The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Dua Jenis



Kota Penengah.


Orang-orang berlarian ke segala arah, sekelompok makhluk aneh menyerang dan memangsa mereka. Makhluk itu berwujud manusia, namun memiliki penampilan fisik yang sangat buruk. Kulit membusuk, cairan aneh yang keluar dari kelopak mata, dan bagian tubuh mereka yang tidak normal.


Seorang wanita berlari di jalanan kota. Wajahnya dipenuhi rasa takut, makhluk aneh itu terus mengejarnya, namun mereka mengejar melalui lorong sempit. Lebih tepatnya mereka terlihat seperti membuntuti wanita itu.


Apa yang harus kulakukan?! Keluargaku sudah mati!


Tubuhnya sudah mulai lelah, ditambah dengan hujan lebat yang tiada henti. Hal itu semakin memperberat langkah kakinya.


"Aaah!" Wanita itu terkejut ketika melihat ke atas, makhluk itu turun dari atas bangunan dan berencana menimpanya.


*Brak!


Terpaut beberapa detik, ia berhasil menghindar.


"GUUAAARR!" Makhluk itu melihat ke arahnya dengan bola mata yang hampir keluar.


"Eh?" Wanita itu merasa tidak asing dengan wujud sosok di hadapannya.


Sarung tangan putih yang sudah robek, sehelai kain yang mengikat lengan kiri, dan raut wajah sedih yang ditunjukkan makhluk itu terasa sangat familiar baginya.


"Ayah ...?"


Di saat yang sama, aliran listrik muncul di tubuh makhluk itu, merambat hampir ke seluruh bagian tubuhnya.


"Ah!" Seseorang menarik tubuh wanita itu dari belakang.


"Menjauhlah," ucap seorang wanita yang menariknya.


Ia hanya melihat bagian belakang tubuh orang yang menariknya, seluruh tubuhnya ditutupi zirah, kecuali kepalanya. Rambut pendek berwarna merah milik orang itu terlihat menyala seperti terbakar.


Wanita itu adalah Saraya, ia sudah mencapai bagian tengah kota. Namun kota benar-benar dipenuhi makhluk aneh.


*Bruk!


Makhluk di depan mereka terjatuh dengan kondisi tubuh kaku. Itu karena aliran listrik sebelumnya yang membakar seluruh saraf di tubuhnya.


"Ayah!" Wanita itu hendak berlari ke sana, namun Saraya menahannya hingga wanita itu tersungkur.


"Hei, apa yang kau lakukan?!"


"Dia ayahku!"


Saraya tetap menahannya. Ia memikirkan sesuatu setelah tahu bahwa makhluk itu adalah ayah dari wanita ini.


Jadi, dugaan kami memang benar, sumber masalahnya berasal dari dalam. Memang tak ada serangan dari luar sejauh ini.


Selama proses penyelamatan, Saraya dan para bawahannya menganggap bahwa makhluk-makhluk ini adalah panggilan dari seorang necromancer. Mereka berasumsi bahwa makhluk-makhluk ini hanyalah mayat yang dibangkitkan.


Sesuatu mengubah mereka, jadi memang benar, caoy penyebabnya. Aku harus bergegas ke tempat Justin!


"Jangan bunuh ayahku!" Wanita itu masih mencoba menahan Saraya.


Saraya membantu wanita itu berdiri, ia terjatuh karena bersikeras untuk menahan Saraya.


Tak ada cara lain, aku juga tak berniat untuk membunuhnya setelah tahu bahwa dia adalah ayah wanita ini. Tapi, bagaimana aku harus mengamankan mereka berdua? Para bawahanku sudah menyebar ke segala arah.


"Huh?" Saraya merasakan sesuatu yang besar mengarah ke tempatnya. Ia bergegas merubah cincinnya menjadi tombak.


*Brak!


Sesuatu yang besar mendarat tak jauh dari tempatnya. Sebuah bangunan hampir roboh karena permukaan tanah yang hancur akibat pendaratannya.


Makhluk yang sama seperti sebelumnya, namun ukurannya kali ini lebih besar dan tak ada bentuk aneh di tubuhnya. Hanya makhluk mirip manusia setinggi tiga meter dengan postur tubuh berotot, serta kulit melepuh di beberapa bagian.


Saraya bersiap dalam posisinya, ia membaca kemungkinan langkah apa yang diambil makhluk itu selanjutnya.


Makhluk ini kuat, aku hampir tidak bisa membaca gerakan apa yang akan dia lakukan. Dia sangat tenang, tak seperti makhluk lainnya.


Saraya melirik wanita di belakangnya.


Sangat beresiko jika bertarung sambil melindunginya.


"Hei, siapa namamu?" tanya Saraya sembari mempertahankan posisi bersiap.


"N-namaku Tia," jawab Tia.


"Baik, Tia, jika kau ingin selamat, jangan pernah menjauh dariku." Saraya menarik Tia dalam dekapannya dan memeluknya dengan tangan kiri.


"E-eh!"


Saraya kembali menaruh perhatian penuhnya pada makhluk besar itu. "Aku bisa mengalahkanmu hanya dengan satu tangan saja." Wajahnya terlihat sangat percaya diri, tak ada keraguan sedikit pun.


Untungnya tubuh wanita ini lebih kecil dariku, aku masih bisa bergerak leluasa.


Ukuran tubuh Tia setara dengan anak umur tiga belas tahun. Ia hanya memiliki tinggi seratus empat puluh lima centimeter.


"KAU TERLIHAT SANGAT PERCAYA DIRI." Makhluk itu secara mengejutkan bisa berbicara.


Dia bicara?


Sepertinya mereka terbagi menjadi dua golongan. Mereka yang tidak punya pikiran, dan makhluk ini yang memiliki pikiran. Mekihat dari aura yang dimilikinya, aku khawatir para bawahanku akan kesulitan melawan mereka.


"Manusia yang menyerahkan hidupnya pada kejahatan, derajatmu sudah turun bahkan jauh di bawah binatang."


Makhluk itu terlihat terpancing dengan perkataan Saraya. Raut wajahnya terlihat mengerikan.


*Wush!


Makhluk itu berlari ke arah Saraya. Kecepatannya masih tergolong normal, Saraya dengan mudah melihatnya.


Ternyata lambat. Dia bertarung dengan tangan kosong, tapi aku bisa melihat jelas dua tangannya yang diselimuti aura.


Pukulan pertama dilayangkan, Saraya menghindarinya dengan cara melompat membelakangi makhluk itu. Namun, ia terkejut setelah itu.


Hempasan udara membuat jalur lurus, menghancurkan bangunan di hadapannya. Percikan api muncul setelah serangan itu dilancarkan. Pukulan makhluk itu menciptakan udara panas yang memiliki daya hancur luar biasa.


Dia tidak cepat, sebagai gantinya, dia memiliki kekuatan fisik dan serangan yang mengerikan. Aku tak yakin bisa menahannya tanpa mengenakan armor ini.


Saraya masih membawa Tia di dekapannya. Tia sangat ketakutan, di saat yang sama ia merasa menjadi beban bagi Saraya.


Makhluk itu mengibaskan tangan kanannya ke belakang, hal itu membuat Saraya kehilangan momentum untuk menghindar.


*Duar!


Ledakan keras terjadi bersamaan dengan pukulan yang mengenai Saraya. Tubuh wanita itu terhempas hingga menembus beberapa bangunan.


Saraya berusaha memeluk Tia dengan sangat erat, namun zirahnya justru menerima panas dan melukai Tia. Panas yang ditimbulkan hanya merambat di bagian luar zirah, Saraya tidak merasakan panas yang berarti.


"N-nona Penyelamat, jangan hiraukan diriku," ucap Tia dengan napas yang terengah-engah.


Perkataan Tia membebani Saraya, sekarang pikirannya sedikit goyah.


"KELUARLAH! AKU TAHU KAU TAK AKAN MATI HANYA DENGAN ITU!" teriak makhluk itu dari kejauhan.


Aku tidak bisa bertarung jika harus melindunginya. Aku akan berteleportasi untuk mengamankannya.


Sesuatu datang mendekat, dua orang berlari mengitari atap bangunan mengelilingi makhluk itu.


Saraya tersenyum kecil, ia merasa familiar dengan aura kedua orang di sana.


Kedua orang itu kini diam sembari melihat ke bawah. Kobaran api dan derasnya hujan menyamarkan sosok mereka.


"HUAAAA!" Makhluk itu menepuk tangannya ke atas. Untuk sesaat, hujan di sekitarnya berhenti akibat hempasan angin dari tepukkannya, begitu juga dengan kobaran api.


Mata makhluk itu sekilas melihat siapa dua orang yang datang mengganggunya.


"MAID?"


*Wush!


Salah satu dari mereka melompat ke arahnya. Maid yang mengenakan kacamata dan berambut panjang.


"JANGAN REMEHKAN AKU!" Makhluk itu malayangkan pukulannya ke arah maid.


Di saat yang sama juga maid itu melayangkan pukulannya dari atas.


*Dum!


Dentuman keras terdengar nyaring, sempat menghentikan hujan untuk beberapa detik. Tanah tempat makhluk itu berdiri langsung hancur dan mendorong tubuhnya ke bawah.


Dengan wajah terkejut, makhluk itu tak percaya ada manusia yang bisa beradu pukulan dengannya hanya menggunakan tangan kosong.


Di sisi lain, Saraya juga menyaksikan kejadian itu. Ia tak terlalu terkejut karena dirinya sudah tahu kekuatan fisik dari maid berkacamata. Hanya saja ia tak menyangka kekuatan fisiknya bahkan mengimbangi makhluk itu. Tapi, ada satu hal lain yang menarik perhatiannya.


Auranya jauh lebih kuat dibanding pada saat pertama kali mereka bertemu. Waktu itu Saraya mengalahkannya dalam pertarungan singkat.


Saraya merasa tertantang, namun ini bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan egonya.


Salah satu maid muncul di hadapan Saraya.


"Di mana Alissa Hart?" tanya Saraya dengan nada sedikit ditinggikan.


"Beliau berada di suatu tempat, kami tak tahu detail lokasinya."


"Baiklah." Saraya menyerahkan Tia pada maid berambut pendek itu. "Tolong bawa dia ke tempat aman."


Tia masih menggenggam tangan Saraya, raut wajahnya terlihat cemas.


Saraya tersenyum dan berkata, "Kita akan bertemu lagi nanti."


Tia melepas genggamannya tanpa sepatah kata pun. Maid berambut pendek membawanya segera dari tempat itu.


*Brak!


Saraya menancapkan gagang tombak ke tanah, sampai membuat area di sekitarnya rusak. Percikan listrik muncul dari tubuhnya.


"Sekarang waktunya untuk mengakhiri ini."


Bersambung ....