The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Malaikat Terbuang



A. Musuh Semua Orang


Sehari sebelum para Iblis datang.


Nama : Arys Astaroth


Umur : 421


Ras : Iblis


Job : Magic Caster/Swordmaster


Tittle : Demon Lord


Level : 1000 (+)


HP : 2876127


MP : 1987627


Strength : 976723


Agility : 678238


Ability : 987627


Defence : 2834812


Magic Power : 1883178


Intelligence : 128


Lucky : -


Wuuaaah ... lihatlah stat Iblis ini, dia bukan sekedar omong kosong! Hei, Pahlawan, sepertinya musuhmu di sini akan membuatmu patah semangat, haha!


Ah, lupakan itu. Iblis ini kembali tak sadarkan diri saat Putri Sharah membuka segel ingatan miliknya. Sebelum dia tak sadarkan diri, dia mengingat tentang Keres. Keberadaan Keres telah sepenuhnya dihapus, dan ingatan yang berhubungan dengan Keres juga telah disegel. Karena Dewi sialan itu yang menyegel seluruh ingatan orang di dunia ini.


Hmmm ... ada tanda (+) di sebelah level-nya. Apa itu level booster? Uh, aku akan segera mengetahuinya nanti.


Aku dan Putri Sharah masih berada di kamar tempat Raja Iblis dirawat.


"Baginda, ada sesuatu yang ingin Saya sampaikan,"


"Katakanlah,"


"Apa kita bisa berbicara di tempat lain?"


Putri Sharah membula Gate dan kami menuju Menara Penyihir Sekte Hitam.


"Mohon tunggu sebentar, Baginda,"


Dia pergi menuju rak buku.


Apa yang ingin dia tunjukan?


Aku duduk di sofa lembut dan menyandarkan kepalaku.


Huuuh ... sangat nyaman. Kapan terakhir kali aku seperti ini, ya? Ah, itu saat aku mengunjungi tempat ini terakhir kali bersama kedua Putri itu.


"Hmmm?"


Putri Sharah datang dengan membawa sebuah buku hitam. Buku itu terlihat usang seperti sengaja dibiarkan terlalu lama.


"Baginda, ini buku yang Anda tulis, buku ini berisi tentang S****,"


Eh? Siapa?


"Tunggu, Putri Sharah. Siapa yang kau sebutkan tadi?"


Putri Sharah menatapku cemas.


Apa? Kenapa raut wajahmu seperti itu?


"Sentuh buku ini sambil mengalirkan Mana Anda, Baginda,"


Buku ini?


Aku memusatkan Mana di ujung kelima jariku.


*Cring!


Terdengar suara seperti rantai yang terputus. Diikuti dengan tubuhku yang mengeluarkan aura tanpa kendaliku.


Sebuah nama langsung terlintas di benakku.


"Baginda! Turunkan aura Anda sekarang!"


Teriakan Putri Sharah langsung menyadarkanku.


Ugh! Sialan! Bagaimana auraku bisa lepas kontrol seperti ini?


"Baginda, tenangkan diri Anda,"


"Satan." Nama itu langsung terucap dari mulutku tanpa sengaja.


Siapa Satan?


"Ternyata benar, orang-orang dari Alam Dewa tidak bisa menyebut nama orang itu di dunia ini,"


Alam Dewa?


"Apa maksudmu?"


"Baginda, saat aku membuka segel ingatan milik Raja Iblis, nama Satan muncul di ingatannya, sepertinya dia sedang menyelidiki sesuatu tentang Satan,"


"Putri Sharah, jelaskan secara singkat tentang orang yang bernama Satan itu,"


"Baik, Baginda,"


Putri Sharah pun menjelaskan tentang orang yang bernama Satan padaku.


 ------------------------


Kami kembali ke Kerajaan Maphas, tepatnya di Istana Ibukota.


Aku duduk di singgahsana dan terhanyut dalam pikiranku.


Satan. Dia berasal dari Alam Dewa. Dia memiliki posisi sebagai Petinggi Malaikat, tentu saja ras yang dia miliki adalah Malaikat. Hubungan dia dengan Keres sangat buruk, aku tidak tahu kenapa, karena di buku tidak dijelaskan. Satan diusir dari Alam Dewa setelah mencoba memprovokasi para Malaikat. Dewa tertinggi pun mengubah rasnya menjadi ras High Demon. Menurut Putri Sharah, pertarunganku melawan Satan sangat sengit. Kami bertarungan selama 20 hari. Ledakan Mana yang kami buat hampir memusnahkan seluruh makhluk hidup di dunia ini. Satan mengalami kekalahan dan tidak terlihat sejak hari itu. Setelah aku disegel, hal-hal yang berhubungan dengan Satan kembali muncul walau tidak secara terang-terangan. Orang yang menyadari hal itu adalah ... Raja Iblis. Dia merasa bahwa Satan mengendalikan beberapa bawahannya. Namun, dia masih kekurangan informasi tentang Satan.


Lalu, ini tentang Alam Dewa, tempat itu masih menyimpan banyak misteri. Di mana lokasinya? Siapa sebenarnya Keres ini? Dia berasal dari Alam Dewa, apa dia juga Malaikat? Semakin memikirkannya, kepalaku semakin pusing. Mungkin ingatanku benar-benar disegel. Dan terlebih lagi, kenapa Dewi sialan itu tidak turun tangan soal Satan yang mulai menunjukan dirinya?


Aku mengetuk-ngetuk singgahsana dengan jari telunjukku.


Hmmm ... apa mungkin Dewi tidak menyadarinya? Aku dan Satan merupakan ancaman baginya. Mungkin dia beranggapan bahwa aku membunuh Satan saat pertarungan itu. Sehingga kewaspadaan dia tertuju padaku dan mulai mengendalikan Pahlawan dan Raja Iblis untuk menyegelku. Tapi, apa benar Satan masih hidup?


Aku menghela napasku.


Keres, apa kau benar-benar membunuh Satan?


[Iya.]


Eh?


"Baginda." Panggilan Putri Sharah menyadarkanku.


"Eheem ... ada apa, Putri Sharah?"


"Sepertinya terjadi keributan di Sekte Hitam, Saya akan mengatasinya,"


"Keributan? Terserahlah, lakukan sesukamu,"


"Baik, Baginda, Saya permisi,"


Putri Sharah kembali ke Sekte Hitam.


[Master.] Seseorang menghubungiku.


Suara ini? Daisy.


[Ada apa, Daisy?]


[Raja Iblis telah sadar dan ingin bertemu dengan Anda,]


[Baiklah,]


Apa dia ingin meminta bantuanku?


 ---------------------------


Aku kembali ke Desa Liche.


Aku hanya diam dan terus melihatnya. Suasana begitu hening.


Dia benar-benar tidak menyadariku. Sepertinya dia sudah tidak mewaspadai tempat ini.


"Eheem."


Dia memalingkan wajahnya ke arahku dan langsung berdiri.


"Salam, Ratu Keres,"


"I-iya."


Aku sudah biasa mengalami ini, namun rasanya berbeda saat dia yang melakukannya.


"Maafkan Saya yang sudah menganggu waktu Anda, Ratu,"


"Tidak, apa kau mencari sesuatu?"


Dia terkejut. "Bagaimana Anda bisa tahu?"


"Karena- eheem, lupakan. Jadi, apa itu?"


"Para bawahanku akan menyerbu tempat ini besok,"


"Lalu?"


"Saya meminta izin untuk mengatasinya,"


"Apa kau bisa dipercaya?"


Raja Iblis mengulurkan tangannya padaku. Dia menggenggam sesuatu.


"Terimalah ini, Ratu." Dia memberiku benda berukuran kecil. Benda itu mirip seperti bola kristal. "Ini adalah item yang terhubung dengan jiwa Saya, jika Anda menghancurkannya, Saya akan mati,"


Dia memberikan benda seperti ini?


"Baiklah, apa yang ingin kau lakukan terhadap bawahanmu itu?"


"Saya akan melawan mereka. Saya sedang mencari tahu sesuatu,"


Jadi, dia ingin menyelidiki bawahannya yang terhubung dengan Satan, ya. Aku rasa dia bisa mengatasinya.


 ----------------------


Aku pergi meninggalkannya.


"Yang Mulia." Seorang pria datang menghampiriku.


Wajahnya terlihat tidak asing. Apa aku pernah bertemu dengannya?


Aku menyipitkan mataku dan memperhatikannya dengan seksama.


Dia ... si Penguntit! Bajingan ini tak terlihat sejak keributan di Kerajaan Rexist. Aku memperlihatkan sosokku padanya, dan besoknya dia hilang tanpa kabar.


"Kau?"


"Ah, maaf, Anda pasti tidak ingat orang rendahan seperti Saya ini. Izinkan Saya memperkenalkan diri. Nama Saya Glenn Aleister,"


Aku sudah tahu.


"Jadi, apa urusanmu datang setelah hilang tanpa kabar?"


Wajahnya terlihat tegang setelah mendengar perkataanku.


*Bruk


Dia berlutut di hadapanku.


"Maafkan Saya, Yang Mulia!"


"Sudahlah, aku tidak terlalu memperdulikannya,"


Pandanganku tertuju pada benda di tangannya. Bentuk benda itu sangat tidak asing.


Itu ... bagaimana mungkin?! Benda itu ada di duniaku sebelumnya.


"A-anda terus memperhatikan senjata yang Saya pegang. Yang Mulia, izinkan Saya memperkenalkan senjata hebat i-"


"Berikan padaku,"


"Eh?"


Dia menyerahkan senjatanya.


Tidak salah lagi, ini pistol. Seharusnya senjata semacam ini tidak ada. Tunggu ... apa mungkin ini buatan Player? Apa benar ada Player lain di dunia ini?


"Dari mana kau mendapatkannya?"


"Saya membuatnya dengan bantuan ahli penempa di Kekaisaran,"


"Kau yang memiliki ide ini?"


"Benar, Yang Mulia,"


Bajingan ini, apa dia seorang Player?


*Dor!


Aku menembakan pistol ini ke arah pohon di depanku.


Wooah ... pistol ini mengubah Mana pengguna menjadi peluru. Bekas tembakannya jauh lebih besar dari pistol di duniaku dulu.


"Y-yang Mulia." Dia melihatku dengan wajah terkejut.


Celaka! Aku terbawa suasana!


"Eheeem ... kenapa benda ini bisa menembak seperti meriam?"


"K-karena konsep dasarnya hampir sama dengan meriam, Saya hanya mengembangkan metode lain yang bisa digunakan pada senjata berukuran kecil,"


"Jadi, apa nama senjata ini?"


"Saya menyebutnya pistol, Yang Mulia,"


"Kerja bagus. Ratu ini akan memberimu hadiah nanti. Buat dan kembangkanlah senjata ini, tapi, kurangi daya ledaknya,"


"Baik, Yang Mulia!"


Glenn Aleister, siapa kau sebenarnya?


 -------------------------


Sehari setelahnya.


Hari ini, ras Iblis datang untuk menyelamatkan Raja Iblis. Aku menyuruh Daisy untuk membuat ilusi di luar Hutan Hijau sebagai salam pembuka untuk mereka. Kemudian melepaskan Roy di dalam hutan.


Saat ini aku masih berada di Istana Ibukota bersama Ray.


Huh?


Aku baru menyadarinya, wajah Ray terus menatap dengan tajam ke depan. Apa dia menyadari sesuatu?


"Ray, apa telah terjadi sesuatu?"


"Nyonyaku, mereka membawa para Naga,"


"Naga? Apa itu termasuk keluargamu?"


"Iya. Iblis-iblis itu menggunakan item pengendali." Ekspresi Ray tidak terkendali.


Kadal ini, dia sangat marah.


"Ray, awasi Raja Iblis. Ratu ini akan menyambut keluarga kecilmu itu,"


Ray terlihat enggan menjawabnya. Tapi dia tetap menuruti perintahku.


"Teleportation." Aku berteleportasi langsung ke hadapan para Naga.


Merah, Hitam. Jadi begitu, ya.


"SIAPA KAU?!" teriak salah satu dari mereka.


"Kukuku ... sepertinya Ratu ini akan segera membuat pertenakan Naga,"


"SERANG DIAAA!"


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA! ✨