
Mereka berjalan menuju arena, keluar dari mansion besar. Lokasi arena berada cukup jauh di belakang mansion, namun masih berada di dalam lingkup mansion utama Hart.
Rose masih terus mengawasi keadaan sekitar. Banyak orang berlalu-lalang, karakteristik mereka terlihat seperti seorang Hart. Rose semakin cemas.
Matanya tak bisa lepas dari segala kemungkinan yang datang. Benang-benang miliknya sudah tersebar hampir di seluruh area terbuka.
"Ngomong-ngomong, Nona Alissa, apa kau sudah menikah?" tanya Karman secara spontan.
Alissa hanya diam tak menjawab pertanyaan Karman.
"Melihat usiamu, itu sangat mengejutkan jika kau belum menikah."
Alissa menatap tajam Karman yang berjalan di sebelahnya, kemudian ia berkata dengan menekan nada bicaranya. "Aku paling tidak suka pada pengintip."
Karman sedikit terkejut, lalu kemudian tertawa keras seperti biasanya. "Jika itu diucapkan oleh orang lain, mungkin aku akan segera melenyapkannya! Tapi, kau berbeda dengan mereka. Maaf, atas ketidaksopananku, Nona Alissa."
Ketiga anaknya terkejut melihat Karman menundukkan kepala.
Rose juga terkejut. Kata mengintip merupakan istilah lain.
Duke Karman, apa dia punya mata penilaian?
Wajar baginya untuk terkejut, karena skill itu sangat langka. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki skill seperti itu, terutama mereka yang memiliki energi suci.
Dengan kata lain, sebagian besar berasal dari Gereja Suci. Tapi, Karman Hart bukan dari Geraka Suci. Jadi, bagaimana mungkin?
"Sebaiknya kau mengurangi kebiasaan itu," tegas Alissa.
"Bagaimana jika aku menolak?" Karman melirik Alissa dengan senyum seringainya.
Alissa tak menggubris dan memilih diam.
Karman menghela napas karena Alissa tak berusaha untuk meramaikan suasana.
Dasar wanita dingin. Tapi, aku serius menyinggung soal pernikahan. Garis keturunan wanita itu tak diketahui.
Di ibukota Kekaisaran. Sedikit terjadi guncangan dalam waktu satu malam saja. Para penduduk terpecah dan terbagi menjadi dua kelompok. Mereka yang mendukung Kaisar Anna, dan para penduduk yang ternyata sudah berada dalam kubu oposisi. Itu artinya mereka kehilangan hampir separuh simpati penduduk Kekaisaran sejak lama.
Anna melihat semua itu melalui alat penyadap berupa bola kristal. Tak ada ekspresi kekecewaan, ataupun kemarahan, ia terlihat menikmati itu semua.
"Sepertinya kita berhasil melakukannya tepat waktu," ucap Glenn yang berada di sebelahnya.
"Benar. Ini jauh lebih bagus daripada menarik seluruh penduduk."
Di waktu krusial, pihak oposisi berhasil melakukan serangan fajar dengan melakukan segala hal untuk menurunkan citra Kaisar. Namun, semua sudah diantisipasi dengan cepat tanpa diketahui oleh mereka.
Anna menggenggam tangan Glenn, dengan tatapan haru ia mendekatkan wajahnya ke pria itu. "Ini semua berkatmu, Glenn."
Glenn berusaha menjauh, namun ia merasa jika ia menjauh, itu bisa melukai perasaan Anna. "Y-yah, bayangan yang menyamar memang sangat membantu."
Rencana ini berhasil berkat Glenn yang menggunakan prajurit bayangannya dan mengubah penampilan mereka seperti para penduduk. Bisa dikatakan, pihak oposisi hanya mempengaruhi para bayangan, bukan setengah penduduk Kekaisaran.
Anna kembali melihat ke arah bola kristal, hal itu membuat Glenn lega. Hanya beberapa titik yang bisa dilihat, namun semua titik itu di tempat yang penting. Contohnya, rumah bangsawan yang sepertinya merupakan tempat para oposisi berkumpul.
Kaisar Muda itu tersenyum kecil ketika melihat wajah-wajah yang terlihat tak asing baginya.
"Ayo pergi, Glenn."
Glenn mencium tangan Anna dan berkata, "Dengan senang hati, istriku."
Anna tersipu malu melihat perilaku Glenn, dalam hatinya ia ingin memanggil pria itu dengan sebutan suami. Namun, ia merasa momennya tak tepat.
Marquess Lomberg, Marquess Vellon, dan Count Margaretto. Ketiga orang yang sedari awal sangat ingin menjatuhkan diriku dengan segala cara.
Sebelum menjadi kaisar, ketiga bangsawan itu sudah berada di pihak kakak tertua Anna. Posisi Anna sebagai putri sekaligus anak terakhir hanya dipandang sebelah mata. Namun, kini berubah drastis sejak kematian putra mahkota.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?!" Marquess Lomberg menghentak meja dengan penuh amarah. "Usaha kita mendapat kepercayaan setengah penduduk Kekaisaran hancur dalam sekejap!"
"Pasti ada penghianat di antara kita." Marquess Vellon melirik ke arah bangsawan tingkat bawah di tempat itu.
"Kami tak terlibat, Tuan Vellon!" Para bangsawan mencoba membela diri, mereka terlihat panik.
Count Margaretto mengangkat tangan, dengan ekspresi serius ia berkata, "Tak ada cara lain, hubungi Duke Hart untuk melakukan gerakan saat ini juga!"
"Benar! Bisnis kita cepat atau lambat akan terendus pihak Kekaisaran! Maka dari itu kita harus lancarkan serangan segera!"
*Brak!
Seseorang mendobrak masuk ke ruang pertemuan itu. Ia kehabisan napas karena berlari dan ekspresinya terlihat sangat panik.
"Siapa kau yang berani mengganggu pertemuan resmi ini!" Marquess Lomberg sangat murka karena orang itu.
Orang itu menunjuk ke arah luar. "D-di sana! Pasukan kaisar mengepung kediaman ini!"
"Apa?!" Semuanya bergegas melihat ke luar jendela.
Betapa terkejutnya mereka ketika melihat ribuan prajurit yang mengelilingi kediaman ini.
"Apa-apaan jumlah prajurit ini? Bukannya kita sudah menarik sebagian besar prajurit Kekaisaran ke sisi kita?" tanya Lomberg yang paling panik di antara mereka.
"Tidak, perhatikan baik-baik," ucap Count Margaretto sembari melihat melalui teropong.
Sesuatu yang unik, prajurit itu terlihat seperti bukan manusia. Lebih tepatnya ....
"Mereka makhluk hitam yang mengenakan baju zirah." Count Margaretto mengambil kesimpulan akhir bahwa mereka bukanlah manusia.
Para bangsawan bergegas berlari menuju ke luar mansion, bersama ratusan prajurit yang sudah bersiaga melindungi kediaman. Semua bersiap menyerang, sampai pada akhirnya Count Margaretto memberi perintah menyerang.
Sebuah variabel tak terduga, dugaan kuat muncul setelah melihat pasukan monster itu. Kekaisaran meminta bantuan pada Tuannya.
Kembali ke kediaman Duke Hart.
Mereka telah sampai di arena untuk menonton seleksi perekrutan yang diadakan sebulan sekali itu. Alissa dan Duke Karman duduk di tempat yang strategis, mereka bisa melihat arena dengan jelas dari sana. Sedangkan Rose berdiri di sebelah Alissa, namun ketiga anak Karman duduk di tempat terpisah. Mereka menjauh satu sama lain.
Perebutan hak waris membuat suasana di antara ketiganya menjadi tegang. Verena terlihat menggigit bibirnya karena kesal menahan niat ingin membunuh kedua saudaranya.
"Sepertinya kita datang tepat waktu," ucap Karman.
Sudah ada dua orang yang bersiap mengerahkan segalanya di arena tarung. Keduanya merupakan pengguna pedang, namun ada sedikit perbedaan.
Karman melihat dengan ekspresi remeh ke salah satu petarung. "Hasilnya sudah jelas, bukan?"
Seorang petarung yang memegang pedang dengan kedua tangannya. Tak ada yang aneh jika dilihat dari luar, sikap tubuhnya bagus, genggamannya cukup kuat, dan sorot matanya tajam dengan semangat berapi-api. Namun ....
"Apa yang bisa dia lakukan dengan kaki kiri seperti itu? Aku berusaha mempercayai instingku, aku sama sekali tak melihat statistiknya." lanjut Karman yang masih memandang remeh orang itu.
Walau tidak terlihat dari luar, namun sebagai seorang master, Karman melihat jelas aliran Mana di kaki pria itu yang hampir sepenuhnya tersumbat. Sesuatu terjadi, seperti tertimpa batu besar atau menerima serangan mematikan yang mengarah ke kakinya.
Wasit mempersilahkan kedua petarung memperkenalkan diri.
"Namaku Kevin Silver!" Seorang pria berambut putih memperkenalkan diri dengan bangga.
"Namaku ... aku tidak punya nama," ucap pria pincang tersebut.
Rose memperhatikan pria tanpa nama itu. Ia setuju dengan perkataan Karman, sulit baginya untuk menang. Hal penting bagi pengguna pedang adalah kakinya. Hanya mengandalkan tangan saja tidak cukup, kunci utama adalah kuda-kuda dan langkah kaki yang akan dia ambil.
Maid itu melirik Alissa, berharap wanita itu mengatakan hal serupa. Namun, hal itu berbeda dari sudut pandang Alissa.
"Tuan Karman, bagaimana kalau kita bertaruh?" Alissa yang diam sejak tadi akhirnya berbicara.
Karman sedikit terkejut dan bertanya, "Jangan bilang, kau ...?"
"Benar, aku bertaruh untuk pria tanpa nama itu." Alissa tersenyum percaya diri dengan pilihannya.
Karman merasa tertantang dengan taruhan yang diajukan tersebut.
Aku tak tahu kenapa dia memilih pria cacat itu, ini juga yang akan membuktikan siapa yang lebih kompeten antara aku dan dia.
Setelah berpikir singkat, Karman menyetujui taruhan itu.
Alissa meletakkan jari telunjuk di mulutnya, kemudian berkata, "Untuk taruhannya, akan lebih baik jika kita mengatakannya setelah mengetahui hasilnya, bukan?"
Karman menyeringai. "Kekeke ... menarik."
Aura mengerikan pun keluar dari tubuh pria itu, semua orang panik dan tertekan, kecuali Alissa.
"Semoga kau tidak menyesalinya, Nona Alissa."
Bersambung ....