
"Lightning." Erish merapalkan sihirnya.
Tubuhnya memunculkan percikan listrik.
"Theresia, dukung aku dengan sihirmu!"
"Baik!"
Erish dengan cepat berlari ke arah Rayden. Kecepatannya luar biasa, hanya beberapa detik saja Erish sudah berada beberapa langkah dari Rayden.
Ini saatnya!
"Freeze!" Aku membuat tubuh Rayden tak bisa digerakan.
Melihat Rayden yang membeku, Erish langsung mendaratkan pukulannya.
*Bugh!
Rayden terhempas menembus bangunan di belakangnya.
Dia sangat kuat. Kekuatan fisiknya murni tanpa dukungan dari sihir, dia hanya menggunakan Lightning untuk menambah kecepatannya.
*Brak!
Bebatuan berhamburan ke mana-mana.
Rayden keluar dari reruntuhan yang menimpanya.
"Ternyata dugaanku benar, kau seorang double job," ucap Rayden yang perlahan keluar dari bangunan.
Double job? Erish?
Erish tersenyum kecil. "Perkataan itu muncul dari manusia setengah naga, kau membuatku tertawa."
"Hahahaha! Aku jadi semangat untuk bertarung denganmu!"
Dia setengah naga?
Fakta Erish yang ternyata seorang double job sudah mengejutkanku, dan sekarang kami harus melawan setengah naga?
"Nona Guerra, kita tidak bisa mengalahkannya, kita harus meminta bantuan Tiga Guru Elite,"
"Tenanglah, kita bisa mengalahkannya, asal kau bisa mendukungku dari belakang."
Mustahil. Seorang Warrior merupakan musuh yang merepotkan bagi Magic Caster selain Swordmaster.
"Ayo kita lanjutkan!" Rayden berlari ke arah kami.
Erish juga berlari ke arahnya.
Akan ada benturan fisik, Erish akan terluka.
"Fire Spear!" Aku melemparkan tombak api.
Tombak apiku sampai sebelum mereka beradu fisik.
Rayden menangkap tombak apiku dengan tangan kosong.
Apa?!
"Terima kasih atas senjatanya, Nona!"
Rayden menyerang Erish dengan tombak apiku.
Seharusnya itu membakarnya, ternyata dia punya resistensi terhadap sihir api.
"Hahahaha!" Rayden tertawa keras sambil menusuk-nusuk tombak api ke Erish.
Erish menghindari semua tusukan itu.
Tusukan yang dilancarkan Rayden begitu cepat, dan Erish juga tak kalah cepat.
*Brak!
Erish menghentakan kakinya ke tanah.
Rayden terguncang, ia kehilangan keseimbangan.
"Sekarang, Theresia!"
"Dark Light, Death Pressure, Wood Stab!" Aku menggunakn triple caster.
Tubuh Rayden ditelan bayangan gelap, itu sihir ilusi yang membuat musuh tak bisa melihat, dan merasakan apa pun.
Gravitasi yang berat menekan tubuh Rayden ke bawah.
Dan terakhir, aku memunculkan 10 akar pohon mengelilingi tubuhnya yang diselimuti bayangan gelap itu.
*Crack!
Akar-akar itu secara bersamaan menusuk tubuhnya.
Tiga kombinasi sihirku, apa itu berhasil membunuhnya? Manaku sepertinya banyak terkuras karena menggunakan triple caster.
Darah mengalir dari tempat Rayden. Darah itu keluar dari bayangan yang menyelimuti tubuhnya.
Sepertinya berhasil.
"Nona Guerra, kita berhasil,"
"Yah, kau ben--"
*Crack!
Huh?
Sesuatu menusuk perut Erish. Itu adalah tombak apiku sebelumnya. Tombak api itu dilempar dari kejauhan.
"Kalian sudah berusaha keras." Seseorang berdiri di atap bangunan.
"Kau membuat clone, ya?" tanya Erish.
"Kau cukup pintar, Nona." Rayden terlihat kebingungan melihat Erish.
"Nona Guerra!"
"Tenanglah, ini hanya luka kecil."
Tombak apiku perlahan menghilang dan meninggalkan lubang di perutnya. Itu menembus hingga ke belakang, jika tombak api menghilang, aku mungkin bisa melihat bagian depan melalui lubang itu.
Erish terlihat tidak kesakitan walau darah terus bercucuran dari perut dan mulutnya.
Tidak, dia menahan rasa sakit itu dengan sihir. Sensasinya sama seperti obat bius, namun efeknya jauh lebih tinggi.
"Aku ingin menggunakan Berserk, tapi sepertinya tugasku telah selesai di sini." Rayden berbalik. "Sepertinya kita akan bertemu lagi."
Dia menghilang.
*Bruk!
Erish terjatuh dengan cukup keras.
Walau dia tidak merasakan sakit, namun kondisinya itu nyata. Tubuhnya sudah kehabisan banyak darah.
Aku meletakan kepala Erish di pangkuanku.
"Theresia, tolong ambil botol kayu di saku celanaku."
Aku merogoh saku celananya dan menemukan sebuah botol kayu berukuran kecil. Bentuknya seperti botol potion. Botol berbahan dasar kayu sangat berguna jika dibawa oleh Warrior yang sering berbenturan dengan sesuatu.
"Berikan padaku."
Aku meminumkan potion itu pada Erish.
Perlahan lukanya kembali pulih.
Potion jenis apa ini? Rasanya seperti melihat regenerasi.
Aku menggendongnya dan terbang kembali ke akademi.
-------------------------
Kami sampai di akademi.
Kondisi akademi sama sekali tidak berubah, masih terlihat seperti biasanya. Tampaknya para Guru berhasil memukul mundur para pembuat onar itu.
"Kita akan pergi ke ruang perawatan."
Erish menarik bajuku. "Tidak perlu, kondisiku sudah membaik."
"Baiklah, kita harus bergabung dengan yang lainnya,"
"Kau pergi duluan, aku ingin memeriksa keadaan kedua temanku."
Ah, sepertinya dia mengkhawatirkan dua gadis Bronze itu.
Kami berpisah saat itu juga.
"Theresia, apa yang kau lakukan di sini?" Seseorang menghampiriku.
"G-guru Siscia ...."
Aku tak merasakan hawa keberadaannya.
"Ayo, kita harus pergi menemui Kepala Akademi,"
"Baik."
-------------------------
"Theresia, Siscia, terima kasih sudah datang."
Aku dan Guru Siscia berada di ruang Kepala Akademi.
Orang yang sedang kami hadapi ini tidak lain adalah Ratu Kerajaan Mystick, sekaligus Kepala Akademi. Beliau terlihat seperti wanita berusia 30 tahun, walau usianya sudah ratusan tahun. Seorang manusia yang memiliki umur panjang seperti Elf. Seharusnya Beliau tidak ada di sini, kemungkinan Beliau menggunakan teleportasi.
"Siscia, di mana dua Guru Elite lainnya?"
"Sepertinya mereka masih mengamankan akademi."
"Begitu, ya. Huuh ... sepertinya anak-anak itu masih ingin menyerang akademi ini,"
"Yan-- Nyonya Kepala, kenapa Anda tidak mengerahkan prajurit Kerajaan dan membasmi mereka?"
"Jika mereka masih seperti dulu, akan sangat mudah menangkap mereka. Tapi, sepertinya komplotan itu telah bergabung dengan 'mereka',"
"Apa Anda yakin?"
Aku sama sekali tidak mengerti percakapan mereka.
"Tiffany telah melaporkannya, ada beberapa orang yang diculik saat mereka melakukan kekacauan,"
"Apa tujuan organisasi itu menggunakan mereka?"
Sepertinya aku harus membahas tentang pemimpin komplotan yang kami lawan.
"Guru, Nyonya Kepala, Saya ingin menyampaikam sesuatu,"
"Katakanlah, Theresia."
Aku menceritakan semuanya tentang pertemuan kami dengan Rayden.
"Guerra terluka parah?!" Guru Siscia langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Tenang, Guru, Nona Guerra sudah pulih berkat potion yang diminumnya,"
"Jadi, pemimpin komplotan itu seorang Warrior setengah Naga, ya?"
"Benar, Nyonya Kepala."
Jika Beliau langsung turun ke markas mereka, aku yakin masalah ini akan terselesaikan. Sayangnya kutukan itu belum bisa dihilangkan.
"Baiklah, dengarkan baik-baik apa yang akan kukatakan ini,"
"Baik." Aku dan Guru menjawab serentak.
A. Perundungan Tiada Henti
Kami semua dikumpulkan di arena bawah tanah. Sepertinya terjadi sesuatu di luar. Menurut rumor, para pemberontak mulai bergerak, aku tak tahu siapa para pemberontak itu.
"Livia, jangan jauh-jauh dariku,"
"Iya, Alissia."
Aku bersama Alissia dan Delila. Sejak hari itu, kami selalu bersama di saat jam pelajaran kosong.
Huh? Mereka ....
Kelompok perundung yang sebelumnya datang. Mereka membawa seseorang dari tingkat Gold.
"Tuan Erick, merekalah yang telah menghina Anda,"
"Hoh ... para jelata ini, ya?"
Sudah kuduga, mereka tidak akan jera bahkan setelah Erish memperingatkan mereka.
"Waktu itu mereka merayu murid tingkat Diamond yang baru itu,'
Tuan mereka mendekat padaku.
"Menggunakan murid Diamond sebagai tameng, kalian benar-benar rakyat jelata yang tidak tahu diri," ucapnya sambil meremas kedua pipiku dengan tangan kanannya.
*Plak!
Alissia menepis tangannya.
"Apa kau tidak malu melakukan hal rendah seperti ini, Tuan Bangsawan?"
"Hoh ... muncul satu lagi penyihir bertongkat rendahan,"
Aku harus cepat-cepat mencari Guru. Hanya ada satu Guru yang mengawasi tempat ini.
Delila menahan tanganku ketika aku hendak pergi mencari bantuan. Ia menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, kalian yang meminta ini, dasar Bronze rendahan!"
Lingkaran sihir muncul di tangannya.
Dia akan menyerang dalam jarak sedekat itu?!
"Hell Flame!"
Kobaran api keluar dari tangannya. Alissia termakan oleh kobaran api itu, dan api itu mengarah padaku.
Apa kami akan mati?
"Hahaha! Rasakan itu para rakyat jelata!"
"Anda hebat, Tuan!"
"Ini adalah contoh untuk kalian Bronze rendahan yang mencoba melawanku!"
*Bush!
Kobaran api itu lenyap.
Kami masih hidup, pasti Erish data--
"Hentikan omong kosongmu ini, Erick!"
Suara itu, bukan Erish.
Seseorang dari tingkat Gold datang membantu kami, dia seorang wanita.
"Hah, apa kau akan mengadukan hal ini ke Nona Theresia, Lexi?"
Lexi? Dia teman dekat Nona Theresia.
"Iya."
"Lakukanlah, aku tidak menjamin kehidupanmu di luar akademi aman,"
"Kau mengancamku?"
"Nona Theresia tak akan melindungimu di luar akademi, jadi tunggulah saat-saat itu."
Para perundung itu pergi.
Nona Lexi hanya diam dengan tatapan tajam ke mereka.
"Kau tak perlu membahayakan dirimu, Nona," ucap Alissia.
"Kalian tak perlu khawatir, aku bisa melawannya. Sebagai perwakilan murid tingkat Gold, aku ingin meminta maaf atas perlakuannya."
Nona Lexi melirikku. "Ah, kau Adiknya Theo, 'kan?"
Celaka!
Bersambung ....
Sekarang kalian bisa bergabung di grup chat novel ini. Kalian bisa memberi masukan untuk novel ini agar lebih baik ke depannya. Caranya, buka halaman novel ini, dan klik tombol "Ayo Chat" seperti gambar di bawah.
Terima kasih!
JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!
Kalian bisa support Author juga di sini biar Saya semakin semangat buat update :
https://saweria.co/hzran22
Bisa donasi dengan Gopay, OVO, dan Dana, ya.