
Situasi di kediaman Duke Hart sangat tegang, semua cabang keluarga Hart berkumpul di tempat itu atas perintah Karman Hart. Mereka dihadapkan dengan ribuan prajurit Kekaisaran yang sudah mengepung dari segala penjuru. Tak ada jalan keluar, jalan satu-satunya adalah berperang.
Maximus Hart melihat semua itu dari atas kediaman Hart, ia berdiri dengan gagahnya.
"Cepat atau lambat, kami memang akan mengalami situasi seperti ini. Tapi, tak kusangka akan secepat ini. Ayah belum memberi perintah pada kami."
Tak ada yang tahu apa isi pikiran Karman sebenernya. Para bangsawan yang merupakan bawahannya sudah tertangkap, dan ini adalah informasi kilat yang langsung sampai berkat para anjing dari balik bayangan.
"Apa ini ujian untuk kami?"
Maximus terlihat bersemangat setelah menyimpulkan semuanya.
Pria besar itu melompat ke halaman depan dengan suara benturan keras. Bahkan beberapa hiasan rumah terhempas karena angin.
Matanya melihat ke seluruh bagian yang bisa dijangkau. Seluruh keluarga cabang telah berkumpul, tak terkecuali cabang terbawah sekali pun. Prajurit milik Duke Hart juga bersiap keluar dari kamp mereka.
"Perhatian semuanya!" Maximus mengangkat tangannya. "Masa depan klan kita akan ditentukan dengan perang ini! Gunakan seluruh kekuatan kalian, peras kekuatan kalian hingga tubuh kalian mengering! Tujuan kita adalah untuk mendirikan era baru!"
Semua orang berseru, teriakan mereka penuh dengan semangat api membara. Namun, ada yang tak bisa merasakan semangat itu.
Di tempat yang sama, seorang wanita duduk dengan memeluk lutut kaki dan menyembunyikan wajahnya di pojok rumah besar itu Ia tampak tak menghiraukan kebisingan di sekitarnya.
Apa aku harus melawan mereka?
Matanya terlihat sayu, itu terlihat dari sela lututnya yang terbuka. Wanita itu sama sekali ragu dengan keputusannya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya seorang pria yang ikut duduk di sebelahnya.
Wanita itu mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah si pria. "Kak Theo, aku sangat gelisah saat ini."
Mata merah yang bersinar, rambut kuning panjang yang terurai, penampilan terlihat seperti gadis yang baru saja memasuki usia dewasa, tapi itu memang kebenarannya.
"Tak ada yang bisa kita lakukan. Aku akan melindungimu, Livia."
Mereka adalah kakak beradik, Theodore Hart dan Livia Hart. Keduanya terpaksa bergabung di tempat itu setelah perintah langsung dari Karman Hart beberapa hari sebelumnya.
Semuanya sudah tahu tujuan seluruh cabang keluarga Hart dikumpulkan di kediaman utama. Semata-mata untuk menekan Perdana Menteri Kerajaan Penyihir Maphas, Alissa Hart.
Mamun, Livia sangat keberatan dengan hal itu, ia tak bisa mencurahkan pikirannya karena dia berasal dari cabang bawah.
Aku tidak bisa menyakiti temanku.
Livia menggenggam tangan Theo dan berkata, "Kakak, apa kau bisa menolongku?" Dengan wajah penuh harap.
Theo sedikit ragu dengan permintaan Livia, namun ia berusaha untuk meyakinkan dirinya.
Seluruh prajurit sudah mengelilingi kediaman utama, pengguna pedang kecuali pemanah berada di barisan depan. Untuk orang dari keluarga Hart, mereka di barisan tengah di belakang prajurit, sedangkan Maximus Hart berada di barisan paling depan. Dia berdiri dengan percaya diri di hadapan musuh.
Salah satu prajurit yang memiliki kemampuan mata elang menyadari sesuatu yang aneh di hadapan mereka. Prajurit itu juga di barisan depan tempat Maximus berada.
"Kau juga menyadarinya, ya?" tanya Maximus yang berada di dekatnya.
"B-benar, Tuan."
Aura gelap yang menyelimuti seluruh pasukan di hadapan mereka. Tak ada kesan seperti makhluk hidup, apalagi manusia. Maximus berpikir mereka adalah undead karena mengingat Kerajaan Penyihir Maphas.
Tetap saja, aku tak merasakan energi negatif yang dimiliki oleh undead.
Ribuan sosok yang tak diketahui, wujud mereka terlihat seperti manusia, namun seluruh tubuh mereka terlihat seperti bayangan hitam yang mengenakan zirah dari prajurit Kekaisaran.
Maximus terlihat berdecik kesal. Ia melompat ke depan untuk memperpendek jaraknya dengan para prajurit aneh itu.
Mau bagaimanapun, mereka tetap akan musnah dengan jurus pamungkasku.
Maximus bersiap dengan kuda-kudanya, kakinya terlihat kokoh dan keras dalam posisi itu.
Sebagian besar dari pasukan bayangan itu berada di bagian depan kediaman Hart. Jumlah mereka semakin berkurang dari sisi lainnya. Maximus sedikit lebih tenang karena prajurit elit mereka sudah menyebar ke area lainnya.
"H-hei ... itu?!" Orang-orang di belakang Maximus tampak terkejut melihatnya.
Aura membara dari tubuhnya perlahan berkumpul di tangan kanannya dan membentuk seperti sarung tangan.
Maximus tersenyum kecil sembari noleh ke belakang. Kebanggaannya semakin tinggi karena decak kagum dan pujian yang diterima.
Baiklah, akan kutunjukkan sesuatu yang melebihi ekspetasi kalian!
Maximus kembali menoleh ke depan, namun .... seorang pria sudah berada tepat beberapa meter di hadapannya sembari bersiap mengayunkan pedang. Tak ada kesempatan menghindar, dan ....
*Crack!
Pria itu melesat cepat menebas lehernya. Kini ia berhadapan dengan orang-orang dari keluarga Hart lainnya.
"Satu orang, tumbang," ucap pria itu.
Orang-orang melihatnya dengan niat membunuh. Pria dengan jubah hitam datang entah dari mana, namun ... wajahnya terlihat tidak asing bagi mereka yang menghadiri acara pernikahan Kaisar tadi malam.
"Glenn Aleister! Dasar bajingan!"
Seperti yang mereka teriakkan, pria itu adalah Glenn Aleister.
"Sepertinya ini adalah takdir yang mengikatku. Takdir keluarga Hart adalah musnah di tanganku, Aleister." Glenn terlihat terbawa oleh kenangan lamanya.
Alasan ia dilatih dengan keras oleh ayahnya semata-mata untuk bersaing dengan keluarga Hart. Ia terlihat tak tertarik dengan itu ketika dalam masa berontaknya, namun ia menemukan alasan kenapa ayahnya sangat berambisi menghancurkan keluarga Hart.
Akan tetapi, ini tak mungkin berjalan mulus dengan ratusan elit keluarga Hart di hadapannya saat ini tanpa bantuan pasukan bayangan.
Aku akan melepas semua batasanku.
Itulah keputusan singkat yang ia ambil.
Ekspresi para musuh di hadapannya terlihat senang. Mata mereka tertuju pada sesuatu di belakang Glenn. Di saat yang sama, Glenn merasakan sensasi seperti membakar punggungnya.
Glenn langsung berbalik sembari mempertahankan sikap siaganya.
Sosok tinggi dengan tubuh kekar berada tepat di belakangnya. Ia terlihat marah dengan urat di dahi yang terlihat jelas.
Glenn baru menyadari bahwa pedang yang digunakan untuk menebas pria itu kini telah hancur.
Bagaimana mungkin?! Pedang ini terbuat dari mithril!
"Ini pertama kalinya aku dipermalukan, tidak, ini akan menjadi terakhir kalinya," ucap Maximus dengan nada kesal.
Tak ada luka di leher tempat Glenn menebas. Kemungkinan besar Maximus memiliki daya tahan yang luar biasa, atau menggunakan skill dan item.
Maximus mengangkat tangan kanannya ke atas.
"Maju!" Prajurit keluarga Hart maupun orang dari Hart berlari menuju pasukan bayangan.
Glenn dan Maximus saling berhadapan, orang-orang berlari melewati mereka tanpa terkecuali.
Sepertinya aku bertemu lawan yang merepotkan. Mungkin dia musuh alamiku.
Glenn mengeluarkan dagger andalannya.
Maximus tampak terkejut melihat aura yang dipancarkan dari dagger itu. Ini pertama kalinya ia melihat sesuatu yang gelap berkumpul sebanyak itu dan bersemayam di dalam senjata.
*Wush!
Keduanya melesat ke depan secara bersamaan. Pertarungan pun dimulai.
Bersambung ....