
Chapter 50 : Putih Melawan Hitam
Semua orang telah kembali dari misi, Delila baru saja sampai di kantor Hela. Dia terlihat sedikit lelah karena menggunakan banyak MP untuk menggunakan sihir teleportasi. Memindahkan lebih dari satu juta orang, siapa yang tidak kelelahan?!
Untungnya kami membawa Mana Potion dengan kualitas terbaik. Sebelumnya Hela ingin memberikan potion serupa, namun aku terlanjur menggunakan stok potion milikku. Lagi itu membuat mood-nya turun, aku tak tahu apa niat Hela sebenarnya.
Saat ini kami sedang melihat pertempuran di Gereja Suci menggunakan sihir pengintai milik Hela. Sebuah sihir yang berbentuk persegi panjang mirip layar televisi. Sedikit mirip dengan sihir pengintai milik Delila. Seperti yang kukatakan tadi, pengintai Delila hanyalah sebuah portal transparan, dan harus menggunakan banyak portal untuk melihat ke tempat yang diinginkan.
Hela sedang membagi beberapa view dalam satu layar besar.
Keunggulan pengintai milik Hela. Tidak perlu membuat banyak "kamera" ke setiap tempat, dia menyuruh Delila menghancurkan sebuah kristal di Gereja Suci, dan layar ini muncul setelah itu. Dia bisa melihat ke segala sudut pandang semua orang.
Kami menonton pertempuran itu sambil memakan camilan. Aku, Rayna, dan Delila duduk di tempat duduk tamu. Sedangkan Hela duduk di tempatnya (Meja kerja). Otomatis letak layar lebih dekat dari tempat kami bertiga.
Rasanya seperti menonton film layar lebar.
"Hanya satu orang yang menyerang pasukan vampir," ucap Hela.
"Sepertinya dia Pahlawan yang dirumorkan," kata Delila.
Melihat kekuatannya, dia memanglah Pahlawan. Hanya saja dia berkali-kali jauh lebih kuat daripada Zain. Mungkin ini efek pemanggilan tak wajar yang dilakukan Gereja Suci.
Dia menyerang menggunakan pedang yang diselimuti aura putih.
"Tidak salah lagi, itu Pedang Suci." Hela terlihat yakin dengan pendapatnya.
Pedang Suci, sebuah item tingkat legendaris yang memiliki atribut cahaya. Meningkatnya 3 kali lipat stat pengguna dan hanya bisa digunakan oleh Swordmaster. Begitulah deskripsinya menurut Magic Infinity.
Pahlawan dengan mudah menyerang ratusan vampir dalam beberapa serangan. Berhubung Pedang Suci memiliki atribut cahaya, ini merupakan keuntungan besar di kubu Gereja Suci. Vampir adalah undead, dan mereka yang ada di sana tergolong vampir-vampir amatir.
"Vampir-vampir itu masih memiliki sisa kesadaran mereka. Itu sebabnya mereka tidak terlalu banyak melakukan perlawanan," jelas Rayna.
"Mereka memilih untuk mati, ya? Hmmmm ...." Aku terpikirkan sesuatu. "Rayna, apa efek skill Marriage Call milikmu masih mempengaruhi mereka?"
"Masih ada sedikit efek yang bekerja, Ibu,"
"Kuasai dominasi beberapa dari mereka. Namun, sisakan tempat bagi orang yang mengendalikan mereka di sana."
Mereka juga harus datang ke sini.
"Alissa Hart, apa kau memiliki rencana lain?"
"Sebelum Saya masuk ke Gate, ada seorang True Vampire yang hampir menangkap Saya, Yang Mulia. Mungkin karena Marriage Call Rayna masih berefek pada pasukan vampir, itu membuat mereka kesulitan dalam melacak posisi pasti pasukan saat ini."
Aku pernah membaca detail kecil yang mana jika efek selain dominasi milik vampir lain masuk ke satu individu, maka efek dominasi utama akan rusak. Jika mengubah Marriage Call ke skill dominasi, itu akan mengembalikan kendali atas suatu individu tersebut. Marriage Call bukanlah skill dominasi seperti kontrak darah, melainkan hanya skill pemikat. Karena mereka masih terkena efek Marriage Call, Rayna tak perlu memberi mereka darah untuk melakukan dominasi. Maka dari itu aku menyuruh Rayna mendominasi mereka, namun tidak sepenuhnya agar mereka bisa melacak pasukan dengan mudah menggunakan dominasi meteka yang tertinggal di para vampir.
Ini mirip saat Rayna melakukan kontrak darah, mereka kemungkinan melihat sekilas siapa orang yang memberikan darah pada waktu itu sebelum Rayna mendominasi sepenuhnya. Namun, mereka hanya tahu soal True Vampire, bukan penampilan fisik Rayna, karena Rayna merubah wujud dengan sihir ilusi pada waktu itu.
"Aku tidak tahu banyak tentang cara kerja skill vampir, kuserahkan pada kalian," ucap Hela.
"Baik, Yang Mulia."
Setengah pasukan menarik diri ke belakang. Dominasi Rayna berhasil.
"Ibu, hanya ini yang masih terkena efek skill Marriage Call. Mereka yang ada di barisan depan sepenuhnya bebas tanpa kendali dari Saya maupun mereka,"
"Bagus. Sekarang kita hanya perlu memancing ikan besar."
Pahlawan masih sibuk melakukan pembantaian besar-besaran. Di belakangnya terlihat pasukan ksatria suci bersiap-siap di dinding perbatasan kota.
Para ksatria itu hanya mengutus Pahlawan. Mereka sangat percaya diri ternyata. Apa yang dilakukan Uskup Agung dan Saint lainnya?
"Coba lihat." Hela memperbesar salah satu layar. "Sepertinya itu Saint wanita yang mendampingi Uskup Agung waktu itu."
Saint wanita itu tidak mengenakan zirah. Hanya sebuah pedang yang ada di pinggangnya.
"Tidak banyak, Yang Mulia. Namun, bawahanku yang seorang mantan Pahlawan bilang Saint itu sejatinya menggunakan sebuah tongkat sebagai senjatanya, bukan pedang,"
"Tongkat, ya? Aku tak tahu tentang tongkat itu, namun, pedang yang dia gunakan merupakan Pedang Ilahi,"
"Pedang Ilahi?"
Aku baru pertama kali mendengarnya.
"Satu tingkat di bawah Pedang Suci. Itu sudah cukup untuk meratakan satu kota dalam sekali tebas menggunakan kekuatan penuh sekelas Saint."
Pedang di bawah tingkat legendaris. Itu pedang yang sama saat dia mencoba menyerangku waktu itu, 'kan?
"Itu memang pedang yang sama saat 2 tahun lalu. Aku terkejut putrimu menahannya hanya dengan tangan kosong," lanjut Hela.
Dia membaca pikiranku atau ini hanya kebetulan? Ngomong-ngomong soal pedang, ini sedikit membuatku penasaran. Pedang Suci itu sepertinya lebih kuat dari yang ada di Magic Infinity. Asumsiku tentang tingkat legendaris mungkin salah, bahkan jauh lebih tinggi ... yaitu mitos.
Teknik berpedang Pahlawan itu masih jauh dari kata sempurna. Namun, Pedang Suci menutup kekurangannya dengan kekuatan yang dihasilkan. Tanpa perlu menggunakan banyak Mana, Pedang Suci itu langsung bisa menyapu ratusan hingga ribuan orang. Stat Pahlawan meningkat pesat saat menggunakan Pedang Suci. Aku tidak tahu detailnya, mungkin lebih dari 3 kali lipat.
"Kita tidak boleh membiarkan Pahlawan bergerak sendiri sampai mereka datang,"
"Alissa Hart, apa kau punya cara agar para ksatria ikut dalam pertempuran?"
"Tenang saja, Yang Mulia." Aku menoleh ke Delila. "Delila, lepaskan beberapa peliharaan kita,"
"Apa Ibu ingin menggunakan beberapa hewan bencana itu?"
"Benar."
Sebelum Daisy lenyap, aku sempat memintanya membuat beberapa "makhluk" untuk digunakan dalam saat-saat seperti ini. Ini hanya eksperimen kecil, sih, tapi tak kusangka akan jadi luar biasa.
"Gate." Delila pergi ke tempat makhluk itu dikurung.
Karena Daisy tidak ada, makhluk itu menjadi liar. Ini saat yang tepat karena dia akan mengamuk sepuasnya.
Aku sedikit penasaran, apa aku bisa memanggil Daisy dengan kekuatanku sekarang?
"Alissa Hart, aku berpikir mulai sekarang kau harus lebih tebuka padaku." Hela sedikit menekankan suaranya.
Ah, sial. Aku terlalu terbawa suasana. Secara tidak sadar aku hampir mengekspos hal milikku.
"Baik, Yang Mulia. Ini hanya beberapa 'hal' yang hanya dimiliki oleh kerajaan kami. Saya berniat mengajak Anda setelah ini,"
"Aku akan memegang perkataanmu."
Perhatian kami kembali tertuju pada layar. Terlihat sebuah Gate raksasa muncul di ketinggian.
Tentu saja, itu Gate milik Delila. Dia sedang memindahkan makhluk itu.
Tulang tangan raksasa keluar dari portal dengan aura hitam pekat menyelimuti, diikuti oleh kepala, badan, sayap, hingga ekor. Seekor makhluk kerangka raksasa dengan tinggi lebih dari 90 meter berada di tengah-tengah pertempuran.
"Alissa Hart, ini ...." Hela tampak terkejut melihat eksperimen kami.
Makhluk itu terbuat dari tulang belulang dari ratusan beast yang membentuk wujud seekor naga. Sebagian besar daging beast masih menempel di tulangnya.
Ini adalah mahakarya pertamaku dan Daisy di dunia ini.
"Yang Mulia, izinkan Saya memperkenalkan makhluk purwarupa kami." Aku berdiri dari tempat dudukku sembari mengarahkan tanganku ke layar. "Nama makhluk itu adalah ... Colossal Skull Dragon."
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE, YA! :(