
Chapter 53 : Cara Masuk
Rayna berniat ingin melawannya sendiri. Aku terlambat menyadarinya, dia sudah membulatkan tekadnya saat aku menamparnya.
Sial, aku tak tahu di mana lokasi dunia bawah tanah itu, walau aku sudah ke sana, tetap saja teleportasiku tak bisa menjangkaunya, tempat itu sepertinya berada jauh di dalam tanah. Itu bukan hal yang penting sekarang, pertama-tama ....
Kami membawa Delila ke kamar asrama untuk melakukan perawatan. Aku memanggil Elina yang sebelumnya sudah membawa item-item pemulihan tingkat tinggi dari dungeon.
Delila perlahan mulai pulih.
"Dasar vampir bodoh! Akan kucabik-cabik wajahnya ketika kembali nanti!" Elina tak bisa menahan amarahnya ketika mengetahui apa yang terjadi.
Aku membiarkan Elina meluapkan emosinya. Lagipula aku sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk berbicara saat ini, keselamatan Rayna adalah hal yang paling kucemaskan.
"Ibu! Kenapa Ibu hanya diam saja?!"
"Elina! Perhatikan ucapanmu! Master lebih tertekan sekarang!"
Kami tidak bisa kembali ke sana sebelum Delila pulih sepenuhnya.
"Elina, periksa daftar nama penjaga lantai, jika nama Rayna menghilang, segeralah melapor padaku."
"Baik, Ibu."
Dan sekarang, orang yang paling membuatku kesal telah datang.
Sebuah portal teleportasi muncul di dalam kamarku. Sebuah kebiasaan yang tidak berubah, orang yang keluar dari portal itu adalah Hela. Kali ini dia datang bersama Ghad.
Ekspresi Hela terlihat aneh, aku tak tahu harus bagaimana mendeskripsikannya. Jika dilihat dari tampilan luarnya, maka ekspresinya kosong seperti biasanya, namun aku seperti melihat bayangan hitam di belakang tubuhnya, seolah-olah Hela terhanyut dalam kesedihan karena bayangan itu.
Apa hanya aku yang bisa melihatnya?
"Ya--" Aku hendak menyapanya, namun tiba-tiba Hela berlutut di hadapanku.
"Master." Itu kata pertama yang terucap dari mulutnya.
"Hela." Tanpa diduga aku langsung menyebut namanya.
Hela melihatku dengan mata yang berkaca-kaca.
Tidak, ini tidak benar.
Aku mengangkat tanganku tepat di hadapan wajahnya. "Apa yang kau inginkan kali ini?" tanyaku.
"Master, Saya akan menjela--"
"Hela." Aku meninggikan nada saat menyebut namanya.
Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku sekarang. Emosi di dalam diriku bisa meledak sewaktu-waktu, kekuatan besar mengalir di dalam tubuhku.
Sial, aku harus tenang. Sepertinya sesuatu telah terjadi pada Hela selama kami pergi.
Aku menghela napas untuk menenangkan diri. Kepalaku masih terasa panas, namun perlahan napasku sudah tidak terengah-engah.
Hela masih menundukkan kepalanya. Dia sepertinya sudah menyadariku sejak awal, apa alasan dia melakukan sandiwara Ratu seperti itu? Karena hal bodoh itu, sekarang Rayna telah ....
"Aku sedang tidak ingin mendengar penjelasanmu."
"Baiklah, Master."
Hela hendak pergi meninggalkan tempat ini, namun perhatiannya tertuju pada Delila yang terbaring di tempat tidur.
"Master, apa yang sebenarnya terjadi di sana?"
"Daisy, ceritakan semua yang terjadi padanya, aku benar-benar tidak memiliki tenaga untuk bercerita."
"Baik, Master. Silahkan beristirahat."
Aku berbaring di sebelah Delila. Mataku semakin berat karena kantuk yang luar biasa.
Rayna ... bertahanlah sedikit lagi.
----------------------------
"Ibu." Seorang wanita memanggilku. Tak terlihat dengan jelas wajah wanita itu, rambutnya berwarna putih. Wanita itu berjalan menuju ke arahku dan berkata, "Tolong jangan benci Saya."
Tidak mungkin.
Aku terbangun dari tidurku. Tubuhku berkeringat, napasku terengah-engah.
Aku bermimpi?
Seseorang meremas tangan kiriku. Orang itu adalah Delila, dia masih belum sadarkan diri, namun tubuhnya reflek bergerak menggenggam tanganku.
"Master, apa yang terjadi?" tanya Daisy yang duduk di sebelah tempat tidur.
Daisy benar-benar mengejutkanku. Seorang wanita yang dipenuhi aura hitam duduk di sebelah tempat tidurmu, dan menatap ke arahmu. Betapa menyeramkannya itu?!
"Di mana Elina dan Hela?"
"Mereka berdua sedang mencoba mencari kordinat tempat itu. "
Itu semua sia-sia.
"Anda pasti berpikir mereka layaknya sedang mencari jarum di tumpukan jerami, akan tetapi kali ini mereka memiliki korek untuk membakar seluruh jerami."
"Maksudmu?"
"Di saat Anda tertidur, terjadi gempa bumi yang begitu kuat di sini. Bahkan beberapa gunung berapi secara bersamaan mengalami erupsi."
Kau bercanda? Aku tertidur sangat pulas sampai-sampai tidak merasakan apa pun?!
"Apa hubungannya dengan tempat para True Vampire itu?"
"Secara garis besar, bencana alam itu berasal dari bawah tanah, Rayna dan Vlad sedang bertarung habis-habisan."
Kalau begitu, Rayna bisa mengimbangi perlawanan Satan? Aku harap begitu.
"Hela dan Elina mencari pusat bencana itu terjadi, karena jangkauan yang sangat luas, bahkan hampir mengguncang seluruh benua ini," lanjut Daisy.
"Sudah berapa lama sejak kejadian itu berlangsung?"
"Sudah lebih dari 10 jam yang lalu."
Tidak adanya bencana alam susulan saat ini menandakan mereka berdua telah menyelesaikan pertarungan, atau gencatan senjata. Namun aku lebih yakin dengan opsi pertama.
"Apa Elina tidak bisa menjangkaunya?"
Ah, tidak, MP Elina tergolong sedikit, aku tidak akan membiarkannya kehabisan MP.
Aku ingin memeriksa mereka, tapi aku tidak bisa meninggalkan Delila sendirian.
Tangan Delila meremas tanganku lagi. Tapi dia masih belum sadarkan diri, hal itu semakin membuatku berat meninggalkannya sendiri di sini.
"Daisy, periksa perkembangan pencarian mereka."
"Apa Anda baik-baik saja di sini?"
"Jangan khawatirkan aku, pergilah."
"Baik, Master."
Sekarang, hanya ada aku dan Delila di sini. Aku tak tahu harus bertindak bagaimana di saat seperti ini. Aku juga gagal menjadi seorang Ratu Kematian seperti yang mereka harapkan.
Ini berbeda dengan game, jika bawahanmu mati, kau hanya perlu mengeluarkan uang untuk menghidupkan mereka kembali tanpa memikirkan perasaan siapa pun. Tapi, sekarang ini semua nyata, emosiku meluap ketika melihat Rayna yang hampir mati waktu itu.
Aku memang sudah gagal menjadi Ratu Kematian. Aku bukanlah Ker, Keres, atau Ratu Kematian, aku hanya seorang maniak game.
Apa yang akan kau lakukan di saat seperti ini, Keres?
"I-ibu ...." Delila tiba-tiba memanggilku.
"Delila?"
Mata Delila perlahan terbuka. "A-apa yang terjadi?" Delila hendak bangun dari tempat tidurnya, tapi aku menahannya.
"Kondisimu masih belum stabil akibat kehabisan MP, kita akan ke dungeon untuk memulihkanmu sepenuhnya."
"M-maafkan Saya, Ibu." Delila memalingkan pandangannya dariku, rasa bersalah terlihat dari wajahnya.
Dia tidak bersalah. Namun ....
Aku menyentuh kening Delila yang terasa hangat itu. "Semua yang kau lakukan itu demi kita semua, 'kan? Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri."
Sangat sulit membangkitkan semangatnya.
Huh?
Sesuatu terlihat bersinar di balik poni yang menutupi mata kanan Delila. Aku membuka poni yang menutupi matanya.
Aku baru sekali melihat hal ini.
Normalnya, mata Delila berwarna biru muda, namun ada alasan aku meletakan poni yang menutupi mata kanannya. Aku mendesain Delila memiliki kelainan Heterochromia, kelainan karena memiliki warna mata yang berbeda, namun kelainan ini akan aktif ketika berada dalam ancaman. Sama seperti Asmodeus yang juga memiliki kelainan ini, dia bisa memprediksi masa depan dengan matanya. Tapi, aku tidak tahu apa kemampuan mata Delila karena aku hanya mendesainnya tanpa memasukan efek apa pun, namun kemungkinan besarnya itu ada hubungannya dengn job-nya sebagai Time Mage.
Warna matanya sangat indah, mata biru yang bercahaya di sebelah kiri, dan mata merah yang menyala di sebelah kanan.
Sepertinya layak untuk dicoba.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!