
Chapter 62 : Menentukan Pilihan
"Tuan Muda, perwakilan Gereja Suci, Tuan Neno telah tiba." Suara itu terdengar dari luar ruangan, tepat di balik pintu.
"Suruh dia masuk."
Pintu terbuka, seorang pria berambut kecoklatan masuk ke dalam ruangan. Wajahnya terlihat jelas, mengenakan satu anting bulu berwarna hijau.
Dia ... Neno?
Justin terkejut melihat rupa Neno yang ternyata masih muda dan tampan. Hal itu langsung membuatnya jengkel seketika.
Justin mengambil kesimpulan setelah Neno menunjukkan dirinya.
Penampilan sebelumnya terlihat seperti orang tua, menutupi wajahnya dengan jubah putih. Dia tak menggunakan penyamaran, aku rasa ini ada hubungannya dengan seberapa penting pembicaraan ini.
"Senang bertemu denganmu, Tuan Justin," ucap Neno dengan nada lembut.
Suaranya sangat lembut untuk seorang pria, Justin berpikir pria ini bukan pria tulen.
Tidak mungkin, orang ini bahkan sangat mendalami perannya sebagai orang tua pemarah sebelumnya. Mungkin ini ....
"Apa aku boleh duduk?" tanya Neno dengan nada serupa.
Justin semakin meragukan kejantanan pria ini.
"Silahkan. Ini mungkin akan menjadi pembicaraan panjang."
"Kalau begitu, apa kau bisa menyuruh semut-semut ini pergi dari ruangan ini?" tanya Neno kembali dengan senyuman.
Justin hampir berdiri dari tempat duduknya setelah mendengar hal itu.
Dia menyadari assassin yang bersembunyi dengan skill tingkat tinggi. Sudah kuduga bajingan ini memang bukan orang sembarangan, mengingat dia pernah memancarkan aura mengerikan saat pertemuan waktu itu.
"Kalian semua, pergilah."
Seluruh assassin pergi keluar dari ruangan tanpa sepatah kata pun. Skill sembunyi tingkat tinggi yang dengan mudah dideteksi orang lain, hal itu sedikit mengguncang mereka.
Justin menyodorkan berkas berisi daftar senjata di atas meja. Ia hanya mengambil sepuluh besar daftar senjata yang merupakan barang terbatas.
Empat di antaranya hasil produksi Kerajaan Penyihir Maphas. Aku sedikit ragu menunjukkan empat senjata ini padanya, terlebih lagi dia meminta harga yang "ramah".
Neno melihat daftar senjata pada berkas itu. Matanya terlihat teliti saat memeriksanya, sikap tubuhnya juga sangat anggun. Sekali lagi Justin meragukan jenis kelamin orang ini.
"Aku hanya butuh ini." None menunjuk ke sebuah senjata yang ada di daftar.
"Ah, itu senjata yang sulit digunakan untuk pertama kali, mungkin kalian harus mulai berlatih dengan giat."
"Senjata kecil ini sangat cocok untuk pertarungan jarak dekat, terlebih lagi bagi assassin. Apa nama senjata ini?"
"Kukri."
Kukri adalah sebuah senjata jenis pisau yang sedikit berukuran lebih besar dari pisau biasa. Memiliki bentuk melengkung dengan bagian membesar dan sangat tajam di lengkungan bagian atasnya. Sebuah pisau yang digunakan untuk menebas dan membuat musuh sekarat dalam sekali serang, bahkan mati seketika.
Ini pisau yang sangat mengerikan, aku pernah melihat bekas tebasan yang kemungkinan bekasnya akan sangat sulit untuk dijahit kembali, bahkan butuh ekstra Mana yang lebih hesar bagi para penyembuh untuk menyamarkan bekas lukanya. Salah satu mahakarya kerajaan undead itu.
Justin tersadar akan sesuatu.
Tunggu, dia bilang untuk assassin? Dia meminta harga lebih murah dengan sebuah keuntungan lain untukku. Kemungkinan Gereja Suci tak tahu apa pun tentang ini, tidak, dia secara terang-terangan mengajukan pertemuan ini tepat di dekat pengawalnya yang merupakan orang Gereja Suci.
"Kau tak perlu berpikir keras seperti itu, Tuan Justin." Neno mendekat ke arah Justin. "Aku akan memperkenalkan diriku secara resmi mulai sekarang. Namaku adalah Eiden Reiya, lebih dikenal sebagai Saint Penumpas."
"Eh?" Justin terdiam seribu bahasa setelah mengetahui identitas Neno yang merupakan seorang saint.
Aku tidak salah dengar, Saint Penumpas? Saint terkuat di antara dua belas saint yang kini tersisa sebelas saint. Saint Penumpas terkenal dengan kekuatan tempur yang setara dengan seribu prajurit elit kerajaan. Dia mampu melawan naga, namun itu hanya rumor karena dia tak ikut penumpasan naga waktu itu. Dia digambarkan dengan sosok yang gagah, tapi ini ....
"Eheem ... aku tak menyangka Saint Penumpas datang sendiri ke pertemuan ini."
Tidak salah lagi, dia asli.
"Aku sedang mencari sesuatu di sini," ucap Eiden.
"Siapa yang kau cari?"
"Pria yang menamai dirinya Red Own."
Justin menyipitkan matanya, menaruh kecurigaan pada Eiden.
Justin bingung ingin menjawab apa, ia ragu jika saint memiliki niat buruk pada Red Own.
"Keraguanmu terlihat jelas di mataku." Eiden milihat Justin dengan tatapan menggoda. "Tenanglah, aku tak bermaksud buruk. Aku memiliki urusan dengannya, tentu saja bisnis. Kami sempat berbincang dulu, tapi aku kehilangan jejaknya tepat setelah dia menawarkan sesuatu padaku. Namun, aku menerima informasi dia ada di sini."
Dia pasti berbicara soal caoy.
Dengan sigap Justin melempar sebuah bungkusan ke meja. Dia terlihat bangga dan percaya diri melakukan hal itu.
Tak akan kubiarkan kau bertemu dengan Tuan. Hanya orang sepertiku yang berhak menemuinya.
"Oho, benar, benda ini yang pernah dicoba oleh bawahanku. Jadi dia benar-benar ada di sini, ya?"
Justin menggelengkan kepalanya. "Tuan Red Own baru saja meninggalkan kota kemarin, namun aku sudah membuat kesepakatan berbisnis dengan benda ini."
Tentu saja Justin berbohong karena kebanggaannya.
Eiden menghela napasnya, wajahnya terlihat muram. "Sayang sekali, padahal dia tipeku."
Justin semakin geli melihat kelainan yang Eiden miliki.
"Yah, itu tak masalah, benda ini memang yang kucari."
Justin tak mengerti, caoy tak memiliki efek yang berguna untuk pertempuran, justru hanya barang yang digunakan untuk keluar dari "kenyataan" untuk sementara waktu. Namun efeknya memang sangat berpengaruh, bahkan pada petualang rank S seperti Alissa Hart yang pingsan beberapa saat setelah menggunakannya.
Aku tak peduli tentang itu, kini aku bisa menyebarkan caoy ke kerajaan lain melalui Eiden. Aku akan kaya dan mungkin bisa membuat Kota Penengah menjadi sebuah kerajaan.
Justin memberikan kertas kosong pada Eiden. Sebuah kesepakatan antar pembeli dan penjual. Penjual akan memberikan kertas kosong pada pembeli yang ingin membeli banyak pada satu macam barangnya. Pembeli akan menawarkan harga terbaik hingga keduanya sepakat.
Cara ini memang lazim dalam perdagangan, hal ini untuk menghilangkan kecanggungan agar kedua belah pihak merasa bebas menulis harga hingga sepakat. Berbicara hanya membuang waktu, bertele-tele, dan persentase batal meningkat. Maka dari itu kertas kosong adalah cara yang langsung berfokus pada poin utama.
Kesepakatan dibuat.
"Ini harga yang bisa kutawarkan saat ini."
Justin sedikit terkejut dengan nominal yang ditawarkan. Ia mengira Eiden tak memiliki cukup harta untuk melakukan hal ini. Tapi perkiraannya salah.
Sepertinya dia tak hanya mengandalkan otot untuk mencari uang.
"Baiklah, kita sepakat."
Kesepakatan pun dibuat. Mendistribusikan caoy ke luar wilayah berjalan sukses berkat bantuan Eiden. Justin tak perlu lagi repot-repot untuk mengelabui para petinggi.
Eiden mengambil kertas tawaran yang sebelumnya mereka isi, ia menulis sesuatu di balik kertas yang masih kosong itu.
Justin penasaran dengan apa yang ditulis orang itu, sampai Eiden kembali memberikan kertas itu.
"Inilah fungsi caoy yang sebenarnya, aku menuliskan cara kerjanya di sini, kau harusnya bisa menggunakannya di saat genting," ucap Eiden.
"Apa ini benar-benar nyata?"
"Tergantung keyakinanmu."
Bahkan Tuan Red Own tidak memberi tahuku tentang ini. Entah kenapa, aku seperti kalah telak dengan orang ini.
Eiden berdiri dari tempat duduknya. "Baiklah, aku akan undur diri, Tuan Justin. Tak baik jika aku terlalu lama di tempat ini. Kau bisa mengirimnya melalui bawahanku yang akan menetap di sini."
"Terima kasih atas kerja samanya, Saint Eiden."
Eiden tersenyum sembari menggenggam benda kecil di tangannya. Tak lama kemudian lingkaran sihir muncul di bawah kakinya dan membawanya pergi dari tempat itu.
"Item teleportasi, ya? Sepertinya dia benar-benar meninggalkan kota ini."
Justin menghela napas dan bersender di sofanya. "Sungguh melelahkan. Hmmm ... di mana dua orang bodoh itu? Aku tak menerima kabar dari mereka sejak pagi tadi."
Ekspresi Justin berubah, ekspresi yang dipenuhi nafsu dan keserakahan. "Aku benar-benar sangat menantikanmu, Alissa Hart. Kali ini aku pasti benar-benar bisa menikmatimu seutuhnya."
Di tempat lain, Eiden muncul di suatu ruangan yang minim pencahayaan. Ratusan orang berdiri dalam sikap siap di hadapannya.
Eiden tersenyum haru, tapi apa yang ada di kepalanya berbanding terbalik dengan senyumannya.
Aku pasti bisa menggesermu dari posisi teratas, Saint Luna.
Bersambung ....