The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Sebelumnya Pengagum Pahlawan



"Eline, kenapa kau terlalu terobsesi denganku?"


"Terobsesi? Pada bajingan sepertimu? Jangan bercanda!"


Sikap Nona Eline berbanding terbalik dengan sebelumnya. Saat ini, dia penuh amarah.


"Aku tak tahu kau akan menyimpan dendam lama itu,"


"Membunuh seluruh rekanmu, mengkhianati organisasi. Kau pantas mati, bajingan!"


*Wush!


Nona Eline melompat lurus ke arah pria itu.


Senjata mereka saling beradu. Aku tidak bisa mengikuti gerakan tangan mereka.


Kelompok 2 mulai maju menuju pasukan musuh. Sepertinya Uskup Agung mulai memberi perintah pada mereka untuk maju.


Jika seperti ini terus, sudah pasti kami akan menang. Terlebih jumlah pasukan kami lebih banyak dari mereka.


Aku kembali melihat pertarungan Nona Eline.


Dagger pria itu benar-benar kuat. Senjata rune bahkan tidak bisa menghancurkannya.


Nona Eline terlihat kesulitan melawan pria itu. Aku akan membantunya.


Aku berlari menuju ke tempat mereka berdua.


Tidak ada celah. Tangan kanannya menutup semua celah itu, tangan kirinya fokus menangkis serangan Nona Eline.


"Zain! Jangan ikut campur!"


"Apa maksudmu?!"


Nona Eline tak menjawab pertanyaanku dan terus menyerang pria itu.


Tak ada yang bisa kulakukan. Ini murni masalah pribadi mereka berdua, aku memang tak seharusnya ikut campur.


*Brak Brak Brak


Terdengar suara langkah kaki dari ribuan orang.


Itu prajurit musuh. Barisan belakang musuh mulai bergerak.


Jumlah mereka tak kurang dari 100 ribu.


Terlihat seorang wanita berambut kuning memimpin pasukan itu.


Seperti tidak asing. Tunggu ... itu Putri Anna?! Tidak, itu hal yang wajar. Dia sekarang telah menjadi seorang Kaisar, Kekaisaran saat ini berada di bawah Kerajaan Penyihir Maphas. Ini sungguh sangat disayangkan, aku tidak ingin melawan Putri Anna.


Pasukan yang dipimpinnya mulai berlari menuju barisan depan pasukan kami.


Gerakan mereka sangat cepat. Terlihat seperti petualang rank B atau A.


Putri Anna berjalan ke arahku.


Kami saling berhadapan.


Huh?


Putri Anna melewatiku begitu saja.


"Putri Anna!"


Dia tak melihat ke arahku.


*Wush!


Putri Anna berlari menuju barisan tengah pasukan kami.


Melihat hal itu, aku mengejar Putri Anna.


Aku tepat berada di belakangnya.


"Putri Anna, berhenti!"


Putri Anna berputar sambil mengayunkan pedangnya padaku.


Sial!


Aku melompat ke belakang.


*Crack


Pedang itu menggores leherku.


Dia sengaja menghiraukanku.


"Kau sangat mengganggu, ya,"


Ada apa dengan sikapnya? Dia sangat berbeda dari biasanya.


"Putri Anna, kenapa kau mengikuti Kerajaan Penyihir Maphas? Mereka orang-orang jahat!"


"Apa urusannya denganmu?"


Aku berjalan mendekatinya.


*Swing


Putri Anna mengarahkan pedangnya tepat di leherku.


"Putri Anna, sadarlah!"


Putri Anna menurunkan pedangnya.


"Hah ... kau benar-benar memuakkan. Angkat pedangmu, jika kau berhasil mengalahkanku, aku akan pikirkan kembali semua perkataanmu,"


Apa dia yakin bisa mengalahkanku?


"Baiklah,"


Putri Anna bersiap dalam posisinya.


Aku akan menahan diri.


Serangan pertama mengarah ke leherku.


Aku menangkisnya dengan cara mengangkat pedangku ke atas.


Putri Anna terus mengayunkan pedangnya, kali ini menargetkan perutku.


Aku menekannya ke bawah.


"Kau boleh menyerah sekarang, Putri Anna,"


Dia tersenyum.


Pedangnya mengeluarkan api.


"Fire Sword!"


Putri Anna mengangkat pedangnya.


Aku terdorong.


Apa hanya perasaanku saja kalau kekuatannya meningkat?


"Ini baru saja dimulai, Pahlawan,"


Ini tidak baik. Aku harus mengakhiri ini.


*Bum!


Tekanan yang kuat!


Mata Putri Anna memancarkan energi yang begitu besar.


Aku pernah melihat ini saat turnamen. Kekuatannya akan meningkat berkali-kali lipat.


"Baiklah, Putri Anna, aku akan serius sekarang,"


Pedangnya masih diselimuti api. Seharusnya pedang sihir akan menghilang setelah digunakan. Jika ingin digunakan kembali, kau harus merapalkannya lagi.


Putri Anna mulai menyerangku.


Aku terus menangkisnya.


Apinya sangat berbahaya, gerakannya juga sangat cepat. Aku tak melihat celah sedikit pun.


Keseimbanganku mulai kacau.


Sial! Aku terpojok!


Patience Skill!


Stat-ku meningkat, inderaku semakin tajam.


Aku terpaksa harus menggunakan skill ini.


*Ting!


Aku menahan pedangnya, kemudian mendorong Putri Anna.


Ini bekerja. Aku akan mengakhirinya!


"Light Slash!"


Aku menggunakan serangan terkuatku.


Kecepatan normal.


Putri Anna masih bisa menangkisnya.


"Lightning Movement!"


Seranganku semakin cepat.


Putri Anna mulai kesulitan menahannya.


"Menyerahlah, Putri Anna!"


Putri Anna tersenyum.


Apa yang dipikirkan wanita ini?!


Sorot matanya berubah. Dia terlihat menikmati semua seranganku seperti seorang masokis.


Energi di matanya semakin membesar.


*Ting Ting


Putri Anna menangkis semua seranganku dengan cepat.


Dia bisa menyamai kecepatanku?!


*Crang


Pedangku terlepas karena tak mampu menahan Light Slash terlalu lama.


Apa ini sudah batasnya?


Putri Anna menodongkan pedangnya di depan wajahku.


"Seharusnya kau yang menyerah, Pahlawan,"


Patience Skill masih aktif.


Aku menggunakan bela diri untuk melawannya.


Putri Anna menangkis pukulanku dengan pedangnya.


"Apa kau sudah patah semangat, Pahlawan? Seorang Swordmaster menggunakan bela diri? Sungguh lelucon yang sangat lucu!"


*Bugh!


Putri Anna menendangku dengan keras.


Kekuatannya terus meningkat. Kemampuan apa itu sebenarnya?


"Jangan salahkan aku jika kau mati, Pahlawan,"


Putri Anna bersiap untuk menyerangku.


Aku akan mati? Tidak! Aku adalah Pahlawan! Jika kalah melawannya, bagaimana aku bisa melawan Raja Iblis?!


«Kekuatan alami Pahlawan telah didapatkan»


Eh?


Rasa sakit di tubuhku berkurang.


Perasaan ini? Kekuatanku telah kembali dan naik berkali-kali lipat. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi ini sangat luar biasa!


Aku melompat dan mengambil pedangku.


Kekuatanku benar-benar meningkat pesat. Apa ini benar-benar kekuatan alami Pahlawan?


Aku menyerang Putri Anna dengan pedangku.


"Light Slash!"


Ini jauh lebih cepat dari sebelumnya!


*Crack


Seranganku berhasil melukainya.


Putri Anna masih terus mencoba menangkis serangan cepatku.


"Tidak semudah itu!" teriakku.


Aku menambah kecepatan seranganku.


Putri Anna perlahan mulai mengikuti kecepatanku.


Dia juga semakin kuat. Aku akan tambah kecepatannya!


Aku merasa seperti telah bebas dari kekangan. Kekuatanku terus bertambah menembus limiter.


Namun, Putri Anna juga memiliki skill yang sama sepertiku. Dia terus bertambah kuat mengikuti kekuatan musuh yang dilawannya. Kalau seperti ini, kita akan lihat skill siapa yang lebih unggul!


Serangan kami berdua semakin cepat. Mustahil bisa dilihat oleh orang biasa.


Wajah Putri Anna mulai memerah.


Sepertinya dia sudah mencapai batasnya. Walau begitu, aku tetap akan terus menambah kecepatanku!


Perlahan aku mengungguli kecepatannya.


Napas Putri Anna mulai terengah-engah.


"Tidak akan kubiarkan!"


Putri Anna memejamkan matanya.


Apa yang dia lakukan?


Tubuhnya diselimuti oleh cahaya hijau.


Kecepatannya perlahan mulai menyamaiku.


Cahaya hijau itu, apa itu sihir pendukung?!


Aku menghentikan Light Slash dan menjauh dari Putri Anna.


Jika itu sihir pendukung, seharusnya penggunanya ada di sekitar sini, 'kan?


Kekuatannya naik berkali-kali lipat dari sebelumnya.


Jika ini dilanjutkan, hal buruk bisa terjadi.


*Doooooong!


Suara terompet berbunyi, menandakan pertempuran hari ini telah selesai.


Putri Anna pergi meninggalkanku.


Syukurlah, aku tak perlu melanjutkan pertarungan itu. Tunggu! Aku teringat sesuatu!


"Zain." Nona Eline mendatangiku dengan tubuh yang penuh luka.


"Nona Eline!"


Sudah kuduga, Nona Eline tak bisa mengalahkan pria itu.


Aku membawa Nona Eline kembali ke basecamp.


 ---------------------------


"Kita telah kehilangan 600 ribu prajurit di hari pertama," ucap salah satu petinggi.


"Ini benar-benar memalukan,"


Aku berada di tenda tempat para petinggi berkumpul termasuk Uskup Agung.


"Uskup Agung! Kenapa bantuan dari Geraja tidak diturunkan?! Kita bisa mengalahkan mereka dengan mudah jika Gereja membantu!"


Uskup Agung menyeduh teh di tangannya.


"Huh ... apa kalian tidak menyadari sesuatu?"


Orang-orang bingung dengan pertanyaan Uskup Agung.


"A-apa maksudmu?"


"Kalian mengira pasukan Putra Mahkota dikendalikan oleh mereka? Menurutku, ini tidak sesimpel itu. Apa kalian melihat Putra Mahkota?"


Semuanya menggelengkan kepalanya.


"Itu bukanlah serangan yang tak disengaja, melainkan sebuah siasat." Uskup Agung meletakan tehnya di meja, wajahnya seperti terkejut akan sesuatu. "Tunggu, kirimkan pasukan untuk melihat kondisi istana!"


"Baik!"


Apa dia menyadari sesuatu?


"Pasukan dari Kekaisaran tidak bisa diremehkan, mereka merupakan pasukan khusu,"


Itu benar, pasukan Kekaisaran akan menjadi penghambat bagi kita.


"Untuk hari kedua, akan kutunjukan seluruh kemampuanku." Uskup Agung Melirik ke arah Blues di sebelahnya. "Blues, apa kau siap?"


"Tentu saja, Christa."


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!


Kalian bisa support Author juga di sini biar Saya semakin semangat buat update :


https://saweria.co/hzran22


Bisa donasi dengan Gopay, OVO, dan Dana, ya.