MENYOMBONGKAN DIRIMU!"
"K-kau ...?!"
Mereka berdua saling beradu aura.
Tubuhku tak bisa bergerak.
Tiffany langsung menarik tubuhku ke sisinya. Dia menggunakan sihir pelindung untuk menahan aura dari kedua orang itu.
Satu hal yang mengejutkanku, aura yang dikeluarkan Kepala Akademi bisa mengimbangi aura Delila, walau Delila hanya menggunakan setengah dari kekuatannya, ini tetap mengejutkanku, kekuatan Kepala Akademi memang layak dipertimbangkan.
Aura Kepala Akademi perlahan melemah. Mungkin itu efek kutukan yang membatasi kekuatannya.
Kepala Akademi semakin terpojok, dia bisa mati jika terus ditekan seperti itu. Aku harus menghentikannya.
"Delila, hentikan!"
Bersambung ....
Sekarang kalian bisa bergabung di grup chat novel ini. Kalian bisa memberi masukan untuk novel ini agar lebih baik ke depannya. Caranya, buka halaman novel ini, dan klik tombol "Ayo Chat" seperti gambar di bawah.
Terima kasih!
JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!
Kalian bisa support Author juga di sini biar Saya semakin semangat buat update :
https://saweria.co/hzran22
Bisa donasi dengan Gopay, OVO, dan Dana, ya.