The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Keputusan Sulit



Chapter 54 : Dia Kembali


Abigail mengajak Delila dan Daisy melihat-lihat kota tempat para Sekte Hitam berada. Tak jauh berbeda dengan kota-kota lainnya, hanya saja kota ini terletak di dalam gua raksasa yang sangat rahasia, bahkan Kekaisaran menghilangkan tempat kota ini di peta.


Delila sama sekali tidak memperdulikan keadaan kota, begitu juga dengan Daisy. Mereka berdua masih sangat kesal dengan perlakuan Abigail sebelumnya.


Mereka mulai memasuki area ramai, aktivitas berjalan layaknya kota pada umumnya, namun perbedaan kali ini terlihat dari pakaian orang di tempat itu. Mereka mengenakan jubah hitam.


Ketika Abigail menginjakkan kakinya ke jalan umum, pandangan orang-orang di sana langsung tertuju padanya. Mereka semua serentak menundukkan kepala di hadapan Abigail.


"Mereka sangat menghormatimu, ya." Delila yang diam tiba-tiba berbicara.


Hal itu sedikit mengejutkan Abigail. Siapa sangka orang dengan wajah tanpa ekspresi sepertinya memulai percakapan? Tapi orang seperti itu benar-benar ada di hadapannya.


"Karena posisiku yang merupakan pimpinan di tempat ini, tak ada alasan bagi mereka untuk tidak hormat padaku."


Mereka terus melanjutkan perjalanan sampai tiba di suatu tempat. Sebuah bangunan besar berwarna hitam. Bagian atasnya tidak terlihat karena minim pencahayaan, namun bagian bawahnya terlihat seperti istana.


"Ayo kita masuk." Abigail membukakan pintu istana tersebut.


Suana istana terlihat sepi, hanya beberapa orang berlalu-lalang di sekitar ruangan. Delila merasakan sesuatu yang tidak asing dari tempat ini, ia merasa seperti di rumah.


"Apa Ibu yang membuat tempat ini?"


"Benar. Bisa dibilang istana ini juga bagian dari diri Beliau."


Mereka masuk ke ruang takhta. Desain ruang takhta juga hampir mirip dengan yang ada di dungeon, memilik nuansa merah gelap, dan tujuh tangga menuju singgasana. Mereka bertiga diam sejenak sambil melihat ke singgasana.


Delila melihat sosok Keres yang duduk di singgasana. "Ibu?" Itu kata yang langsung terlintas di pikirannya.


"Terkadang aku juga melihat bayangan Yang Mulia. Sampai hal itu membuatku gila sampai ingin menduduki singgasana itu."


Abigail sering duduk di singgasana itu. Para pengikut yang lainnya memandang tinggi Abigail, hal itu turut andil atas obsesi yang dialaminya.


Daisy juga merasakan hal yang sama. Ia mengingat moment saat pertama kali bertemu dengan Keres saat event dungeon undead.


------------------------------


Dungeon undead. Keres dan Daisy berhadapan satu lawan satu.


"TIDAK KUSANGKA ADA MAKHLUK LEMAH YANG BISA SAMPAI KE TEMPAT INI," ucap Daisy.


"Wahana ini tidak terlalu menyenangkan, sekarang aku tahu kenapa undead tidak pernah membersihkan rumahnya."


"ITU AKAN MENJADI KATA-KATA TERAKHIRMU, MAKHLUK LEMAH!" Tubuh Daisy seketika ditutupi oleh zirah yang terbuat dari tulang naga, dan juga memunculkan aura hitam yang membentuk menjadi pedang di tangannya.


"Kukukuku, aku penasaran." Mata Keres bersinar terang.


Daisy merasakan aura yang sangat mengerikan dari Keres.


Dari seluruh penantang yang mencoba menaklukkan tempat ini, hanya dia yang bisa membuatku sangat waspada.


Pertarungan yang membuat adrenalin Daisy terpicu.


"AKU AKAN MELAWANMU DENGAN KEKUATAN PENUH!" Daisy menyiapkan sihirnya. "SUMMONING: SKELETAL DRAGON'S!"


Ratusan naga tengkorak bangkit dan langsung menyerang Keres. Daisy juga terbang melesat di antara naga tengkorak sehingga keberadaannya tidak diketahui.


Di saat yang bersamaan, Daisy juga menyiapkan sihir lainnya. "The Skeleton Spear of Darkness." Ratusan Death Knight muncul dari segala sisi mengelilingi Keres, para Death Knight memegang tombak tulang yang diselimuti aura hitam.


"Ini pertama kalinya aku melihat NPC menggunakan kekuatan penuh di awal pertarungan. Apa karena aku mencemoohnya barusan?" gumam Keres.


Death Knight dan Skeletal Dragon menyerang Keres secara bersamaan.


Keres tersenyum dan berkata, "Ini memang mengejutkanku, tapi ... ini masih belum cukup untuk melukaiku."


*Duuuaaar!


Daisy yang melihat kesempatan langsung masuk ke dalam kepulan asap, menyerang bagian yang telah ditandai oleh undead-nya.


*Bush!


Seluruh area terbakar oleh api hitam yang berasal dari pedang Daisy. Serangan berhasil dilancarkan tanpa kendala, namun ....


Daisy tersadar jika serangannya tertahan oleh sesuatu, sebuah perisai suci menahan pedangnya.


"BAJINGAN! KAU MEMILIKI ATRIBUT GELAP, KENAPA KAU BISA MENGGUNAKAN SIHIR SUCI?!"


"Aku datang dengan persiapan." Zirah suci langsung melapisi tubuh Keres. "Entah seperti apa kekacauan yang akan terjadi jika aku melawanmu dengan atribut gelap. Aku mengakui kekuatanmu, Daisy Maphas."


Keres menarik Durandal dari ruang penyimpanan dan langsung menusukkannya ke arah dada Daisy.


"AKAN KUBUNUH KAU!" Daisy menyiapkan bola api hitam raksasa di belakang Keres, bola api hitam itu memancarkan cahaya ungu di bagian tengahnya. "KITA LIHAT SIAPA DULUAN YANG AKAN MATI!"


*Duaaaaar!


Ledakan dahsyat tak terelakkan. Sebuah ledakan yang bisa menghancurkan sebuah pulau besar tanpa sisa. Dungeon menetralisirkan seluruh efek ledakannya menjadi skala kecil.


Beberapa saat kemudian, kepulan asap bekas ledakan perlahan memudar. Terlihat dua sosok bayangan dari dalam kepulan asap, satu orang sedang terduduk sambul menundukkan kepala, sedangkan satu orang lainnya sedang menghunuskan pedang ke arah orang tersebut.


"Kontrak berhasil dibuat."


----------------------------


Itulah kenangan saat pertama kali Daisy bertemu Keres. Melihat singgasana di hadapannya, ia teringat pada saat pertama kali memasuki ruang takhta di dungeon bawah tanah. Keres duduk dengan sangat elegan, Daisy dan dua belas NPC berlutut di hadapannya. Anggapan Daisy yang menyebut Keres pengecut karena mengalahkannya dengan sihir suci langsung terbantahkan. Keres yang duduk di hadapannya memiliki aura gelap yang jauh melebihi dirinya.


Ada hal lain yang Daisy sadari, yaitu ....


Ruang takhta ini, ratusan kali lebih mengerikan dari ruang takhta yang ada di dungeon bawah tanah.


Daisy merasakan sensasi mencekam ketika energi gelap masuk ke tubuhnya, berusaha mengendalikannya. Dengan level-nya sekarang, sulit bagi Daisy untuk menahan kesadarannya.


"Release." Delila menyentuh pundak Daisy dan mengalirkan Mana-nya.


Daisy langsung tersadar saat itu juga, energi gelap yang masuk ke tubuhnya langsung menghilang.


"Aku ingin Beliau menunjukkan diri di hadapan para pengikut lainnya. Mereka hanya mendengar Beliau melalui cerita ratusan tahun lalu, tak ada yang pernah melihat sosok mulianya sampai saat ini," ucap Abigail..


"Keselamatan Ibu yang utama, kekuatan Ibu masih belum pulih."


"Kau benar, kita saja mungkin akan melewatkan sesuatu sebelum kejadian buruk datang. Tapi, aku jamin Yang Mulia tidak akan mendapatkan ancaman apa pun karena kekuatannya yang melemah."


Delila terdiam sejenak untuk memikirkan keputusan yang ingin ia ambil.


Walau Ibu menyetujuinya, pasti Ibu tetap akan membutuhkan saranku dan Daisy.


Melihat wajah Abigail yang sangat menyedihkan, Delila hampir kehilangan kendalinya dan ingin berkata, "Iya".


"Ini bukan waktu yang tepat, aku akan meminta Ibu memikirkannya lebih matang."


Abigail menghela napas, terlihat ekspresi kecewa di wajahnya. "Yah, baiklah, aku tidak akan mencoba mempengaruhi Yang Mulia."


*Bum!


Seketika aura mengerikan langsung menusuk tubuh ketiganya. Mereka secara bersamaan langsung jatuh terduduk karena tidak kuat dengan tekanan yang diterima.


"Aura ini ...." Ketiganya langsung tahu siapa pemilik aura mengerikan ini. "Ibu." "Yang Mulia." "Master."


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!


TONTON IKLAN DI HADIAH :)