
Rose tak tahu harus berbuat apa, orang asing tiba-tiba menginterupsinya. Setelah melihat apa yang ia lakukan di sini, pria bernama Raymond itu terlihat tak terkejut atau menunjukkan ekspresi takut.
Aku sudah mengarahkan niat membunuh padanya, tapi gerak tubuhnya tak ada perubahan. Apa dia berbahaya?
Rose hanya merasakan sedikit aura dari pria itu, ia beranggapan bahwa Raymond bukanlah ancaman besar.
"Kau ingin membalaskan kematian tuanmu?" tanya Rose dengan suara serak.
Raymond menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak, aku sudah bilang tadi, kami butuh dayang pribadi untuk Beliau."
Rose sama sekali tak mengerti apa yang dikatakan oleh pria ini. Kesadarannya juga perlahan memudar karena menggunakan mode vampir terlalu lama. Rose hanya bisa mempertahankannya selama lima menit.
Aku harus membunuh si omong kosong ini.
*Wush!
Rose melompat ke arah Raymond dengan cakar di tangannya. Ia menyerang secara membabi buta hingga keluar dari bar.
Namun, di sisi lain Raymond dengan mudah menghindari serangannya. Gerakan tubuhnya sempurna dalam hal menghindar.
Bagaimana bisa dia menghindari dengan mudahnya?
Benang Mana melilit tubuh Raymond ketika hendak menghindari serangan lanjutan Rose.
Raymond tersenyum dan berkata, "Menarik."
Rose bersiap menusuk ke arah dada Raymond untuk memberikannya kematian yang instan.
*Crack!
Cakar Rose secara mengejutkan hancur ketika menyentuh dada Raymond.
Apa?!
Rose benar-benar terkejut, ia mengira pria itu mengenakan dalaman perisai yang terbuat dari logam mithril.
"Percuma!" Rose meremas tangannya sebagai tanda benang Mana digunakan untuk meremas tubuh Raymond.
Tapi, benang Mana lenyap karena perbedaan kekuatan.
Bagaimana mungkin?! Aku dalam mode ini bahkan tak bisa melukainya. Dia menggunakan logam di atas mithril, apa mungkin ... adamantium?
"Ugh!" Rose merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya, kesadarannya hampir menghilang sebelum lepas kontrol menjadi vampir liar.
Rose melihat ke arah Raymond, ekspresi wajah Raymond terlihat sedikit terkejut. Hal itu mendorong Rose untuk mengatakan sesuatu.
Di sisi lain, para penduduk yang merupakan penjahat kelas kakap mulai mengerubungi mereka. Sebagian dari mereka ingin membunuh Rose, karena dia telah membunuh orang berpengaruh di kota itu.
"Tuan ... tolong ... selamatkan ... anak-anak ... dan para Ibu," ucap Rose yang perlahan mulai kehilangan kesadaran.
Raymond heran dengan permintaan Rose, dia tertawa kecil sembari mengatakan sesuatu tentang Rose seperti, "Pembunuh yang lucu."
"Bunuh iblis itu!" Orang-orang mulai menyergap Rose dan melancarkan serangan mereka.
Namun, Rose bergerak liar menyerang orang-orang dengan cakarnya. Jeritan dari mereka yang mendekati kematian terdengar nyaring. Pada malam itu, kota Kelam dibanjiri darah.
Di sisi lain, Raymond tertawa lepas melihat apa yang ada di depannya. "Kaisar pasti akan berhutang padaku karena mereka tak perlu repot menghapus kota ini dari peta."
Cahaya pagi menyinari pelataran rumah, Rose hendak memetik sayur di halaman rumahnya.
"Ibu! Aku ingin membantu!" Seorang anak perempuan datang menghampirinya.
"Baik, baik, pegang keranjang ini dan ambil beberapa sayuran kesukaanmu." Rose melihat lembut ke arah Rubia, putrinya.
Rubia mengambil keranjang yang diberikan Rose. Namun, tangan anak kecil itu menahan tangan Rose.
"R-rubia?" Rose terlihat bingung dengan kelakuan Rubia.
Rubia memandang Rose dengan senyuman lembut, ia mengelus tangan Rose dan berkata, "Ibu tak perlu menanggung beban lagi, kami baik-baik saja di sini. Ibu berhak menjalani hidup, Ibu berhak mendapatkan kebebasan."
Perlahan tubuh Rubia menghilang dari pandangan Rose.
"R-rubia! Mau ke mana kamu, Nak?!"
"Selamat tinggal, Ibu."
Rose berlari mengejar asal suara Rubia, namun pelataran rumahnya berubah menjadi ruang hampa. Ia terduduk lemas karena sekali lagi kehilangan orang yang disayanginya.
Dalam hatinya, Rose bertanya tentang apa yang telah dilakukannya selama ini. Apa keluarganya menginginkan hal serupa? Apa yang didapat setelah melakukan hal itu?
Di sisi lain.
Rose membuka matanya secara perlahan. Hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit ruangan.
Aku di dalam kamar, ya? Kamar ini terlihat mewah, karena luas, dan banyak hiasan di dinding. Mereka tak membunuhku.
Rose menoleh ke arah kirinya untuk melihat pintu kamar. Jaraknya sekitar enam meter, ia berencana untuk kabur saat itu juga. Ia berpikir bahwa bawahan Berto menculiknya, karena Berto kaya, jadi rasanya wajar meletakkannya di tempat seperti ini.
Tapi, Berto sudah mati, bukan?
"Hmmm ...." Terdengar suara seorang wanita dari arah depan Rose.
Rose terkejut, karena sebelumnya tak ada seorang pun di tempat itu, kini ia memberanikan diri untuk menoleh ke arah depan.
Terlihat seorang wanita berdiri di depan ranjangnya. Jantung Rose berdegup kencang, orang di hadapannya memberikan kesan pertama terburuk dalam hidupnya.
Dia ... undead.
Rose menanggapi demikian karena ia sudah menjadi setengah vampir. Pada dasarnya, vampir adalah undead, mereka bisa merasakan ras undead lain walau dalam jenis berbeda. Namun, ada hal yang membuat Rose terkejut.
Dia setengah undead, sama sepertiku. Tidak, walau samar, aku bisa merasakan ada jiwa lain di tubuhnya. Apa ini semacam kerasukan?
"Apa kadal itu bisa dipercaya?" tanya undead itu yang menoleh ke arah sisi kiri Rose.
"Dia tak akan melakukan hal bodoh, aku berharap orang ini cocok dengan Ibu." Suara seorang wanita terdengar dari sisi kiri Rose. Lagi-lagi hal itu mengejutkannya.
Ada seorang wanita sedang duduk di sisi kiri kasurnya.
Telinga panjang? Elf.
Sesosok wanita elf duduk dengan ekspresi tersenyum melihat ke arah Rose. Elf itu memiliki rambut hitam gelap serta mata hijau muda yang berkilauan. Untuk beberapa saat, Rose terpesona dengan kecantikan elf itu.
Elf berambut hitam, apa dia darah campuran?
Di dunia ini, kebanyakan elf memiliki rambut putih atau pirang. Jika berwarna hitam, mereka adalah darah campuran antara elf dan ras lain, terutama manusia.
Elf di sebelah Rose terlihat tidak mengancam sama sekali, orang yang harus diwaspadai adalah undead di hadapannya.
"D-di mana aku?" tanya Rose dengan suara gemetar.
"Sekarang, kau berada di Kerajaan Penyihir Maphas," jawab wanita elf itu.
Rose diam membeku setelah mendengar jawaban wanita itu.
Ada tempat yang sebisa mungkin ingin dia hindari. Sebuah tempat yang menurutnya terkutuk karena memiliki pemimpin seorang undead, dan juga merupakan kerajaan kecil yang memiliki banyak kerajaan bawahan termasuk Kekaisaran yang besar sekali pun.
Selama sisa hidupnya, ia mencari Berto dan selalu menghindari tempat ini walau kemungkinan Berto juga ada di sini. Tapi, instingnya sangat tepat kali ini.
Tunggu, undead ... jangan-jangan orang di depanku ini ....
"Dia adalah Ratu Kerajaan Penyihir Maphas, Daisy Maphas," kata wanita elf.
Rose perlahan menghela napas, ia tak memiliki keberanian menghela penuh napasnya.
Sudah kuduga, tapi ... kenapa elf ini tak berbicara formal di depan Ratunya? Terlebih lagi dia memperkenalkannya seolah posisinya berada di atas Ratu Daisy.
"Dan aku ...." Wanita elf menyentuh dadanya dengan menyilangkan kedua tangan. "Penanggung jawab istana Kerajaan Penyihir Maphas, Elina Ellsworth."
Elina.
"Siapa namamu?" tanya Elina yang masih terus tersenyum padanya.
"R-rose Valentine."
"Hmm ... Rose, apa yang ingin kau lakukan setelah ini?"
"A-aku belum memutuskan. Tujuan hidupku telah tercapai, aku tak tahu harus apa."
"Apa kau ingin bekerja di sini?"
"Bekerja?"
Dalam misi balas dendam, Rose hanya melakukan pembunuhan tanpa melakukan pekerjaan lain. Hanya kemampuan itu yang ia miliki saat ini.
Terlebih lagi, ia tak punya tempat tinggal untuk saat ini, kemungkinan wajahnya sudah tersebar ke penjuru Kekaisaran karena pembantaian di kota Kelam.
Elina menggenggam tangan Rose. "Tenang saja, kau tak harus membunuh lagi. Kami memperkerjakanmu sebagai dayang pribadi untuk Beliau.
Rose penasaran dengan sosok yang mereka sebut Beliau tersebut. Melihat sosok Ratu Daisy yang tidak diperlakukan dengan hormat, kemungkinan besar ada sesuatu dalam istana ini.
Di sisi lain, Rose teringat perkataan Rubia dalam mimpinya.
Kebebasan. Apa maksud Rubia aku berhak memilih jalan hidupku sekarang?
"Jika tanganku tak dilumuri darah lagi, aku menerimanya," jawab Rose dengan penuh keyakinan.
---------------
Di ruang kerja, Elina sedang bersantai sembari menyeruput teh hangat. Itu adalah teh herbal yang memiliki efek pemurnian tubuh, rasanya sangat asam.
Di sana juga ada Daisy yang hanya duduk tanpa melakukan apa pun, dia sama sekali tak bisa minum atau makan walau menggunakan tubuh perantara sekali pun. Karena rasanya akan menjadi hambar.
"Elina, apa yang kau lihat dari wanita itu?" tanya Daisy dengan sedikit menekan nadanya.
Elina diam sejenak, ia menyadari walau mencurahkan isi pikirannya, Daisy tak akan mengerti karena dia tak memiliki perasaan. Namun ....
"Daisy, apa kau memperhatikan sesuatu tentang Ibu?"
"Aku tidak tahu."
"Ibu sudah cukup lelah mengurus dua belas anak tak berguna dan kerajaan ini. Beliau tak memiliki waktu untuk menuangkan perasaannya."
"Tapi, kenapa harus manusia?"
"Hanya kita saja itu tidak cukup. Terlebih lagi kita tak tahu bagaimana perasaan itu timbul, karena kita hidup hanya sebagai pedang Ibu. Dari cerita Raymond, walau sudah kehilangan kendali, wanita itu meminta Raymond untuk menyelamatkan anak-anak dan para ibu. Pada awalnya, misi untuk mencari dayang pribadi hanyalah sampingan saja, tapi Raymond melihat sesuatu dari wanita itu."
"Aku sempat melihat isi kepalanya, keluarga wanita itu dibunuh, termasuk anaknya," ucap Daisy sembari memainkan sihir hitam di tangannya. "Ngomong-ngomong, ini aneh, aku tak ingat kau pernah selembut itu pada manusia."
"Dia hanya pengecualian, itu semua tergantung reaksi Ibu. Jika Ibu nyaman, maka aku akan terus bersikap seperti ini padanya."
Bersambung ....