The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Nama Yang Melambangkan Kekuatan



"Senang melihatmu, Abigail."


"Saya justru sangat bahagia bisa bertemu Anda kembali, Yang Mulia." Wajah Abigail terharu melihatku.


"Hmmm ... aku senang mendengarnya. Tapi, ada urusan apa kau datang ke sini?"


"Saya ingin mengundang Anda untuk berkunjung ke Sekte Hitam."


"Kenapa aku harus ke sana?"


Abigail tampak terkejut dengan pertanyaanku. "Karena Anda adalah pendiri Sekte Hitam, orang-orang di sana ingin melihat Anda yang selama ini hanya mereka dengar melalui cerita."


Aku sedikit tidak nyaman berada di tempat itu, entah apa yang ada di pikiran Keres, kenapa dia mendirikan sekte seperti itu?


"Maaf, mengganggu percakapan kalian. Saya penasaran sebelumnya, siapa nama Anda?" tanya Lilith padaku.


Hoho ... apa aku harus bermain peran seperti dulu? Lupakan.


"Namaku adalah ... Keres Vasilissa. Ingat nama itu baik-baik di dalam kepala kalian."


Setelah mendengar jawaban tentang namaku, Lilith terdiam sejenak dengan mata yang terbuka lebar.


"Elina, bawa mereka semua ke Kerajaan Maphas, dan pasang sihir penghalang pada dua orang ini, karena kutukan di tubuh mereka belum mrnghilang. Akan merepotkan jika mereka dilacak."


"Baik, Ibu."


"Kami semua akan melayani Anda dengan sepenuh hati." Lilith dan para vampir lainnya berlutut di hadapanku.


"Aku terima pengabdian kalian."


Elina pergi membawa mereka semua ke Kerajaan Maphas. Untuk sementara, mereka semua akan berada di tempat khusus untuk beberapa waktu.


"Delila, pindahkan Rayna ke dimensi tempat penyimpanan Mana yang kau serap sebelumnya. Rayna lebih membutuhkannya daripada aku."


"Baik, Ibu."


Keadaan Rayna jauh lebih penting sekarang, dia memiliki kepekaan yang kuat terhadap Mana karena rasnya. Seharusnya dia akan cepat siuman.


Sekarang hanya ada aku, Delila, Daisy, dan Abigail yang ingin membawaku ke Sekte Hitam.


"Senang melihat bawahan Anda yang sangat patuh, Yang Mulia." Abigail tersenyum padaku.


"Abigail, aku ingin mengunjungi menara Sekte Hitam terlebih dahulu untuk memeriksa sesuatu."


"Baiklah, Yang Mulia." Abigail membuka portal menuju Sekte Hitam.


Aku ingin melihat buku-buka lain yang mungkin bisa memicu kembalinya kekuatanku. Terutama buku yang ditulis langsung oleh Keres, buku yang tiba-tiba mengeluarkan energi besar ketika kusentuh.


"Yang Mulia!" Seseorang memanggilku dari kejauhan. Suara seorang wanita yang berteriak.


Wanita itu keluar dari semak belukar, dia adalah ....


"Erish?"


Aku melupakannya! Karena terlalu sibuk mengurus para vampir, aku lupa dengan Erish yang sibuk dengan kesendiriannya.


"Saya tiba-tiba berpindah ke hutan ini, apa yang sebenarnya terjadi, Yang Mulia?"


"Ada hal yang harus Hela urus, kita tidak bisa masuk untuk sementara."


Aku terpaksa berbohong, karena aku juga tidak tahu alasannya.


"Erish, aku memerintahkanmu kembali ke Kerajaan Maphas segera--" Aku teringat sesuatu. "Abigail, Delila, Daisy ... kalian tunggulah di sini sebentar, aku akan kembali ke Kerajaan Maphas sebentar."


"Baik."


Aku langsung menggenggam tangan Erish. "Teleportation."


Pertama, aku membawa Erish ke Desa Liche.


"Erish, aku serahkan keuangan kerajaan padamu."


"Baik, Yang Mulia."


Dan terakhir, aku harus mencoba sesuatu di kamarku yang berada di istana Kerajaan Maphas.


Aku berteleportasi tepat di depan istana, suasana terlihat berbeda setelah beberapa tahun. Suasana jauh lebih terang dari sebelumnya. Istana mengalami beberapa renovasi yang sepertinya hampir selesai.


Aku sempat kembali satu tahun lalu, dan sekarang sudah ada banyak perubahan di tempat ini.


Pepohonan yang mengelelilingi istana kini sudah habis ditebang, masih ada beberapa gundukan tanah besar yang menghalangi pandanganku.


Sepertinya kota ada di balik gundukan tanah itu. Yah, aku tidak punya waktu untuk memeriksa kota.


Aku langsung masuk ke istana. Ada beberapa maid yang sedang bekerja, tapi karena kedatanganku, pekerjaan mereka langsung terhenti.


Para maid melihatku, beberapa dari mereka memasang ekspresi bingung, dan ada juga yang langsung mewaspadaiku.


Mereka bukan maid undead, sepenuhnya manusia. Sepertinya mereka penduduk yang bekerja di istana ini. Yah, mereka tidak mengenalku sebagai Keres, itu hal yang wajar.


Beberapa maid berdiri di depanku. "Di mana para penjaga?! Kenapa orang asing bisa masuk ke sini?!"


Sifat mereka keras, sepertinya mereka mendapat pelajaran keras dari anak-anak itu. Lebih mengejutkannya lagi, para maid ini bukan sembarang orang, mereka memiliki kemampuan yang lumayan. Itu karena aku bisa merasakan aura mereka. Perkiraanku mereka setidaknya setara petualang rank B atau C.


Dia cepat, tapi ....


Aku langsung melepas tali yang mengikat tanganku, dan langsung menendang maid di belakangku keluar dari istana.


Gaunku robek!


Aku mengambil sebuah tongkat dari ruang penyimpanan.


Jumlah mereka ada delapan, dan terus bertambah karena keributan yang terjadi.


Sudah lama aku tidak bertarung, meregangkan otot-otot sepertinya tidak masalah.


Aku memperlebar sobekan di bagian bawah kiri gaunku untuk bergerak dengan leluasa. Karena ini bukan gaun bawaan milikku, akan merepotkan jika bertarung dengan kondisi seperti ini.


Aku memutar-mutar tongkatku dan mengarahkannya ke depan.


"Ayo kita mulai."


Satu maid maju terlebih dahulu dengan belati di tangannya. Menusuk-nusuk dengan cepat, aku menghindarinya. Satu maid lain datang dari arah belakang dengan pisau kecil yang diapit di sela-sela jarinya. Dia melemparnya langsung ke arahku.


Aku menendang maid di depanku ke sisi kiri dan langsung memutar-mutar tongkatku untuk menangkis semua pisau kecil itu.


Syukurlah, dia tidak terkena pisau itu. Hei! Rekanmu ada di depanmu, tahu!


Beberapa maid datang dengan pedang di tangan mereka, pedang itu memancarkan aura.


Swordman?! Terlebih lagi, kenapa ada maid yang membawa pedang?!


Aku melompat menghindari serangan para pengguna pedang. Aku hampir kehilangan pijakan karena maid semakin banyak, lebih dari lima puluh orang.


Berapa banyak maid yang direkrut untuk istana sekecil ini?!


Aku bergelantungan di lampu besar yang tergantung di atas.


Ruangan penuh dengan maid!


Sangat sulit untuk tidak melukai mereka, karena itu aku menggunakan tongkat sekarang.


Hmmm ...?


Beberapa maid mengarahkan pistolnya ke atas.


Pistol?! Ini sudah bukan pemanasan lagi!


*Dor! Dor!


Para maid menembakkan pistol yang berisi peluru Mana.


Aku menghindarinya dengan mengandalkan insting dan kemampuan deteksiku.


Jika aku tertembak, aku akan mati.


Tembakan terus diluncurkan, tak ada waktu bagiku untuk beristirahat.


"Mana Shield!" Aku merapalkan pelindung Mana yang melindungiku dari segala arah.


Tembakkan berhasil dihalau, namun beberapa berhasil merusak pelindung Mana-ku.


Ini alasan aku tidak ingin mengembangkan senjata mengerikan itu.


Aku melepas peganganku dan terjun ke kumpulan maid itu, mengarahkan tongkat lurus ke bawah. Aku juga memasukan Mana ke dalam tongkat.


*Bush!


Aku menancapkan tongkat ke lantai, hempasan angin yang sangat kuat menghempas semua maid.


Beberapa dari mereka tak sadarkan diri, sisanya berusaha untuk bangkit.


Sepertinya aku terbawa suasana. Tapi, aku mengakui semangat dan tekad mereka, tidak segan untuk menyerang penyusup dan melindungi tempat ini--


Seseorang berada di belakangku dengan dagger yang mengarah ke leherku.


Sangat cepat, aku terlambat menyadarinya.


Karena Mana Shield masih aktif, serangannya berhasil tertahan.


Siapa wanita ini? Dia mengenakan pakaian maid yang berbeda dari yang lainnya, dia mengenakan rok pendek dan baju lengan pendek.


*Bugh!


Sesuatu memukulku dengan keras dari arah depan. Aku langsung terhempas ke belakang menanbrak dinding yang sangat keras.


Sial, bahuku bergeser.


Dia maid yang mengenakan pakaian sama seperti maid satu lagi. Dia menyerangku dengan tangan kosong.


"Seorang martial arts, ya? Kukuku, sepertinya ini akan semakin menarik."


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!