
Dia ingin menyerang mereka berdua?!
Arus listrik keluar dari jari telunjuknya dan melesat cepat menuju ke arah mereka berdua.
"Dasar bajingan!" Laki-laki itu melempar Livia.
Sihir milik Theo mengenai laki-laki itu. Lebih tepatnya, sesuatu menahan sihir itu.
Ia membuka jubah merahnya.
Dugaanku benar, sesuatu yang menonjol di bagian kirinya itu adalah tangannya. Tangan aneh itu pula yang menahan sihir milik Theo.
"Hmmm ...." Aku mendekati layar portal untuk melihat dengan jelas. Ini reaksi spontan, ada fitur seperti zoom di sini.
Tangan kirinya berukuran tiga kali lipat dari ukuran normal. Terlihat seperti sebuah bebatuan panas berwarna merah kehitaman. Ini benar-benar mengingatkanku pada sesuatu.
"Hahahaha! Akan kutunjukan mana yang lebih hebat antara kau dan aku, Theo Hart!" teriaknya lantang.
Ah, aku baru menyadarinya. Wajah laki-laki itu ... dia orang yang mencoba merundung Livia waktu itu. Namanya ... aku lupa. Hmmmm ... kurasa aku bisa memanggilnya dengan sebutan tangan batu.
Kembali ke pertarungan.
Keduanya saling mengamati kekuatan masing-masing. Terutama Theo. Ekspresi wajahnya terlihat jelas, tatapan matanya semakin tajam. Sedangkan si tangan batu, ia terlihat masa bodoh ... tapi, aku pernah melihat orang sepertinya. Dia juga tidak percaya diri dengan kekuatannya.
Ada seseorang yang memberinya kekuatan aneh itu. Aku harus segera menyelidikinya setelah Delila berhasil menangkap mereka.
"Aku maju!" Tangan batu berlari tertitih-titih karena tangan yang berat.
Namun, aku hanya melihat sedikit celah darinya. Jika aku menjadi Theo mungkin ....
Theo menjauh untuk melebarkan jarak di antara mereka.
"Lightning!" Ia kembali menembakkan sihirnya pada tangan batu.
Dengan cepat tangan batu melindungi dirinya.
Yah, itu tidak akan hancur jika menyerangnya dengan sihir seperti itu.
"Ugh!" Theo jatuh tersungkur. Ia tak bisa menahan efek dari arus listrik yang menjalar di seluruh tubuhnya.
Dia terlalu berlebihan. Dari awal menggunakan kartu as. Tubuhnya masih belum bisa menerima elemen langsung dari alam.
"Wah, apa ini? Tingkat Diamond yang dibanggakan seluruh murid, kini bersujud di hadapanku?" Tangan batu berjalan mendekati Theo. "Aku bahkan belum menyerangmu, lho."
Benar juga, aku belum melihat kemampuan tangan aneh itu. Apa memberikan efek buff atau semacamnya?
"Hentikan itu, Erick!" teriak Livia dari belakang.
Ah, namanya Erick, si perundung itu.
"Aku akan mengurusmu nanti, Bronze sialan, persiapkan tubuhmu."
Erick berjalan mendekati Theo. Dia mengangkat tangan kirinya ke atas, membuka telapak tangannya.
"Ini adalah sihir yang sesungguhnya." Tangannya terlihat semakin memerah, seperti terbakar. "Redemption Fire."
Api muncul dan berdiri tegak di telapak tangannya. Memiliki bentuk lurus seperti sebuah pedang rapier.
Apa ini akhir dari Theo? Aku tidak bisa membantunya, rantai kehidupan harus berjalan sesuai urutannya, tapi ....
Jika dilihat dari seksama, bilah api itu ada di tingkat 6 atau 7. Aku tak bisa memastikannya karena kepekaanku telah menurun, dan juga aku tak pernah menggunakan sihir itu. Lebih tepatnya, ada banyak sihir sejenis itu, dan aku tak pernah menggunakan Redemption Fire.
"Inilah sihir yang bisa kau kendalilan dengan tanganmu! Yah, aku tak perlu menjelaskannya, lagian ini akan langsung menusuk, dan membakar tubuhmu.
Erick langsung mengarahkan bilah api itu pada Theo.
"Fire Ball : Mega!" Seseorang merapalkan sihir dari arah belakang.
Eh?
*Duar!
Sebuah bolah api raksasa menghantam Erick, hingga menimbulkan ledakan yang sangat besar.
Sihir itu berasal dari Livia. Ia langsung terjatuh setelah menggunakan sihir itu.
Dia tidak menggunakan tongkatnya, terlebih lagi, itu salah satu sihir yang pernah kugunakan saat di Kerajaan Dwarf. Hanya saja ukurannya jauh lebih kecil dari milikku.
Namun, aku tidak yakin itu bisa melukai Erick.
Asap tebal perlahan memudar. Bayangan seseorang berdiri kokoh di dalam kepulan asap itu.
Seperti dugaanku, Erick menangkis sihir itu dengan tangannya. Stat defence yang dimiliki tangan kiri itu sepertinya kelas menengah ke bawah.
"Huah ... kau benar-benar mengejutkanku, Bronze sialan! Jika itu aku yang dulu, sudah pasti aku akan mati, namun semua baik-baik saja setelah kehadiran kekuatan luar biasa ini." Erick menaruh perhatiannya pada Livia. "Kurasa aku memang harus membawamu."
Erick berjalan menuju ke tempat Livia yang terbaring lemah.
Huh?
Percikan listrik muncul di genangan air tempat Erick berdiri.
Karena suara hujan, Erick sepertinya tidak mendengar percikan itu. Dia terlalu fokus pada Livia.
"Shock Wave!" Theo berteriak keras saat merapal.
Listrik itu menjalar ke tubuh Erick dengan cepat dan menyengatnya.
Itu bekerja? Tunggu, pertahannya, sepertinya Theo menyadari celah.
Erick tersungkur karena shock yang diterimanya.
"Sialan!" Erick berusaha menyerang Theo dengan tangan kirinya.
Theo sudah kehabisan Mana karena memulai dengan tergesa-gesa.
Apa aku bisa membantu mereka? Mungkin Delila tahu caranya.
"Del--"
"Ibu ...."
Kami memanggil satu sama lain secara bersamaan.
Kenapa mendadak seperti ini?!
"D-delila, apa ada hal yang ingin kau katakan?"
Delila terlihat gugup. Sebagai yang tertinggi, rasanya tidak pantas jika menyela perkataanku, namun, ini aku! Jadi hal seperti itu tak berlaku di tempatku!
"Katakanlah, Delila,"
"Ibu, sepertinya kita tak perlu mengkhawatirkan bagian istana,"
"Kenapa begitu?"
"Seseorang yang terlihat seperti setengah Naga berhasil mengalahkan pasukan itu sendirian,"
Naga?
"Jika Saya tidak salah, mungkin itu sosok Naga yang diceritakan oleh Hela, Ibu," lanjut Delila.
Benar, aku ingat bagian itu. Ternyata Naga itu yang mendiami istana.
"Apa pemimpin pemberontak menunjukkan dirinya?"
"Saya tak melihat orang yang mencolok di antara mereka, kemungkinan dia sengaja tidak menunjukkan dirinya,"
"Ini sedikit rumit."
Masih belum diketahui motif para pemberontak ini sebenarnya, dan kenapa mereka menculik para gadis.
"Ah, Delila, apa aku bisa menggunakan sihir melalui portal ini?"
Aku tidak tahu banyak tentang portal milik Delila. Dia sangat jarang menggunakannya saat masih menjadi NPC di game. Dia hanya menggunakan sihir support dan sihir elemen.
"Bisa, lho,"
Heh?
"Namun, itu sangat beresiko, mereka bisa mengetahui posisi portal," lanjutnya.
Kenapa ada sesuatu yang mengganjal di benakku? Apa ini hanya perasaanku saja?
"Ibu?" Delila mendekatiku. Dia menatapku cemas.
Apa yang kupikirkan?! Ini hanya buang-buang waktu!
"Ah, lanjutkan pengawasan,"
"Baik."
Huh ... aku melupakan pertarungan anak-anak itu.
Tempat pertarungan berubah menjadi genangan lumpur. Tananam gandum tak berbentuk lagi.
Aku melewatkan sesuatu. Apa yang terjadi sebenarnya? Aku tak melihat tiga orang itu.
*Bush!
Ledakan udara terjadi tak jauh dari tempat itu. Lebih tepatnya, seperti ledakan yang berasal dari gelembung air raksasa.
Ada pertarungan di sana.
Aku mendekat ke lokasi pertarungan itu.
*Bush
Sebuah percikan air tersebar di mana-mana.
Jika portal tak memiliki pelindung, aku pasti sudah basah sekarang. Lupakan itu, di mana Theo dan Livi? Karena lumpur yang tebal, keberadaan mereka tidak diketahui.
Aku telah sampai di tempat pertarungan.
Terlihat seorang wanita melayang di udara dengan banyak gumpalan air yang mengitarinya. Sedangkan Erick sedang sibuk di bawah menangkis semua serangan sihir air yang sepertinya berasal dari wanita itu.
"Menyerahlah, Erick!" teriak wanita itu.
Tunggu, aku tidak asing dengannya. Dia yang melindungi kami saat di arena bawah tanah, 'kan?
Bersambung ....
Maaf, karena lama update. Kondisiku lagi nge-drop, dan handphone LCD-nya rusak, perlu beberapa hari buat perbaikan. Terima kasih buat kalian yang masih mengikuti cerita ini.