
A. Keputusan
[Bagaimana menurut Anda, Master?]
Sedikit melenceng dari tujuanku, tapi siapa sangka dia benar-benar membangkitkan kekuatan penuhnya? Tidak sia-sia aku memberikan pedang itu pada rekannya di masa lalu.
[Kurasa kita bisa segera mengakhiri turnamen ini, Daisy.]
[Apa Anda yakin?]
[Perubahan rencana. Mereka berdua lebih berguna dari yang kuduga. Tapi, aku memerintahkanmu untuk selalu mengawasi Zain.]
[Baik, Master.]
Chandra memberitahu panitia bahwa dia ingin mundur dari pertandingan. Seperti yang dilaporkan Glenn, sepertinya dia salah paham dengan Zain. Melihat pertarungan Zain tadi, mungkin membuatnya semakin tidak percaya diri. Padahal aku yakin dia bisa memberi perlawanan yang layak bahkan melawan Zain yang sekarang.
Zain juga belum bisa menguasai penuh kekuatan Dark Hero miliknya. Terutama Rac Sword yang sengaja kuaktifkan, ternyata mereka beresonasi satu sama lain.
Setelah turnamen.
Aku kembali ke istana.
Zain dan Chandra tetap bertarung, tapi itu bukan mereka yang sebenarnya, melainkam doppelganger. Walau sedikit membosankan, setidaknya penonton tidak terlalu menyoraki mereka.
"Nona Hart." Zain mendatangiku.
"Apa kau ingin mengambil hadiahmu?"
"Tidak. Pertarungan itu bahkan tidak pernah terjadi. Aku tak berhak mendapatkannya."
"Lalu, ada perlu apa kau ke sini?" tanyaku sembari melirik ke pintu ruangan tempat kerjaku.
Para maid mengawasi dari jauh, termasuk si kembar.
Huh, bahkan mereka tetap waspada walau Zain orang dari dalam kerajaan.
"Aku sedikit penasaran. Apa kau melakukan sesuatu padaku saat pertandingan sebelumnya?"
Sudah kuduga dia akan bertanya soal ini.
"Tidak. Aku hanya memeriksa pedangmu."
Zain terdiam sejenak memikirkan sesuatu.
"Kalau begitu, apa aku bisa menguasai pedang ini sepenuhnya?"
"Itu tergantung, pedang itu akan mengakui kekuatanmu jika layak."
Aku tidak berbohong. Pedang itu memang tidak terlalu berharga bagiku, karena aku tak cocok menggunakannya. Walau aku memiliki atribut gelap, tetap saja pedang itu tidak bisa menerimaku sepenuhnya. Tapi, reaksinya lain ketika Zain yang menggunakannya.
"Apa kau bisa memberiku petunjuk?"
"Maaf, aku juga tidak memiliki petunjuk apa pun."
"Baiklah." Zain hendak pergi meninggalkan ruangan, namun dia tiba-tiba berhenti. "A-apa aku boleh bertanya satu hal lagi?"
Aku mengangguk.
"Apa Anda ...."
Apa?
"Tidak. Maaf, sudah menganggu." Zain mengurungkan niatnya untuk bertanya dan pergi meninggalkan istana.
Apa dia menyadariku? Tidak, semoga dia tidak menyadarinya secepat ini.
Aku bersandar pada kursi empuk di meja kerjaku. Kursi yang sangat nyaman hingga bisa menekuk ke belakang untuk meregangkan pinggangku.
"Masuklah, Elina."
Elina masuk ke ruanganku sendirian.
"Ibu, apa tidak apa-apa membiarkan Zain yang masih dikuasi oleh sisi gelap dari gelarnya sebagai Dark Hero?"
"Cepat atau lambat, gelar itu akan segera mempengaruhinya juga. Sekarang semua tergantung padanya. Dengan bantuan Rac Sword, kemungkinan dia bisa menguasainya dalam beberapa minggu."
"Seperti yang diharapkan dari Ibu. Memberinya sebuah pedang bahkan sebelum gelar itu muncul padanya."
Apa yang diharapkan? Semua itu kebetulan! Aku hanya ingin memata-matainya melalui Rac Sword kala itu.
"Eheeem ... sudahi basa-basinya, sekarang masuk ke pembahasan utamanya. Turnamen ini tidak berjalan sesuai dengan rencanaku, tapi kita malah menemukan rute baru yang bahkan jauh lebih baik."
"Ibu benar. Tujuan turnamen sebenarnya adalah untuk menjadikan Zain sebagai icon di Kerajaan Penyihir Maphas dengan nama Wither. Rencana untuk menunjukkan betapa superiornya kekuatan kita pada musuh dengan memberikan pedang magis hanya melalui turnamen biasa."
"Kau benar."
Tidak, itu tidak sepenuhnya benar. Aku hanya ingin mempromosikan pedang baru buatan para dwarf untuk memasarkannya sendiri tanpa perantara Asosiasi Perdagangan Luxtier. Pada akhirnya gagal total karena kedua doppelganger itu bertarung seimbang tanpa pemenang. Tak mungkin aku berkata begitu, 'kan?!
Beruntungnya aku mendapatkan sesuatu yang lebih penting dari itu.
"Sesuai perintah Ibu, ada banyak mata-mata yang masuk ke kerajaan karena kita tidak melakukan pemeriksaan yang ketat."
"Berkat itu juga kita kedatangan tamu yang tak terduga," lanjut Elina.
Para penyembah Satan.
"Apa yang sedang mereka lakukan saat ini?"
"Menurut laporan Selene, mereka terlihat panik karena iblis yang sempat mengikuti turnamen itu ada dalam genggaman kita. Tapi, mereka masih terbuai dengan fasilitas yang ada di kota, terutama soal makanan."
"Lalu, tentang iblis itu?"
"Rhea sedang membedah tubuh iblis itu."
Yah, dia juga ahli dalam bidang ini. Terlebih lagi, aku tak menduga para pemuja Satan itu hanyalah kumpulan orang bodoh.
Aku berdiri dari tempat dudukku, berjalan menuju jendela yang menghadap langsung ke kota.
Transformasi iblis itu mirip dengan para pengikut Satan yang berubah dengan bantuan potongan tubuhnya. Tapi, iblis itu tak sekuat mereka. Masalah utamanya adalah aku tidak tahu metode seperti apa yang mereka gunakan untuk bertransformasi tanpa terdeteksi oleh kami. Ini sangat berbahaya jika mereka bisa merubah orang lain di kerajaanku dengan mudahnya.
"Jangan biarkan para pengikut Satan itu melakukan kontak dengan penduduk."
"Baik, Ibu."
Gereja Suci tidak mengirim mata-mata tambahan walau aku sudah membuka gerbang lebar untuk mereka. Tak ada prajurit sewaan mereka seperti Chandra. Sepertinya mereka percaya pesan palsu yang kami kirim.
"Hmmmm?" Aku melihat Elina yang masih berdiri di tempatnya sembari menatapku penuh harap.
Apa yang dia inginkan?
"Apa kau butuh sesuatu, Elina?"
"T-tidak, Ibu. Saya pamit undur diri."
"Kerja bagus."
"M-maaf?"
"Kerja bagus, karena telah melakukannya dengan baik."
"I-itu sudah pasti. Saya akan lebih giat agar Ibu sering memuji-- maksud Saya, merasa puas!" Elina langsung pergi meninggalkan ruangan.
Sekarang ....
"Teleportation." Aku berteleportasi ke sebuah rumah di Desa Liche.
Ada beberapa orang yang sedang berlutut di hadapanku.
"Selamat datang, Yang Mulia." Mereka adalah Erish dan para bawahannya.
"Angkat kepala kalian."
"Baik!"
Aku hanya sebentar ke tempat ini, karena wanita yang bernama Eline ada di sini.
"Majulah!" Bawahan Erish menyuruh Eline maju mendekat padaku.
Dia terlihat sangat gugup. Sebelumnya aku sudah memberikan item yang kutanamkan di tubuhnya, sebuah item yang memiliki kemampuan unik, yaitu kemampuan yang bisa menyalin skill selama sekali dalam seminggu. Nama item itu adalah Manha.
Alasanku menempatkannya di Desa Liche adalah untuk bergabung ke pasukan yang kupimpin tanpa sepengetahuan para NPC. Erish sudah bergabung dengan pasukan elit yang dipimpin Selene, aku membuatnya merangkap dua keanggotaan secara khusus tanpa sepengetahuan Selene.
"Bagaimana keadaanmu, Eline?"
"Saya merasa lebih kuat dari sebelumnya. Semua karena Anda yang memberikan kekuatan pada Saya."
"Itu tidak masalah. Jadi, bagaimana sensasinya melawan Zain?"
"Kekuatannya terus meningkat, Saya tidak bisa bertahan lama jika terus bertarung dengannya. Kemampuan Zain yang sangat berbahaya adalah api hitam misterius di tangannya."
Dark Hero memiliki skill misterius. Api hitam itu mungkin sebanding dengan api hitamku, dan dia akan terus menjadi kuat mulai sekarang. Aku juga sedikit ragu melawannya dalam kondisiku yang seperti ini.
"Kau tak sempat melakukan balasan karena itu, ya?"
"M-maafkan Saya, Yang Mulia! Saya tak berpikir kekuatannya akan semengerikan itu."
"Tak apa."
Aku justru senang jika dia terus dikuasai oleh gelarnya itu. Jika dia terus semakin kuat, bukan tidak mungkin dia bisa bertarung melawan Pahlawan.
"Hmmm ...?" Seseorang menghubungiku.
[Ibu.]
[Ada apa, Elina?]
[Para bedebah itu, kita harus memusnahkan mereka!]
Eh?
Bersambung ....