
Beberapa hari sebelum perayaan Festival Hitam di Kota Penengah.
Tanah Terbengkalai, sebuah daerah terpencil yang terletak di barat. Wilayah yang hanya dipenuhi hutan dan bukit bebatuan, tak sesuai dengan namanya, ada banyak desa-desa kecil dan sebuah kota di tempat ini. Tak ada di antara kerajaan yang ingin mengambil wilayah ini karena terlalu kecil, dan juga tak ada sumber daya di tempat ini.
Satu kota kecil di Tanah Terbengkalai biasanya menjadi tempat singgah para petualang. Mereka tak akan bisa berbuat seenaknya, karena kota ini juga punya hukum tersendiri.
Berpindah ke sebuah mansion di kota. Mansion hanya sebutan saja, karena ini lebih mirip dengan benteng mini.
Orang yang memimpin kota ini adalah ... Saraya de Moriento.
"Nona Camila, apa saya boleh masuk?" Seorang pria berdiri di depan pintu.
"Masuklah," jawab Saraya sembari melihat berkas-berkas di mejanya.
Pria itu adalah A Five, salah satu ketua grup prajurit.
"Maaf menganggu Anda."
"Tak apa, kalian adalah orang terpercayaku, bersikaplah seperti biasa jika tak ada orang di sekitar," ucap Saraya sembari membaca berkas di tangannya.
A Five sedikit kebingungan melihat tindakan Saraya akhir-akhir ini. Bos yang dia kenal sangat tegas, suka pertarungan, kini sibuk memilih duduk sepanjang waktu sambil membaca kertas yang membosankan.
Tuan Besar sedang sakit parah, namun Nona tetap bisa bersikap tenang seperti ini, aku tak tahu sampai mana dia bisa bertahan.
"Apa yang membawaku ke sini, A Five?"
"Nona Cam-- Nona Saraya, saya hanya ingin melaporkan persiapan untuk kita pergi ke Kota Penengah."
"Ah, kerja bagus." Saraya masih terus melihat berkas-berkas di mejanya.
A Five terlihat murung dengan respon yang Saraya tunjukkan. Dia selalu berpikir Saraya tidak puas dengan pekerjaan mereka.
Keesokan paginya.
Saraya dan delapan bawahannya bersiap pergi menuju ke Kota Penengah. Mereka menunggu di aula ruangan yang terpasang lingkaran sihir di lantai. Edward datang menjemput Saraya dan memastikan situasi di kantor asosiasi aman untuk mereka kunjungi. Saraya memang sengaja hanya membawa delapan bawahan dan meninggalkan sebagian besar prajurit untuk menjaga kota ini, dan sisanya menyusul di hari berikutnya. Menurutnya tak ada hal yang harus dikhawatirkan di Kota Penengah.
Seorang maid masuk ke ruangan untuk menyampaikan kabar.
"Nona Camila, ada orang aneh yang ingin bertemu dengan Anda."
"Abaikan saja mereka, aku tak punya waktu," jawab Saraya yang terlihat acuh tak memperdulikan keberadaan maid itu.
Lingkaran sihir hendak menyala, bersiap mengirim mereka pergi ke Kota Penengah.
"Aku akan memaksamu mendengarnya," ucap maid itu.
Saraya langsung menoleh ke arah maid itu. Penampilan maid itu berbeda dengan maid yang ada di mansion ini.
Rambut pendek berwarna hitam kebiruan, mengenakan rok pendek selutut, tak ada maid di mansion berpenampilan seperti itu.
"Penyusup!" salah satu prajurit berteriak setelah menyadari kejanggalan itu.
Puluhan prajurit yang ada di tempat itu langsung mengepung maid itu.
Saraya fokus ke satu hal. "Maid itu cukup kuat."
Delapan bawahannya langsung terkejut mendengar perkataan Saraya. Seorang pemimpin kuat yang mereka akui mengatakan seseorang itu "kuat" tanpa ragu.
Maid itu mengambil sesuati dari tas kecil yang terikat di pahanya. Sebuah pisau kecil seukuran jari teluncuk, masing-masing ada empat buah di kedua tangannya. Maid itu melempar pisau kecil itu ke arah depan, para prajurit menghindarinya.
Saraya tersenyum kecil, ia baru saja menyaksikan sesuatu yang menarik.
"Nona, kita tak bisa membiarkan ini berlang--"
*Bruk!
Ke delapan bawahan Saraya tumbang secara bersamaan, begitu juga dengan puluhan prajurit yang mengepungnya. Kini yang tersisa hanyalah Saraya dan Edward.
Dia tahu bahwa mustahil mengalahkan mereka berdelapan sekaligus. Karena itu dia mencari kesempatan di saat semuanya lengah, kenyataannya bahwa wanita ini adalah seorang assassin. Pisau kecil hanya peralih perhatian, dia menggunakan teknik bayangannya untuk menyelinap menyerang mereka semua.
Saraya masih tersenyum, namun ekspresinya sedikit kesal.
"Sepertinya prajurit di luar sudah dibereskan, ya?" tanya Saraya sembari menyeringai.
"Kami hanya ingin berbicara dengan tenang, tapi sambutan kalian tak menyenangkan," balas maid itu.
"Sepertinya kita harus melumpuhkan wanita itu dan menginterogasinya." Edward bersiap dengan senjatanya yaitu sebuah bowgun yang disembunyikan di balik jas lengan panjangnya.
Bowgun sejenis senjata jarak jauh yang menembakkan peluru yang terbuat dari baja berukuran kecil. Edward tak memiliki keahlian bertarung, namun ia sangat bagus dalam membidik.
"Lebih tepatnya, mereka," potong Saraya.
*Wush!
Maid itu berlari secara zig-zag dengan cepat, secara bersamaan Edward menembak, namun seluruh peluru dihalau dengan bayangan yang menyelimuti tubuh maid itu. Edward tetap bisa membidiknya walau maid itu berlari secara zig-zag dengan cepat.
Bayangan lain melesat menusuk ke arah mereka berdua, Edward berhasil menahannya dengan tembakan yang cepat.
"Nona!" Edward terlihat panik melihat maid itu sudah beberapa jarak di hadapan Saraya sembari menghunuskan dagger yang diselimuti bayangan.
Lagi-lagi Saraya tersenyum, kini sambil melipat kedua tangannya di perut. Ia mengangkat jari telunjuk kirinya yang terpasang sebuah cincin.
"Akan kuberitahu sebuah pengetahuan penting. Bayangan tercipta karena cahaya yang menyinari objek dan menghasilkan bayangan. Tapi, apa kau tahu ...."
*Duaar!
Sebuah kilatan petir menyambar tubuh Saraya dan menghempaskan maid assassin itu hingga keluar dari mansion.
"Cahaya kilat sangatlah menyilaukan, bahkan mampu membuat seseorang terkena serangan jantung. Bayanganmu tak akan bisa muncul di bawah sinar kilat milikku," lanjut Saraya.
Saraya dan Edward keluar dari mansion. Terlihat maid assassin terkapar dengan luka bakar kecil di sekujur tubuhnya.
Ada maid lain yang menghampirinya, maid itu mengenakan rok panjang, rambut panjang hitam kemerahan, dan berkacamata.
Seperti itulah penampilan maid seharusnya.
"Aku akan melumpuhkan maid lainnya," ucap Edward.
Saraya merentangkan tangan kirinya untuk menghalang Edward, dengan beberapa pertimbangan, ia berkata, "Tidak, Edward, dia tak akan mudah dilumpuhkan hanya dengan senjata milikmu."
"Apa ada yang istimewa dengan dirinya?"
Saraya memperhatikan tubuh maid itu. Tak ada perbedaan dengan maid assassin, namun perbedaan lain terlihat jelas.
Maid itu melihat Saraya dengan tatapan tajam, ekspresi emosi yang meluap-luap. Saraya tahu, maid itu juga sudah mempertimbangkan jika harus melawannya, maka dia harus mempertaruhkan segalanya.
Kemampuan fisiknya kuat, namun itu masih tak sebanding denganku. Orang yang harus kuwaspadai adalah ....
Tangan seseorang menyentuh pundak sebelah kiri maid berambut panjang, tangan seorang wanita. Kewaspadaan Saraya meningkat sampai pada level yang akan langsung bereaksi jika sebuah kerikil kecil bergerak terdorong angin, sangat waspada.
Aku tak begitu merasakan aura milik wanita ini, namun instingku berkata untuk waspada terhadapnya.
"Senang bertemu denganmu, Nona Camila, oh, tidak, maksudku ... Nona Saraya, Ketua Serikat Prajurit Bayaran," ucap wanita itu.
Edward terkejut mendengar perkataan wanita itu.
Identitas yang hanya diketahui beberapa orang, wanita ini mengatakannya dengan sangat mudah. Ini tidak bagus, Nona Saraya akan ....
*Wush!
Dalam sekejap, Saraya telah berada tepat di depan wanita itu sambil bersiap menusuk dengan tombaknya. Tubuhnya dialiri listrik yang membuat suara ledakan ketika dia melesat.
Wanita misterius itu tersenyum.
"Nona!" Edward terlambat bereaksi karena Saraya yang sudah terbawa emosi.
*Duar!
Tusukan dengan kekuatan kilat itu telah dilancarkan.
Bersambung ....