The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Dungeon Undead



Kami pun pergi dari Ibukota menuju Desa Sige. Jika berjalan kaki, mungkin akan menempuh waktu sekitar tiga jam. Aku tidak tahu karena selalu menggunakan teleportasi. Sebelum itu, kami singgah ke bar di desa terdekat. Ini baru saja dimulai, jadi kami belum jauh dari Ibukota. Kami ingin membahas pembagian hasil dari Dungeon serta perkenalan diri.


Kenapa mereka tidak membahas ini saat berada di Ibukota? Ini membuang-buang waktu! Besok akan ada acara penobatan.


Pelayan membawakan minuman ke meja kami.


"Baiklah, kami akan memperkenalkan diri terlebih dahulu." ucap orang yang mengajakku sebelumnya.


Orang ini sepertinya pemimpin Party ini. Dia yang selalu berbicara sejak awal.


"Namaku Wyatt Gordon, aku seorang Warrior,"


"Aku Steve Hodd, seorang Archer,"


"Aku Payne, seorang Swordman, aku akan berusaha agar menjadi Swordmaster,"


"Aku Lilis Freyda, seorang Magic Caster,"


"Aku Elis Emmu, Healer,"


Hooh ... Sayang sekali tidak ada seorang Tank.


"Eeheem ... Namaku Alissa Hart, seorang ...." Aku terdiam sejenak.


Tunggu, aku harus menyeimbangkan semua job class,


"Tank," lanjutku.


"...." Mereka semua terkejut setelah aku mengatakan job class milikku.


"A-apa kau serius? Penampilanmu tidak seperti kelihatannya," ucap Hodd dengan penuh kebingungan.


Tentu saja! Maaf jika aku tidak memiliki otot!


"Aku serius, Tuan Hodd,"


"Baiklah. Ngomong-ngomong, panggil kami dengan nama depan, kita satu Party sekarang,"


"Oke, Wyatt, panggil aku Alissa,"


"Nona Alissa, apa kau masih sendiri?" Pria bernama Payne mengangkat tangannya sambil berbicara.


"Aku-"


*Plak!


Healer bernama Elis memukul Payne.


"Dasar pria tak tahu malu!"


Hei ... Tenanglah, Nona. Apa ini kebiasaan mereka?


"Sudahlah, kalian berdua. Nona Alissa, bagaimana kita membagi bagian kita? Kami berlima sudah memutuskan pembagian harta yang didapat di Dungeon nanti," ucap Wyatt.


Mereka mencoba memonopoli harta, ya? Aku tidak terkejut, karena aku memang bukan bagian dari Party ini. Aku hanya ingin mencari item yang menarik, bahkan aku bisa membawanya di ruang dimensiku tanpa ketahuan. Baiklah, akan aku ikuti kemauan mereka.


"Bagaimana menurutmu?" tanyaku.


"Aku menyarankanmu untuk memilih drop item dari Bos Dungeon,"


Heh? Apa yang dia rencanakan?


"Hmmm ...?" Aku memiringkan kepalaku.


"Kami hanya ingin harta dan item-item biasa,"


"Kau yakin?"


"Tentu saja, Nona Alissa,"


"Baiklah, Wyatt,"


Aku masih belum tahu apa tujuan mereka sebenarnya. Membiarkan aku mengambil drop item dari Bos Dungeon? Itu hal yang sangat mencurigakan.


 ---------------------


Kami melanjutkan perjalanan menuju Dungeon di dekat Desa Sige. Aku sudah menyuruh Ray untuk memberitahu warga Desa Sige agar tidak bersikap berlebihan jika bertemu denganku. Itu akan merusak segalanya! Dewi sialan itu akan menyadari kehadiran Keres.


"Wyatt, kalian pernah ke Dungeon ini sebelumnya?" tanyaku.


"Hanya memantaunya dari kejauhan, beberapa Petualang juga sudah menjelajahi Dungeon ini, tapi, mereka tak sanggup melawan Bos Dungeon,"


"Benar, mereka bilang Bos Dungeon itu adalah Elder Lich, Dungeon ini berisi banyak Undead," sambung Steve.


Undead? Kenapa mereka tidak mencari seorang Priest? Apa Healer benama Elis ini bisa menggunakan sihir suci?


"Berarti, kita hanya perlu mengalahkannya dengan sihir suci dan sihir elemen api,"


"Kau benar, Nona Alissa," kata Wyatt.


"Tenang saja, aku akan menggunakan sihir api terkuatku." Magic Caste bernama Lilis mengangkat tongkatnya.


"Haha, semoga beruntung, Lilis,"


"Terima kasih banyak, Steve!"


Jadi seperti ini kalau memiliki Party, ya? Ini sedikit mengguncang diriku yang seorang NEET (No life, tak memiliki teman, mengurung diri di kamar). Aku sengaja membangun Dungeon dan membuat banyak NPC di Dungeonku untuk menemaniku agar tidak bosan. Tapi, jika melihat Party yang satu ini, aku sedikit iri.


Wyatt mendekatiku dan berbisik. "Nona Alissa, di mana perisaimu? Apa kau benar-benar seorang Tank?"


Sudah kuduga dia akan bertanya soal ini.


"Aku hanya menggunakan pedang dan sihir perisai,"


"Wooh ... Itu luar biasa, Nona Alissa, penampilan bukanlah segalanya,"


 --------------------------


Tidak banyak yang terjadi di Desa Sige, karena seluruh warga desa bersikap seperti biasa.


Kerja bagus, Ray!


Kami telah sampai di Dungeon. Sangat sepi. Tidak ada Petualang yang menjelajahi Dungeon ini. Aku melihat ke arah Steve yang sudah dalam posisi bersiap memegang busurnya. Aku rasa Archer tidak dibutuhkan untuk melawan Undead. Kecuali, jika dia punya skill penguat busur seperti yang dimiliki para Elf, itu sangat efektif melawan Undead karena tekanan Mana yang membuat busur menjadi tebal dan cepat. Undead lebih mudah dilawan jika menggunakan senjata tumpul, terutama Undead tipe Skeleton.


"Ayo kita masuk." Wyatt berjalan terlebih dahulu.


Kami memasuki Dungeon. Dungeon ini berbentuk gua, sama seperti sarang Orc waktu itu. Bedanya, banyak aura gelap yang menyelimuti tempat ini.


"Aku akan merpalkan sihir suci untuk menetralkan energi gelap di sini," ucap Elis.


Hoh ... Dia bisa menggunakan sihir suci.


"Lakukanlah, Elis,"


"Sacred Energy Spread."


*Cling Cling Cling


Cahaya putih menyebar ke seluruh area.


Sihir suci ini berada di tingkat 5. Gadis ini lumayan hebat.


*Crack Crack Crack


Akhirnya Undead Skeleton muncul. Dengan area sihir suci ini, menyerang Undead lemah seperti Skeleton akan sangat mudah.


"Serahkan padaku! Fire Ball!" Magic Caster bernama Lilis langsung menyerang para Undead.


*Duar!


"Tenanglah, Lilis, kami bisa mengatasinya, kekuatanmu sangat diperlukan untuk melawan Bos Dungeon,"


"Maaf, Payne,"


Gerombolan Undead datang lagi. Ini karena sihir suci yang menarik perhatian mereka.


"Nona Alissa, kita berdua di posisi depan," Wyatt maju selangkah di depanku.


"Baiklah,"


"Semuanya berjalan sesuai formasi!" seru Wyatt.


Aku dan Wyatt berada di depan. Dia seorang Warrior dan aku Tank. Archer dan Magic Caster melindungi Healer dari posisi kiri dan kanan. Sowrdman berada di barisan belakang untuk menjaga serangan mendadak musuh.


Aku masih tidak melihat kegunaan Archer di sini.


"Hmmm ...."


Oh, dia membawa senjata tumpul seperti pemukul baseball yang terbuat dari besi.


"Nona Alissa! Awas di sebelah kirimu!" teriak Wyatt. "


"Shield Wall!"


Aku memukul Skeleton yang mencoba menyerangku.


*Crack!


Para Skeleton mulai berkurang.


 -------------------------


"Hah ... Hah ... Hah ...." Semua orang sangat kelelahan.


Ini masih setengah jalan. Gerombolan Undead terus berdatangan karena sihir suci.


Elis telah membatalkan sihir sucinya dan Undead mulai menyebar. Sepertinya Bos Dungeon ini memiliki job Necromancer. Job yang dapat memanggil Undead. Jika seperti ini terus, akan sangat lama, dan aku punya jadwal acara besok!


"Apa kalian sangat kelelahan?" tanyaku.


"Kau sangat hebat, Nona Alissa, kami tak kuat lagi." Payne terduduk lemas.


"Maafkan aku karena menggunakan sihir suci,"


Selama perjalanan, mereka sudah mengambil drop item dari para Undead dan juga ruangan-ruangan tersembunyi. Belum ada item yang menarik perhatianku.


Aku menarik pedang di pinggangku. Dan mengarahkannya ke depan.


*Swing


"Apa yang kau lakukan, Nona Alissa?" tanya Wyatt.


"I-itu?!" Party-ku terkejut.


Benar! Aku sudah menggunakan aura gelap untuk memancingnya. Akhirnya dia datang!


"Nona Alissa, mundurlah! Itu Bos Dungeonnya!" teriak Steve.


"Dia bersama empat Death Knight! Ini berbahaya!" Elis mulai merapal sihirnya.


Aku berlari ke arah Bos Dungeon. "Aku maju! Kalian siapkan serangan jarak jauh!"


*Tak Tak Tak Tak


"Nona Alissa! Berhenti! Itu berbaha-"


*Dum! Duar!


"Nona Alissa!"


Bersambung ....