The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Sesuatu Yang Baru



Tiba-tiba dia jadi narsis seperti ini, makhluk aneh seperti ini adalah ciptaan Keres?!


Aku bingung bagaimana harus meresponnya, bagaimana cara Keres berkomunikasi dengannya? Melihat sifat Keres saat pertama kali bertemu, aku benar-benar tidak bisa membayangkan Keres memanjakan orang aneh ini dengan sifat dinginnya itu.


"Yang Mulia? Biasanya Anda langsung memeluk Saya, apa penampilan ini kurang menarik?"


Eh, apa itu benar?


"Bajingan!" Rayna memancarkan aura membunuh yang sangat kuat.


Ard hanya tersenyum, aura membunuh Rayna tidak memberikan efek apa pun padanya. Jika dirasakan dengan jelas, aura membunuh ini kemungkinan paling besar dari selama ini yang selama ini Rayna pancarkan.


"Hohoho, putri kecil langsung marah ketika seorang pria menggoda Ibunya."


Rayna bersiap melompat ke arah Ard.


*Bugh!


Sebuah pukulan mendarat di wajah Ard, pukulan yang berasal dari luar kamar, bukan perbuatan Rayna.


"Apa yang kau lakukan, dasar bodoh!" Orang itu adalah Abigail. "Kau mencoba memanfaatkan hilangnya ingatan Yang Mulia, ya?!"


Kepala Ard terhentak ke dinding kamar dengan sangat keras.


"Kukuku, kau selalu keras seperti biasanya, Abigail." Ard menarik kepalanya dari dinding yang berlubang.


Pemandangan mengejutkan muncul. Kulit wajah Ard terkelupas, tak ada darah pun yang menetes, tak ada daging atau sejenisnya. Terlihat jelas sebuah besi yang menyerupai struktur tengkorak manusia.


Dia benar-benar robot? Itu juga menjelaskan kenapa aura membunuh Rayna tidak bisa mencapainya, karena dia tidak memiliki mental.


Kulit Ard perlahan kembali seperti semula.


"Maafkan tindakan Saya barusan, Yang Mulia. Saya hanya mengekspresikan perasaan senang yang sudah sekian lama terpendam." Ard membungkukkan badannya.


Memangnya kau punya perasaan?!


"Eheem ... y-ya, aku memaafkanmu. Jadi, apa sekarang kau sudah puas?"


"Tentu saja. Saya merasakan sangat senang sekali, Yang Mulia."


Aku sedikit penasaran dengan kemampuannya. Ketika dia menggunakan tubuh boneka, dia dapat memanipulasi pikiranku, tapi itu memang masih sangat lemah untuk menguasaiku. Ada keraguan di benakku, ini tentang ingatanku, apa dia juga melihatnya?


"Yang Mulia, izinkan Saya mengikuti Anda," pinta Ard padaku.


"Jangan izinkan dia, Ibu!" potong Rayna.


"Tenanglah, Rayna. Dia pasti punya alasan kenapa ingin ikut denganku. Lanjutkan, Ard."


Delila dan Daisy terlihat menurunkan kewaspadaan mereka, hanya Rayna yang terlalu posesif padaku. Sepertinya Ard bukan ancaman.


"Saya pasti akan berguna bagi Anda."


Kejadian menarik terjadi, tubuh Ard perlahan memecah dan semakin mengecil. Dia berubah wujud menjadi cincin.


"Ini adalah keinginan Anda yang belum pernah tercapai. Saya berhasil mengembangkannya sesaat setelah Anda disegel," lanjut Ard.


"Aku menerima permintaanmu."


Cincin kecil itu langsung melayang ke arahku, di saat yang sama aku mengulurkan tangan kiriku ke depan, seketika cincin itu terpasang di jari kelingkingku. Secara otomatis ukuran cincin menyesuaikan jari kelingkingku.


Aku merasakan sensasi aneh ketika Ard berada di tubuhku. Energi besar mengalir di tubuhku, dan kupastikan sekali lagi ini bukanlah energi sihir.


Cincin Ard tiba-tiba menyebar menutupi tangan kiriku. Seketika tangan kiriku berubah menjadi lengan mecha.


Tidak mungkin.


"Saya hanya bisa berubah menjadi beberapa senjata. Contohnya pedang, perisai, senapan sihir, dan transformasi penuh yang masih dalam tahap pengembangan."


Senapan sihir?


Lengan mecha itu langsung berubah menjadi senapan laras panjang. Secara teknis tangan kirikulah yang menjadi senapan sihir.


Ini keren!


"Delila."


"Baik." Delila langsung membuka portal ke suatu tempat.


Aku langsung mengarahkan tangan kiriku ke arah portal. Energi sihir perlahan berkumpul di ujung tanganku, dan ....


*Bush!


Dengan cepat tembakkan laser merah melesat menembak objek di depanku.


Aku tak tahu objek apa yang ada di sana, namun yang pasti objek itu berwarna hijau dan terlihat seperti bukit.


*Duaar!


Ledakan besar terdengar cukup keras, laser itu memiliki efek ledakan, terlihat berbeda dari laser armor milikku sebelumnya.


Ini luar biasa.


Cincin Ard kembali ke bentuk semula.


"Apa Anda menyukainya, Yang Mulia?"


Tak ada konsep mecha di Magic Infinity, hal ini membuat keseruan semakin berkurang karena tak ada varian baru. Jika saja armor mecha rilis, mungkin aku akan membelinya sebanyak mungkin.


Urusan di sini telah selesai. Sudah saatnya kembali ke Kerajaan Maphas.


"Kami akan kembali ke Kerajaan Penyihir Maphas."


"Yang Mulia." Abigail memanggilku sebelum aku menggunakan teleportasi.


"Apa ada sesuatu yang kurang, Abigail?"


"Saya hanya ingin memastikan. Apa Anda tidak penasaran dengan Hela?"


Kenapa dia malah membuatku penasaran?!


"Dia sedang mengurus kerajaannya, itu alasan dia mengurung diri, 'kan?"


Abigail terlihat terkejut dengan perkataanku, seolah aku telah melakukan hal yang salah.


"Jadi begitu, ya. Tidak, Anda benar, Yang Mulia." Abigail tersenyum, namun matanya terlihat sedih.


Kami langsung bertelerpotasi ke istana Kerajaan Maphas.


Begitu mengejutkannya ketika melihat situasi Kerajaan Maphas saat ini. Semua terlihat berbeda sejak terakhir kali aku berkunjung satu bulan lalu. Istana berada di tengah-tengah padang rumput, jalanan berwarna hitam terlihat memanjang dari istana menuju kota.


Eh, tunggu sebentar.


Ada sesuatu di kota yang terlihat tidak asing bagiku.


Gedung?


A. Permintaan


Sesaat setelah Keres pergi.


Abigail masih berada di menara arsip, duduk di sofa sambil menudukkan kepalanya. Pikirannya terpecah ke mana-mana, ia hanya bisa bertanya pada dirinya sendiri.


Apa aku melakukan hal yang benar? Hela, aku tidak menyangka kau serius melakukan itu. Aku takut Yang Mulia membencimu.


Abigail menghela napasnya, bersandar di sofa sambil melihat ke atas dengan mata sedikit terpejam.


"Hela, seharusnya kau lebih memahami kondisi Mastermu sekarang."


-----------------------------------------


Lebih dari satu bulan lalu, Kerajaan Mystick. Satu hari sebelum Keres pergi ke Kerajaan True Vampire.


Hela dan Abigail berada dalam satu ruangan, terlihat seperti ruang tamu, namun itu adalah kantor tempat Hela bekerja. Suasana sedikit gelap, hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela.


"Jadi, Yang Mulia memberi para True Vampire itu item unik?" tanya Abigail.


"Benar, akhir-akhir ini Master memiliki banyak item yang menarik. Biasanya Master tidak mudah untuk memberikan item-nya begitu saja, bahkan untukku sekali pun."


"Aku setuju akan hal itu, Beliau tidak memiliki banyak item karena Beliau sama sekali tidak tertarik menggunakannya, namun kesenangannya dalam mengoleksi item memang tidak perlu dipertanyakan lagi."


"Tapi, bagaimana Master bisa memiliki banyak item menarik seperti itu? Tongkat sihir yang bisa menambah daya sihir bagi pengguna tongkat, serta item yang mengubah penampilannya menjadi gadis remaja. Jika itu sihir, harusnya itu memiliki rentan waktu dan tak akan bertahan lama."


Abigail menyeruput teh yang sebelumnya sudah dipersiapkan Hela.


"Yah, hanya Beliau sajalah yang tahu itu. Ngomong-ngomong, mau sampai kapan kau diam?"


"Maksudmu?" Hela sedikit memiringkan kepalanya.


Abigail yang melihat itu tiba-tiba terbayang akan sesuatu, ia sepintas melihat Hela kecil yang sedang berpose sama dengan Hela saat ini.


"Menyembunyikan fakta bahwa kau sudah menyadari bahwa Alissa Hart adalah Yang Mulia."


"Aku ingin melakukannya segera, dan ada rencana lain yang juga ingin kuajukan pada Master agar aku tidak terlalu dimarahi, karena sudah bersikap tidak pantas pada Master."


Abigail tersenyum.


Dia sama sekali tidak berubah. Tak kusangka gadis kecil yang dulu menangis di pangkuan Yang Mulia kini menjadi seorang penyihir licik.


"Rencana apa maksudmu?"


Hela menceritakan rencananya pada Abigail.


Setelah mendengar rencana Hela, mata Abigail seketika terbuka lebar, dengan nada tinggi dia berkata, "Kau benar-benar gila."


--------------------------------------


Saat ini.


Abigail perlahan memejamkan matanya.


"Jadi, Yang Mulia sama sekali tidak tahu rencana itu? Apa Hela mengurungkan niatnya?"


Matanya perlahan terpejam, sebelum terlelap dalam tidur, Abigail berbisik pelan, "Aku ... harap ... Hela baik-baik ... saja."


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!