
"KAKAK, INI TIDAK AKAN SAKIT, KOK." Justin mengepalkan tangan kanannya. Mana yang besar berkumpul di tangan kanannya.
Justin mengarahkan pukulan telak ke arah Saraya. Namun, sebelum pukulan itu mengenainya, Rista membelokkan pukulan Justin ke sisi lain. Hal itu membuat jalur udara yang memanjang karena pukulan itu.
"Sadarlah, Saraya!" teriak Rista sembari menahan rasa sakit di tubuhnya akibat terkena bilah aura tak terlihat milik Justin.
Rista juga menyadari kekuatan unik Justin dari Rasta sebelumnya, ia sudah menerima konsekuensinya. Beruntung ia hanya menerima luka gores berkat ketahanan tubuhnya.
Depress yang terbuat dari tubuh bawahan Saraya tak tinggal diam. Ia mengubah dua tangannya menjadi bilah pedang, dan langsung menyerang kedua wanita itu.
Rista terlihat panik, langkahnya sudah mati, tak ada kesempatan untuk kabur.
"Huh?" Rista melihat Saraya yang menyentuh kakinya.
*Wush!
Kedua bilah pedang raksasa itu ditebaskan ke arah mereka, bahkan membelah tubuh Justin menjadi dua karena ia masih berada di sana.
Saraya dan Rista berpindah ke tempat lain. Rista sedikit terkejut dengan tindakan Saraya.
Kapan dia melempar senjatanya? Apa aku melewatkan sesuatu.
Kebenarannya, Saraya sudah melemparkan pedangnya ke sembarang tempat, sejauh mungkin dari tempat mereka tepat sesaat ia menjauh dari Red Own.
Di sisi lain, Saraya masih terpukul dengan kejadian sebelumnya. Itu terlihat dari napasnya yang masih terengah-engah. Jika tidak memikirkan keselamatan Rista, kemungkinan besar ia akan menerima serangan itu tanpa perlawanan.
"Saraya, tak peduli apa yang akan kau lakukan, takdirmu sangat menyedihkan," ucap Red Own yang meninggikan suaranya.
Sebaiknya aku menahan maid merepotkan itu terlebih dahulu.
Sebuah dagger menempel di leher Red Own, asalnya dari arah belakang.
"Aku benar-benar hampir melupakanmu." Red Own terlihat tenang tak panik sedikit pun.
Orang yang menahannya adalah Rasta. Tubuh maid itu masih diselimuti Shadow Armor.
"Hmmm ... Shadow Armor, ya? Tapi, di mataku itu terlihat seperti api hitam yang membakar tubuhmu."
Rasta semakin menekan daggernya ke leher Red Own, kemudian ia berkata, "Ini memang terlihat menyedihkan bagimu--"
"Baiklah, baiklah, perlihatkan kekuatanmu padaku, maid assassin." Red Own memotong perkataan Rasta. Tak lama kemudian, Rasta melepaskan Red Own.
Sesuai dugaan, Red Own berhasil membuat wanita itu kesal dan tertantang.
"Majulah!" Red Own sudah bersiap di posisinya.
Rasta melebarkan jaraknya di antara mereka. Shadow Armor di tubuhnya terlihat membara seolah ikut terbawa suasana sepertinya. Maid itu mengangkat kedua tangannya ke depan, tak lama setelah itu munculah lima bayangan hitam panjang yang menuju ke tempat Red Own.
Bayangan hitam itu terlihat seperti tentakel, namun memiliki bentuk seperti pedang. Red Own menepis lima serangan itu dengan tangannya yang diselimuti penlindung tak terlihat. Semua itu percuma, bayangan hitam itu kembali berbelok menyerangnya. Bahkan mereka terus kembali walau dalam posisi yang mustahil untuk menyerang.
Satu kesimpulan yang didapat Red Own.
Bayangan hitam ini tak memiliki batas panjang. Mereka melakukan segala cara agar bisa kembali walau sudah kutepis ke arah berlawanan.
Rasta tak tinggal diam, ia berlari sangat cepat. Red Own menepis seluruh serangan bayangan miliknya. Menurut Saraya, sangat aneh jika tak ada satu serangan pun yang mencapai tubuhnya.
Bajingan ini hanya bisa menutupi dua bagian tubuhnya, sudah pasti dia menutupi kedua tangannya untuk menangkis maupun menyerang.
Red Own berputar dengan sangat cepat, tangannya mengikuti ke mana serangan bayangan Rasta.
Di tempat lain, Rista benar-benar terkejut melihat kecepatan reaksi dari Red Own.
Aku dan Saraya menemukan kelemahannya, serangan ke tiga seharusnya tak bisa dia tepis. Sekarang, bahkan dia bisa menepis lima serangan sekaligus. Berapa banyak yang kau sembunyikan, Red Own?
Rista masih sibuk di sini, ia harus mengurus Saraya yang mentalnya masih belum pulih, dan mencari cara mengalahkan depress abnormal yang memotong tubuh Justin.
"ITU SANGAT MENYAKITKAN, SIALAN!" teriak Justin pada depress yang memotongnya.
Depress abnormal tak merespon Justin, ia hanya diam dengan suara napas yang terdengar jelas.
Dua potong tubuh Justin perlahan mendekat.
*Cizz
Percikan listrik terlihat di bagian ujung tubuh Justin, pergerakan Justin terhenti.
"APA INI?!" Justin terlihat panik karena proses penyatuan tubuhnya berhenti.
Rista langsung mengerti kenapa hal itu terjadi. Untuk memastikan, ia melirik Saraya yang ternyata sedang mengaktifkan skill miliknya.
Wanita itu menahan penyatuan tubuh Justin dengan aliran listrik. Cara itu benar-benar bekerja.
Saraya perlahan bangkit, wajahnya masih tersedu-sedu. Itu menunjukkan seberapa besar kesedihan yang ia alami, namun wanita itu berhasil bangkit dengan menyisahkan sedikit penyesalan.
"WAH, WAH, KAKAK SUDAH SELESAI MENANGIS, YA?"
*Crack!
Leher Justin tiba-tiba terpotong. Tak ada yang melihat kapan dan siapa yang memotong lehernya tersebut. Satu hal yang pasti, Justin tak bisa berbicara saat ini.
Rista melihat Saraya yang tak menunjukkan gerakan apa pun, jika dia sangat cepat, tentu masih mustahil untuk melakukan gerakan yang bahkan tak bisa diikuti matanya. Tapi, Rista yakin gerakan itu dilakukan oleh Saraya, karena ia merasakan energi yang meluap-luap dari tubuh wanita itu.
"Saraya, apa kau menggunakan seluruh energi kehidupanmu?" tanya Rista.
"Tidak. Aku hanya mencoba menerima kenyataan."
Rista tak yakin dengan jawaban Saraya, tapi ia yakin Saraya akan melakukan serangan habis-habisan setelah ini.
Depress abnormal mengubah enam lengan di tubuhnya menjadi pedang raksasa. Delapan kepala di tubuh depress itu juga terlihat bergetar. Saraya membuat depress itu tertekan dan memilih untuk langsung bertarung melawannya.
"Maafkan aku, anak-anak."
Pertarungan lain.
Rasta memastikan Red Own tak akan bisa menangkis serangannya, seluruh bayangannya menyerang dari segala arah, dan Red Own menangkisnya seperti pusaran angin.
Akhirnya!
Rasta sudah berada tepat dalam posisi rendah di kaki Red Own. Kedua kakinya terlihat cepat, dan juga merupakan ujung tombak dari setiap pergerakannya.
Inilah akhirnya!
Dengan cepat Rasta melesatkan tebasan ke arah kaki Red Own dengan dagger-nya.
*Crack!
Sebuah tebasan berhasil dilancarkan tepat di paha Red Own. Analisa Rasta ternyata tepat, Red Own langsung kehilangan keseimbangannya dan tiga bayangan berhasil menusuk dada dan perutnya, sedangkan dua bayangan berhasil ditangkap olehnya.
"Agh!" Red Own merintih kesakitan karena tusukan telak itu.
Rasta berpindah ke belakang Red Own, ia menargetkan tengkuk leher pria itu dengan maksud menghabisinya.
"Huh?!" Rasta membatalkan niatnya karena para depress liar yang tersisa mengerubunginya.
Sebisa mungkin, Rasta tak ingin membunuhnya, ia hanya melumpuhkan mereka dengan cara melulai bagian vital di tubuh mereka.
Kondisi Red Own terlihat menyedihkan, ia kesusahan berjalan karena luka di kakinya. Depress yang berkumpul langsung menyembunyikan keberadaannya. Rasta benar-benar kerepotan karena tidak bisa membunuh mereka.
Matahari mulai menunjukkan dirinya, sinar matahari pagi menerangi kota itu dalam beberapa waktu.
Sudah pagi?
Red Own mengambil sesuatu dari balik jubahnya. Sebuah kertas kecil yang berisi pola sihir teleportasi. Red Own juga melihat situasi di tempat Saraya, dan hasilnya mengejutkan.
Saraya berhasil melenyapkan depress abnormal yang ia ciptakan.
*Krak!
Red Own merobek kertas itu, lingkaran sihir muncul di bawah kakinya.
Aku sudah menghabiskan banyak Mana untuk mengendalikan para depress, jika ini dilanjutkan, kekalahanku sudah pasti.
"Huh?" Red Own menyadari dagger yang sudah menancap di perutnya.
"Tak akan kubiarkan kau kabur dengan tenang!" Rasta menemukan lokasi Red Own, ia melempar dagger itu mengenai perut Red Own.
"Sial," gumam Rasta.
Rasta hampir kehilangan keseimbangannya karena Mana miliknya hampir habis. Ia terlalu lama menggunakan Shadow Armor. Di sisi lain, para depress mulai mendekatinya, namun ada yang berbeda kali ini. Gerakan mereka aneh, harusnya mereka berlari, namun kini berjalan sempoyongan.
Kulit depress terbakar tanpa sebab. Rasta yang melihat hal itu pun bingung.
"Apa yang terjadi sebenarnya?"
[Apa mereka juga terbakar?] Rista menghubungi Rasta melalui item komunikasi.
[Benar, Kakak.]
[Sepertinya mereka tidak bisa hidup di bawah sinar matahari.]
Mendengar hal itu, Rasta akhirnya bisa bernapas lega sembari memandangi langit.
"Aku ingin mandi."
Di tempat lain, Saraya berdiri sambil menundukkan kepalanya. Di hadapannya adalah bekas tubuh depress dari delapan bawahannya yang sudah lenyap.
"Ka ... kak." Terdengar suara Justin yang memanggilnya dari arah belakang.
Saraya berusaha untuk tidak menoleh dan terus menahan dirinya.
"Ma ... afkan, a ... ku." Perlahan tubuh Justin hangus tak tersisa.
Rista melihat tubuh Saraya yang gemetar. Ia paham apa yang dirasakan Saraya, karena itu dia tak ingin memaksa Saraya.
"Justin." Air matanya sudah tak bisa terbendung lagi.
Seorang Kakak yang menyayangi Adiknya, namun tidak tahu bagaimana cara ia mengekspresikan perasaannya. Pada akhirnya, Adiknya tidak akan pernah tahu seberapa besar sang Kakak menyayanginya.
Rista mendatanginya, ia memeluk Saraya dari belakang dan berkata, "Luapkan semuanya."
Sebuah bukit di luar kota Penengah.
Red Own muncul tepat di atas bukit. Kondisinya sangat kacau, dagger masih menancap di tubuhnya.
"Aku terlalu banyak membuang-buang waktu." Red Own mencabut dagger itu dari perutnya. Ia menahan rasa sakit yang luar biasa, karena dagger itu hampir sepenuhnya masuk ke tubuhnya.
"Bidak-bidakku lenyap, bahkan gagal membuat Saraya menjadi salah satunya."
Hanya satu hal yang belum kulakukan.
Red Own berjalan dengan kaki pincang menuju suatu tempat yang tak jauh dari lokasi dia berteleportasi.
Ada sebuah kertas dengan pola sihir di tanah. Red Own bermaksud ingin mengaktifkan sihir di kertas itu dengan cara memijaknya, dan sihir yang ada di kertas itu adalah ....
"Dengan ini, Federasi akan kehilangan sumber daya mereka." Red Own memijak kertas itu sembari mengalirkan Mana dari tubuhnya.
"Meledaklah!" Red Own merentangkan tangannya. Ekspresi wajahnya terlihat sangat antusias melihat kota di hadapannya akan meledak.
Namun ... kota Penengah tidak meledak.
"A-apa ini?" Red Own terus menginjak-nginjak kertas sihir di kakinya. "Meledaklah!"
"Percuma." Terdengar suara wanita dari arah belakang.
Red Own menoleh ke belakang, ia melihat ada seorang wanita duduk di sebuah batang kayu yang terlihat sudah dikuliti dan sangat bersih, seolah-olah batang kayu itu dikhususkan untuknya.
Aku tidak menyadari keberadaannya.
Matanya fokus pada warna rambut dan sorot mata merah yang tajam, mirip seperti seseorang. Namun, informasi lain menyebutkan ciri-ciri orang yang berpenampilan mirip dengan wanita di depannya.
Sebuah informasi tentang wanita yang memiliki warna rambut kuning keemasan, wanita yang tidak memancarkan aura yang berarti, namun menurut informasi tersebut, mereka tak boleh meremehkannya hanya karena tak ada aura mencolok dari wanita itu.
"Kau ...?" Red Own menurunkan nada bicaranya.
"Butuh banyak waktu untuk memecahkan formula sihir yang kalian tanam di penjuru kota. Orang yang membuatnya benar-benar jenius," ucap wanita itu.
"Alissa Hart." Red Own menyebut nama itu setelah menyimpulkan informasi yang ada.
"Sepertinya aku sangat terkenal, ya."
"Apa yang kau lakukan di sini? Kami tidak ingat pernah menyinggung Kerajaan Penyihir Maphas."
Dan juga, dia berhasil merusak sihir buatan orang itu dalam waktu semalam. Formula sihir sudah jelas berbeda dengan item sihir. Jadi, bagaimana dia bisa memecahkannya dalam kurun waktu semalam?
"Kalian menganggu bisnisku dengan menyerang kota ini."
Aku hampir lupa, walau tidak sebanyak pihak Federasi, mereka juga mendapatkan manfaat dari Asosiasi Luxtier. Tapi, kenapa dia ikut campur sampai sejauh ini? Apa ini sumber daya satu-satunya yang mereka punya?
Di sisi lain, pihak Red Own sudah menerima informasi tentang Kerajaan Penyihir Maphas, namun informasi itu tak terlalu penting karena hanya fokus pada pembangunan kota.
"Aku sungguh meminta maaf karena itu. Tapi, hal ini sangat diperlukan. Jika perlu, aku akan mengganti kerugianmu."
Alissa Hart tak terpancing dengan perkataannya. Ia justru tampak tersenyum seolah menunggu Red Own mengatakan hal tersebut.
"Itu terdengar menarik, kau harus menyiapkan bayaran yang sangat besar."
"Bayaran besar?"
"Pertama, kau hampir merusak bisnisku. Ke dua." Alissa Hart menunjuk ke arah Kota. "Dua maid di sana, kuharap mereka tak terluka karena kejadian ini."
Maid itu bawahannya?! Tenang, tenang, mungkin mereka prajurit bayaran. Karena ada aturan harga sewa akan semakin tinggi jika misi yang diberikan semakin sulit. Itu termasuk luka yang mereka terima.
"Dan ke tiga."
"Ada lagi?"
"Ada dua orang yang mencoba mengeruk informasi di kota Maphas. Tentu saja itu merugikan kami, karena mereka sama saja dengan penyusup."
Red Own tampak terkejut dengan perkataan wanita itu. "A-aku tak paham apa yang coba kau katakan."
Alissa Hart membuat gerakan di mulutnya, sesuatu terucap.
Red Own langsung bersiap mengambil posisi bertarung.
Rasa tidak percaya menyelimuti pikirannya, di luar perkiraannya bahwa Alissa Hart menyebut nama itu.
Dari mana dia bisa tahu?! Pasti ada mata-mata di markas.
Alissa Hart terlihat tak merespon tindakan Red Own. Justru Red Own berharap wanita itu tak merespon tindakannya, karena sesuatu mencoba menahan dirinya agar tidak terlibat pertarungan dengan wanita itu.
Banyak celah, aku bisa menyerangnya kapan saja, tapi tubuhku terasa berat untuk bergerak. Siapa wanita ini sebenarnya?
Sebuah portal muncul di sebelah Red Own.
"Hentikan itu, Red Own." Terdengar suara wanita dari dalam portal. "Kau akan mati melawannya, hanya aku yang bisa mengalahkannya dengan kemampuanku."
Red Own terlihat kesal, tapi perkataan itu memang realita yang harus diterima. Red Own seorang petarung jarak dekat. Menurut rumor, Alissa Hart juga bisa menggunakan sihir tingkat tinggi, dan itu adalah kelemahan Red Own.
"Bahkan kondisimu sangat menyedihkan, misimu hanya menghancurkan kota ini, tapi kau gagal."
Seorang penyihir ruang, kemampuan utamanya adalah mengendalikan portal dan juga bisa menggunakannya sebagai serangan.
"Kenapa kau datang ke sini?" tanya Red Own yang terlihat masih kesal.
"Tentu saja untuk menyelamatkanmu, dan juga mengajukan kesepakatan pada orang di hadapanmu itu."
"Penyihir ruang, ya?" tanya Alissa Hart yang terlihat penasaran.
*Wush!
Alissa Hart dengan cepat menarik pedang dan langsung menebasnya ke arah mereka berdua. Namun, ia hanya menebas angin, kedua orang itu menghilang.
"Kukukuku, kau tampak bersemangat, ya. Aku tak ingin melukaimu untuk saat ini, kami akan datang menjemput dua orang bodoh di tempatmu. Pikirkan kesepakatan ini dengan baik, aku akan menunggu sampai hari itu tiba." Suara wanita itu terdengar entah dari mana.
Alissa Hart kembali menyarungkan pedangnya dan berjalan meninggalkan tempat itu seperti tidak ada kejadian sama sekali.
Bersambung ....