
Tubuhku terasa sangat segar dan ringan. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa tidur dengan sangat nyenyak. Aku harus bersyukur karena skill pasif yang selalu menghalangiku untuk bisa tertidur nyenyak kini sudah tidak ada.
Aku bangkit dari tempat tidur, sesuatu terasa aneh di kepalaku. Ternyata itu adalah rambutku yang sedikit berantakan. Ini karena faktor tidur yang sangat nyenyak setelah sekian lama.
"Nyonya, apa Anda sudah bangun?" Terdengar suara seorang wanita dari balik pintu. Suaranya terdengar asing, aku tak tahu siapa dia. Tapi, aku tak terganggu dengan suaranya, suaranya terdengar seperti wanita dewasa yang sudah berpengalaman.
"Masuklah."
Pintu diketuk, dan seorang maid masuk ke kamarku. Kini aku bisa melihat jelas seperti apa sosok maid itu.
Wah ....
Di dalam hati, aku sangat terpesona dengan penampilannya. Dia seorang wanita yang terlihat berusia tiga puluhan. Memilik rambut merah kecoklatan panjang yang diikat. Sorot matanya terlihat lembut dan ramah.
Tidak salah lagi, dia seorang wanita yang sudah menikah! Racun mematikan bagiku!
"Nama saya Rose. Terima kasih karena Anda sudah mengizinkan saya untuk bekerja di tempat yang sangat mulia ini." Maid itu membungkukkan tubuhnya.
Aku tak ingat pernah menerima maid bekerja di sini, karena segala keputusan di istana ada di tangan Elina.
"Nyonya, saya sudah menyiapkan air hangat. Sebelum itu, saya akan menata rambut Anda," ucap Rose dengan suara pelan, namun artikulasinya sangat jelas.
Aku duduk di depan cermin. Maid itu mulai menyisir rambutku dengan lembut.
Bisa saja aku mengembalikan penampilanku dengan skill, tapi aku merasa nyaman karena sentuhan lembut wanita yang sudah menikah.
Huh? Apa yang kupikirkan?!
"Rambut Nyonya sangat halus, bahkan saya hanya perlu menyisirnya sekali untuk meluruskannya. Saya benar-benar iri."
"B-begitu, ya?"
"Anda pasti sangat lelah. Mengurus masalah kerajaan, sekaligus berperan sebagai orang tua dari putri-putri yang luar biasa."
"Karena aku adalah Ibu mereka, sekaligus Perdana Menteri kerajaan ini. Aku harus bisa melakukan kedua peran itu dengan baik."
"Tapi, Nyonya, tolong sesekali biarkan para Nona memanjakan Anda."
Percakapan ini menunjukkan bahwa dia memang sudah menikah dan memiliki anak. Mungkin aku bisa belajar sesuatu tentang menjadi orang tua yang baik darinya.
"Mencintai anak tidaklah cukup, yang terpenting adalah anak-anak menyadari bahwa mereka dicintai orang tuanya," lanjut Rose.
Dia benar. Aku memang tidak bisa mengekspresikan perasaanku, terlebih mereka hanyalah NPC, tapi seiring berjalannya waktu di dunia ini, aku mulai menganggap mereka sebagai keluargaku.
"Rose, apa kau punya anak?"
Rose seketika berhenti menggerakkan tangannya setelah mendengar pertanyaanku.
Sepertinya aku membuat kesalahan
"M-maafkan tindakan saya, Nyonya! Saya sudah berani tidak menjawab pertanyaan Anda!" Rose langsung berlutut di sebelahku.
"Hentikan itu, Rose. Akulah yang harus meminta maaf, karena pertanyaan itu membuatmu mengingat kenangan buruk."
Rose melihatku dengan mata yang berkaca-kaca, aku tak tahu apa yang membuatnya menangis.
"K-kalau begitu, saya akan mengantar Anda ke kamar mandi."
Setelah mandi, aku makan di ruang kerjaku. Anak-anak bersikeras ingin makan bersama, tapi aku tak ingin melakukan itu hari ini. Hanya Rose yang ada di kantorku hari ini, sesuai keinginanku, tak ada yang boleh masuk. Aku menyuruhnya duduk di sofa yang berada di jarak pandangku. Terkadang aku perlu menyegarkan pikiran.
Ada sedikit hal yang ingin kuperiksa. Ini tentang caoy, aku menyadari tentang kekuatan Satan yang ada dalam kandungan serbuk caoy. Caoy adalah metode ke tiga yang mereka tunjukkan untuk saat ini. Pertama, insiden pencurian Mana penduduk di Kerajaan Karibian. Ke dua, ketika melawan para True Vampire yang belum kuketahui dari mana peningkatan kekuatan Vlad berasal, kemungkinan menggunakan pecahan tubuh juga. Dan yang terakhir adalah caoy.
Rasanya ini hampir mirip dengan metode pertama. Mana dan pecahan dari tubuh Satan. Caoy juga mengandung pecahan tubuh Satan, aku merasakannya walau sedikit. Akan lebih sulit membereskannya karena sudah tersebar ke penjuru benua.
Akan banyak Satan lain yang akan muncul jika terus begini. Sepertinya aku harus mempertimbangkan apa yang akan ditawarkan oleh mereka nanti.
*Tok Tok
Terdengar suara ketukan di pintu.
Rose berdiri dari tempatnya untuk mengecek siapa yang mengetuk.
Pikiranku kembali jernih ketika melihatnya.
"Nyonya, Tuan Glenn ingin meminta izin untuk menemui Anda."
Glenn?
"Biarkan dia masuk."
Glenn masuk ke ruang kerjaku dengan raut wajah yang terlihat tidak tenang.
Apa sesuatu terjadi padanya? Dia tak merubuhkan gedung, 'kan?
Ngomong-ngomong, aku suka gaya berpakaiannya. Dia mengenakan kemeja hitam dan celana hitam panjang. Simpel dan modis, dia lagi-lagi membawa sesuatu dari dunia lamanya.
"Bicaralah, Glenn, aku masih punya waktu luang sekarang."
"Terima kasih, karena sudah mengizinkan saya masuk, Yang Mulia." Glenn menundukkan kepalanya. "Saya datang karena telah memutuskan pilihan."
"Sebelumnya, Nona Anna mengusulkan sesuatu pada saya, tapi sekarang semuanya sudah diputuskan."
Putuskan apa?!
"Sesuai saran Anda, kami akan menikah."
Aku seketika teringat obrolan kecilku dengan Putri Anna di tempat persembunyian Sekte Hitam.
"Itu keputusan yang bagus. Dengan ini posisi Kekaisaran akan tetap aman," jawabku.
"Tapi, Yang Mulia, gangguan telah muncul."
"Keluarga Hart, ya?"
"Dengan perintah Anda, saya masih menggunakan Aleister di belakang nama saya. Pengumuman pernikahan sudah tersebar tiga hari lalu."
Tiga hari dan aku tidak mendengar hal itu sama sekali.
Keluarga Hart sepertinya kalah satu langkah dari Kekaisaran.
"Mereka sudah tidak punya kesempatan untuk melakukan kudeta terhadap Kaisar. Tapi, mungkin satu-satunya cara bagi mereka hanyalah membunuh salah satu dari kami sebelum pernikahan dimulai," lanjut Glenn yang terlihat serius membahas masalah ini.
"Aku akan melindungi kalian, bahkan aku akan mengutus putriku untuk melindungi kalian secara khusus."
"Tidak, itu tidak perlu, Yang Mulia. Saya tak akan melibatkan Anda dan para Nona. Dengan kemampuan saya saat ini, ancaman akan mudah diatasi." Glenn mengangkat tangan kanannya.
Pandanganku langsung teralihkan dengan sesuatu yang menyelimuti tangan kanannya.
Sepertinya dia sudah menemukan cara untuk beresonasi dengan item itu.
Tangan kanan Glenn terselimuti sesuatu seperti slime hitam, secara perlahan berubah menjadi gaunlet yang berlapisi emas di pinggirannya.
Aku masih sedikit bingung dengan perubahan ini. Item itu kuberikan padanya karena tak cocok denganku.
"Saya ingin memberitahukan satu hal yang penting, Yang Mulia," ucap Glenn dengan ekspresi sedikit murung.
"Apa sesuatu itu sangat penting sehingga kau sendiri pun tak yakin untuk mengatakannya?"
"B-bukan begitu, Yang Mulia." Glenn melirik ke arah Rose. Melihat itu, Rose dengan sigap langsung pergi meninggalkan kami berdua.
Oh, tidak, Rose!
"Katakanlah."
Aku juga penasaran.
"Sebenarnya, saya memiliki dua ras, yakni manusia dan humanoid."
"Humanoid?"
"Benar. Sejak bayi, saya sudah memiliki kesadaran karena sejatinya saya adalah seorang reinkarnator."
Aku tidak terkejut dengan dua hal itu. Ras humanoidnya memang sudah kuketahui, dia membuat barang-barang dari duniaku dulu, dan menepis dugaanku bahwa dia juga seorang player. Aku menunggu dia mengatakannya sendiri untuk memastikan semuanya.
"Jika itu reinkarnator, itu artinya kau sudah pernah mati sekali, bukan?"
"Anda benar. Tapi, saya tak hidup di dunia ini."
"Aku mengerti maksudmu, perubahan besar pada kerajaan sudah menjawab semua itu. Aku sangat berterima kasih, berkat pengetahuanmu, kerajaan semakin berkembang."
"Itu sudah tugas saya sebagai perancang, Yang Mulia. Saya akan melakukan yang terbaik ke depannya."
Aku harus mengakhiri ini.
"Jadi, apa yang ingin kau sampaikan padaku sebenarnya?"
"Saya hanya ingin menyampaikan, bahwa saya telah menguasai pemberian yang Anda berikan." Glenn membentuk gaunlet di tangan kanannya menjadi perisai. "Ras humanoid saya sudah berpindah ke item ini."
"Jadi dia memiliki kesadaran?"
"Anda benar. Hanya saya yang bisa berkomunikasi dengannya untuk saat ini."
Menarik. Akhir-akhir ini banyak item yang menarik perhatianmu.
[Yang Mulia.] Ard menghubungiku melalui telepati. [Item itu sepertinya ingin berkomunikasi dengan saya.]
[Apa yang menghalanginya?]
[Dia tak bisa berkomunikasi karena belum diberi nama.]
Nama, ya? Karena item itu sudah memiliki kesadaran, dia harus membuat kontrak layaknya makhluk panggilan. Artinya mereka belum terikat kontrak dan item itu bisa diambil oleh siapa pun.
Ini kesempatan, bukan?
Bersambung ....