
Para penduduk di kota terkejut mendengar petir yang menyambar dari arah mansion. Mereka bergegas pergi menuju ke mansion, namun penghalang sihir muncul tak jauh dari mansion, tepat di langkah terakhir para penduduk berada.
"H-hei, sepertinya ada hal buruk yang terjadi pada Nona Camila," ucap salah satu penduduk.
"Ayo hancurkan penghalang ini!" Penduduk dan petualang yang singgah bersama-sama mencoba menghancurkan penghalang dengan segenap kemampuan mereka.
Sementara itu di dalam penghalang.
Mansion hampir sepenuhnya tertutupi oleh kepulan asap yang berasal dari serangan kilat milik Saraya. Percikan listrik masih terlihat jelas dari tubuh Saraya.
Ini ...?
Saraya tak merasakan tombaknya menusuk tubuh wanita itu, justru terasa seperti menyerang sebuah batu besar yang kokoh.
Kepulan asap perlahan menghilang.
Terkejut, itulah reaksi Saraya saat ini. Matanya terbuka lebar dengan mulut sedikit terbuka. Serangan yang mustahil bisa dihalau tanpa item tingkat tinggi tertentu.
Terlihat sesuatu menyerupai logam menahan tombak yang masih dialiri listrik tersebut. Logam itu menyerupai tangan.
Tidak, itu memang tangan yang tertutupi oleh armor dengan bentuk aneh.
Saraya melihat sedikit ke atas. Ternyata wanita itu menahan serangannya dengan tangan kiri yang tertutupi oleh armor aneh. Aneh menurut Saraya, karena hanya tangan kiri wanita itu yang tertutupi oleh armor.
"Sial!" Saraya menarik tombaknya, merubahnya menjadi pedang.
*Ting! Ting! Ting!
Ia menebas ke arah wanita itu dengan sangat cepat, namun tangan kiri wanita itu seolah-olah hidup untuk menangkis semua serangannya.
Saraya bergeser ke sisi kiri, menyerang bagian bawah kaki wanita itu dengan cepat. Namun, wanita itu melompat ke belakang untuk memperlebar jarak. Saraya sudah bergerak cukup cepat, dan itu berhasil membuat wanita itu memilih untuk memperlebar jarak.
Kesempatan terlihat!
*Wush!
Saraya melemparkan pedangnya secara horizontal tepat mengarah ke kepala wanita itu.
"Trik murahan." Wanita itu memiringkan tubuhnya dan pedang itu melewatinya begitu saja.
"Akan kuizinkan kau melihat kilat indah untuk terakhir kalinya," ucap Saraya penuh percaya diri.
*Duaar!
Petir menyambar tubuh Saraya hingga menghilang tak tersisa.
"Tindakan bod--" Wanita itu menghentikan perkataannya setelah merasakan energi yang sangat besar dari arah belakangnya.
Saraya sudah berada tepat di belakangnya, ia sudah mengayunkan pedangnya mengincar leher wanita itu, hanya persekian detik sebelum mencapainya.
"Thunder Slash!"
*Crack!
Tebasan itu merobek dada seorang maid yang tiba-tiba muncul melindungi tubuh wanita itu.
"A-apa kau mau mati?!" Saraya membatalkan serangan kilat yang akan datang setelah tebasan berhasil melukai targetnya.
Dia adalah maid berambut panjang yang merupakan rekan maid assassin sebelumnya.
Hanya mengandalkan tubuh kuat, itu tetap tidak cukup untuk menahan tebasanku.
*Bruk!
Maid itu jatuh seketika.
Pandangan Saraya kini kembali tertuju pada wanita itu yang menoleh tanpa ekspresi penyesalan sedikit pun.
Saraya dengan niat membunuhnya kembali bangkit bersiap menyerang wanita itu kembali. Namun, gerakannya terhenti sesaat setelah melihat zirah aneh di tangan kiri wanita itu memanjang dan mengarah tepat ke perutnya.
"Apa yang kau laku--"
*Dum!
Sebuah suara tembakan terdengar nyaring, menghantam tepat ke perut Saraya.
Tubuh Saraya seketika mati rasa, ia langsung terduduk lemas.
"Dasar j*l*ng!" Edward berlari sambil menembak menggunakan bowgun ke arah wanita itu.
Tembakan itu sia-sia, wanita itu menghindarinya dengan mudah. Edward berlari hendak meninju wanita itu, tinjunya meleset, wanita itu mengitarinya sampai pada akhirnya berada di belakang Edward, dan memukul tengkuknya. Edward pun tumbang.
Saraya menyaksikan kejadian itu dalam keadaan hampir kehilangan kesadarannya.
Sial.
Tubuhku terasa dingin, apa yang terjadi?
Saraya membuka matanya secara perlahan. Terlihat samar-samar seseorang yang sedang duduk di depannya.
Tanganku tak bisa bergerak? Sepertinya mereka mengikatku menggunakan tali murahan ini, mereka meremehkanku!
Saraya mengumpulkan kembali kekuatannya, mencoba memberontak dengan menarik paksa kedua tangannya untuk lepas dari jeratan itu.
Apa?!
Usahanya sia-sia, justru tangannya terluka karena memaksa bergerak dalam jeratan.
"Percuma, aku sudah menutup seluruh aliran Mana milikmu," ucap wanita yang duduk di depannya.
Saraya melihat jelas sosok wanita itu sekarang, sebelumnya ia hanya menyerang secara membabi buta tanpa menghiraukan penampilannya.
Rambut keemasan, mata merah menyala yang menatap hingga ke dalam jiwanya. Saraya pernah membaca deskripsi orang yang memiliki karakteristik serupa.
"Kau ...?"
Sudah kuduga.
Saraya sudah mendengar banyak rumor tentang seorang wanita dari Keluarga Hart dan juga seorang petualang rank S yang menjadi Perdana Menteri.
Kerajaan Penyihir Maphas saat ini sedang dalam gencatan senjata melawan Federasi, termasuk Gereja Suci. Pihak Federasi maupun orang ini tak berhubungan denganku, jadi apa yang dia cari?
"Aku tak ingat pernah menyinggung kalian," ucap Saraya dengan nada sedikit lemas.
"Yah, memang belum, dan aku datang untuk memastikan hal itu tidak akan terjadi."
"Apa maksudmu?"
"Aku hanya mencegah mereka melakukan kontak dengan kalian, Prajurit Bayaran Bad Blood."
Sebuah rahasia besar yang hanya diketahui oleh segelintir orang, bahkan keluarganya sendiri tak mengetahuinya. Saraya merupakan pimpinan prajurit bayaran yang terkenal akan persentase kemenangan tinggi jika mereka berada di suatu kubu. Banyak bangsawan yang menyewa mereka untuk membantu misi penaklukan, bahkan menghabisi lawan politik dalam perperangan.
Berbeda dengan pembunuh bayaran, mereka bekerja secara terang-terangan, namun ada hal yang membuat mereka istimewa.
"Entah bagaimana caranya, mereka pasti akan menggunakan kalian untuk misi-misi kotor. Aku tak mau itu berdampak pada kerajaanku," lanjut Alissa Hart.
Sudah beberapa kali orang-orang mencari tahu identitas pimpinan pembunuh bayaran, bahkan guild informasi tak memiliki informasi kuat. Karena pimpinan prajurit bayaran jaranh turun ke medan perang.
Dia bisa mengalahkan kami dengan mudah, tak ada alasan bagiku untuk menyinggungnya, terlebih lagi kerajaan undead itu benar-benar sangat misterius. Dia penuh dengan tipu muslihat.
"Aku juga tak berencana mengambil misi dalam waktu dekat ini. Kau sudah tahu kondisi keluargaku, 'kan?" Saraya menunduk untuk menyembunyikan ekspresinya.
"Ah, maksudmu tentang seorang anak yang ingin membunuh ayahnya agar bisa menguasai organisasi untuk dirinya sendiri?"
"Omong kosong! Itu hanya berita palsu yang sengaja disebar oleh pihak lain!"
"Anggap saja begitu. Namun, di sisi lain sang kakak tak bisa berbuat banyak pada adiknya yang telah melakukan banyak kejahatan di organisasi semata-mata karena kasih sayang, apa aku benar?"
"I-itu ...." Saraya memalingkan wajahnya, terus berusaha menyembunyikan ekspresinya.
Aku gagal melindungi keluargaku, bahkan melewatkan kejadian saat ayah diserang oleh orang-orang itu.
"Nona Saraya! Jernihkan pikiranmu! Jangan terpengaruh ucapan j*l*ng itu!" Seorang pria berteriak dari sudut ruangan.
Saraya nenoleh ke arah pria itu yang ternyata adalah ....
"Edward?"
Edward dalam keadaan terikat bersama kedelapan bawahannya yang mulutnya telah disumpal dengan kain.
*Bugh!
Seorang maid menendang wajah Edward hingga pria itu terhempas.
"Aku akan memotong lehermu jika berani menghina Perdana Menteri."
"Edward!"
Saraya terkejut melihat maid yang menendang Edward. Maid itu adalah assassin yang ia kalahkan sebelumnya, dan maid yang menerima tebasan pedangnya juga berada di sana tanpa terluka sedikit pun.
Mereka ... baik-baik saja? Terutama maid yang menerima tebasanku, akan cukup memakan waktu lama jika disembuhkan dengan potion atau sihir penyembuh, kecuali ada seorang Priest tingkat tinggi dari Gereja Suci. Tapi ... mereka kerajaan undead.
"Saraya de Moriento, aku punya permintaan untukmu," ucap Alissa Hart.
"Permintaan?"
Alih-alih mengajukan permintaan, ini lebih terdengar seperti pemaksaan.
"Pertama, yakinlah bahwa adikmu benar-benar ingin membunuh ayah kalian."
Saraya kembali termenung. Memang benar, Saraya tak terlalu mengawasi Justin akhir-akhir ini karena ia menganggap adiknya hanyalah seorang pemuda tak punya pendirian dan lemah.
Tapi, untuk membunuh ayah, aku tak bisa percaya dia melakukan itu.
"Aku akan memastikan sendiri dengan kedua mataku. Jika itu benar, maka aku akan melakukan tindakan."
"Baiklah, seperti itu juga tak masalah. Kedua, ini bukan sekedar masalahku, melainkan masalah yang bisa mengancam asosiasi ke depannya. Sepertinya adikmu telah dipengaruhi oleh seseorang, aku datang untuk menangkap dalang di balik semua ini."
"Siapa yang kau maksud?"
"Ini masih perkiraan, namun sepertinya ini ada hubungannya dengan musuhku maupun Gereja Suci."
"Apa?"
Ada musuh lain? Tidak, mereka bermusuhan, tapi memiliki musuh yang sama di luar sana?
"Baiklah, selagi itu adalah musuh yang mengancam asosiasi, aku juga akan membantu."
"Itu terdengar bagus, kenapa kita tak berbicara seperti ini sebelumnya? Aku sangat dirugikan karena datang dengan informasi penting, namun tak disambut hangat."
"Aku sungguh minta maaf, aku akan membayar informasi ini dengan harga setimpal."
"Cukup bayar dengan ini." Alissa Hart menunjukkan sebuah cincin di hadapan Saraya.
"I-itu ...."
Itu adalah cincin milik Saraya yang dapat berubah bentuk menjadi senjata sesuai keinginannya. Terlebih lagi ada kemampuan khusus dari cincin itu.
"Sangat disayangkan, tapi cincin itu sudah terikat kontrak denganku, kau tak akan memperoleh apa pun," balas Saraya dengan nada meremehkan.
"Kau yakin?" Alissa Hart memasang cincin itu di jari telunjuk kirinya, ukurannya secara otomatis menyesuaikan jarinya.
Melihat cincin yang menyesuaikan ukuran membuat Saraya terkejut. Pasalnya cincin itu harusnya tak akan bisa dipakai oleh orang yang bukan master dari cincin itu.
Perlahan cincin itu memanjang mengambil bentuk sebuah senjata.
"Tidak mungkin ...." Saraya benar-benar panik sekarang.
Siapa orang ini sebenarnya?
Bersambung ....