
Malam harinya. Hujan lebat disertai angin kencang menerjang Kota Penengah, angin yang sangat kuat menerbangkan beberapa atap rumah di daerah pinggiran. Rumah yang terbuat dari kayu, sebagian dari mereka yang tinggal di daerah itu adalah rakyat kurang mampu. Mereka berlindung di balik meja hingga bersembunyi di bawah kasur sembari berharap hujan berhenti.
Di sisi lain, tengah kota yang didominasi dengan bangunan kuat dan kokoh. Orang-orang di dalam tempat itu hanya duduk sembari menikmati minuman hangat. Suara hujan membuat suasana menjadi nyaman, dan suara petir yang sesekali muncul seolah membawa mereka pada ketenangan.
Sebuah lorong gelap di salah satu bangunan. Seorang pria sedang duduk bersandar pada bangunan. Tubuhnya basah kuyup terkena air hujan. Pria itu duduk memeluk kedua lututnya sembari menahan dingin.
"Aku mau lagi. Aku mau lagi," ucap pria itu dengan tubuh menggigil.
Ia melihat ke atas, tepat ke arah bangunan di depannya. Sesuatu terlintas di benaknya, ia teringat perkataan pria berjubah misterius yang ditemuinya pada waktu sore tadi.
"Jika kau sudah menghabiskannya, kau bisa mengambilnya sekali dengan merobek kertas ini," kata pria misterius itu.
Kembali ke saat ini.
Pria itu mengambil kertas kecil di balik tas kecil yang terikat di pahanya. Ia langsung merobek kertas itu.
Lingkaran sihir kecil muncul di telapak tangannya. Bersamaan dengan sekantong kecil berisi caoy.
Ekspresi pria itu terlihat senang melihat sekantong caoy yang benar-benar muncul di hadapannya. Ia langsung mendekatkan hidungnya ke kantong caoy itu dan mulai menghisapnya secara perlahan.
"Ah, aku ingat, pria itu bilang ada cara yang lebih menyenangkan." Pria itu mencoba caoy dengan cara yang berbeda.
------------------------
Di tempat lain. Sebuah penjara bawah tanah yang gelap dan lembap.
"Huwaaaaaa!" Terdengar suara teriakan yang terdengar nyaring di sepanjang lorong. Teriakan dari dua orang yang terdengar bertabrakan satu sama lain.
Di dalam sel yang hanya diterangi dua buah lilin. Seorang pria gemuk duduk dengan tangan dan kaki terikat. Sementara seorang pria kurus digantung terbalik dengan kaki terikat di langit-langit ruangan, sedangkan kepalanya terayun di bawah.
Kedua pria itu disiksa oleh dua orang yang ada di dalam sel.
Pria gemuk adalah Ted. Pria kurus yang tergantung adalah Dito, ia sudah tak sadarkan diri sejak teriakan terakhirnya beberapa waktu lalu. Darah bercucuran keluar dari kelopak mata Dito, mulutnya berbusa, dan kulitnya membiru.
"A Four, orang ini sudah mati," ucap pria yang menyiksa Dito dengan sebuah pisau kecil.
"Tak apa, si gendut ini masih hidup, bahkan dia bisa bertahan dari siksaan ini."
A Four menyayat lipatan-lipatan perut Ted secara perlahan. Genangan darah memenuhi ruang sel itu.
"Jawablah, siapa orang di balik penyebaran caoy?" tanya A Four yang terus menyayat perut Ted.
Ted tersenyum, ekspresinya terlihat ingin menantang kedua orang itu untuk terus menyiksanya.
"Kau masih tak mau menjawab, ya?" A Four mengambil batang logam kecil yang bagian ujungnya tipis dan melengkung.
A Four mulai memasukan batang logam itu di sela-sela kuku jari tangan Ted.
"Akan kuberi kau pengalaman yang tak akan pernah kau lupakan, bahlan jika kau mati sekalipun," ucap A Four yang tersenyum jahat.
A Three terlihat memalingkan wajahnya, ia tak berniat melihat penyiksaan seperti itu. Terdengar lucu, karena A Three juga menyiksa Dito lebih parah dari A Four.
Raungan Ted yang menahan sakit terdengar nyaring hingga ke lorong-lorong lainnya di tempat itu. Bahkan suara badai yang terjadi di luar hanya terdengar samar, kecuali suara guntur.
"A Three, A Four, hentikan itu," ucap seorang wanita yang berdiri tepat di balik jeruji.
"Ah, Nona Saraya di sini." Kedua orang itu sedikit terkejut karena tak merasakan keberadaan Saraya sebelumnya.
Seperti yang diharapkan dari pemimpin kami.
Saraya datang ditemani Edward. Respon kedua bawahannya sedikit terganggu dengan kehadiran Edward karena Saraya sering menghabiskan waktu bersama pria itu.
"Mereka sangat setia, bahkan jika kau mencabut jantungnya, kesetiannya tak akan goyah," ucap Saraya.
A Three dan A Four berlutut di hadapan Saraya dan serantak berkata, "Kami bisa melakukan lebih dari ini, Nona."
"Senang mendengarnya." Saraya masuk ke dalam sel, ia mendekat ke Ted yang terduduk lemas dengan sayatan di perutnya serta luka lainnya.
Saraya menarik belati yang tergantung di pinggang A Three. Belati itu memiliki satu ukiran rune.
"Percuma menyiksanya seperti ini, tubuhnya disegel agar tidak memberi tahu siapa yang menyuruhnya," ucap Saraya.
Ketiga orang di tempat itu terkejut.
"Bagaimana Anda bisa tahu, Nona?" tanya Edward.
"Samar-samar aku merasakan aliran Mana yang berantakan di tubuhnya ketika dia hendak mengatakan dalangnya."
Itu tak sepenuhnya benar, Saraya menggunakan item miliknya. Item kecil elastis aneh yang dipasang tepat di bola matanya. Item itu memungkinkan pengguna untuk melihat segel kutukan yang tak kasat mata. Tak ada yang menyadarinya karena item itu tersamarkan oleh mata. Saraya jarang memberitahu item-item kecil seperti ini pada bawahannya.
Saraya mengalirkan Mana-nya ke dalam belati, secara bersamaan satu ukiran rune bersinar kebiruan.
"Ini adalah cara untuk menghapus segelnya. Aku sudah menemukan titik tempat segel itu ditanam di tubuhnya."
"Seperti yang diharapkan, Nona Saraya memang hebat!" Kedua bawahan itu terkagum-kagum.
Saraya bersiap menusuk ke arah leher Ted. Ada segel sihir yang berada tepat di atas kulitnya, dia harus berhati-hati agar tak menusuk lehernya, sangat beresiko jika mengenai sarafnya.
"Nona Saraya! Sesuatu telah terjadi di kota!" Suara itu datang dari seorang penjaga benteng.
Saraya menahan belatinya dan menoleh ke arah pengawal itu.
"Kota diserang!" teriak penjaga itu dengan napas terengah-engah.
"Siapa yang berani menyerang Kota Penengah!" Amarah wanita itu langsung meluap.
Mereka semua langsung bergegas pergi meninggalkan Ted di dalam sel. Sungguh terkejutnya mereka ketika melihat pemandangan dari atas bukit benteng. Dari kejauhan, Kota Penengah menyala terang, itu adalah kebakaran besar. Bahkan hujan deras belum bisa memadamkannya.
"Ada makhluk aneh yang tiba-tiba menyerang kota. Awalnya dia hanya sendiri, namun entah kenapa jumlah mereka semakin banyak," jawab penjaga.
Saraya sedang berpikir tentang apa yang sudah dia lewatkan.
Tak ada musuh yang terdeteksi, bahkan penjagaan di kota sudah sangat ketat. Siapa yang menyerang kota? Apa salah satu dari tamu? Sepertinya tidak.
"A Three, A Four."
Kedua bawahan Saraya langsung bersiap menerima perintah.
"Delapan bawahanku, lindungi warga kota walau harus mempertaruhkan nyawa kalian sekali pun!"
"Dimengerti!" Kedua orang itu langsung bergegas pergi ke kota.
Saraya bersiap-siap menggunakan perlengkapan tempur yang baru saja dibawa oleh penjaga dari dalam benteng. Sebuah perlengkapan tempur kelas tinggi yang berupa zirah perang dan beberapa item penguat.
Zirah hitam yang diberi nama Black Thunder. Walau menutupi tubuhnya keseluruhan, gerakan Saraya akan tetap ringan seperti biasa. Pertahanannya akan meningkat, bahkan zirah ini bisa menetralkan serangan sihir hingga tingkat menengah.
Aku berencana menggunakan perlengkapan tempur ini jika memiliki kesempatan melawan wanita itu. Aku hanya ingin bertarung dengan adil dan menggunakan kekuatan penuhku, tak akan kubiarkan dia berlaku curang.
"Nona Saraya, kita belum tahu masalah utamanya. Kenapa kau menggunakan perlengkapan tempur?" tanya Edward.
"Tidak, ini mungkin akan menjadi malam berdarah. Musuh bisa membuat keributan tanpa disadari oleh siapa pun. Aku yakin mereka bukan orang biasa."
*Duaar!
Kilatan petir menyambar di sekitar Saraya. Hujan semakin deras, tak ada tanda badai akan berhenti.
"Edward, tetaplah di benteng, aku tak ingin kau terlibat," lanjut Saraya.
"Non-- Saraya, aku harus ik--"
Sebelum menyelesaikan perkataannya, Saraya menarik tubuh Edward. Wajahnya mendekat, kemudian ia memberikan sebuah ciuman padanya.
Beberapa saat ciuman itu berlangsung, Saraya pergi dan Edward tak bisa berucap sepatah kata pun.
Sial!
Edward kembali ke benteng dengan ekspresi kecewa. Ia menyuruh pengawal dan para pelayan untuk berlindung di ruang bawah tanah. Ia kembali ke ruangan Saraya sembari memikirkan rencana.
Siapa pelakunya?
Itu yang di pikirkannya saat ini.
Edward mengigit ibu jarinya sambil berpikir. Karena penyerangan datang secara mendadak, mereka tak sempat membuat rencana, dan Saraya tak membawa pasukannya. Ini masalah yang serius.
"Tunggu." Edward menyadari sesuatu.
Penyerangan makhluk aneh terjadi di kota. Tapi, kenap kami yang berada di luar kota tak menyadari gerakan mereka?
"Mereka sedari awal sudah merencanakannya. Ini ulah orang dari dalam kota."
Makhluk aneh yang dimaksud tak mungkin berasal dari luar kota. Ada kemungkinan ....
"Caoy."
Edward berdiri dari tempat duduknya dan hendak pergi ke kota untuk memastikan apa yang terjadi di kota sesuai dugaannya. Ia membuka pintu, namun ada seseorang yang berdiri menghalangi jalannya.
Orang itu adalah pengawal yang memberitahu tentang penyerangan di kota.
"Persiapkan kuda, aku akan pergi ke ko--"
*Bugh!
Pengawal itu menendang perut Edward dan langsung menghempaskannya kembali ke dalam ruangan.
Edward melihat ke arah pengawal itu, kesadarannya perlahan menurun, penglihatannya juga semakin kabur.
Sekarang aku ingat. Orang ini tak basah sama sekali, aneh jika dia tiba-tiba muncul tepat pada saat kejadian. Terlebih lagi bagaimana dia bisa selamat tanpa luka sedikit pun dan menceritakan semua kejadian di kota.
"Khuuk! Kau?!" Edward mencoba bangkit dengan darah yang keluar dari mulutnya.
Pengawal itu tertawa kecil. "Aku sangat ceroboh sebelumnya, tapi tak kusangka kalian semua sangat bodoh."
Tubuh pengawal itu berubah, sebuah energi sihir memakannya dan berganti menjadi sosok lain.
Edward tampak terkejut.
Seorang pria misterius mengenakan mantel penutup berwarna hitam, namun bagian paling mencolok adalah topeng merah yang ia kenakan. Bentuk topeng itu terlihat seperti kera, Edward tak bisa melihat dengan jelas.
"Yah, aku tak perlu memperkenalkan diri, karena kau akan segera mati."
Tubuh Edward gemetar, pupil matanya mengecil karena takut yang luar biasa.
Aku tak ingin mati.
Bayangan seorang wanita muncul di pikirannya.
"Maafkan aku, Saraya."
Orang misterius itu berada di hadapannya dengan sebilah belati. Ia bersiap menusuk Edward dari jarak dekat.
Bersambung .....