
Delila menurunkan tekanan auranya, ia masih membiarkan sisa aura itu menekan Kepala Akademi.
Ini pertama kalinya aku melihat Delila marah seperti itu. Padahal Kepala Akademi tidak menghinaku secara terang-terangan.
Poni yang menutup mata kanan Delila terbuka, kedua matanya bersinar kebiruan. Jika Delila menganggap ini serius, maka aku tak bisa berbuat banyak, nyawa Kepala Akademi berada di genggamannya.
"K-kau ... jika saja kekuatanku kemb--"
Delila semakin menekan Kepala Akademi dengan auranya.
Bajingan ini malah memperburuk suasana!
"Nyonya Kepala! Berhentilah bersikap arogan!" teriak Tiffany.
Benar! Dengarkan bawahanmu itu!
Delila masih mempertahankan auranya, dia sama sekali tidak mendengar perintahku.
"AKU BERMAKSUD INGIN MENOLONGMU, NAMUN KESOMBONGANMU MEMBUATKU MUAK."
Suaranya bergema, ada energi sihir saat Delila berbicara. Ini merupakan salah satu cara menekan musuh.
Aku keluar dari penghalang sihir.
"Alissia, itu berbahaya!" teriak Tiffany.
"Tenang saja." Aku memeluk Delila dari belakang. "Karena dia adalah putriku."
Yah, benar, dia adalah putriku. Keluarga yang harus kulindungi sekarang.
Aura milik Delila perlahan menghilang.
"Tenang, Delila, aku ada di sini."
Cahaya di matanya meredup.
"I ... bu?"
Sepertinya dia sudah tenang.
Aku dan Delila kembali duduk seperti biasa tanpa menghiraukan suasana.
Kepala Akademi langsung memperbaiki posisi duduknya.
Aku harus mengambil alih pembicaraan ini.
"Eheem ... jika Anda tidak tertarik, mari kita lupakan pembicaraan kita tadi, dan juga kejadian ini,"
"Tunggu ...."
Mustahil dia membiarkan kami pergi begitu saja, sedangkan rasa ingin tahunya begitu besar, terutama pada Delila.
"Apa Anda berubah pikiran?"
Kepala Akademi menatap kami dengan tajam. "Pertama-tama, siapa kalian?"
Dia sama sekali tak gentar meski Delila sudah menekannya tadi. Kepercayaan diri orang ini sungguh luar biasa. Aku penasaran dengan kekuatan penuhnya.
Ketika Delila hendak berbicara, aku mencubit kecil pahanya sebagai tanda untuk diam.
"Apa maksud Anda? Kami hanyalah seorang murid Bronze biasa,"
Kepala Akademi menunjuk ke arah Delila. "Anak itu ... tidak normal,"
"Delila sedikit istimewa, berbeda dengan anak-anak seumurannya,"
"Sangat disayangkan, bagaimana jika kau bergabung menjadi bagian dari Kerajaan Mystick?" Kepala Akademi menjulurkan tangannya pada Delila.
Bajingan ini, apa yang dia inginkan sebenarnya?!
"Anda sudah terlambat jika ingin merekrut Delila,"
"Tiga Negara Perusak, ya ...? Kau benar. Baiklah, aku ingin meminta bantuan kalian untuk menghilangkan kutukanku,"
Tiga Negara Perusak?
"Apa Anda bersedia membayar dengan harga yang pantas?"
Aku tak tahu metode apa yang akan digunakan Delila nanti, untuk saat ini aku harus percaya padanya.
"Jika ini berhasil, aku akan mengabulkan semua keinginan kalian,"
Hei, ini kesempatan bagus, 'kan?
"Bai--"
"Maaf." Delila langsung memotong pembicaraanku.
"Delila?"
"Kami tak bisa begitu saja mempercayaimu," ucap Delila.
Ah, aku tidak berpikir panjang, Delila sudah menyadarinya.
"Baiklah." Kepala Akademi memejamkan matanya.
Energi sihir menyelimuti tubuh Kepala Akademi.
"Nyonya Kepala, apa Anda serius melakukan itu?!"
"Diamlah, Tiffany."
Aku tak tahu apa yang sedang dia lakukan, sepertinya itu bukan bentuk perlawanan.
"Soul Oath." Kepala Akademi merapalkan sihirnya.
Aku tak pernah mendengar rapalan sihir aeperti itu.
"Aku, Hela Naura Legarde bersumpah untuk menuruti permintaanmu setelah kutukan ini terangkat."
Sebuah cahaya muncul di depan kami.
Kepala Akademi menyayat ibu jarinya dan meneteskan darahnya pada cahaya itu.
*Bush!
Cahaya itu pecah dan menyebar.
Aku masih belum mengerti, apa dia menggunakan sihir yang bisa mengikat sumpah? Sepengetahuanku sebuah sumpah bisa dilakukan dengan item, seperti kutukan yang kubuat di Kerajaan Elf.
"Aku sudah bersumpah, jika aku melanggarnya, maka jiwaku akan lenyap saat itu juga."
Ini pertama kalinya aku melihat sihir seperti itu.
"Itu sudah cukup. Izinkan kami untuk mempersiapkan segala hal untuk melepas kutukanmu," ucap Delila.
"Baiklah."
"Delila, ke mana kita pergi?"
"Ibu, wanita itu sedang mengalami Restrictions,"
"Restrictions? Berapa level yang dia miliki?"
"1000."
Bagaimana dia bisa mengalami Restrictions?
"Tapi, bagaimana mungkin?"
Restrictions merupakan sebuah pembatas statistik. Untuk HP dan MP statistik maksimalnya adalah 10000, sedangkan yang lainnya memiliki statistik maksimal 999. Itu adalah statistik saat seorang Player masih di bawah level 30. Untuk membukanya, maka Player diwajibkan membeli item khusus untuk membuka batasan itu. Setelah membeli item khusus itu, maka Player dapat meningkatkan statistiknya tanpa dibatasi oleh Restrictions. Sejak ketentuan itu muncul, Magic Infinity dicap sebagai game pay-to-win. (Kalian bisa baca di episode 1 dan perhatikan statistik Keres).
"Sepertinya Kepala Akademi menerima sihir kutukan yang memiliki efek serupa dengan Restrictions."
Itu benar, ini bukan lagi Magic Infinity, ini dunia nyata. Banyak hal tak terduga akan datang.
"Jadi, tujuan kita ...."
"Benar, Ibu, kita kembali ke Dungeon."
Seharusnya item itu ada di ruang harta. Aku membeli beberapa buah waktu itu.
Kami sampai di lantai 1 Dungeon milikku.
Suasana sangat sepi, bahkan Shishaa tak terlihat di gerbang masuk.
*Bum!
Aura membunuh menyambut kami.
"Penyusup, ya?" suara seorang pria dari dalam kegelapan.
Itu suara Crocell. Sepertinya dia tak mengenalku dalam wujud ini.
"Dua bocah tersesat, aku akan segera mengakhiri penderitaan kalian."
*Wush!
Crocell dengan cepat meluncur ke arah kami.
"Dasar Iblis bodoh!" Delila melemparkan bola sihir berwarna hitam ke arah Crocell.
*Bugh!
"Agh!'
Bola hitam itu mendarat tepat di wajahnya, Crocell terhempas hingga merusak interior di lantai 1.
"I-itu kau, Delila?!" Crocell langsung bangkit dari kondisi terkapar.
"Kau menyerang Ibu, hukuman mati pantas untukmu!"
"I-ibunda ...?" Crocell melihatku.
"Tenanglah, Delila, dia hanya salah paham."
Selain tampilan, Crocell juga tak mengenali energi sihir kami. Selama di Akademi Sihir, energi sihir kami sepenuhnya berubah. Sangat wajar jika Crocell tak mengenali kami.
"Maafkan Saya, Ibunda!"
"Eheem ... jangan ulangi lagi. Delila, ayo kita pergi ke ruang harta,"
"Baik, Ibu."
Aku tak punya banyak waktu.
---------------------------
Ruang harta.
Huwaa ... hampir setengah dari item di ruang harta hilang, tidak, maksudku dipindahkan ke penyimpanan dimensi Delila.
Baiklah, di mana aku meletakan obat pil itu. Karena ukurannya yang kecil dan jumlahnya sangat sedikit, akan memerlukan banyak waktu untuk mencarinya, walaupun item di sini tersusun rapi sekalipun.
Aku dan Delila berpencar.
Seharusnya pil itu ada di bagian item-item kecil di sini.
"Delila, apa kau menemukannya?"
Tak ada jawaban dari Delila.
Aku berbalik melihat ke tempat Delila. Dia sangat fokus mencari pil itu sehingga tidak mendengar suaraku.
"Hmmm ...?"
Aku melihat sebuah botol kaca berukuran kecil. Di dalamnya ada sebuah bola-bola kecil berwarna hitam.
Ketemu!
Aku mengambil botol kaca itu.
Tidak salah lagi, ini item-nya. Item ini memiliki bentuk seperti pil.
"Ibu sudah menemukannya." Suara Delila yang berada tepat di belakangku.
Jantungku hampir lepas, namun aku tak menunjukan ekspresi terkejutku padanya.
Delila sedikit aneh akhir-akhir ini.
"Kita harus segera kembali ke Akademi Sihir."
Kami keluar dari ruang harta.
Di saat kami selesai menutup pintu, kami berbalik dan melihat 6 NPC pria yang sudah menunggu di depan ruang harta.
Wajah mereka tampak lesu, apa aku melakukan sesuatu yang menyakiti mereka?
"Ibunda." Asmodeus mendekat padaku.
"I-iya?"
Huwaaa ... aku benar-benar gugup!
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!