
Saraya terduduk lemas sembari menghela napasnya. Proses pemulihan tubuhnya masih setengah jalan, dan dia memaksa mengirim Rista dengan teleportasi untuk serangan kejutan tadi.
Sekarang, aku bisa memulihkan diriku, membuka sumbatan Mana adalah prioritas utama. Potionku sepertinya sudah habis tidak tersisa.
Rista memberikan sebotol potion berisi cairan berwarna keemasan. "Minumlah ini."
Saraya sedikit terkejut melihat warna potion yang tidak lazim. Pada dasarnya, potion penyembuh memiliki warna merah dan hijau. Tanpa pikir panjang, Saraya meminum potion itu.
Rasanya tawar, sedikit pahit.
"Aku tak bilang itu potion penyembuh," ucap Rista.
"A-apa maksudmu?"
Saraya merasakan keanehan di tubuhnya. Suhu tubuhnya kembali normal, perlahan sesuatu seperti memaksa mengalir ke seluruh tubuhnya.
Sumbatan itu ... terbuka?
Bahkan luka dalam di kepalanya pulih dengan cepat.
"Rista, apa kalian menju--"
"Tidak. Ini adalah harta berharga dari kerajaan, aku hanya membawa satu." Rista langsung memotong perkataan Saraya.
Saraya sedikit kesal dan kecewa. Tubuhnya benar-benar kembali normal seperti sedia kala.
Ini terdengar seperti cerita di buku dongeng, tentang potion yang bisa mengembalikan kondisi fisik seperti semula. Dulu, aku sempat membangun departemen alkimia berskala kecil yang berisi alkemia jenius. Kami hanya mampu membuat potion yang bisa menyembuhkan luka serius, namun tidak dengan kondisi tubuh seperti stamina maupun Mana. Tapi, potion yang Rista berikan benar-benar sama seperti di buku dongeng.
"Huh, lupakan itu. Bagaimana dengan pria bertopeng itu?" tanya Saraya untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Seharusnya dia terluka, aku memukulnya dengan sekuat tenaga."
Aku juga melihat itu, pukulan Rista murni dari kekuatan fisiknya, aku tak merasakan dia memakai aura atau sejenisnya. Wanita ini ... dia monster.
Hujan mulai reda, namun petir masih menyambar sesekali. Waktu sudah lewat dari tengah malam, hanya beberapa jam sebelum matahari terbit.
Para depress liar masih terjebak dalam jeratan bayangan Rasta, kini hanya tersisa mereka berlima yang harus segera menyelesaikan urusannya.
"JANGAN MENGHINDARI!" Terdengar teriakan Justin yang frustasi karena semua pukulannya tak mengenahi Rasta sedikit pun.
Rasta terus menghindar. Mudah baginya untuk membaca arah serangan Justin, ia terus menghindari untuk mengulur waktu serta menjauhkan Justin dari tempat pertarungan ketiga orang di sana. Hanya ada satu hal yang menghambat Rasta.
Aku bisa menghindarinya, namun ... pertahanan bajingan ini sangat kokoh. Aku tak mau membuang Mana untuk membuat serangan besar, tugasku hanyalah menjauhkannya dari Kakak.
"DASAR J*L*NG!" Justin mengumpulkan seluruh energi di kedua tangannya.
Rasta merasakan energi itu, kewaspadaannya meningkat.
Justin melayangkan serangan dengan kedua tangannya secara bersamaan.
*Braaak!
Dentuman keras menghancurkan tempat itu dalam sekejap. Tanah terbelah, bangunan-bangunan rubuh secara bersamaan. Dampaknya bahkan sampai ke tempat Saraya dan Rista, mereka melompat menjauh dari kerusakan itu.
Rasta berhasil menghindari serangan besar tersebut. Ia berdiri di antara puing-puing bangunan, karena jarak bangunan yang masih berdiri cukup jauh karena serangan Justin memiliki jangkauan luas.
Apa-apaan bajingan itu? Tangannya diselimuti aura yang besar, jika itu mengenaiku, pasti aku benar-benar mati.
"Huh?" Rasta merasakan sesuatu yang hangat di pundak kirinya. Ia langsung menyentuh pundaknya.
Basah? Tidak, ini karena hujan, tapi kenapa rasanya aneh?
Rasta terus meraba pundaknya, sampai ia merasakan jarinya masuk ke dalam kulitnya. Rasta menarik tangannya dan segera melihat apa yang terjadi.
Hangat dan sedikit kental.
Rasta tak bisa menggerakkan tangan kirinya, pundaknya mulai terasa pegal dan nyeri.
"Jadi begitu, ya?" tanya Rasta pada dirinya sendiri.
Bayangan yang menjerat depress liar juga sudah terlepas. Gerombolan depress perlahan bangkit dan mulai berlari mengarah padanya.
"KETEMU KAU!" Suara Justin terdengar dari arah belakang Rasta.
Justin melayangkan satu pukulan ke arah Rasta, namun Rasta berhasil melompat ke belakang menghindarinya.
*Crack!
Paha kiri Rasta secara tiba-tiba terluka. Luka itu terlihat seperti sebuah sayatan yang cukup dalam.
Apa maksudnya ini? Aku yakin sudah menghindari aura yang menyelimuti tangannya.
Rasta mulai susah menjaga keseimbangannya karena luka di paha kirinya.
Jika tahu seperti ini, seharusnya aku membunuhnya dari tadi.
"Shadow Blade." Puluhan bilah pedang bayangan muncul dari dalam tanah dan semuanya mengarah pada Justin.
"TEKNIK MURAHAN!" Justin mengibaskan tangan kanannya yang dipenuhi aura itu. Seketika puluhan bilah pedang bayangan lenyap.
Rasta menyadari sesuatu.
"Sekarang aku mengerti."
"HAH? APA SEKARANG KAU MENGERTI PERBEDAAN KEKUATAN DI ANTARA KITA?"
Depress memiliki regenerasi super cepat, akan sia-sia memotong seluruh tubuh mereka. Seperti kata Kakak, mereka akan mati jika tubuh mereka dilenyapkan, itu artinya aku harus membakar mereka dengan api yang sangat panas. Dan bajingan ini, aku sepertinya tahu kenapa aku bisa terluka walau sudah menghindari serangannya.
[Kakak, apa aku boleh membunuh bajingan ini?] Rasta menghubungi Rista dengan item komunikasi yang menempel di belakang telinga mereka.
[Jangan bunuh dia, kecuali jika kau tak punya pilihan lain.]
Rasta menghela napasnya.
"Akan kutunjukkan padamu." Bayangan hitam perlahan muncul dan menyelimuti tubuh Rasta.
"LAGI-LAGI BAYANGAN SAMPAH ITU! SEMUANYA TAK AKAN BEKERJA DI HADAPANKU!" Justin langsung mengarahkan pukulan pada Rasta.
*Bruk!
Sebelum pukulan itu dilayangkan, tiba-tiba Justin terjatuh tanpa sebab.
"Menyedihkan." Rasta sudah berdiri di tempat lain, yakni beberapa meter di belakang Justin.
Sesuatu menyelimuti tubuh Rasta, terlihat seperti api hitam yang membakar tubuhnya.
"Shadow Armor."
Di tempat lain. Rista terlihat khawatir dengan Rasta, karena ia tak memberikan jawaban pasti pada Adiknya itu. Terlebih lagi perkataan Rista sering disalahpahami oleh Rasta.
Semoga dia baik-baik saja. Untuk sekarang, apa yang harus kulakukan sekarang?
Rista dan Saraya merasakan aura yang kuat dari tempat Red Own berada. Keduanya bersiap menyerang jika serangan kejutan datang.
"Tadi itu hampir saja." Terdengar suara Red Own dari jarak sejauh itu.
Suara percikan air dari langkah kakinya terdengar. Hujan telah berhenti, tak ada lagi suara yang menganggu kecuali suara pertarungan antara Justin melawan Rasta.
Sosok Red Own mulai terlihat. Rista dan Saraya tampak penasaran dengan kondisi Red Own setelah menerima pukulan itu. Terutama topengnya, mereka menganggap bahwa topeng pria itu sudah hancur karena pukulan tersebut.
"Hanya satu orang yang pernah memukulku dengan kekuatan fisik seperti itu." Sosok Red Own terlihat sepenuhnya.
Rista dan Saraya terkejut dengan apa yang mereka lihat.
Tidak ada kerusakan sedikit pun?
Kata-kata itu terucap secara bersamaan dari dalam hati mereka.
Rista menatap tajam Red Own, ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihat. Pukulan Rista sangat kuat, bahkan bisa menghancurkan Mana Shield tingkat menengah. Dalam kondisi khusus, Rista juga mampu menghancurkan penghalang tingkat tinggi.
Kapan dia merapal penghalang? Jika menggunakan item, pasti aku menyadari gerak-gerik tubuhnya ketika mengaktifkan item itu. Mau sekeras apa pun penghalangnya, seharusnya pukulanku memberikan bekas kerusakan walau kecil.
Rista mulai menggunakan Mana untuk meningkatkan kekuatan fisiknya hampir mendekati batas. Kedua kakinya menekuk, kedua tangannya bersiap melakukan aba-aba menyerang.
Kalau begitu ....
*Wush!
Rista melesat ke arah Red Own dengan cepat. Kecepatannya tergolong normal, Red Own maupun Saraya bisa melihatnya. Rista melakukan itu untuk bersiap mengambil ancang-ancang meninjunya dengan tangan kanan yang dipenuhi aura.
"Baiklah, mari buktikan siapa yang memiliki pukulan terkuat." Red Own juga bersiap memukul dengan tangan kanannya.
*Dum!
Kedua tangan yang bertabrakan itu membuat suara dentuman, sangat keras hingga terdengar ke seluruh penjuru kota. Hempasan angin yang terpusat dari mereka berdua menghempaskan puing-puing bangunan.
Tak ada yang terdorong di antara mereka, keduanya masih mengepal tangan.
Di sisi lain, Rista merasa tangan kanannya terasa berat. Ia merasa tangannya juga tidak menyentuh tangan Red Own sama sekali.
Perasaan ini, aku mengerti.
Sebuah dagger melayang di sisi kiri Red Own, tepat di dekat perutnya. Dagger itu dilempar hingga sampai di tempat itu.
Kilat muncul dari dagger itu dan Saraya sudah berada tepat di sebelahnya. Saraya langsung meraih dagger, ia dengan cepat menusuk perut Red Own, namun ....
*Ting!
Dagger Saraya berhasil menyentuh tubuhnya, namun dagger itu terlepas dari tangannya karena tergelincir.
Perasaan aneh, Saraya seperti baru saja menusuk sebuah batu. Namun apa yang dilihatnya adalah tubuh Red Own.
Dia terbuat dari batu?
"Sudah cukup main-mainnya," ucap Red Own.
Saraya menyadari gerak tubuh Red Own, ia melihat ke sisi kanan Red Own, tempat di mana daggernya terjatuh. Saraya berpindah ke sisi kanan Red Own dengan teleportasi.
Aku harus memastikannya lagi!
Bersamaan dengan aliran listrik di tubuhnya, secepat mungkin Saraya menusuk ke perut bagian kanan Red Own.
*Bugh!
Sebelum daggernya mencapai perutnya, Red Own menendang wajah Saraya hingga wanita itu terdorong ke belakang. Di saat yang sama Rista melihat peluang dan memutar tubuhnya, ia menendang ke sisi kiri Red Own yang tak terjaga.
*Dum!
Red Own terhempas karena tendangan itu dan hampir menabrak Saraya yang tepat waktu menundukkan kepalanya.
Berhasil?!
Rista mendapatkan informasi baru, namun harus memastikannya sekali lagi.
"Tadi itu lumayan," ucap Rista.
Saraya tersenyum kecil tanpa membalas perkataan Rista. Namun, ia merasa memiliki kecocokan saat bertarung bersama Rista. Walau hanya sekilas, mereka mengerti peran masing-masing di saat momen krusial tadi.
Kedua wanita itu kembali bangkit bersiap melakukan serangan berikutnya.
Bersambung ....