The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Saint Luna



Chapter 51 : Menjadi Musuh atau Menjadi Rekan?


Secara perlahan luka parah di tubuh Raja Drac mulai pulih, kecuali tulang punggungnya yang sepertinya tidak bisa disembuhkan dengan regenerasi biasa. Kaki dan tangannya yang patah telah kembali normal.


Terlihat bahwa Raja Drac hanya fokus meningkatkan kemampuan bertarungnya daripada kekebalan fisik. Yah, dia tipe vampir petarung, sangat minim dalam menggunakan sihir.


Raja Drac terlihat aneh dengan postur membungkuk seperti itu. Tulang punggung di belakangnya mirip seperti tiang kayu yang digunakan untuk menggantung orang-orangan sawah.


Tapi, sepertinya dia tidak terganggu dengan itu. Lebih tepatnya dia mematikan rasa sakit di tubuhnya, sehingga tidak merasakan apa pun ketika menerima serangan dari salinan tubuh Saint.


Pertarungan dilanjutkan.


Saint wanita menyerang terlebih dahulu dengan tongkatnya. Dia menusuk-nusuk ke arah Raja Drac. Namun, Raja Drac mampu menghindari serangannya walau dalam keadaan yang tidak menguntungkan.


Pahlawan bergerak cepat ke belakang Raja Drac, dia bersiap-siap untuk menebas leher Raja Drac.


Raja Drac langsung menunduk. Tebasan dari Pedang Suci memotong setengah tulang punggungnya.


Penglihatan Raja Drac terbatas, dia tak bisa menoleh ke belakang. Pergerakannya berdasarkan insting yang dia miliki, atau skill pendeteksi.


Selang beberapa waktu, salinan tubuh Saint melompat ke atas dan membuat gerakan menusuk ke arah Raja Drac.


Raja Drac menendang Pahlawan yang ada di belakangnya dan langsung melompat ke samping.


*Brak!


Pedang Ilahi menancap di tanah, disusul dengan retakan di tempat tusukan, dan hempasan gelombang sihir yang menghempaskan Raja Drac yang terlambat menghindar.


Raja Drac terhempas, namun genangan darah yang membentuk tentakel menahan tubuhnya. Raja Drac berlari dengan tubuh bungkuknya ke arah ketiga musuh di depannya. Ratusan tentakel, duri darah yang dikeraskan, serta ombak kecil ikut bersama dengannya.


Duri darah menuju ke arah salinan tubuh, tentakel menuju ke arah Pahlawan. Raja Drac yang mengendarai ombak darah mengarah ke Saint wanita.


Saint wanita melompat menjauh dari Raja Drac. Dia menggunakan tongkatnya untuk memberi dorongan lebih. Namun ombak Raja Drac jauh lebih cepat, hal itu membuat jarak di antara mereka semakin sempit.


"Kau adalah ancaman! Aku akan membunuhmu terlebih dahulu!" teriak Raja Drac.


Kedua rekannya sedang sibuk mengatasi serangan darah. Saint wanita terlihat kesulitan saat menggunakan tongkat.


Itu salahnya sendiri karena menyerahkan Pedang Suci pada klonnya.


Aku hanya menebak-nebak, sepertinya Saint memiliki double job atau lebih. Menurut cerita Zain, Saint juga seorang Summoner, tapi dia jarang menggunakannya. Itu sepertinya hanya asumsinya saja, bisa saja dia menggunakan beast milik Summoner lain.


Raja Drac berhasil memperpendek jarak mereka. Dengan mengendarai ombak darah, dia dengan leluasa mengayun-ayunkan cakarnya ke arah Saint. Namun Saint terus melompat ke belakang untuk memperlebar jarak.


Yah, itu memang tidak berguna.


"Holy Barrier!" Saint merapalkan sihir yang memunculkan dinding cahaya tebal di depannya.


Ombak darah seketika menguap ketika menyentuh pelindung cahaya itu.


Pelindung serupa dengan yang digunakan Uskup Agung untuk melindungi kota. Hmmm ... tidak, ini sepertinya ada di bawahnya. Itu terlihat dari perbedaan warna serta kesolidan pelindung. Milik Uskup Agung terihat seperti dinding, maksudku benar-benar terlihat seperti dinding! Sedangkan milik Saint terlihat seperti dinding kaca yang tebal.


Kembali ke pertarungan!


Raja Drac bergegas melompat melewati dinding cahaya setinggi 8 meter itu. Dia menggunakan dorongan dari arus darah di kakinya. Dia langsung menuju ke tempat Saint berada.


Di saat yang sama Saint tersenyum. Raja Drac kebingungan dengan apa yang dia lihat.


Beberapa meter sebelum Raja Drac mendarat, sebuah gumpalan energi cahaya tiba-tiba menyala terang di dekat Raja Drac.


"Lenyaplah kau, vampir terkutuk!"


Tubuh Raja Drac terbakar karena cahaya terang yang berada di dekatnya.


Sihir cahaya sejatinya adalah sihir suci, kelemahan para undead, terutama vampir. Cahaya matahari saja tidak cukup untuk membunuh vampir, bahkan kelas terendahnya sekali pun. Karena unsur suci pada cahaya matahari sangat minim, kecuali jika kau melempar undead itu langsung ke matahari. Kehadiran unsur suci sangat berpengaruh untuk membunuh para vampir, bukan True Vampire, mereka harus menggunakan sihir suci tingkat 13 ke atas.


Raja Drac sama sekali tidak bisa bergerak karena tertahan oleh sihir suci yang membakarnya. Karena itu juga dia tidak jatuh, melainkan melayang.


Aku tak tahu kapan Saint menyiapkan sihir lain, tapi rencananya memang sukses kali ini.


Skill versi terendah dari Marriage Call. Hanya bisa memanggil familiar yang sudah terjalin kontrak.


Para vampir yang masih tersisa di atas turun menuju ke tempat Raja Drac.


Saint tidak diam saja saat melihat hal itu. Dia membatalkan salinan tubuh yang sedang menghalau serangan duri darah. Pedang Ilahi langsung terbang ke arahnya dengan duri darah yang mengikuti dari belakang.


Para vampir mencoba menarik tubuh Raja Drac dari dekapan sihir suci, namun beberapa dari mereka langsung mati ketika mencoba menarik tangan Raja Drac. Usaha mereka tidak percuma, Raja Drac perlahan tertarik, tubuhnya hampir sepenuhnya gosong. Tulang punggungnya terlihat menghitam seperti tulang panggang.


Pedang Ilahi telah sampai di tangan Saint, dia menjatuhkan tongkatnya dan langsung melompat ke arah Raja Drac untuk menebasnya.


"Matilah kau!" Saint bersiap mengayunkan Pedang Ilahi dengan kedua tangannya.


Puluhan duri darah menusuk zirahnya yang dikenakannya. Darah bercucuran dari lubang bekas tusukan duri darah, sangat banyak lubang, kondisinya sangat menyedihkan.


Saint mengayunkan Pedang Ilahi ke arah leher Raja Drac.


Di sisi lain, Pahlawan kesulitan menghadapi tentakel darah yang semakin banyak, kaki dan tangannya terlilit. Dia tidak bisa melepaskan diri karena kehabisan energi.


*Duar!


Sebuah ledakan terjadi di tempat pertarungn yang krusial itu. Saint dan Pahlawan terhempas karena ledakan. Itu bukan ledakan seperti bom atau sejenisnya. Itu sebuah sihir udara yang meledak mendorong kedua orang itu, tidak menimbulkan damage berarti.


Itu bukan sihir dari Raja Drac, siapa yang melakukannya?


Hela mengubah layar ke suatu tempat yang berada tak jauh dari lokasi. Seorang wanita melayang di udara, dia menghadap tepat ke tempat pertarungan.


Wanita itu, 'kan ...?


Tubuh Raja Drac tiba-tiba terseret masuk ke sebuah portal di dekatnya, kemungkinan berasal dari wanita itu.


Dia True Vampire yang mengejarku sebelumnya.


Kejadian itu begitu cepat, wanita itu menghilang setelah membawa Raja Drac kembali.


Siaran berakhir.


"Dia True Vampire yang mengejarmu tadi, bukan?" tanya Hela padaku.


"Ciri-cirinya sama. Itu memang dia."


Tapi, kenapa dia baru datang? Jika dipikirkan secara logika, dia harusnya bersama dengan Raja Drac. Ini bukan kebetulan, firasatku tadi sepertinya memang memiliki arti.


Huh?


Aku merasakan aura yang sangat besar dari luar istana. Bukan aura membunuh, ini aura yang sengaja dilepas untuk menunjukkan dominasi kepada orang-orang.


"Setelah dari sana, dia langsung ke sini." Hela sepertinya juga merasakan aura yang sama.


Perkataan Hela itu, apa mungkin True Vampire tadi datang ke sini?


Rayna langsung berdiri di depanku.


"Tenanglah, dia sepertinya tidak bermaksud untuk melawan kita," ucap Hela.


Aku menenangkan Rayna.


"Kita harus menyambutnya." Hela berdiri dari tempat duduknya, kemudian menyiapkan portal yang terhubung ke halaman istana.


Kami bertiga masuk ke portal.


Ini pasti tidak jauh dari perundingan, aku pernah mengalami hal ini.


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE, YA!


Ada info, cek story IG saya. @hizrian.id