The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Jamuan



Justin berjalan di lorong menuju tempat jamuan utama, ditemani dua bawahannya, Ted dan Dito. Lorong yang pendek, hanya terdiri dari beberapa ruangan kerja di sisi kiri. Mereka berjalan dengan wajah penuh kebanggaan, para pelayan langsung membungkuk ketika melewati mereka.


"Aku tidak sabar melihat para pion di sana, Tuan Muda," ucap pria kurus bernama Dito.


"Kekeke, Tuan Muda pasti sudah menyiapkan semuanya." Ted menepuk bahu Justin sambil tertawa kecil.


Kebanggaan Justin semakin tinggi, pujian dari dua bawahannya menambah kepercayaan dirinya.


Tanpa kami, kerajaan-kerajaan itu tak bisa melakukan jenis perdagangan apa pun.


"Huh?"


Tak jauh dari posisi ketiga orang itu, sebuah pintu terbuka.


Justin seketika berhenti, tubuhnya tak bisa bergerak sama sekali.


Ruangan itu, 'kan ...?


"Tuan Muda, kenapa berhenti?" tanya Ted kebingungan.


Satu ketakutan besar Justin yang bisa saja merusak rencananya selama ini. Ketakutan terhadap seseorang.


Seorang wanita keluar dari ruangan itu. Justin langsung tertekan, aura yang sangat kuat membuat tubuhnya membeku. Wanita dengan rambut pendek seleher, memiliki mata tajam seperti elang, dan mengenakan pakaian ala militer dengan jubah bulu yang menutupinya.


Namanya ada Saraya de Moriento, anak tertua dari keluarga Moriento.


K-kakak, kenapa dia ada di sini?


Pikiran Justin langsung buyar, rencana yang ia rancang langsung dilupakan untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia mengingatnya kembali. Ia mencoba tenang ketika Saraya menoleh ke arahnya.


"Oho, ternyata Adik kecilku yang manis sedang berbahagia hari ini," ucap Saraya.


"Selamat malam, Kakak." Justin menundukkan kepalanya dengan tubuh yang sedikit bergetar.


Kedua bawahan di belakangnya enggan membungkuk, namun Justin memberi sinyal pada mereka untuk mengikuti perintahnya.


Justin baru menyadari bahwa Ted dan Dito belum pernah bertemu Saraya, Justin mengenal kedua orang itu beberapa bulan lalu.


Syukurlah, Kakak tidak mempermasalahkan perilaku mereka.


"Sepertinya kau sangat bersenang-senang selama aku pergi mengembara." Saraya menatap tajam Justin.


"Tidak, Kakak. Aku benar-benar sangat sibuk belakangan ini," ucap Justin sedikit percaya diri.


"Oh." Saraya menolehkan wajahnya ke depan sembari berjalan meninggalkan Justin.


Tak lama kemudian, muncul seseorang lagi dari ruangan yang sama. Seorang pria dengan rambut silver panjang, memakai kacamata, serta berpakaian seperti butler.


Justin sangat terkejut melihat pria itu.


Bajingan ini, kenapa dia bersama Kakak?


Nama pria itu adalah Edward Roardo, tangan kanan dari Edd de Moriento.


"Ah, Tuan Muda, maaf karena tidak menyadari Anda. Saya harap Anda tidak tersinggung, karena akan sangat buruk jika kondisi Anda tidak baik saat perjamuan sedang berlangsung." Edward menekan kata "Anda" berulang kali, dengan ekspresi sedikit menyeringai.


Masalah terbesarku, bajingan ini!


"Tidak masalah, Edward. Sesuai perkataanmu, sangat tidak sopan jika aku menunjukkan sisi burukku pada tamu."


"Sudah kuduga. Selamat menikmati perjamuan, Tuan Muda." Edward berjalan menuju arah yang sama dengan Saraya.


Banyak pertanyaan di kepala Justin setelah melihat dua orang itu.


Kakak dan Edward tidak pernah dekat seperti ini, bahkan aku tak pernah melihat mereka berbincang sebelumnya, hanya sapaan ringan antara tuan dan majikan. Tapi, kali ini mereka keluar dari ruangan yang sama, kebetulan juga tepat pada saat aku mengatur semua rencana dari belakang.


Justin menggelengkan kepalanya.


Kakak sama sekali tidak tertarik dengan urusan asosiasi, karena dia suka kebebasan, telebih lagi dia kuat ... setara petualang rank S. Hal sepele seperti ini tak akan cukup menggodanya karena dia memiliki banyak rahasia di luar sana. Tidak, kemungkinan terburuknya ... mereka memang bekerja sama.


"Tuan Muda?" Kedua bawahan Justin terus memanggilnya, namun Justin menghiraukannya.


Itu memang masuk akal, Edward tidak pernah senang padaku sejak aku mengambil alih sebagian kegiatan asosiasi, atau mungkin dia memang tidak senang denganku sejak awal.


"Baik, Tuan Muda."


Justin dan dua bawahannya melanjutkan perjalanan ke aula perjamuan.


--------------------------


Ketegangan, permusuhan, dan ancaman. Begitulah gambaran yang sesuai dengan kondisi di aula saat ini. Hampir seluruh kerajaan dari Federasi hadir dalam jamuan ini, hanya ada satu alasan yang membuat mereka menunjukkan kebenciannya saat ini.


Justin berdiri di balkon sembari mencari-cari orang di antara para tamu kerajaan. "Ugh!" Bulu kuduknya berdiri ketika melihat Saraya yang tersenyum sembari berbincang-bincang dengan tamu undangan.


Wanita itu sangat pandai bersandiwara.


Akhirnya Justin menemukan apa yang ia cari. Ada kelompok kecil yang berada di sudut ruangan, terlihat seperti dikucilkan oleh tamu dari Federasi.


Kerajaan Penyihir Maphas dan kerajaan bawahannya.


Sayang sekali, Kerajaan Elf Tharasia dan Kekaisaran tidak hadir.


Matanya tertuju pada wanita yang mengenakan gaun merah di antara kelompok itu. Rambut kuning terkibar sangat indah dan bercahaya, mengenakan gaun merah yang sangat anggun, memiliki tampilan bagian bawah seperti bunga lili yang setengah mekar, gaun itu menutupi lengan hingga dada, namun bagian tersebut sedikit transparan sehingga kulit putih di baliknya terlihat.


Dia ... Alissa Hart?


Jantung Justin berdegup kencang, seperti sesuatu akan meledak melalui kepalanya. Mata mera wanita itu yang menatap tajam semakin membuat Justin tak bisa mengontrol diri.


Tch! Para bajingan Federasi! Berani-beraninya mereka merundung kerajaan kecil seperti itu!


*Plok!


Justin menepuk tangannya, seketika perhatian seluruh tamu tertuju padanya. Para tamu mulai berbisik-bisik, mereka membicarakan tentang kebijakan yang telah Justin tetapkan.


"Terima kasih, karena sudah hadir dalam perjamuan sederhana yang kami adakan."


"Tuan Justin! Tolong beri kami penjelasan yang memuaskan!" Salah satu perwakilan Federasi berteriak keras dengan ekspresi menahan amarah.


"Tenanglah, para tamu sekalian. Mari kita nikmati perjamuan ini terlebih dahulu sebelum membahas bagian intinya."


Justin kembali menoleh ke arah tempat Alissa Hart berada, namun ....


Huh?


Tanpa diduga Saraya sedang berbincang dengan Alissa Hart. Hal itu sontak membuat Justin panik dan segera turun dari balkon menuju ke tempat Alissa Hart.


"Tuan Justin! Tunggu sebentar!" Para tamu undangan langsung mengerumuni Justin dengan berbagai antusias.


Justin tak bisa berbuat banyak, ia hanya melihat Saraya dan Alissa Hart yang berjalan berdampingan mengarah ke luar.


Aku tidak bisa berbincang dengan Alissa Hart, tapi rencana akan tetap berlanjut walau ada kemungkinan Kakak melakukan tindakan di luar dugaan dengan berbicara dengan Alissa Hart.


Satu jam kemudian.


Pesta perjamuan telah selesai, kini hanya beberapa orang yang merupakan perwakilan dari setiap kerajaan berada di satu ruangan. Mereka duduk di meja panjang dengan Justin yang menjadi pembicaranya, ia duduk di bagian paling ujung meja.


"Ayo mulai, Tuan Justin," ucap salah satu perwakilan.


"Tunggu sebentar, kita masih harus menunggu--"


*Brak!


Salah satu perwakilan lainnya memukul meja. "Kami tidak sudi jika orang-orang jahat itu duduk di tempat yang sama!"


Justin menatap tajam ke orang yang memukul meja. "Kalau begitu, mari kita anggap kalian telah menyetujui kebijakan baru yang telah kutetapkan."


"T-tidak, mungkin menunggu beberapa menit tidak masalah."


Tak lama kemudian, pintu terbuka dan beberapa orang pun masuk. Perhatian Justin tertuju pada wanita incarannya itu yang berada di posisi paling depan.


Akhirnya, aku bisa melihat dia dari dekat.


Bersambung ....