The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Daisy Maphas



"Lilis! Sterilkan lokasi Nona Alissa dengan sihir api!"


"Fire Area! Wyatt! Aku tak bisa menjangkaunya! Dia dikelilingi dua Death Knight! Itu berbahaya!"


Wooah ... Mereka benar-benar melindungiku.


"Aku akan maju menyelamatkannya!" Wyatt langsung lari ke arahku.


Dia mau melawan Death Knight itu?


"Hiyaaaa!" Wyatt menyerang salah satu Death Knight.


*Ting!


Salah satu Death Knight itu menahan serangan Wyatt dengan mudah.


Apa kau bercanda? Death Knight itu setara dengan Warrior level 250!


Death Knight yang menahanku langsung menyerang Wyatt dari belakang.


"Wyatt! Awas belakangmu!" teriak Lilis.


*Ting! Ting!


Payne dengan cepat menahan Death Knight yang satunya.


"Payne!" Wajah Wyatt terkejut melihat Payne yang melindunginya dari serangan Death Knight.


"Sialan, kenapa kau ceroboh sekali," gumam Payne.


Dua Death Knight lainnya menyerang Steve dan Elis.


Bos Dungeon sama sekali tidak bergerak. Sepertinya aku harus membantu Steve dan Elis.


"Wyatt,"


"Nona Alissa! Kau tidak apa-apa?"


"Apa kau meremehkanku? Aku ini Tank, aku akan membantu Steve dan Elis, kalian bertiga tolong urus sisanya,"


 -----------------------------


"Elis, rapalkan sihir penguat padaku!" Steve bersiap-siap menyerang.


"Baik! Physical Boost!"


"Rasakan ini!"


*Ting!


Serangan Steve tak berarti bagi Death Knight itu.


"Steve jangan ceroboh!"


"Sial,"


"Steve di belakangmu!"


"Tch!"


Tepat waktu!


"Mana Shield!" Aku merapalkan sihir pelindung tepat sebelum pedang Death Knight mengenai Steve.


*Dum!


Aku memukul Death Knight itu hingga terhempas beberapa meter.


Huh ... Itu pukulan pertamaku hari ini. Sepertinya dia membutuhkan waktu untuk pulih kembali.


"Nona Alissa,"


"Kalian baik-baik saja?"


"Terima kasih telah menyelamatkanku, Nona Alissa,"


Archer ini memang tidak cocok melawan Undead. Dia bahkan tidak bisa menggunakan Mananya.


"Pinjam panahmu sebentar, Steve,"


"...." Dia hanya terdiam dan menyerahkan panahnya.


Apa ada yang salah? Oh ... Ini pertama kalinya aku menyebut nama depan selain Wyatt.


"Hmmm ...."


Panah ini lumayan bagus. Sepertinya aku bisa mengirimkan energiku ke panah ini. Ini seperti buff sementara.


"Death Knight satu lagi menyerang kita!" teriak Elis.


"Terima ini, Steve." Aku melemparkan panah itu pada Steve.


*Ting Ting


Aku langsung menahan serangan Death Knight dengan pedangku.


"Nona Alissa, panah ini?!" Steve terlihat kebingungan.


"Kau bisa men-supportku dari belakang,"


"Baik! Elis, rapalkan sihir penguatmu sekali lagi pada kami berdua,"


Aku masih beradu serangan dengan Death Knight. Hal yang merepotkan saat melawan Death Knight adalah baju zirah dan perisai mereka yang sangat tebal. Mereka terlalu kuat untuk kelompok Party ini.


*Slash!


Salah satu Death Knight menerima damage dari panah Steve.


Hoh ... Dia berhasil membidik Death Knight itu.


"KRRRRR ...." Death Knight itu kembali bangkit.


Itu masih belum cukup.


"Terus tembak dia, Steve!" seruku.


"Nona Alissa, awas!" Elis mengangkat tangannya ke depan.


Salah satu Death Knight menyerangku dari belakang.


"Hmmm ...?"


Aku melompat ke sisi kiri dan berhasil menghindarinya.


"Huh .... Hampir saja." Elis menghela napasnya.


Death Knight yang aku pukul sebelumnya telah pulih.


Dengan cepat, Steve melepaskan busur panahnya ke arah Death Knight yang menyerangku.


"Tahan dia, Nona Alissa,"


Aku langsung menahan Death Knight itu dengan menyerang kakinya.


*Crack!


Steve berhasil memberi serangan besar.


Dua Death Knight itu berhasil dilumpuhkan.


Aku mengalihkan pandanganku pada Bos Dungeon.


Bos Dungeon hanya diam? Apa dia tidak memberi sihir regenerasi pada Death Knightnya?


Appraisal Eyes.


Nama : Zashk


Ras : Undead


Job : Necromancer/Magic Caster


Rank : A


Level : 338


Dia juga bisa menggunakan sihir. Apa yang sedang dia tunggu?


"Nona Alissa, kita berhasil!" Steve tampak senang dengan pencapaiannya.


Aku melihat kondisi Wyatt dan lainnya. "Steve, bantu mereka,"


"Baiklah." Steve dan Elis pergi membantu Wyatt dan lainnya.


*Bum!


Sebuah aura penuh mengarah padaku.


Ini Despair Aura tingkat menengah? Tidak, ini sedikit di atasnya.


*Bruk!


Wyatt dan lainnya langsung jatuh tak sadarkan diri.


Sudah kuduga, mereka semua tidak bisa menahan aura ini. Mereka semua langsung roboh. Ini tingkat aura yang aku arahkan ke Raymond saat pertama kali bertemu. Jadi ini batasan yang bisa ditahan Manusia berlevel rendah, ya ....


Undead itu mengangkat tangannya.


"BLACK FLAME." Dia mengarahkan api hitam ke arahku.


*Swush!


Aku menebas api itu, namun, api itu tidak mati dan membakar pedang milikku.


Huh ... Api ini sangat sulit dipadamkan. Jika aku terkena api ini, HP-ku akan terus berkurang. Aku beruntung karena punya skill Create Item yang mengembalikan kondisi tubuh seperti semula. Skill ini tidak mengembalikan HP yang terkuras, hanya kondisi fisik saja. Jadi efek serangan yang terjadi pada tubuh ini akan menghilang.


"MANUSIA YANG MENARIK."


Dia bisa berbicara?


"KAU TAK TERPENGARUH AURA KEBESARANKU."


"Hentikan omong kosongmu, Lich jelek,"


"HUH." Bos Dungeon itu terdiam.


Dia tidak marah


"SUMMON HIGH UNDEAD : SWEET SLAUGHTER!" Bos Dungeon memanggil Undead lainnya.


"Itu?!"


"KRRRR."


"INI ADALAH UNDEAD TERKUAT YANG KUMILIKI!"


Undead itu seperti Death Knight, namun, lebih kecil dan cepat. Level 286. Walau levelnya terbilang rendah, tapi, satu tebasan pedangnya bisa menghancurkan sebuah desa.


"Tidak berguna," celetukku.


"APA?!"


"Aku terlalu waspada menghadapimu,"


"SIALAN KAU!"


*Swish!


Undead itu melompat ke arahku.


Undead itu sangat cepat!


*Ting! Ting! Ting!


Kami saling beradu pedang.


"DARK ARROW!" Bos Dungeon menembakan panah gelap ke arahku.


Sial.


Aku menghindari panah itu.


"Hmmm ...?"


*Dum!


Saat perhatianku teralihkan, Undead yang satunya langsung menendangku dari belakang.


"INILAH AKHIRMU!"


"KRRRR."


Huh, lumayan. Tapi, ada yang ingin aku tunjukan padamu.


"Summon High Undead : Daisy Maphas,"


*Buuuussh


Aku memanggil Undead dengan sihirku.


"D-DAISY KATAMU?!" Bos Dungeon perlahan mundur bersama Undead miliknya.


"Huh ... Ada apa denganmu, Lich?"


*Bruk!


Lich itu terduduk lemas.


Apa yang terjadi? Apa itu karena Daisy? Daisy adalah summon Undead terkuat yang kumiliki. Aku mendapatkannya saat Dungeon Undead di Magic Infinity mengadakan event Raid Boss. Daisy menjadi hadiah bagi mereka yang bisa mengalahkannya. Tentu saja, Daisy memiliki level 1000. Sangat susah menghadapinya tanpa atribut suci dan api.


"RATU UNDEAD! DAISY MAPHAS! ZAHSK SELALU SETIA KEPADA ANDA!"


Eh, Ratu? Daisy?


"Habisi dia, Daisy," perintahku.


"TIDAAK!"


Daisy langsung mengibaskan tangannya ke arah Bos Dungeon.


*Crack!


Bos Dungeon dan Undeadnya hancur dalam sekejap.


Huh ... Daisy juga Ratu di sini, ya?


"MASTER."


Heh? Apa dia baru saja berbicara?


"MASTER."


"D-daisy?"


"YA. MASTER."


Dia bicara!


"MASTER. AKU MEMBUTUHKAN SEBUAH TUBUH AGAR BISA SELALU MENDAMPINGI ANDA."


Tubuh? Benar ... Daisy hanya bertahan 3 jam saat dipanggil, dan akan memerlukan cooldown 120 jam untuk bisa dipanggil kembali. Jadi dia bisa sepenuhnya berada di dunia ini jika memakai tubuh seseorang, ya? Apa kugunakan saja tubuh gadis dari Party-ku ini? Tidak, tidak! Itu akan menjadi masalah.


"Daisy, aku akan mencarikanmu tubuh nanti, sekarang kau bisa kembali,"


"BAIK. MASTER." Perlahan Daisy menghilang.


"Huh ... Jadi, apa yang harus kulakukan pada mereka, ya?"


 ------------------------------


Aku membawa yang lainnya ke Desa Sige.


Item yang dijatuhkan Bos Dungeon hanyalah item rank B. Sangat mengecewakan. Aku jadi ingin segera mencarikan tubuh untuk Daisy, dia mungkin bisa mengajari Erish tentang sihir. Kenapa bukan aku? Aku sama sekali tidak tahu dasar-dasar sihir! Hei! Ini semua kekuatan yang aku dapatkan secara instan! Dan juga, mungkin Daisy dan Ray bisa menjadi pasangan yang cocok.


Selama aku di Desa Sige, seluruh penduduk berusaha menahan keinginan mereka untuk memujaku. Sebagai gantinya, aku memberikan item baru untuk mereka.


Hari sudah malam. Aku harus segera pulang. Sudah waktunya membangunkan mereka.


"Purification." Aku merapalkan sihir suci untuk menghilangkan efek sihir yang ada pada mereka.


*Cling Cling


"Huh ... Apa yang terjadi?" Wyatt orang pertama yang bangun.


"Kau sudah sadar, Wyatt?"


"Nona Alissa? Huh ... Begitu, ya, kami kalah,"


"Kalian sudah berusaha dengan baik,"


Aku mengulurkan tanganku dan memberi mereka drop item dari Bos Dungeon.


"I-ini? Apa kau yang mengalahkannya?"


"Aku hanya sedikit beruntung,"


"...." Wyatt hanya terdiam.


"Ambilah, aku tidak membutuhkannya,"


"Kau yakin?"


"Apa aku harus mengulanginya?"


"Huh ... Baiklah, terima kasih, Nona Alissa." Wyatt berdiri dan duduk di sebelahku.


Apa yang dia lakukan?!


"Nona Alissa, aku minta maaf karena sudah mencoba menjebakmu,"


Ternyata ini.


"Karena keserakahan Party ini, kami ingin menguasai semuanya, drop item milik Bos Dungeon mustahil bisa didapatkan,"


"Lupakan saja itu, aku juga tidak tertarik dengan semua item itu,"


"Sekali lagi aku ingin berterima kasih kepadamu. Sebelumnya, aku mengira kau menggunakan nama Hart hanya untuk menyombongkan diri saja, ternyata kau memang orang dari keluarga Hart,"


Heh ... Hart? Apa yang dia katakan?


"Eheem ... Baiklah, kalian langsung laporkan ke Guild tentang Dungeon ini, mungkin kalian bisa naik rank,"


 --------------------------


Aku meninggalkan mereka di Desa Sige. Semua selain Wyatt masih dalam kondisi lemah. Fisik Wyatt benar-benar kuat.


"Teleportation."


Aku kembali ke Ibukota.


Huaaaaaah ... Akhirnya bisa kembali ke tempat tidur!


[A-ali- Yang Mulia,]


Suara ini? Erish.


[Erish, ada apa?]


[Apa Anda tidak akan membawa Saya lagi?]


Ada apa dengan wanita ini?


[Fokuslah untuk menaikan level, aku akan membawamu nanti,]


[Baiklah,]


"Haah ... Aku ingin segera tidur."


A. Misi


Hart. Hart. Hart.


Semua tentang Keluarga Hart! Aku menjadi seperti ini karena Keluarga Hart! Apa yang mereka lakukan sehingga Gereja Suci ingin aku membunuh orang dari Keluarga Hart?!


"Aku tak peduli, tujuanku hanyalah level up,"


Akan aku buat acara besok menjadi semakin meriah.


Bersambung ....