
Huuh ... mereka terus berdatangan seperti serangga.
"Nona Alissa, jangan jauh-jauh dari kami." Orion semakin menempelkan punggungnya.
Apa-apaan bajingan ini!
"Jangan khawatirkan aku,"
Orion dan wanita kelinci sedang bersiap-siap dalam posisi bertarung. Ratusan anggota Golden Blood ada di hadapan mereka. Empat orang aneh berjubah kuning berada di hadapanku, serta ratusan orang berada di belakangnya.
*Crrrkkk
Terjadi getaran kecil di ruang bawah tanah.
Huh?
Ruang bawah tanah ini seperti bergerak dengan sendirinya. Perlahan sudut ruangan semakin menjauh.
"Ruangan ini sudah dimodifikasi," ucap wanita kelinci.
Modifikasi? Maksudmu mereka menggunakan mesin?! Tidak, tidak, jika diperhatikan lebih seksama, ruang bawah tanah ini berada jauh di dalam. Itu memungkinkan mereka membuat jalur khusus yang bisa mengatur setiap ruangan yang ada. Berarti, setiap ruangan memiliki beberapa lapisan agar bisa dilebarkan seperti ini.
"Tch. Ini benar-benar menjengkelkan." Orion membungkukan tubuhnya bersiap untuk melompat ke kerumunan musuh.
"Mulai!" Wanita kelinci juga tidak ingin kehilangan momentum.
*Wush!
Mereka dengan cepat melompat dan menghantam kerumunan itu.
*Duar!
Luar bisa. Dengan tubuhnya yang kekar itu, dampak serangan Orion sangat terasa. Namun, aura biru di tangan wanita kelinci jauh lebih mengerikan. Aku berencana ingin membawanya.
"Kekekeke ... nasibmu sungguh malang, Manusia." Salah satu dari empat Beastman berbicara.
Dia Beastman serigala.
"Two, jangan meremehkan musuh," ucap rekan di sebelahnya.
Dan rekan di sebelahnya, Beastman yang terlihat seperti macan, sama dengan kedua rekannya yang lain.
"Three, dia hanyalah Manusia lemah, dua rekannya sangat kerepotan di sana,"
Mereka memanggil dengan menyebutkan angka. Apa itu urutan kekuatan mereka?
Keempat Beastman itu membuka jubahnya secara bersamaan.
Mereka bertelanjang dada. Sangat kekar, dan memiliki sebuah senjata berbentuk seperti knuckle serta dagger.
Sangat banyak Warrior di Kerajaan ini.
"Five, urus wanita itu, aku tak tertarik dengannya. Bagianku adalah si Melissa Rabbiot yang di sana." Two menunjuk ke arah wanita kelinci.
"Baiklah, Two,"
Five mulai berjalan ke tengah. Dia mulai mengenakan knuckle-nya.
Hoh, dia ingin adu tinju, ya. Sangat menarik. Aku beruntung karena kemampuan bertarung dari job Warrior-ku tidak menghilang. Tubuhku seperti sudah terampil bertarung jarak dekat. Namun, kenyataannya aku tidak pernah berlatih bela diri sama sekali di kehidupanku dulu.
Kami berdua saat ini berjarak hanya beberapa meter.
"Apa kau siap?" tanyanya.
Aku mengangguk.
Kami bersiap dalam posisi kuda-kuda bertarung.
Mulai!
Five memulai dengan mengarahkan tinju ke wajahku menggunakan tangan kirinya.
Aku menghindar dengan cara memiringkan wajahku ke kanan dan sedikit menunduk.
Pandanganku hanya mencangkup dari perut hingga pahanya.
*Dugh!
Five menyikut tengkorak belakangku dengan tangan kanannya.
*Brak!
Disambung dengan hantaman lutut dari kaki kirinya.
Aku terhempas ke sisi bagian kanannya.
Gaya bertarungnya mengingatkanku dengan bela diri Muay Thai. Hantamannya cukup keras.
"Hei, Nona, apa kau masih bisa bertarung?" tanya Five dengan nada mengejek.
Aku mencoba untuk berdiri.
*Wush!
Five sudah berada di depanku.
Posisi tubuhku masih dalam keadaan merangkak.
*Bugh!
Five menendang kepalaku dengan kaki kanannya. Seperti menendang sebuah bola.
Aku kembali terhempas.
"Hei, Five, ada apa denganmu? Ini tidak seperti biasanya." Two melihat Five dengan wajah kebingungan.
"Wanita ini ... dia hanya pura-pura,"
Dia sudah menyadarinya.
"Kukuku ... maaf, aku hanya ingin melihat kemampuanmu, kau terlalu cepat menyadarinya," ucapku sambil mengambil posisi berdiri.
"Kau bahkan tidak terluka. Tolong, seriuslah." Aura merah menyelimuti tubuh Five.
Akhirnya dia serius.
"Baiklah, aku tidak akan melakukannya lagi,"
Aku menarik pedangku.
Knuckle-nya itu ... Item rank A.
*Wush!
Kami melompat secara bersamaan.
*Ting!
Pedangku dan knuckle-nya saling berhantaman.
Aku menyerangnya secara horizontal ke sisi bagian kanannya.
*Ting Ting
Melihat serangan mendatarku, Five menangkisnya dengan cara menempelkan kedua knuckle-nya.
Posisi kirinya kosong.
Aku mencoba menendang sisi kiri pinggangnya dengan kaki kanan.
*Pagh!
Five menepisnya dengan cara menaikan lutut kirinya.
"Nona, apa hanya ini kemampuanmu?"
Huh?
Aku tidak bisa menarik pedangku.
Five tersenyum.
Dia mengapit pedangku dengan kedua telapak tangannya.
*Waph
Five langsung mengunci kedua tanganku dengan cara mengapitnya dengan tangan kanannya.
Pedangku terlepas.
Posisiku sangat tidak diuntungkan. Dia menahan kedua tanganku dengan kunciannya.
Aura merah di tubuhnya perlahan berkumpul di tangan kirinya.
Dia berencana untuk mengakhiri ini.
"Fire Gloves." Aku menggunakan sihir api yang menyelimuti tanganku.
*Bush!
Tangan kanan Five mulai terbakar.
"Kau Magic Caster?!"
*Crack!
Aku langsung membuka paksa tanganku sehingga kuncian Five terbuka.
Five melompat mundur.
Tangan kanannya mengalami luka bakar cukup parah.
Aku menggunakan api tingkat 6, itu cukup untuk meninggalkan luka permanen.
"Wah, wah, kau juga Magic Caster. Ini tidak adil. Aku akan turun membantu rekanku." Four berjalan mendekati Five.
Two mengangkat tangannya ke depan, dan mengayunkan jari telunjuknya.
"Serang dia," perintah Two sambil menatap tajam diriku.
Ratusan anggota Golden Blood di belakangnya berlari ke arahku.
"Seharusnya ini sudah cukup untuk melawan Magic Caster," lanjut Two.
Apa mereka takut dengan Magic Caster?
"Hei ...." Seseorang berbisik di belakangku.
*Crack!
Sebuah dagger menancap di tengkukku.
Damage! Ternyata Four menyerangku dari belakang.
*Wush!
Five berkari ke arahku.
*Bugh!
Five meninju perutku dengan tangan kirinya mengarah ke atas.
*Brak!
Tubuhku langsung terpental menghancurkan langit-langit ruangan.
Seseorang menangkapku.
Telinga kelinci yang lucu itu ....
"Nona Alissa! Bertahanlah!"
Kau terlalu mengkhawatirkanku, kelinci manis.
Aku melirik ke tempat wanita kelinci bertarung sebelumnya.
Ratusan tubuh terbaring tak berdaya di sana. Wanita kelinci menghabisi mereka semua dalam waktu yang singkat.
*Brak!
Kami mendarat dengan cukup keras hingga lantai hancur karena hentakan kaki wanita kelinci.
"Akhirnya kau datang ... Melissa Rabbiot." Two terlihat bersemangat saat melihat wanita kelinci.
Wanita kelinci menghiraukan Two, dia melihat ke arah Orion yang masih bertarung.
"Dia terlihat kerepotan," kataku.
Wanita kelinci tersenyum. "Umur memang tidak mungkin berbohong,"
"Hei!" Two berteriak cukup keras.
Dia sangat marah karena wanita kelinci mengabaikannya.
"Kalian bertiga! Kemarilah!" teriak Two.
Ketiga rekannya mendekatinya.
Two mengeluarkan sesuatu di saku celananya.
Aku tidak bisa melihatnya dengan pasti karena kerumunan yang sebelumnya berlari ke arahku.
Wanita kelinci bersiap-siap untuk menyerang.
Aku menahan pundaknya.
"Ada apa, Nona Alissa?"
Wanita kelinci mundur sambil tersenyum menatapku. "Baiklah!"
Dia terlihat ceria seperti biasanya.
Aku menghela napasku.
Sepertinya aku harus mengeluarkan sedikit kekuatanku.
*Clap
Wanita kelinci menutup tengkukku yang terluka dengan item berbentuk daun.
Item ini ...? Item yang mempercepat regenerasi luka. Sangat berguna jika tidak ada Support di sebuah party.
Pedangku ada di dekat mereka. Sepertinya aku harus menggunakan pedang sihir.
Aku mengangkat tangan kananku ke atas.
Kibaran api muncul di tanganku membentuk sebuah pedang.
Ini dia. Pedang ini memiliki serangan api tingkat 8. Seharusnya ini cukup untuk melawan mereka.
Aku langsung menekuk kakiku dan melompat menuju kerumunan itu.
Di saat yang bersamaan, aku mengayunkan pedangku, dan memunculkan sebuah tebasan api yang sangat panjang.
*Brugh!
Aku mengayunkan pedangku menyamping.
Tebasan api itu langsung membakar dan memotong mereka semua.
Wooaah ... aku tidak bermaksud menghabisi mereka dalam sekali serang!
"Apa aku terlambat?" Orion datang menghampiri wanita kelinci.
Aku bisa mendengarnya karena jarak kami masih terbilang cukup dekat.
Wanita kelinci hanya diam menatapku dengan wajah aneh.
"M-melissa?" Orion memegang pundak wanita kelinci.
"Ah." Wanita kelinci langsung mengalihkan pandangannya ke Orion. "Nona Alissa baru saja menyelesaikannya,"
*Bum
Huh?!
Aku merasakan tekanan yang cukup kuat dari arah keempat Beastman.
Apa yang terjadi?
Wanita kelinci dan Orion langsung berlari mengarah ke tempat keempat Beastman itu.
Pandanganku masih tertutup oleh api dari seranganku sebelumnya.
*Duuuaaar!
Ledakan besar terdengar dari tempat mereka.
Ruang bawah tanah kembali bergetar, namun langit-langit mulai runtuh.
Aku lari menuju tangga yang terhubung dengan bar.
Keempat Beastman itu melakukan sesuatu sebelumnya. Mungkin itu jawaban dari apa yang terjadi saat ini.
Perlahan tangga yang kunaiki hancur.
Sedikit lagi!
Aku terus berlari hingga mencapai bar dan menuju pintu keluar.
Getaran semakin kuat hingga perlahan bar mulai runtuh. Bangunan di sekitarnya juga mengalami dampak yang sama.
Sudah kuduga, penghalang yang kupasang berhasil dihancurkan. Yah, itu hanya penghalang tingkat 2, sih.
Ngomong-ngomong, di mana wanita kelinci dan Orion? Terlebih lagi, aku tidak melihat penduduk di sekitar sini, apa mereka sudah dievakuasi?
"ROOOAAAR!"
Terdengar suara raungan dari bawah tanah.
Mereka masih di bawah sana.
*Bum!
Aku merasakan tekanan yang begitu besar.
Ini bukan milik Beastman itu maupun wanita kelinci. Asalnya ... dari atas!
Seseorang mendarat ke bawah dengan sangat cepat.
"Ratu." Seseorang memanggilku.
Itu Raja Iblis. Dan orang yang barusan ... ah, orang itu Maryna.
"Apa kalian telah menyelesaikan tugas?" tanyaku.
*Bruk!
Raja Iblis melempar seseorang tepat di hadapanku.
Penampilannya seperti Bangsawan.
"Apa dia ....'
"Benar, ini Marques Rudy Howfen,"
Ah, benar.
Aku memperhatikan Marques.
Dia terlihat sangat menjijikan. Penampilannya yang gemuk seperti babi membuatku semakin muak. Banyak Bangsawan bertubuh babi sepertinya melakukan kejahatan.
"Satu hal lagi, Ratu," lanjut Raja Iblis. "Kami melawan Beastman yang sedikit kuat,"
Huh?
"Dia menyebut dirinya One?" tanyaku.
Raja Iblis terkejut mendengar pertanyaanku.
"B-bagaimana Anda bisa tahu?"
Tentu saja! Karena kami melawan sisa urutan nomornya!
"Eheem ... lupakan itu, kenapa mereka begitu lama?"
*Dum! Dum!
Suara dentuman terdengar cukup keras.
*Wush!
Sesuatu terhempas dan jatuh tepat di depan kami.
Makhluk aneh berukuran besar terbaring lemas.
Monster? Tidak, sepertinya keempat Beastman itu bersatu.
Maryna dan yang lainnya keluar dari bawah tanah.
Wanita kelinci dan Orion terlihat berantakan.
"Khuahahaha! Itu sangat menyenangkan." Orion tertawa dengan sangat keras.
"Jadi, apa ini sudah menyelesaikan semuanya, Duke Orion?" tanyaku.
"Eheem ... Golden Blood sudah dilenyapkan, mungkin masih ada beberapa dari mereka, namun itu bukan masalah besar," sahut Orion.
"Kami akan kembali ke penginapan. Orion, aku serahkan urusan di sini padamu," ucap wanita kelinci.
"Baiklah. Serahkan ini padaku. Aku akan segera menghubungi kalian,"
Kami pun kembali ke penginapan dengan teleportasi.
A. Pilihan
Sudah sangat lama aku tidak merasakan hal ini. Aku sedikit merindukan pertarungan.
Aku berada di ruangan pribadiku di penginapan.
Apa aku melakukan hal yang benar?
Aku menatap sebuah Lukisan kecil di bingkai dan mengambilnya.
Air mataku keluar tiba-tiba.
Aku mengusap-ngusap lukisan itu.
"Aku berhasil melakukannya, Jesse,"
*Tok Tok Tok
Seseorang mengetuk pintu.
Tiga orang. Itu mereka. Sudah 2 jam semenjak misi pelenyapan Golden Blood. Dan ini sudah tengah malam, apa mereka akan pergi?
Aku membuka pintu.
"Maaf, menganggu, Nona Melissa." Nona Alissa tersenyum padaku.
Aku mengijinkan mereka masuk.
Nona Alissa ditemani oleh Iblis yang kuat. Aku sangat terkejut ketika Iblis bernama Maryna mengalahkan empat Beastman itu hanya dengan sekali tebasan pedang. Dan Nona Arys, sepertinya dia lebih kuat dari Nona Maryna.
Aku menatap Nona Alissa.
Dan sekarang, orang yang penuh misteri. Alissa Hart.
"Apa ada sesuatu di wajahku, Nona Melissa?"
"Ah, t-tidak ... ngomong-ngomong, apa kalian membutuhkan sesuatu?"
Aku sangat tidak sopan!
Dua Iblis duduk di sofa, dan Nona Alissa berjalan menuju jendela.
"Nona Melissa." Nona Alissa menunjuk ke arah dua Iblis.
Nona Arys dan Nona Maryna berdiri.
*Bum!
Eh?
Sebuah tekanan yang sangat besar membuat tubuhku tak bisa bergerak.
Aura ini seperti sudah ditahan cukup lama. Auranya berasal dari kedua Iblis ini.
"Izinkan aku memperkenalkan diri secara resmi. Namaku Arys Astaroth, Raja Iblis keempat dari Wilayah Iblis,"
Heh?
"Dan aku, Maryna Larafala Ruine, Panglima Iblis ketiga,"
Apa aku tidak salah dengar? Tidak, aura mengerikan ini, mereka nyata! Apa yang mereka lakukan di sini?!
Tubuhku sulit digerakan. Mulutku tak bisa dibuka.
Apa yang harus kulakukan? Apa mereka akan membunuhku?
Aku merasakan aura yang menarikku ke belakang.
Tubuhku reflek berbalik ke arah Nona Alissa.
Mataku seketika melebar melihat sosok di depanku.
Seorang wanita berdiri membelakangi jendela, wanita itu tersenyum. Cahaya bulan membuat rambut kuningnya berkilau. Mata merahnya terus menatapku dengan lembut.
Tidak ada yang aneh dari wanita ini, hanya saja ... Aku seperti melihat seorang Dewi Kematian datang padaku.
"Melissa, Ratu ini ingin mengajakmu untuk ikut ke Kerajaan Penyihir Maphas," ucapnya.
Suaranya menusuk ke hatiku. Aura mengerikan yang berasal darinya jauh lebih kuat dari Raja Iblis.
Siapa wanita ini?
"A-aku ... m-menerimanya ...."
Aku tak bisa menahan air mataku.
Jesse ... apa ini yang kau maksud? Akan ada seseorang yang datang menuntunku.
Bersambung ....
Wah, ganti cover, nih! 😁 Ini ilustrasi kedua selama web novel ini rilis. Mau ilustrasi lagi? Support terus Author, ya! Caranya ada di bawah.
JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!
Kalian bisa support Author juga di sini :
https://saweria.co/hzran22