The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Menara



Kekuatanku kembali?


Aku mencoba mengontrol Mana di tubuhku.


Sesuatu mengalir di tubuhku seperti aliran sungai. Mengalir dengan lancar tanpa hambatan sedikit pun.


Tidak salah lagi, aliran Mana di tubuhku jauh lebih deras dari sebelumnya. Namun, sepertinya kekuatanku belum kembali sepenuhnya.


"Menu." Aku mencoba melihat tampilan statistikku.


Tidak ada yang muncul.


Aku masih tidak bisa melihat statistikku. Tapi, rasanya kekuatanku telah kembali hampir setengah dari kekuatan penuhku.


"Apa kalian bisa melihat statku?"


Mereka berdua menggelengkan kepala.


"Fire Ball." Api muncul dari tanganku.


Sensasinya berbeda dengan sebelumnya. Api ini lebih solid dan penuh dengan sihir.


Aku melempar api itu ke tanah kosong bekas rumahku yang menghilang.


*Duaaar!


Itu menimbulkan ledakan yang cukup besar.


Yah, aku tidak mengerahkan seluruh kekuatanku, sih. Tapi, satu hal yang pasti, pertemuanku dengan Keres memicu kembalinya kekuatanku.


Aku melihat ke arah tanah kosong yang terbakar karena apiku.


Keres, apa kita benar-benar bisa bertemu lagi?


"Ibu, sebaiknya kita kembali ke istana."


Tak ada lagi yang bisa kulakukan di sini, aku akan sesering mungkin memeriksa apa rumah ini akan muncul lagi atau tidak.


"Ayo."


Delila membuka portal menuju istana. Kami masuk secara bergantian, dan aku berada di barisan belakang.


Aku berjalan melewati portal. Mataku tertutup karena sedikit terganggu saat transisi dari dimensi Delila ke dunia baru.


"Apa perjalanan kalian menyenangkan?" Terdengar suara wanita yang tidak asing bagiku.


Dia duduk di tempat tidurku dengan melipat tangannya.


Hela?


Aku langsung membungkukkan badanku untuk menyapanya.


"Perjalanan bisnis?" tanya Hela lagi.


"Tidak, kami hanya memeriksa kondisi di Kerajaan Penyihir Maphas, Yang Mulia,"


"Hmmm ... begitu, ya." Hela terus melihatku dengan penuh kecurigaan.


Dia sebelumnya pergi entah ke mana, sekarang tiba-tiba muncul di kamarku begitu saja! Ah, ini kamarnya, aku lupa.


"Sepertinya kau mendapatkan kembali kekuatanmu, ya? Hmmm ... kelihatannya belum sepenuhnya."


Dari mana dia tahu tentang kekuatanku yang menghilang? Itu pasti Tiffany ... dia yang tahu kekuatanku menghilang.


"Jangan terlalu membenci Tiffany, dia benar-benar sangat menghormatimu,"


Dia tahu aku sedang mencurigai Tiffany.


"Tidak, Yang Mulia. Sudah sepatutnya Tiffany melakukan hal sesuai perintah Anda."


Aku juga tidak berniat memusuhinya.


"Alissa Hart, aku mengajukan kerja sama dalam bidang sihir antara Kerjaan Penyihir Maphas dan Tiga Menara,"


Sepertinya Hela sudah membuat rencana.


"Saya menerimanya, Yang Mulia,"


"Bagus, perlakukan mereka dengan lembut."


Memangnya aku sejahat apa?!


Setelah pertemuan singkat itu. Aku pergi menuju ke tiga menara sihir. Dari tengah kota, puncak dari tiga menara itu terlihat, mereka terletak di bagian strategis kota. Menara merah berada di sisi kiri, menara putih di tengah kota, dan menara biru di sisi kanan.


"Ibu, menara mana yang ingin Ibu kunjungi terlebih dahulu?" tanya Delila.


Hmmmm ... menara putih lebih dekat, sebaiknya aku ke sana terlebih dahulu.


"Menara cahaya."


Aku masih belum tahu apa yang harus kubicarakan dengan mereka. Hela sudah mengumumkan kerja sama itu bahkan sebelum dia mengajukannya padaku. Aku hanya perlu mengikuti alur pembicaraan mereka saja.


Kami sampai di menara cahaya.


"Kami perwakilan dari Kerajaan Penyihir Maphas, ingin membicarakan soal kerja sama antara Menara Penyihir dan Kerajaan kami,"


"Apa kalian bisa membuktikannya?"


"Ini perintah langsung dari Ratu Hela." Aku menunjukkan sebuah emblem emas berlambang Kerajaan Mystick. Hela memberikanku emblem ini agar bisa masuk ke tempat-tempat di kerajaan.


"I-ini, 'kan ...?" Para penjaga terlihat terkejut saat melihat emblem emas di tanganku. "Maaf, sudah menghambat jalan kalian!" Mereka membuka pintu dan berlutut.


Reaksi mereka berlebihan. Itu wajar, sih, karena emblem ini menggambarkan sosok Hela itu sendiri.


Kami masuk Menara Cahaya. Suasana ramai menyambut kami, para penyihir berlalu-lalang ke sana ke mari.


Ini luar biasa. Bagian dalam menara jauh lebih luas dari kelihatannya. Ini mirip dengan item yang kugunakan saat membuat beberapa ruangan di dungeon-ku. Sebuah ilusi ruang.


"Nona Alissa!" Seseorang memanggilku dari kejauhan. Orang itu adalah Tiffany.


"Nona Tiffany?"


"Aku langsung ke sini begitu mendengar kalian di depan menara,"


Informasi mereka sangat cepat, ya. Sepertinya mereka menggunakan transmisi pikiran. Eh, tunggu sebentar ....


[Delila.]


[Iya, Ibu?]


Sepertinya berhasil.


[Periksa seluruh area di menara dengan Gate.]


[Dimengerti.]


"Maaf sudah menganggu waktumu, Nona Tiffany,"


"Tidak, Nona Alissa. Ini perintah Yang Mulia, dan juga ini merupakan keuntungan bagi kami bisa bekerja sama denganmu,"


Karena Tiffany dari menara ini, mungkin aku tidak akan memerlukan waktu lama di sini.


"Kebetulan Tetua Menara lainnya sedang berada di sini, mungkin akan terjadi sedikit perdebatan, aku harap kau bisa memakluminya."


Heh?


Tiffany membawaku ke tempat para Tetua. Kami menggunakan alat yang mirip seperti lift untuk menuju ke atas. Tidak hanya lift, ada alat-alat modern yang memudahkan pengerjaan mereka.


Teknologi di sini lebih maju. Semua dioperasikan dengan Mana, pasti stok batu Mana mereka sangat banyak. Tapi, teknologi ini ... dari mana mereka mempelajarinya? Aku tak menemukan hal serupa di sekitar ibukota. Hmmm ... ini masih belum sebanding dengan bumi, tapi tetap saja ini terlalu modern!


Aku akan mencari tahunya nanti.


Kami keluar dari lift.


Tempat ini terlihat seperti lantai paling atas, karena tempat ini sangat tinggi. Aku tak tahu ada berapa lantai di menara ini. Apa semua menara juga memiliki hal ini?


Kami berjalan di dalam lorong yang panjang. Melewati banyak pintu, tak tahu untuk apa ruangan sebanyak itu. Sampai kami tiba di depan pintu yang memiliki tampilan berbeda dengan pintu lainnya.


Pintu ini diselimuti energi sihir. Tapi, ini bisa dihancurkan dengan sihir tingkat 7. Hmmm ... ngomong-ngomong, sihir tingkat berapa yang bisa kugunakan sekarang? Sulit mengetahuinya jika tidak bisa mengakses jendela status.


Tiffany membuka pintu dengan item berbentuk seperti koin. Dia meletakkan koin itu di dalam lubang, mirip seperti mesin minuman.


Lubang kunci yang unik.


Kami masuk ke sebuah ruangan yang cukup luas. Terlihat seperti kantor pemimpin pada umumnya.


Aku menoleh ke bagian kiri ruangan. Terlihat beberapa orang sedang duduk di kursi, terlihat seperti tempat mengobrol para tamu.


Orang yang duduk di tempat itu mengenakan jubah mewakili warna menara, di belakang mereka ada dua orang berdiri, terlihat seperti pengawal mereka.


"Tetua, Nona Alissa telah datang,"


Salah satu Tetua yang mengenakan jubah putih berdiri. "Wah, kami sudah menunggu kedatanganmu, Perdana Menteri."


Menunggu? Yang benar saja!


"Terima kasih karena sudah menerima kerja sama ini, Tetua ...." Aku berhenti karena tak tahu namanya.


"Panggil saja aku Tetua Putih, kami membuang nama kami saat diangkat menjadi Tetua,"


"Oh. Baiklah, Tetua Putih."


Alasan bodoh macam apa itu?


Aku duduk di seberang mereka. Tiffany menyiapkan minuman hangat di mejaku.


Tetua Putih terlihat lebih ramah dari sebelumnya, mungkin Tiffany bercerita hal baik tentangku. Di sisi lain, kedua Tetua lainnya masih terlihat memusuhiku.


Nah, apa yang akan kalian katakan, orang tua pikun?


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE!