
"Apa ada yang salah dengan wajahku?"
Huwaah! Aku terbawa suasana!
"T-tidak, Guru."
Aku merasa pernah bertemu dengan wanita ini, tapi di mana?! Coba ingat-ingat lagi.
"Haah ...." Aku menghela napasku.
Aku menyerah.
"Kau sangat unik, ya,"
"Maaf?"
"Mirip dengan seseorang."
Apa yang dia katakan?
"P-permisi, apa Anda adalah Guru kami?" tanya Liz.
"Benar, kalian sekarang adalah muridku di tingkat Bronze." Wajah wanita itu langsung cerah saat menjawab pertanyaan Liz.
"Syukurlah, Anda terlihat lebih baik dari Guru sebelumnya."
Wanita itu hanya diam dengan senyuman di wajahnya.
Ke mana dia membawa kami? Sepertinya kami semakin menjauh dengan gedung utama.
Ada sebuah gedung berukuran sedang di depan kami. Terlihat ada banyak murid yang mengenakan tongkat di depan gedung itu, dan juga ada beberapa murid yang tidak menggunakan tongkat, itu berarti kapasitas sihir mereka sangat rendah.
"Alissia!" Seseorang memanggilku.
Aku mencari asal suara itu.
Dia ....
"Livia?"
Apa yang dia lakukan di sini? Setahuku para senior libur saat ini.
"Alissia, selamat karena telah menjadi murid Akademi Sihir,"
Kami mulai memanggil tanpa sebutan "Nona" sejak dia memulihkan diri di penginapan sebelumnya. Aku tidak tahu kenapa, rasanya seperti sudah terbiasa dengan itu.
"Livia, apa kau kenal dia?"
"Guru, Alissia orang yang menyelamatkanku waktu itu,"
"Jadi begitu." Wanita itu melihat ke arahku. "Alissia, terima kasih sudah menyelamatkan Livia,"
"Tidak masalah, Guru, Saya juga sangat jengkel melihat perundungan itu."
"Kau benar." Dia tersenyum manis padaku.
Sepertinya dia berbeda dengan para guru lainnya, mungkin aku bisa bekerja sama dengannya nanti.
"Kalian bisa bergabung dengan yang lainnya, aku akan membagi kelas untuk kalian semua." Guru pergi menuju kelas.
Aku belum rnenanyakan namanya!
"Baik, Guru."
"Kami juga pergi." Kedua kakak-beradik pergi terlebih dahulu.
Kurasa tempat ini tidak buruk.
"Livia, apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku hanya ingin melihat para murid baru." Livia mengusap-usap telapak tangannya.
Kenapa dia?
"Hei, lihat siapa itu." Sekelompok orang datang menghampiri kami.
Coklat, mereka semua murid tingkat Bronze. Apa mereka seniorku?
Aku maju perlahan ke arah kelompok itu.
"Junior ini memberi salam pada Senior, mohon bimbingannya untuk beberapa tahun ke depan,"
Mereka tersenyum kecil.
Livia menarik tanganku dari belakang, ia melihatku sambil menggelengkan kepalanya.
"Gadis ini terlihat menjanjikan." Mereka menatapku dengan aneh.
Livia langsung menarikku. "Apa kalian tidak malu?!"
*Bruk!
Salah satu dari mereka mendorong Livia.
"Berani-beraninya kau melawanku, dasar gadis gila!"
Kenapa sesama Bronze bertengkar?!
"Apa kau ingin aku adukan dengan Tuan kami?! Kau akan dihajar oleh Tuang kami yang berada di tingkat Gold!" Teriakannya membuat orang-orang terpancing untuk datang melihat.
"Kalian boleh menyakitiku, tapi tidak dengan temanku!" Livia berdiri sambil mengarahkan tongkatnya pada mereka.
Teman?
"Sepertinya gadis ini tidak pernah belajar dari pengalaman, kau berani menyinggung Tuan kami, ya,"
"Aku tidak menyinggungnya!"
"Kami akan melaporkan tindakan kurang ajarmu ini!"
Livia masih mengarahkan tongkatnya, tubuhnya gemetar.
Kenapa dia sampai seperti ini membelaku?
"Hei, anak baru, kemarilah, kami akan memperlihatkan contoh orang yang berani melawan Tuan kami."
Wajah mereka membuatku muak!
"Tidak," jawabku dengan nada datar.
"Bagu-- hah?! Hei, apa kau ingin menjadi contoh untuk murid baru lainnya?"
Aku ingin sekali menghabisi para bajingan ini, tapi akan terjadi masalah jika mereka melapor. Orang-orang ini memiliki tameng besar di tingkat Gold.
"Seret dia!"
Salah satu dari mereka mendatangiku.
"Berhenti di sana," ucap seseorang dari arah lain.
"Siapa orang yang berani me--" Kelompok itu terkejut setelah melihat orang yang berbicara barusan.
"No-nona Theresia?!"
Theresia, apa yang membawanya ke sini?
Aku terus memperhatikannya.
Jika diamati lebih seksama, dia benar-benar mirip dengan Putri Sharah. Elf berambut putih yang sangat cantik.
"Nona Theresia, mereka berdua mencoba merundung kami!"
Apa-apaan para bajingan ini?!
"Kalian berboh--"
"Bawa kedua gadis itu," perintah Theresia pada bawahannya.
"Baik!" Beberapa orang menarik kami.
Sialan! Mereka tidak mau mendengar kami!
"Physical Booster." Aku menggunakan sihir penguat fisik untuk menahan mereka.
"K-kau!" Mereka terus berusaha menarikku.
*Brak!
Mereka terjatuh karena kutarik dengan sangat kuat.
Theresia hanya melihatku dengan tatapan dingin.
"Kau seorang Ketua Murid, bahkan tidak mendengarkan penjelasan dari pihak lainnya. Apa mereka menyogokmu?
Theresia berjalan ke arahku.
"Apa yang kau ketahui tentangku? Aku sarankan kau untuk tidak melawan dan ikut bersamaku," bisiknya.
Apa yang Putri Sharah ajarkan pada anak ini?!
Seseorang menarikku dari belakang. Secara spontan aku menjauh dari Theresia.
Orang yang menarikku adalah Delila.
"Elf rendahan sepertimu berani menyenuh I--"
Aku langsung menutup mulut Delila. Akan terjadi masalah besar jika dia membocorkan semuanya sekarang.
Theresia terlihat terkejut melihat kami.
"N-nona Theresia, apa yang terjadi?" tanya murid di sebelahnya.
"Tidak apa-apa." Dia kembali ke wajah dinginnya. "Namamu Alissia, ya, aku akan menandaimu dalam daftar pengawasan, dan juga kedua temanmu itu,"
"Kau tidak bisa seenaknya melakukan itu!"
Anak ini lama-lama membuatku jengkel!
"Time Stop." Delila merapalkan sihirnya.
Waktu terhenti.
"Delila, apa yang kau lakukan?"
"Ibu, tempat ini benar-benar sangat rusak,"
"Kau benar,"
"Saya sudah mencoba mencari item yang kita cari, namum Saya belum menemukannya,"
"Jangan terburu-buru, aku ingin memperbaiki Akademi Sihir yang rusak ini,"
"Ibu benar,"
Aku melirik ke arah pin di dada Delila.
Delila mengenakan perunggu?
"Ibu tak perlu khawatir, Saya berhasil menekan keseluruuan kekuatan di tubuh ini. Dengan ini Saya bisa terus bersama Ibu,"
Aku mengelus kepalanya. "Kau benar-benar hebat,"
Delila tersipu malu.
"Ngomong-ngomong, di mana Erish?"
"Ah, dia tak bisa menahan kekuatannya, hasilnya Erish masuk ke tingkat Diamond dengan nilai kekuatan sihir tertinggi,"
Heh?
"Apa mereka tidak curiga dengan Erish?"
"Tidak. Awalnya mereka curiga sehingga menggunakan item penilaian padanya. Namun, berkat penyamaran statistik, Erish masih aman untuk saat ini."
Ini sedikit membuatku khawatir. Kekuatan Erish sudah meningkat pesat, bahkan party Hart akan kerepotan jika berhadapan PvP dengan Erish.
"Di mana dia sekarang?"
"Sepertinya para guru masih menanyainya,"
"Bawa dia ke sini,"
"Baik."
Aku ingin menonton sedikit drama kecil di sini. Hmmm ... walau Theresia bersikap angkuh, reputasinya sama sekali tidak terganggu. Murid-murid di sini masih melihatnya dengan tatapan kagum.
Jika Delila sudah mencari item itu ke segala penjuru tempat ini, berarti dia telah menggunakan Time Stop sebelumnya. Tak disangka aku juga terkena efeknya.
"Ibu, Saya kembali,"
Delila dengan Erish yang diam membatu. Ia menyeret Erish seperti sebuah karung makanan.
"Lepaskan efeknya."
Sihir Time Stop yang menahan Erish telah terlepas.
"Saya sama sekali tidak tertarik," ucap Erish.
Huh? Sepertinya dia berbicara dengan guru-guru itu.
"Hah ... di mana ini?" Erish langsung panik melihat ke segala arah.
"Erish, tenanglah,"
"Yang Mulia?!"
"Erish, selamat karena kau telah mencapai tingkat Diamond," sambutku dengan senyum kecil padanya.
Tentu saja! Dia harusnya bisa mendapatkan tingkat yang lebih tinggi lagi jika ada!
"Y-yang Mulia, maaf karena tidak bisa bersama Anda,"
"Tidak, itu malah lebih bagus, kau harus mempertahankan tingkatmu yang sekarang, kesempatan untuk menggunakan item itu padaku semakin besar,"
"Baik, Yang Mulia."
Sekarang waktunya.
"Erish, buat gadis ini terobsesi untuk mengalahkanmu, dia harus menganggapmu sebagai rival. Delila, hentikan Time Stop sekarang."
"Baik, Ibu."
Waktu berjalan seperti biasanya. Semua orang kembali bergerak.
Aku serahkan semua padamu, Erish.
Semua orang terkejut dengan keberadaan Erish. Itu karena dalam penglihatan mereka Erish muncul secara tiba-tiba.
"Kau ...." Theresia mengkerutkan keningnya.
Benar, kau harus membenci Erish!
"Hei, gadis itu mengenakan pin Diamond, apa dia murid baru yang dirumorkan itu?" Para murid membicarakan Erish.
"Baiklah, aku akan melupakan kejadian ini." Theresia berbalik membelakangi kami.
"N-nona Theresia, bagaimana dengan kami?!" Kelompok yang merundung Livia masih bersikeras menjebak kami.
Theresia tak merespon kelompok itu.
Respon Theresia yang melihat Erish berada di luar dugaanku. Ternyata dia bisa menahan diri, namum setidaknya aku sudah menabur bumbu-bumbu perseteruan antara mereka.
"Kalian ...." Erish melihat ke arah kelompok perundung.
"M-maafkan kami, Nona!" Mereka semua langsung berlari meninggalkan kami.
Tingkat Diamond sangat disegani di sini. Aku bertanya-tanya, berapa jumlah murid tingkat Diamond saat ini?
"Yan-- Alissia, kau tidak apa-apa?"
"Jangan khawatirkan aku."
"E-erish ... kau tingkat Diamond?!" tanya Livia dengan ekspresi terkejut.
"Apa kabar, Livia?"
Livia langsung menarik kedua tangan Erish. "Kau benar-benar luar biasa!"
Wah, dia menarik perhatian orang-orang di sini.
"Erish, jadikan aku muridmu!"
"Tentu-- heh?!"
Bersambung ....
Sekarang kalian bisa bergabung di grup chat novel ini. Kalian bisa memberi masukan untuk novel ini agar lebih baik ke depannya. Caranya, buka halaman novel ini, dan klik tombol "Ayo Chat" seperti gambar di bawah.
Terima kasih!
JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!
Kalian bisa support Author juga di sini biar Saya semakin semangat buat update :
https://saweria.co/hzran22
Bisa donasi dengan Gopay, OVO, dan Dana, ya.