
Hela telah meninggalkan wilayah tempat Masternya dikurung. Ia terbang dengan kecepatan tinggi ke arah timur, tempat Liche berada. Hela masih belum yakin, namun ia mengingat dengan pasti bahwa Joah pernah bilang bahwa dia akan pergi ke arah timur.
Wajah Hela terlihat sangat antusias. Dengan kecepatan seperti itu, sudah pasti Mana yang digunakan sangat besar. Itu bukan hal yang harus dikhawatirkan, jumlah Mana-nya bahkan hampir setara dengan Ker saat ini.
Tanpa sepengetahuannya, Mana Hela bisa dirasakan bahkan oleh makhluk terlemah sekali pun. Beberapa makhluk memilih menjauh, dan beberapa lagi penasaran mengikuti sumber Mana tersebut. Karena kecepatan Hela, mereka hanya mengejar hal yang tidak mungkin.
Sebuah pengecualian untuk yang satu ini. Ada yang sangat penasaran dan ingin sesegera mungkin menemui siapa pemilik ceceran Mana di sepanjang jalan itu. Seekor makhluk raksasa terbang dengan cepat menuju sumber Mana.
Hela merasakan sesuatu sedang mengejarnya. Ia tersenyum kecil ketika mengetahui siapa yang sedang mengejarnya saat ini.
"Waktu yang pas."
Makhluk itu semakin dekat.
Hela bebalik dan melemparkan sebuah bongkahan batu raksasa ke arah makhluk itu dengan sihirnya.
Makhluk itu tak sempat menghindar dan menerima serangan mendadak Hela yang membuatnya terhempas jatuh.
"Lama tidak berjumpa, kadal besar."
Makhluk itu adalah Naga Hitam yang pernah menyerang Hela dulu.
Naga Hitam langsung bangkit dengan sekuat tenaga. Tubuhnya syok, kesulitan untuk bergerak karena serangan yang sangat kuat dari Hela.
Hela menyeringai. Ia begitu menikmati pemandangan di hadapannya, seolah-olah Masternya sedang merasuki tubuhnya.
Naga Hitam menyipitkan matanya untuk melihat siapa orang yang ada di hadapannya. Kemudian ia bertanya, "SIAPA KAU?"
Hela hanya diam dengan raut kesal di wajahnya karena Naga Hitam tak mengingatnya.
Itu hal yang wajar, sudah puluhan tahun berlalu, dan Hela tidak menua. Ini bukan sepenuhnya salah Naga Hitam.
"KENAPA KAU DIAM, DASAR SIALAN!"
Seketika mulut Naga Hitam langsung dipenuhi dengan energi sihir yang sangat besar.
"ATOMIC BREATH!" Naga Hitam langsung menyemburkan napas atom ke arah Hela.
Hela kembali tersenyum. "Akan kubuat kau mengingatnya!"
Hela mengangkat batu raksasa dengan sihirnya, kemudian membakarnya. Kemudian Hela melempar batu yang terbakar itu menuju napas atom milik Naga Hitam.
Batu meteor Hela dengan mudah membelah napas atom milik Naga Hitam.
"APA?!" Naga Hitam terkejut melihat serangannya dengan mudah dikalahkan.
Lantas ia membatalkan napas atom dan melompat ke sisi kiri untuk menghindari dampak ledakan yang akan datang.
*Duaar!
Benar saja. Ledakan dahsyat terjadi. Menimbulkan gelombang kejut hingga beberapa kilometer.
Naga Hitam menutupi tubuhnya menggunakan sayap. Ia mengintip dari celah.
"HUWAA!" Naga Hitam terkejut. Ternyata Hela juga mengintip melalui celah yang sama.
Ia mencoba menjauh, namun Hela telah mengikatnya dengan rantai sihir berwarna ungu. Naga Hitam tak bisa bergerak. Rantai yang Hela gunakan bernama Body Restraint. Dapat menyerap sihir dan mengikat dengan sangat kencang.
"Lihat wajahku." Hela mendekatkan dirinya tepat di depan mata Naga Hitam yang besar. "Seharusnya kau ingat setelah melihat wajah ini."
Naga Hitam mencoba mengingat-ingat siapa orang yang sedang dihadapinya saat ini.
Kapan aku bertemu manusia, ya? Kalau tidak salah beberapa waktu lalu aku bertemu anak ke--
Naga Hitam menyadari sesuatu. Ia kembali melihat Hela. Mencocokkan ciri-ciri anak kecil yang ditemuinya dulu dengan Hela. Setelah beberapa lama, ia mulai yakin.
"K-KAU?!"
"Akhirnya kau mengingatku, kadal besar,"
"B-BAGAIMANA MUNGKIN?! HARUSNYA KAU SUDAH MATI DI TEMPAT TERKUTUK ITU!"
Hela menarik rantai dengan kuat sampai Naga Hitam berteriak kesakitan. Kata-kata Naga Hitam itu sama saja dengan penghinaan terhadap Masternya.
"T-TOLONG LEPASKAN AKU!"
"Huh ... kenapa Naga superior sepertimu memohon pada manusia?"
Naga Hitam tak bisa berkata-kata. Perbedaan kekuatan sudah sangat jelas, tak ada yang bisa dilakukan.
"Hei, ngomong-ngomong aku cemburu dengan Master yang memiliki familiar,"
"M-MASTER?"
"Bagaimana jika kau menjadi familiarku?"
"AKU SETUJU!" Naga Hitam menjawabnya tanpa ragu. Ia rela melakukan apa saja agar bisa lepas dari jeratan yang sangat menyebalkan ini.
Hela dan Naga Hitam membuat kontrak familiar. Naga Hitam secara resmi telah menjadi familiarnya.
------------------------------------
Hela melanjutkan perjalanannya ke arah timur. Kali ini tidak terbang menggunakan sihirnya, melainkan menunggangi Naga Hitam peliharaannya. Ia memberi nama Naga Hitam itu. Namanya ... Ghad. Tak ada arti khusus, muncul begitu saja di kepala Hela.
"Nona Hela, siapa yang ingin kau temui di hutan timur? Seharusnya para manusia masih berada di wilayah utara,"
"Hanya rekan lama, dan juga ... orang terpenting dalam hidupku." Hela tersenyum lembut ketika mengatakan hal itu.
Ghad memilih untuk tidak bertanya karena sudah tahu arti senyuman Hela.
Satu bulan kemudian.
Mereka telah sampai di daerah timur. Perjalanan dilakukan dengan santai, Hela sudah bisa mengontrol emosinya sehingga tidak terburu-buru seperti sebelumnya.
Hela mulai meraba-raba daerah di sekitarnya.
"Huh ... ini?" Hela merasakan sesuatu.
"Apa kau menemukan sesuatu, Nona Hela?"
"Ada sebuah peradaban,"
Mereka perlahan mendekat. Hela telah menyembunyikan keberadaan mereka sebelumnya, sehingga tak jadi masalah jika mereka berada tepat di atas tempat itu sekali pun.
"Ghad, apa kau bisa berubah bentuk? Kau sangat besar,"
"Serahkan padaku."
Hela melompat ke pohon. Sementara Ghad perlahan mengecilkan tubuhnya. Di saat yang sama pula, Hela merasakan bahwa ada beberapa orang yang sedang bersiaga.
Kami ketahuan? Tidak, sepertinya ini bagian dari penjagaan.
Mereka adalah ras Beastman. Ada beberapa dari mereka yang terlihat sangat mirip dengan manusia, hanya beda di bagian mata dan mulut. Tak ada bulu, sepenuhnya manusia.
Jika Hela tak menggunakan indera pelacaknya, mustahil bisa menyadari mereka. Dengan sempurna, para Beastman itu menyatu dengan lingkungan.
"Aku sudah selesai, Nona Hela." Ghad terbang di sebelah Hela. Ukurannya sangat kecil, seukuran kucing.
"Ini lebih baik."
Hela berpikir bahwa para Beastman ini berasal dari tempat yang sama dengan Joah. Itu terlihat dari bercak di tubuh mereka. Joah memiliki bercak merah di bagian bahu kirinya, dan para Beastman ini memiliki bercak yang sama.
Hela melompat ke bawah. Gerakannya sangat halus sehingga para Beastman tidak menyadarinya.
"Nona Hela, apa yang kau lakukan?!" Ghad mengecilkan suaranya.
Hela melepas hawa keberadaannya, perlahan keluar dari semak belukar.
*Swing!
Tombak, pedang, semuanya diarahkan tepat di hadapannya.
Para Beastman langsung menyadari Hela di saat itu juga. Gerakan mereka sangat cepat sehingga Hela tak memiliki kesempatan untuk bersiap. Hela memang tidak berniat untuk menyerang mereka.
"Manusia?" Suara salah satu Beastman.
"Hei, siapa kau?!"
Hela hanya diam sembari memperhatikan para Beastman yang mirip dengan manusia.
Dugaanku benar.
Hela menyerahkan kedua tangannya untuk diikat. Para Beastman langsung mengikat Hela.
Wajah Hela ditutup dengan sehelai kain. Sedangkan Ghad dimasukan dalam karung. Mereka menganggap Ghad adalah seekor bayi Wyvern.
Dengan mata sihirnya, Hela dengan mudah melihat keluar. Ia sedang mengingat rute menuju tempat para Beastman.
Perjalanan berlangsung lebih dari 1 jam. Dan akhirnya mereka telah sampai.
Hela terdiam sejenak.
Sebuah desa besar di tengah hutan. Ini pertama kalinya Hela melihatnya.
"Hei, maju!" Salah satu Beastman mendorongnya.
Di sepanjang jalan, para Beastman melihatnya dengan tatapan waspada. Dan juga, ada beberapa Beastman yang mirip dengan manusia.
Setangguh apa keponakanku itu?
Mereka berhenti di sebuah rumah.
Salah satu Beastman mengetuk pintu rumah itu.
"Tetua, apa Anda di dalam?"
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Seorang pria tua dengan tubuh kekar keluar dari rumah itu. Diikuti beberapa Beastman wanita dan anak manusia.
"Apa yang membawa kalian ke sini?"
"Tetua Liche, kami membawa seorang manusia,"
Liche?
"Manusia?"
Para Beastman membuka kain yang menutup mata Hela. Mereka semua terkejut setelah melihat wajah Hela.
Air mata Hela tak terbendung, ia terus melihat ke arah pria tua di depannya.
"Liche!" Hela langsung menghampirinya.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!