
Perasaan ini ... rasanya seperti berada di taman bunga yang sangat tenang dan sejuk.
Namun, perasaan itu hanya sementara. Rasa sakit perlahan mulai terasa.
Benda itu menembakan sesuatu yang membuat bahu kananku terluka cukup parah. Seharusnya serangan senjata kelas menengah ke bawah tidak akan meninggalkan luka yang berarti, mengingat levelku di angka 800 ke atas. Apa itu sejenis meriam kecil?
"Tch!" Rasa sakitnya bahkan semakin menjadi! Aku harus segera merapalkam Heal.
"Hea-"
*Dor!
Dia kembali menembakku.
"Agh!"
"Master!"
Bajingan itu menembak tepat di lutut kiriku, dan aku langsung terjatuh dalam posisi terlutut.
"Jangan melakukan hal yang percuma,"
"Siapa kau?!" Edelia bersiap menyerang dengan sihirnya.
*Dor!
Bajingan itu sengaja melesetkan tembakannya tepat mengenai helai rambutku.
Bagaimana bisa menjadi seperti ini?! Orang itu, kenapa manusia memiliki kemampuan seperti itu? Dia tidak mungkin berada di level 500.
Lebih baik tidak memancing kemarahannya dulu.
"Hentikan, Edelia,"
"M-master ...."
Orang itu menurunkan senjatanya.
"Siapa kau?" tanyaku.
Aku meletakan tangan kiriku di belakang punggung untuk memberi kode pada Misala.
Beberapa Undead datang mendekati orang itu, lalu dia menyerahkan tubuh Roy kepada para Undead itu.
"Namaku ... Glenn Aleister,"
Manusia ini, seorang Archer, 'kan?
"Di mana Yang Mulia Arys berada?!"
"Yang Mulia? Oh, maksudmu si Nona Iblis Kecil itu? Khuuh ... dia benar-benar membuatku puas,"
Apa maksud bajingan ini?!
"K-kau!"
"Tubuhnya unik, sayang sekali aku tidak bisa meneruskan hal itu, karena sekarang dia tertidur seperti Putri Tidur yang menunggu diselamatkan oleh Pangeran,"
"Bajingaaaan! Tornado Blast!" Edelia merapalkan sihir serangannya.
"Sekarang, Misala!"
"Silent Darkness!"
Seluruh area mendadak berubah menjadi gelap.
Misala menyentuh leherku, kemudian berlari menyentuh leher Edelia.
Itu dilakukan agar sihirnya tidak berefek kepada kami berdua.
Sudah dipastikan, ilusi yang sedang dihadapi oleh orang itu adalah ruang hampa.
Griffon tunggangan kami kembali. Edelia membantuku menaiki Griffon.
Kami menjauh dari tempat itu.
"Heal." Aku terus merapalkan sihir penyembuh.
"Lukanya sangat dalam, Master,"
"Senjata apa yang dia gunakan?" tanya Misala.
"Aku tidak tahu. Senjata itu bisa melukai tubuhku yang berlevel tinggi, itu artinya jika seseorang berlevel rendah tertembak oleh senjata itu, sudah pasti dia akan mati,"
Dia ... manusia yang berbahaya.
"Aneh." Misala memejamkan matanya.
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak merasakan keberadaannya melalui sihirku,"
Sudah kuduga! Bajingan itu akan sangat sulit ditaklukan!
Aku merasakan aura yang mendekat.
"Gawat! Mana Shield!" Aku membuat pelindung yang menutupi Griffon.
Dia datang!
*Ting!
Hantaman benda tajam yang beradu dengan sihir pelindungku terdengar sangat nyaring.
Dia tidak menggunakan senjata itu?
"Master, aku akan membantu pemulihanmu,"
Edelia merapalkan Heal padaku.
"Misala, pergilah, dan temui Burimo. Aku dan Edelia akan melawan orang itu,"
Misala tidak bisa berkata lagi.
Aku dan Edelia turun ke bawah untuk menunggu orang itu.
"Kalian berdua, berhati-hatilah." Misala pun pergi.
Ini akan menjadi pertarungan yang sengit. Aku benar-benar tak ingin melibatkan Edelia, tapi, semua di luar kendaliku sekarang.
Aku bersiap-siap dengan pedangku, sedangkan Edelia juga bersiap dengan sihir serangannya.
Luka-lukaku masih belum membaik, tapi aku sudah bisa bergerak.
"Keluarlah kau!"
Aku merasakan sesuatu di balik pohon.
Orang itu muncul dari balik pohon.
"Sepertinya kalian sudah sangat yakin kali ini,"
Akhirnya dia muncul.
"Justru akulah yang seharusnya bilang begitu, apa kau sudah yakin, Manusia?"
Dia tersenyum. "Wah, wah, baiklah, izinkan aku si Manusia ini menghibur kalian para Iblis,"
Apa dia akan menggunakan senjata aneh itu?
Dia merogoh sesuatu di belakang pinggangnya.
Dagger? Dia bertarung dengan dagger?
"Huh, sayang sekali, pedangku saat ini sedang diperbaiki oleh mereka,"
Mereka ... Dwarf, ya?
"Lia, bersiap-siaplah!"
"Terlambat,"
*Wush!
Dia berlari dengan sangat cepat.
Aku dalam posisi bersiap dengan pedangku.
Dia datang!
*Ting!
Senjata kami saling beradu. Aku sangat diuntungkan karena beban yang diberikan oleh pedangku.
Aku terus menekannya ke bawah.
"Wah, lumayan juga." Dia tersenyum.
*Bugh!
"Ugh!"
Dia menendang lututku.
"Master! Fire Ball!" Edelia menembakan bola api. di
*Bush
Dia menebas bola api itu dengan mudah.
Daggernya mengeluarkan aura biru.
Sama seperti pedangku.
Aku berdiri dan terus mengayunkan pedangku walau tubuhku kesakitan.
"Kau sangat gigih, Nona,"
Lukaku malah semakin parah karena banyak bergerak.
Sial! Bahkan Heal tidak bisa menyembuhkan luka ini secara total.
"Abyss Magic : Lightning Tornado!"
Eh?
"Bodoh! Kenapa kau menggunakan Abyss Magic?!"
Seketika awan hitam muncul di atas kami. Dan aura hitam yang membentuk angin tornado disertai kilatan hitam muncul.
Ini Abyss Magic, sihir yang menggunakan energi gelap sebagai intinya. Dan juga sangat banyak menguras Mana, aku mungkin bisa menggunakannya beberapa kali, tapi, Edelia ....
"Kukuku, sepertinya aku meremehkan Iblis kecil itu." Tubuh orang itu mengeluarkan aura hitam. "Abyss Magic : Black Fire,"
Bajingan ini juga bisa menggunakan sihir?! Itu berarti dia memiliki double job!
Aku tidak bisa menghindar dari serangan mereka berdua, aku harus berlindung.
Eh?
Seseorang menarik tanganku.
Kondisi hutan ini sangat gelap karena Abyss Magic, aku tidak tahu siapa yang menarik tanganku. Sepertinya dia membawaku menjauh dari tempat itu.
*Duaaar!
Ledakan yang sangat besar akibat benturan dari dua serangan itu.
Edelia, apa dia baik-baik saja?
"Maryna."
Suara ini?
"Azazel! Bagaimana kau bisa di sini?"
"Sangat sulit untuk dijelaskan,"
Seketika mataku melebar saat melihat kondisi Azazel yang sangat memprihatinkan.
"A-azazel, apa yang terjadi padamu?"
"Panglima Iblis lainnya ... Mereka dikalahkan, aku bersyukur bisa kabur dari sana,"
"Apa Ratu dari Kerajaan ini yang melakukannya?"
"Tidak." Wajah Azazel tampak sedih. "Orang yang melakukannya adalah ... Yang Mulia Arys,"
Eh?
"A-apa yang kau katakan?"
"Aku juga tidak percaya, tapi itulah kenyataannya, Beliau bahkan menggunakan kekuatan sejatinya,"
Apa yang sebenarnya terjadi?!
"Kita harus kembali ke tempat tadi, Edelia ada di sana!"
"Baiklah,"
Azazel membawaku terbang keluar dari Hutan Hijau.
Terlihat gumpalan asap dan beberapa kilatan hitam di tempat itu.
Aku tidak menyangka Edelia bisa menggunakan Abyss Magic seperti ini.
Azazel membawaku turun.
Aku menghilangkan asap dengan sihir angin.
Eh?
Aku berlari secara spontan dan hampir terjatuh, Azazel menahanku.
"J-jangan!"
Edelia dalam keadaan bertekuk lutut di hadapan orang itu. Dagger yang dipegang saat ini berada tepat di leher Edelia.
Edelia menoleh ke arahku. Dia tersenyum.
"Azazel! Lakukan sesuatu!"
Aku tidak bisa berbuat banyak karena Manaku saat ini sedang tidak beraturan akibat luka sebelumnya.
Azazel mengeluarkan pedangnya.
Kondisi pedangnya juga sangat mengkhawatirkan.
"Hey, kau! Hentikan itu! Jika kau seorang pria, hadapi aku!" Azazel mengarahkan pedangnya ke orang itu.
"Hah? Dengan senjata seperti itu? Jangan bercanda,"
*Bugh!
Dia menendang Edelia dengan sangat kuat.
"Baiklah, baiklah, aku akan melawanmu, Tuan Iblis,"
Mereka berdua langsung meningkatkan auranya masing-masing.
Azazel sepertinya tidak terganggu dengan kondisinya, tetapi perlengkapannya sangat buruk.
"Azazel, terima ini." Aku melemparkan pedangku padanya.
Hanya ini yang bisa aku lakukan.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE & KOMEN!
BINTANG 5 JUGA, YA! 🔥🔥