The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Spar



[Ibu, terus terang, Saya hanya bisa melawan 2 dari 6 orang itu jika mereka menyerang secara bersamaan,] ucap Rayna melalui telepati.


Mereka semua pasti level 1000, akan merepotkan jika kami kalah jumlah dalam pertarungan seperti ini. Terlebih lagi bajingan yang duduk di singgasana ini sepertinya akan menjadi musuh paling merepotkan.


[Keluarlah, Daisy.]


[Baik, Master.] Daisy muncul dari punggungku dan langsung bersiap di depanku.


Walau Daisy level 800, dia masih bisa menggunakan semua sihir miliknya, hanya saja damage yang diberikan akan menurun untuk sihir tingkat 11 ke atas.


*Wush!


Vlad mengibaskan tangan kanannya yang tertutupi jubah yang longgar. Aura orang-orang yang ada di sini menghilang, tak terkecuali Rayna.


Dia dengan mudah menghapus aura membunuh yang kuat hanya dengan satu kibasan tangannya. Bajingan ini benar-benar sebuah ancaman.


"Aku minta maaf atas ketidaksopanan yang telah dilakukan oleh bawahanku. Aku akan memberi ganti rugi atas ketidaknyamanan ini," ucap Vlad dengan nada yang semakin berat.


Suaranya membuatku merinding.


"Tidak masalah, Tuan Vlad. Saya juga minta maaf atas prilaku bawahan Saya yang tidak sopan ini."


Vlad tertawa kecil. "Itu hal yang wajar, Nona, terkadang kita akan kesulitan saat mengontrol bawahan yang kuat."


"Anda benar, Tuan Vlad." Aku menundukkan kepala di hadapan Vlad. "Izinkan Saya memperkenalkan diri. Saya adalah penguasa Kerajaan Penyihir Maphas, dan ketiga orang ini merupakan guardian yang melindungi kerajaan."


"Kerajaan Penyihir Maphas. Aku selalu mengawasi kalian sejak perang melawan Gereja Suci, hal yang wajar jika kalian kalah melawan mereka, para badut itu tidak bisa apa-apa tanpa bantuan Dewi."


Siapa yang kalah, bajingan?!


"Aku sangat terkejut dengan item yang kau pinjamkan waktu itu. Bisa menahan sihir suci tingkat tinggi," lanjud Vlad.


"Saya senang jika Anda menyukai item itu, Tuan Vlad."


"Tapi, kami masih belum yakin apa item ini bisa menahan serangan suci dari Dewi, kami hanya punya subjek yang bisa menggunakan sihir suci tingkat tinggi, dan sihir itu masih jauh di bawah Dewi."


Aku tak tahu bagaimana standar mereka mengukur tingkatan sihir, tapi aku yakin Temporary Eternity bisa menahan sihir Dewi untuk beberapa waktu.


"Anda tidak perlu khawatir, Saya menjamin bahwa item itu akan berfungsi dengan semestinya."


"Kau berbicara seolah-olah item itu pernah menahan serangan Dewi secara langsung."


Kukuku, bajingan ini malah memberiku kesempatan besar.


"Tentu saja, item itu pernah menahan serangan Dewi secara langsung."


"Sungguh?"


"Beberapa waktu lalu sebelum perperangan, Saya mendeklarasikan perang tepat di hadapan Uskup Agung. Dewi ikut campur dalam perdebatan itu dan menyerang kami dengan sihir cahaya yang sangat terang. Beruntungnya Saya membawa item ini, Tuan Vlad."


"Hmmmmmm ...." Vlad menatapku tajam, mata merahnya sekilas bercahaya. "Aku mempercayai kata-katamu."


Tentu saja aku berbohong! Para penghisap darah ini sangat takut dengan sihir suci milik Dewi, aku hanya mempergunakan kesempatan itu untuk mencari celah.


"Lord, Saya keberatan." Seorang wanita dari salah satu guardian mengintrupsi. Dia wanita yang memiliki 12 pedang melayang di belakang tubuhnya.


"Apa yang membuatmu keberatan, Eliza?"


"Saya akui, item itu memang luar biasa, tapi kita tidak semudah itu bersekutu dengan mereka. Harus ada pembuktian apakah mereka pantas bersanding dengan kita atau tidak." Wanita itu menunjukkan tatapan sinis terhadap kami.


"Hooh ... sepertinya atmosfir tadi memacu adrenalinmu, ya, Eliza?"


"Kukuku, Anda benar, Lord."


Aku memang sudah menduga hal ini akan terjadi. Tak ada cara untuk menghindarinya. Sangat disayangkan Hela tidak ikut


Pemanasan?! Bawahanmu berniat membunuh kami!


"Lihatlah, Nona True Vampire di depanmu terlihat bersemangat sekali," lanjut Vlad.


Ekspresi Rayna terlihat sangat mengerikan, urat-urat di dahinya terlihat dengan jelas, matanya manatap tajam ke depan.


[Ibu, biarkan Saya membunuh semua serangga ini!] Rayna sudah tidak bisa mengendalikan rasa haus darahnya.


Apa yang harus kulakukan? Tidak masalah jika mereka bertarung secara adil, namun aku khawatir mereka merencanakan siasat sembari bertarung.


[Ibu tidak usah khawatir, Saya sudah menelan dunia bawah tanah ini dengan sihir dimensi,] ucap Delila.


Pantas Delila tidak berbicara sepatah kata pun dari tadi, ternyata dia sedang fokus pada sihirnya. Aku masih belum paham sepenuhnya tentang sihir dimensi yang memakan dunia bawah tanah ini, tapi aku bisa menyimpulkan hal penting. Dunia bawah tanah ini telah berada di dalam dimensi Delila.


[Delila, jangan paksakan dirimu.]


Delila tampak kelelahan karena menggunakan sihir besar seperti ini.


[Tidak masalah, Ibu. Saya masih memiliki banyak MP untuk melawan mereka.]


Dia tidak pintar berbohong. Wajahnya bahkan semakin pucat sekarang.


[Tunggu momen yang pas untuk meminum Mana Potion, aku tidak mau melihatmu seperti itu.]


[Baik, Ibu.]


"Ada apa, Nona Hart? Apa kau keberatan?" tanya Vlad.


"Tidak, Tuan Vlad. Kami menerima tawaran Anda."


"Bagus, ayo kita pindah ke arena." Vlad menepuk tangannya.


Seketika ruangan berubah menjadi sebuah arena bertarung.


Orang lain mungkin akan menganggap Vlad yang merubah ruangan ini menjadi arena. Tentu saja pelakunya bukanlah Vlad, tapi salah satu dari guardian di sisinya. Sihir yang merubah isi bangunan dengan sesuka hati, dialah orang di balik sihir ruang itu. Dia pasti akan sedih karena kenyataannya Delila telah mengendalikan seluruh hal yang ada di dunia bawah, termasuk sihir ruang di dalam bangunan ini.


Arena ini hampir mirip seperti coloseum, hanya saja para penonton tidak memiliki tempat duduk dan mereka berdiri di sisi arena yang cukup luas itu. Vlad berada dekat di sebelah kanan kami bersama para bawahannya.


Rayna masuk ke arena.


[Rayna, jangan paksakan dirimu.]


[Ibu jangan khawatir, Saya akan menyelesaikannya dengan cepat.]


Itu semakin membuatku khawatir!


"Lord, izinkan Saya untuk melawan wanita itu." Dia adalah wanita yang mengusulkan pertarungan ini, Eliza.


Sebagian tubuh Eliza ditutupi zirah, hampir mirip dengan Lilith yang memiliki area terbuka di perut. Namun armor Eliza hanya menutup dada hingga pahanya saja, kakinya hanya tertutupi zirah hingga betis.


Tentu saja perhatianku tertuju pada pedang yang melayang di belakangnya, 12 pedang itu masing-masing memiliki aura kuat. Dia sepertinya seorang esper.


Tapi ... Rayna. Aku terkejut melihat dia langsung menggunakan mode full armor yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, ini berbeda dengan Bloody Armor yang ia kenakan saat melawan Satan. Penggunaan mode full armor memang akan memperlambat gerakannya, namun pertahanannya akan meningkat drastis.


Jika dalam mode Bloody Armor Rayna menggunakan cakar untuk pertarungan jarak dekat, maka full armor bisa melakukan jarak dekat maupun jauh. Itu terlihat dari tombak dan pedang di tangannya.


Pertarungan antar True Vampire, akhirnya dimulai.


Rayna, berjuanglah!


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!