The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Rutinitas



Chapter 55 : Rutinitas


"Semua akan baik-baik saja, Kar Na."


"Jangan pergi, Kak!"


Suara aneh terus terdengar dari kepalaku, dan juga tempat-tempat asing yang belum pernah kulihat sebelumnya, namun aku merasa pernah ke tempat itu.


Ini ingatan Keres yang terlihat sedang melindungi Adiknya, Kar Na. Kepingan ingatan ini lama-lama mungkin akan menyatu seutuhnya, untuk sekarang aku belum menekukan titik terang dari cerita ini.


Aku membuka mataku secara perlahan, terbangun di sebuah ruangan yang sama seperti sebelumnya. Kamar di menara arsip. Seseorang sedang mengenggam tanganku, dia adalah Delila.


Wajahnya terlihat murung, sebaiknya aku segera meresponnya.


Aku memberi respon dengan cara menggenggam tangannya. Delila langsung menoleh ke arahku.


"I-ibu?" Delila langsung memelukku.


Aku sudah membuat gadis kecil ini khawatir.


"Maafkan aku, Delila."


"Tidak, Ibu, ini semua karena Saya yang tidak kompeten!"


Jika aku melanjutkan ini, sifat keras kepalanya akan terus berlanjut.


Aku sepertinya sudah tidak sadarkan diri beberapa hari terakhir. Tapi anehnya tubuhku tidak sakit atau merasa kaku sedikit pun.


"Tunggu sebentar." Aku mencoba bangkit duduk di tempat tidur. Rasanya sedikit tidak nyaman jika aku terus berbaring.


Perasaanku memang tidak salah. Tubuhku baik-baik saja, justru jauh lebih baik dari sebelumnya. Untuk kekuatan, aku rasa ada peningkatan sedikit, mungkin level-ku mendekati 900 sekarang.


"Ibu, apa ada sesuatu yang salah?" Delila mendekatkan tubuhnya padaku.



Aku sedikit menjauh darinya.


A-anak ini terlalu dekat! Tenanglah, secara teknis dia sudah legal sekarang!


"Tubuhku tidak mengalani efek apa pun, justru seperti baru menerima buff besar."


Ketika aku melihat Delila, seketika ingatan baru masuk ke otakku.


Eh


"Delila! Kau tidak apa-apa, 'kan?!" Aku langsung memeriksa tubuh Delila.


"S-saya tidak apa-apa, Ibu."


Tidak ada luka di dadanya. Apa itu hanya imajinasiku saja? Tidak, aku perlu mendengar cerita dari mereka, mau dilihat dari mana pun hal itu teramat nyata bagiku.


"Delila, ceritakan semuanya padaku."


Delila terlihat ragu untuk berbicara, mulutnya sedikit bergetar.


"Ceritakan saja, Delila."


"B-baik, Ibu."


Delila menceritakan semua kejadian waktu itu.


 -------------------------------


"Jadi begitu, ya."


"Ini sama sekali bukan salah Ibu, pasti ada seseorang yang mencoba berbuat jahat pada Ibu."


Aku tidak mempermasalahkan soal itu. Masalah terbesarnya adalah aku membunuh Delila sebanyak dua kali. Kejadian itu langsung terekam di kepalaku, benar-benar sangat menyakitkan.


Tapi, dia bisa selamat berkat kemampuan mata kanannya. Ini sangat mengejutkanku, ternyata mata kanan Delila memiliki kemampuan yang mengerikan. Semua berhubungan dengan waktu. Kemampuan yang bisa meniadakan apa pun ketika menyentuhnya dan mengubah takdir. Kemampuan mengubah takdir sangat menarik perhatianku, Delila mengaktifkan kemampuan itu beberapa saat sebelum kematiannya, dirinya yang ada di masa kini lenyap dan digantikan dengan dirinya dari masa lalu. Namun ingatannya tidak terpengaruh, masih memiliki ingatan dari masa kini.


"Saya masih belum yakin bisa menggunakan kemampuan itu pada orang lain."


Itu tidak masalah, kemampuan itu benar-benar sangat mengagumkan. Pasti itu mengosumsi banyak MP. Masih ada kemampuan lain, namun Delila belum bisa menggunakannya dengan benar.


Hal lain yang membuatku terkejut. Ini soal kekuatanku. Delila sempat merekam beberapa moment pertarungan dengan "CCTV portal" yang tersembunyi.


Bagaimana bisa ada armor yang mirip dengan mecha di dunia ini? Benar-benar sudah melenceng jauh dari sihir. Menurut cerita dari Abigail, Keres pernah menggunakan armor ini melawan Lima Dewa Tertinggi. Aku tidak tahu siapa mereka, sepertinya mereka sangat kuat sampai membuat Keres harus menggunakan armor ini.


"Ibu, siapa orang itu?" tanya Delila.


Ini tentang jiwa lain yang berada di dalam tubuhku. Aku tidak tahu pasti, tapi ....


"Dia bukan berasal dari pihak musuh. Bisa dibilang dia merupakan jiwa alternatifku yang tidak memiliki kesadaran."


Aku masih belum bisa memastikan, karena kami benar-benar menyatu. Di beberapa kesempatan aku masih bisa menggerakan tubuhku, seperti mulut dan kesadaranku. Tapi di sisi lain tubuhku bergerak di luar kendali, dan anehnya aku menikmati pola gerakan itu, seolah-olah aku sedang bermimpi.


Benar juga, ini semua sepertinya karena itu.


Aku mencari sesuatu dari dalam ruang penyimpanan.


"Tidak ada?"


"Ibu sedang mencari apa?"


"Permen cokelat."


Posisi permen cokelat itu masih berada di bawa bantalku.


Aku langsung menunjukkan dua permen cokelat yang tersisa pada Delila. "Periksa ini."


Delila terlihat kebingungan dengan permen cokelat yang kutunjukkan, tapi dia tetap mau memeriksanya.


Aku yakin sekali, permen cokelat itu pasti penyebab semua ini. Mungkin itu benda terkutuk yang lolos dari pengawasan Abigail.


"Ibu ... ini hanya permen cokelat biasa."


"Heh?"


"Ada sedikit tambahan bahan lain seperti mint, tak ada hal yang mencurigakan dari permen cokelat ini."


"Begitu, ya."


 


--------------------------


Beberapa jam kemudian, tepatnya malam hari. Semua orang yang terlibat dalam pertarungan berkumpul di kamarku, lebih tepatnya orang-orang yang berperan besar seperti Abigail, Delila, Putri Sharah, dan Daisy. Kemudian, satu orang lagi ....


Portal terbuka.


Seorang wanita keluar dari portal dan langsung berlari ke arahku. "Ibu!"


Dia adalah Rayna, Delila mengurungnya saat kejadian itu. Sebuah langkah yang tepat, aku khawatir Rayna akan bimbang jika harus melawanku waktu itu.


"Senang melihatmu baik-baik saja, Rayna."


"Bagaimana kondisi Ibu? Apa ada yang terluka?" Rayna terus meraba-raba tubuhku.


"Hentikan itu, dasar vampir bodoh!" Delila memukul kepala Rayna.


Senang melihat semuanya kembali normal. Dan sekarang ....


Aku menundukkan kepalaku di hadapan mereka. "Maaf atas kekacauan yang telah kuperbuat."


Sontak semuanya terkejut. "Tidak, Ibu!" "Master!"


"Yang Mulia!" "Ini bukan salah Anda, Baginda!"


Aku mengangkak tanganku ke depan sebagai tanda untuk mereka diam.


"Aku hampir membahayakan nyawa penduduk, aku juga hampir membunuh Abigail, dan bagian paling menyakitkan ... aku sudah membunuh Putriku."


Tak ada sepatah kata pun dari mereka, hal yang kukatakan itu memang benar. Aku tak ingin membuat mereka semua terbebani karena masalah itu.


*Clap


Aku menepuk tanganku untuk memecah keheningan.


"Hal yang terpenting adalah kalian. Semuanya sudah bekerja keras, aku akan memberikan imbalan kecil atas pengabdian kalian."


"T-tidak perlu melakukan itu, Baginda," kata Putri Sharah.


"Jangan khawatir. Hmmm ...." Aku menunjukkan kotak permen cokelat pada mereka. "Apa ada di antara kalian yang mengetahui tentang permen cokelat ini?"


"Itu, 'kan ...?" Abigail memberi respon.


"Apa kau tahu sesuatu?"


"Ini cemilan Anda, Yang Mulia."


Heh?


"Dulu, Anda sering memakannya ketika selesai melakukan pekerjaan besar. Anda memakannya di kamar dan tidak mengizinkan siapa pun masuk sampai Anda memberi perintah," lanjut Abigail.


Jadi ini benar-benar permen biasa?


"Apa tidak memiliki efek khusus?"


"Saya kurang tahu tentang itu. Tapi Anda selalu memakannya saat dalam mood yang buruk."


Aku paham. Keres sangat menyukai permen cokelat ini, sama halnya dengan orang yang candu merokok, mereka tidak akan bisa melakukan aktivitas lain jika tidak merokok, atau mencari inspirasi;menjernihkan pikiran mereka. Sepertinya permen cokelat ini memiliki fungsi yang sama, mengandung bahan yang bisa membuat penikmatnya tenang.


"Siapa yang membuatnya? Mengingat itu sudah ratusan tahun lalu, seharusnya cokelat ini tidak bisa dimakan lagi."


"Tentang itu ... sebenarnya ada bahan khusus yang membuat cokelat itu awet selama berabad-abad. Orang yang membuatnya sudah lama mati, tapi masih ada keturunannya yang sayangnya tidak melanjutkan produksi karena Anda tidak ada."


Mengingat usianya yang sudah berabad-abad, permen cokelat ini memanglah pemicunya, sebuah kunci untuk melepas kekuatan yang terpendam. Seperti pil elixir yang sering digunakan oleh para seniman bela diri, energi kotor akan keluar ketika pembentukan tubuh baru. Hanya saja energi kotor yang kumiliki merupakan sisi lain dari Keres, sisi yang sangat haus akan pertempuran. Keres tidak pernah mengamuk ketika memakan pil ini, bisa dibayangkan sesulit apa dia menahannya.


"Yang Mulia, karena Anda sudah sadar, Saya memiliki sedikit agenda untuk Anda."


"Agenda?"


Abigail memberikan satu lembar kertas yang berisi beberapa jadwal.


Ah, ini menyebalkan!


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA! GIFT IKLAN JUGA